Not Goodbye (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 January 2017

Selama di perjalanan perempuan tadi membuka topik karena melihat Dera yang begitu murung dan seperti merasa tidak tenang.
“Lagi ada masalah yah?!”
“Iya… Sih!”
“Yah udah kamu cerita aja… Aku siap dengerin kok!”
“Tapi jadi nggak enak nih…!”
“Nggak apa-apa lagi, oh ia nama kamu siapa?””
“Dera! Ia sebenarnya aku juga sudah bosan nyimpan masalah aku sendiri!”
Dera lalu menjelaskan semua nya, namun ada hal menarik yang perempuan itu tanggapi dari masalah Dera.

“Ohh… Jadi maksudnya, kamu itu merasa sakit hati? Tapi kenapa mesti menyalahkan keadaaan?!” jelas perempuan yang dari tadi menyetir mobil tapi tetap fokus mendengar curhatan Dera.
“Aku kadang mikir, untuk apa Tuhan hadirin orang buat hilangin rasa sakit aku. Tapi ujung-ujungnya orang itu pergi juga dari aku setelah aku merasa nyaman sama dia!”
“Miris sih… Sabar yah! Ngomong-ngomong cowok itu siapa? Maaf lancang nanya-nanya!”
“Namanya Irgi, selama sebulan lebih aku sama-sama dia. Mulai dari dia koma, sampai sadar. Aku sering bareng-bareng dia bahkan setiap hari, tapi hari yang aku tidak harapkan datang, hari dimana Irgi harus pergi dari kehidupan aku. Tapi yang selalu aku ingat dia bialng sama aku kalau ini bukan perpisahan. Not Goodbye, tapi ini awal untuk kita bisa ketemu lagi dan sama-sama say hallo lagi. Tapi itu jadi kemungkinan yang sangat tidak mungkin karena dia sudah memilih perempuan yang lebih awal dia kenal di banding aku. Dan yang aku nggak fikir kenapa Irgi masih bilang di saat-saat terakhir mereka mau menikah kalau dia tetap sayang dengan aku, dia masih cinta sama aku. Bukannya itu egois? Itu makin buat aku sakit!” tutur Dera.

Perempuan itu me-rem mobilnya tiba-tiba, Dera kaget. Tak ada kendaraan di hadapannya yang membuat dia harus me-rem mendadak mobilnya.

“Kamu nggak apa-apa kan?!” tanya Dera.
Wajah perempuan itu nampak berbanding terbalik dari sebelumnya, raut wajah yang kesal memerah dan ingin meluapkan sesuatu tapi tidak dengan Dera.
“Maaf aku dapat sms, kayaknya aku harus pulang. Jalan-jalannya lain kali yah!” ucapnya.
“Oh iya nggak apa-apa!” Dera memakai tasnya dan segera turun dari mobil, namun ada satu hal yang dia lupa. Tapi mobil itu terlanjur hilang dari pandangannya dalam sekejap.
“Aku lupa nanya, nama dia siapa!”

“Selamat malam sayang!” Suara itu membuat Irgi legah dia segera berbalik dan memeluknya.
“Malam… Kamu dari mana aja?! Udah dari tadi aku nungguin kamu!” ucap Irgi sembari melepas pelukan.
“Habis belanja, aku tahu kamu pasti nggak bakal sempat buat nemenin aku. Karena selain sibuk kerja, sibuk juga mikirin kenangan sama cewek itu kan?!” ketus Alya yang kemudian duduk di kursi.

Irgi mencondongkan badan ke arah Alya yang tengah duduk agar sama tinggi. Dan mencoba bertanya apa maksud dari pernyataan Alya barusan.

“Maksud kamu apa Al? Aku nggak ngerti!!”
“Apa? AL? Kamu manggil aku pakai nama sekarang!!! Apa ada orang yang lebih berhak dapat panggilan sayang dibanding aku?!” Alya berbicara semakin ketus, apa dia tahu sesuatu tentang Dera?.
“Kamu kenapa sih? Kenapa jadi kayak gini, kamu tahu 5 hari lagi kan kita nikah!” Irgi berusaha meyakinkan Alya dengan berbicara selembut mungkin.
“Nggak peduli aku soal itu, mau sehari lagi, atau sejam lagi kita nikah. Aku nggak peduli Irgi, untuk apa aku pertahanin ini kalau hati kamu nggak sepenuhnya buat aku!” Alya semakin marah, terlihat jelas dari raut wajahnya.
Irgi berusaha meminta penjelasan namun Alya benar-benar marah, tapi Irgi belum tahu jelas kenapa.
“Al… Aku nggak anggap pernikahan kita cuman main-main atau apalah yang kamu fikir itu, aku sayang sama kamu. Dan untuk soal panggilan itu, kenapa mesti di besar-besarin? Kamu jelasin sama aku jangan menuduh seperti ini!” tutur Irgi.
“Aku nggak perlu jelasin lagi, karena kamu pasti tahu. Itu isi hati kamu!” Alya memandang Irgi dengan tajam.
“Isi hati aku kan? Kamu juga tahu, aku selalu nunjukin itu sama kamu. Aku sayang sama kamu, kita akan menikahi kamu seperti janji aku sama kamu dan orangtua kamu!” jelas Irgi.
“Bohong banget, kamu nggak mau jujur sama aku… Atau pernikahan ini dibatalin aja, supaya isi hati kamu itu bisa terwujud!!! Okey aku pergi percuma aku di sini berharap cinta kamu yang sepenuhnya tapi nggak akan bisa aku dapatin!” Alya berbalik dan segera berdiri dan melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Irgi berlari mengejar Alya, yang pergi dengan kekesalan yang tidak dimengertinya.

“Tunggu… Kamu nggak boleh ngomong gitu, Alya lihat sama aku. Bilang sama aku, apa yang membuat kamu marah kayak gini sampai-sampai mau batalin pernikahan kita!” pinta Irgi dengan sangat.
Alya diam di tempat dan berbalik memandangi Irgi.
“Kamu cinta kan sama Dera?!” butir kristal di matanya jatuh, rasa kesal di hatinya tidak semudah itu hilang.
Irgi kaget dan tidak tahu mau berkata apa, darimana Alya tahu semua itu?
“Kamu diam kan? Berarti benar kalau kamu cinta sama cewek lain, kamu jahat Irgi… Kamu udah nyakitin aku, sakit Irgi. Kamu jahat, ayo bilang… Kenapa kamu diam? Kamu cinta kan sama Dera? Kamu jahat Irgi… Kamu jahat… Kamu nyakitin hati aku…!” rasa sakit Alya akhirnya tumpah semua, bersamaan air mata yang jatuh seiring kesedihan hatinya yang begitu menyayat.
Irgi kemudian memeluk Alya. Mencoba menenangkan dan meyakinkan pada calon istrinya itu untuk selalu percaya dan tidak langsung mengambil keputusan seperti itu.
“Lepasin aku Irgi… Lepasinnn!” bentak Alya.
“Alya… Dengarin aku…!”
“Nggak… Aku nggak mau ketemu sama kamu!” Alya berlari meninggalkan Irgi.

Mobilnya melaju sangat kencang, Irgi mencoba menyusul. Namun perasaannya sedikit legah karena Alya pulang kerumahnya. Irgi tidak ingin mengambil resiko, dengan mampir karena dia tahu saat ini Alya butuh waktu sendiri dan menunggu waktu tepat untuk membicarakan semuanya.

Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali Irgi mendapat kabar dari orangtua Alya, kalau calon istrinya dilarikan ke rumah sakit. Alya sekarang berada di UGD, dalam penolongan Dokter. Bagaimana tidak Alya berniat mengakhiri hidupnya dengan memotong urat nadinya dengan pisau dapur, untung saja ART di rumahnya melihat dan Alya segera ditangani Dokter.
Sampai sore Irgi menunggu Alya di depan UGD. Setelah mendapat pasokan darah, Alya dimasukkan keruang inap. Namun dia masih belum sadar, sejam kemudian Alya membuka mata. Semua ada di sana, Mama Papa nya dan Irgi. Namun dia membuang muka, kedua matanya seolah tak mau memandang mata pria yang sudah membuatnya nekat melakukan hal bodoh seperti ini, pria yang dicintainya sudah menyakiti perasaannya. Alya sangat sayang dengan Irgi, hari-hari sebelum tragedi pesawat jatuh seakan menjadi hari yang tak akan pernah mereka lupakan. Keromantisan layaknya muda-mudi lain yang tengah mabuk cinta, namun saat mereka berpisah dan tidak bertemu hampa selalu dia menyelimutinya. Tak ada niatnya untuk berpaling ke cinta lain, di hatinya hanya ada Irgi. Tapi saat Irgi kembali kenangan itu seakan mengikis, terlebih setelah dia tahu kalau sebenarnya dia menyimpan cinta lain di hatinya. Dan dia harus mendengar semua dari wanita itu.

Dera yang tengah duduk di meja kerjanya, dikagetkan dengan seorang pria yang tiba-tiba masuk dan memegang tangannya lalu membawanya pergi dari keramain cafe.

“Kamu mau bawa aku kemana? Lepasin aku… Sakit Irgi!” Dera merasa kesakitan karena pergelangan tangannya digenggam keras oleh Irgi.

Namun Irgi tak menyahut, dia langsung menuntun Dera agar masuk ke mobil.

“Irgi… Kamu kenapa?!”
“Diam…!” Irgi hanya fokus menyetir
“Kamu kenapa kayak gini? Kamu tahu aku di sini dari mana?!” tanya Dera tak henti-henti.
“Kamu jangan bicara sebelum aku suruh kamu!!!” sahut Irgi dengan pandangan marah ke Dera.
Raut wajah Dera pun mendadak sendu, karena bentakan Irgi. Namun dia tetap ingin tahu,
“Aku mau turun disini!” ucap Dera tak mau kalah.
“Aku sudah bilang kamu diam! Jadi duduk jangan banyak tanya!” bentak Irgi.
“Aku mau turun di sini, kamu nggak berhak kayak gini sama aku… Berhenti!!! Aku mau turun di sini!” teriak Dera.
“Diam!” nada bicara Irgi semakin keras.
Air mata Dera menetes karena takut dan merasa baru kali ini ada orang yang berani membentaknya seperti yang dilakukan Irgi padanya.
“Turunin aku di sini… Stop Irgiiiiii, turunin aku!” Dera semakin nekat dan berusaha membuka pintu mobil sembari terus menangis.

Irgi kemudian memberhentikan mobilnya, dan turun lebih awal dari Dera.
Lagi-lagi dia menarik tangan Dera dengan kasar, dan membawanya ke tepi.

“Sekarang kamu jelasin sama aku… Apa yang kamu katakan sama Alya!! Ayo bilang!” tutur Irgi.
“Maksud kamu apa?!” sahut Dera bingung.
“Tadi kamu nanya ke aku, kenapa aku bawa kamu pergi dari cafe kamu… Ini!!!! Aku tanya sekali lagi, apa yang sudah kamu katakan sama Alya!” bentak Irgi lagi.
Dera semakin menangis, hal itu membuat Irgi semakin marah.
“Jelasin Dera… Aku bawa kamu untuk jelasin semuanya!!! Ayo bilang sekarang!” Irgi menggenggam tangan Dera begitu keras.
“Aku nggak tahu maksud kamu Irgi… Aku nggak pernah ketemu sama Alya… nggak pernah!” suara Dera menjadi parau.
“Bohong… nggak mungkin dia tahu semuanya kalau bukan kamu yang begitu bodohnya membiarkan dia tahu. Dia calon istri aku Dera!!! Dan gara-gara kamu nyawa dia hampir saja melayang… Apa kamu tidak bisa menyimpannya sendiri, kenapa harus Alya tahu!!! Pernikahan kami tinggal 4 hari Dera, apa kamu tidak ada rasa sedikit pun… Hah?!” tegas Irgi dengan begitu marah.
Hal itu membuat air mata Dera jatuh semakin banyak, dan tak tahu harus berkata apa. Dia lalu teringat dengan sosok perempuan pengunjung cafenya kemarin, apa dia Alya?. Tapi Dera tidak berani bilang, dia tidak mau Irgi semakin marah padanya

“Kamu nggak punya perasaan!” Irgi membuang pandangannya.
“Aku… Akkk… akuuu nggak tahu,… Aku benar-benar nggak tahu kalau dia Alya.!”
“Ahhhhhhh” Irgi berteriak
“Maafin aku Irgi!”
“Dera aku tahu perasaan kamu sama aku. Tapi aku benar-benar harus sama Alya, aku juga berusaha melupakan semuanya, kenangan kita. Kamu tahu kalau aku juga sangat cinta sama kamu, tapi bukan berarti kita bisa sama-sama…! Kita harus bisa lupain semuanya” tutur Irgi.
Dera lalu memegang kedua tangan Irgi.
“Aku nggak bisa Gi… Aku cinta sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu yang egois, kamu nggak peduli perasaan kamu sendiri, aku nggak mau kamu pergi dari hati aku, dari kehidupan aku… Aku nggak bisa Gi!!! Aku nggak bisa maaf!”
“Nggak… Aku nggak mau buat Alya lebih menderita lagi dari ini!”
“Alya… Alya… dan Alya… Cuman dia yang kamu fikirkan, kamu nggak peduli perasaan aku!” Dera melepas tangan Irgi.
“Kamu nggak boleh berfikir seperti itu, Aku tahu kamu butuh cinta dari aku tapi dalam hal ini Alya tidak bisa aku tinggal!”
“Okeyyy… Kalau itu alasan kamu, aku bakal lakuin hal yang sama dilakukan Alya biar kamu bisa di dekat aku selamanya!”
Dera berlari menuju tengah jalan raya, dia benar-benar sudah tak terkendali.
“Dera… Stop… Kamu jangan nekat!” Irgi berlari mengejarnya.

Kendaran berlalu lalang di samping kiri dan kanan Dera namun dia tetap nekat berdiri di sana. Klakson kendaraan begitu ramai, bahkan sebagian dari mereka memaki Dera. Irgi berusaha menerobos kendaraan.

“Ayo… Kamu jangan kayak gini.!” Irgi memegang tangan Dera, namun di hempas.
“Lepasin aku… Aku cuman mau lihat apa kamu akan melakukan hal yang sama yang kamu lakukan dengan Alya kalau aku tertabrak kendaraan-kendaraan ini!!!! Kukuh Dera.
“Kamu ngomong apa sih? Apa kamu nggak sayang sama nyawa kamu!?!”
Suara klaskon begitu ramai, sampai Irgi harus berteriak berbicara dengan Dera.
“Aku tidak peduli Irgi… Kamu pergi dari sini,…!!! Pergiiii…” Air mata Dera begitu deras mengalir.
“Kamu nggak boleh kayak gini… Ayo!” Irgi merangkul Dera dan membawa nya kembali ke tepi jalan di tengah kendaraan yang begitu padat.
“Ayo kita pulang!”
“Nggak aku mau matiiii… Aku nggak bisa Irgi, aku nggak bisa kehilangan kamu!” Irgi lalu memeluk Dera.
“Please kamu nggak boleh kayak gini…!”
“Kenapa Tuhan mengirim kamu sebagai penghapus luka aku? Kalau ujung-ujungnya aku merasakan sakit yang sama?!” Ucap Dera.
“Dera… Aku mohon demi cinta kamu sama aku, jangan bicara seperti itu!”
Dera melepas pelukan Irgi dan menatapnya dengan tajam
“Kenapa? Hah? Kenapa? Ayo bilang? Bilang Irgi? Kamu nggak mau kan aku bicara seperti itu? Ia? Berarti kamu harus sama-sama aku Irgi( suara Dera semakin lemas)… Kamu harus sama-sama aku!” akhirnya dia tumbang juga.
“Dera… Dera…!” Dengan segera Irgi membawa Dera pulang ke rumahnya.

Di rumah mereka di sambut Mama Dera.
“Irgi? Dera kenapa?!”
“Dera pingsan tante!”
“Ayo bawa dia masuk ke kamarnya!”
Irgi lalu membawa Dera masuk, sementara Mama Dera menuju dapur mengambil minum untuk Dera.

Irgi merebahkan Dera ke kasur, mengambil tisu dan menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. Hatinya begitu sakit melihat Dera seperti ini, dia terlalu egois mencintai dua wanita sekaligus.

“Bangun Dera… Jangan buat aku panik kayak gini, ayo… Aku sayang sama kamu, kamu bangun!”

Dera tetap saja belum sadar, tak lama Mama Dera datang membawa air putih. Dan memberikan minyak kayu putih ke hidung Dera, berharap dia bisa bangun.

“Kalian ketemu dimana?!” tanya Mama Dera.
“Tadi Irgi yang ajak dia pergi, Irgi tahu tante ini salah Irgi. Lagi-lagi Irgi nyakitin Dera, maafin Irgi tante!”
“Yah sudah. Sebaiknya kamu pulang, sebelum Rafa pulang dan tahu semua kejadiannya!”
“Tapi tante… Apa nggak sebaiknya Irgi tunggu sampai Dera bangun?!”
“Nggak apa-apa, ada tante yang jaga! Kamu sebaiknya pulang!”
“Kalau begitu saya pamit tante… Assalamu alaikum!”
“Walaikum salam!”

Cerpen Karangan: Yani Mariyani
Facebook: Yani Mariyani

Cerpen Not Goodbye (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Memilih Dia

Oleh:
Waktu menunjukkan pukul 22.01 WIB. Cuaca malam ini cukup gerah. Memang sekarang sudah memasuki musim kemarau. Bosan menonton tv aku segera naik ke kamarku di lantai dua. Kuambil ponselku

Cinta Memang Gila

Oleh:
“Dasar cewek murahan, pokoknya sekarang kita putus” itu isi sms singkatku sesaat setelah aku melihat Devani mantan pacarku pacaran sama om-om di taman. Aku sengaja memutuskannya lewat sms karena

Ada Apa Dengan Sunset?

Oleh:
Dia! Dia, sangat senang melihat matahari terbit. Keindahannya begitu luar biasa, karya agung sang maha kuasa. Namanya mentari hidupnya sederhana dan penuh perjuangan. Terkadang rasa lelah selalu ia dapat

Waktu Di Balik Senja (Part 4)

Oleh:
– Nathan Aditya POV Hari ini aku sungguh tidak bersemangat untuk sekolah. Apalagi ditambah dengan janjiku sama Salman agar tak mendekati Secret Admirerku, Rayya Arthamevia. Entah apa yang membuat

Janji Arga

Oleh:
Ayu terjaga dari tidurnya ketika ia mendengar ada suara berisik dari arah dapur. Tangannya bergerak mencari hp di meja di samping tempat tidurnya. Ayu menatap layar hp nya. “Oh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *