Not Playing With Me

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 September 2016

Gemerasak pohon pinus yang mengeliling taman sekolah menyambut senandung Felly dalam langkah kecilnya. Ia begitu bahagia dengan harinya yang terasa damai. Udara berhembus begitu lembut. Selembut hatinya yang besahaja. Itulah yang dikenal oleh banyak orang. Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis yang begitu cantik dengan kelembutan sikap, ucapan dan juga hatinya.

“Dia kenapa?,” tanya Felly khawatir setelah melihat suasana kelasnya.
“Sini ikut gue!,” ucap Riska dengan menarik tangan Felly untuk mengikutinya ke luar kelas.
“Ceritain semuanya!,” pinta Felly.
“Dinda, dia dibully di kelasnya. Lo tahu kenapa? Karena dia Tia terus panas-panasin Dinda tentang Aldy. Padahal, yang kenalin Tia ke Aldy siapa? Dinda, kan? Tapi, anak itu nggak pernah punya rasa terimakasih! Gue nggak tahu gimana jadinya itu anak!”
“Oh. Kenalnya, lewat BBM?”
“Iya.”
“Kenapa, gue jadi geregetan begini, ya?,” tanya Felly.
“Lo mau neror itu Aldy? Lo kan nggak punya BBM! Bukannya lo cuman punya Line aja?”
“Hehehe, iya juga sih… maaf!”
“Hhhh! Dasar! Udah yuk! Tenangin Dinda! Nggak tega gue sama anak orang itu!,” ucap Riska dengan meninggalkan Felly yang ia yakini akan mengikutinya dari belakang. Tapi nyatanya, Felly masih berdiri di depan pintu.
Lalu ia berjalan ke arah kamar mandi. Ia mengeluarkan senjatanya.
“Cari kontak anak bernama Aldy. Dia sekolah di Universitas kota sebelah!,” ucap Felly dengan telepon jadulnya.
“Thank you!,” jawab Felly dengan ponselnya yang berlogo apel yang tergigit.
Yah… itulah nyatanya Felly. Ia menyamar di depan teman-temannya layaknya seseorang yang tidak punya kuasa dan kekuatan untuk membalas apapun. Tapi, semua itu berhasil selama ini. Begitu pula dengan ia yang selalu berhasil membuat para deretan laki-laki keparat yang berani menyakiti teman-temannya dengan hidung belangnya.
Bahkan, teman-temannya tidak pernah menyadari bahwa para laki-laki yang kembali bersujud di depan teman-temannya adalah ulah Felly. Karena bagi mereka, Felly hanyalah gadis lugu yang tidak mengerti apa-apa. Layaknya, psikopat yang berhasil membunuh incarannya tanpa mengotori tangannya sendiri.

Setelah Felly mendapatkan kontak Aldy, ia kembali menjalankan aksinya untuk terus menggoda Aldy dengan kelembutan tutur katanya yang dapat mencerminkan perilakunya. Setiap hari Felly bermain chatting dengan Aldy. Hingga tiba saatnya, ia berhasil memancing Aldy dengan kata-kata agar Aldy mau bertemu dengannya.
Selama pendekatan, Felly terus mengorek informasi dari Aldy mengenai karateristiknya. Dan benar saja, bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang sederajat dengan materi. Oleh karena itu, Felly kembali melakukan penyamarannya. Felly yang menggunakan kacamata dan bedak dengan warna pucat, berubah menjadi Felly cantik yang penuh dengan make-up natural selayaknya remaja.

“Kamu ada di mana sekarang?,” tanya Aldy dengan lembut.
“Menolehlah ke balakang!,” pinta Felly lembut dengan nada yang tetap mengintimidasi.
“Felly Anggi Wiraatmaja?,” tanya Aldy memastikan.
“Tentu!,” ucap Felly dengan senyuman manisnya.
“Kamu lebih cantik aslinya!,” ucap Aldy kepada Felly.
“Terimakasih. Oh ya, kita jadi kemana?,” tanya Felly.
“Gimana kalau kita masuk ke restoran itu aja. Aku yakin, kamu pasti belum makan sama sekali, kan?”
“Hehehehe. Iya sih! Ok deh!,” ucap Felly dengan menganggukkan kepalanya.

Mereka pun masuk ke dalam. Kemudian, Aldy memanggil pelayan untuk memesan makanan. Felly memilih makanan jepang yang mentah serta jus sayur-buah yang tersedia di sana. Hal itu, memang membuat Aldy heran mengenai makanan Felly. Tapi nyatanya memang begitu. Ia adalah blasteran dari Jepang. Dan itu, menurun dari Mamanya. Setiap harinya, Felly jarang memakan roti ataupun nasi. Iya selalu sarapan sawi mentah dengan minyak ikan serta meminum jus brokoli dan tomat. Karena, itu adalah jus kesukaannya. Bagi orang Indonesia asli, rasanya memang memuakkan. Tapi bagi Felly itu adalah minuman terlezat di dunia dibandingkan dengan coffe, milk shake, ataupun chocolate.

“Habis ini, kamu ada acara apa?,” tanya Aldy setelah pelayan pergi.
“Entahlah! Kayaknya free deh!”
“Gimana kalau kita ke taman kota?!”
“Boleh!”
“Kamu ke sini sendirian, kan?”
“Iya! Kau ke sini bawa mobil sendiri kok.”
“Mmmmmh! Ok deh! Makan yuk! Udah datang nih!”
“Iya.”
“Enak ya, makan mentah-mentah begitu?”
“Mau coba?”
“Enggak deh, makasih!,” kata Aldy dengan sorotan mata jijik.
Mereka pun makan dengan lahapnya. Hingga tiba saatnya mereka berjalan ke arah taman kota. Di sana, mereka banyak membicarakan hal-hal yang mereka sukai satu sama lain. Hal itu, membuat Aldy merasa begitu nyaman di samping Felly. Bagaimana tidak? Felly terus membumbui pertemuan mereka dengan perbincangan yang renyah. Sehingga, penuh dengan tawa.

“Fel! Aku boleh bilang sesuatu nggak?,” tanya Aldy mulai serius.
Felly pun menghentikan langkah kakinya. Kemudian, menatap Aldy sejajar dan tegak seraya hag tingginyalah yang membuat tatapan mereka sejajar.
“Aku nyaman sama kamu! Aku ngerasa, aku mulai sayang sama kamu! Aku berharap, kamu mau jadi pacar aku, Fel!”
“Aku juga sayang sama kamu! Bahkan, aku juga cinta sama kamu!,” jawab Felly dengan senyuman lembutnya.
“Jadi, kamu mau jadi pacar aku?”
Felly menganggukkan kepalanyaa. Sedangkan Aldy, ia begitu bahagia hingga ia berulang kali bernafas lega setelah Felly mengatakan hal yang selalu diinginkan olehnya.

“Sayang!,” panggil seseorang saat Felly tengah berjalan dengan beriringan dengan Aldy.
“Sayang! Kamu udah pulang?,” tanya Felly bahagia.
“Dia siapa?,” tanya Aldy.
“Dia kekasih aku!”
“Kenalin, gue Arka. Arkana Aditya.”
“Tapi gue pacarnya dia!,” bantah Aldy.
Arka mengerutkan dahinya, sorotan matanya seketika menajam.
“Tenang dulu sayang! Aku jelasin! Mission Black!,” kata Felly kepada Arka.
Seketika itu, raut wajah Arka terlihat begitu tenang karena tahu bahwa semua ini adalah rekayasa.
“Felly! Kamu bohong kan?”
“Bohong? Ya enggak lah! Dia emang kekasihku! Bahkan, dia lebih dulu mengenalku dibandingkan dengan kamu! Oh ya, aku lupa kalau aku belum bilang apa-apa sama kamu.”
“Maksudnya?”
“Aku tuh macarin kamu cuman buat iseng aja! Toh, aku juga cuman jadiin kamu sebagai selingkuhan aku! Kamu tahu nggak, semua ini juga karena ulah kamu loh! Kalau kamu nggak bikin onar sama Dinda, maka gue aku akan diam! Bagiku, teman adalah sebuah kepemilikan. Jadi, jika kamu merusak milikku, maka aku tidak akan segan-segan merusak pemiliknya pula! Mengerti?,” ucap Felly dengan senyuman, tetapi sorotan mata yang tajam.
“Tapi, Fel…”
“Aldy.. Aldy… Aku kira kamu orangnya pintar. Ternyata, lebih bodoh dari yang aku perkirakan. Bahkan lebih menyedihkan.”
“Lo yang lebih menyedihkan daripada Aldy!,” bentak Tia dengan mendorong Felly saat ia tiba-tiba muncul.
“Oh… bonekanya dateng sayang! Eh Tia, gue terlihat menyedihkan karena gue nggak bisa menjadi Felly yang sesungguhnya! Gue hanya bisa jadi Felly yang lo kira sebagai cewek yang lugu! Gue peringatkan satu kali lagi untuk kalian, jangan pernah bangunin singa yang lagi tidur!,” ucap Felly tajam dengan mengacungkan telunjuknya.
“Felly!,” panggil Aldy dengan mengejar Felly yang pergi bersama Arka tanpa rasa bersalah.
“Udah Al! Apa sih, yang kamu lihat dari dia?!,” bentak Tia.
“Dia lebih hebat mencuri hati gue dibandingkan dengan lo! Lo cuman menang style dan uang! Tapi kepribadian lo, nggak pernah bisa menantang dan menarik bagi gue! Dan lo, adalah cewek yang kotor! Yang mudah termakan sama rayuan gombal!,” bentak Aldy dengan menginggalkan Tia yang masih mematung di tempatnya.

“Kamu kebiasaan banget sih!,” kata Arka dengan menyetir mobilnya.
“Salah sendiri macem-macem sama Felly.”
“Tapi kamu tuh dah bikin aku takut tahu nggak?!”
“Hehehe, aku janji nggak bakalan berpaling! Janji!,” kata Felly dengan mengacungkan jari kelingkingnya dan tersenyum.
Arka menghentikan mobilnya. Kemudian, ia tersenyum dan memeluk Felly. Memadukan rindunya yang telah terpendam selama ini. Yah.. selama Arka berada di New York untuk menempuh kesuksesannya di sana. Bagi Felly, tidak ada laki-laki lain yang ia cintai selain cinta pertamanya dan juga Papanya. Yah.. seperti itulah kehidupan Felly. Pahit manis selalu ada di dalamnya sebagai bumbu penyedap. Sama halnya dengan seseorang. Di luar ia terlihat begitu polos. Tapi, ingatlah satu hal. Kepribadian seseorang tidak akan pernah terlihat jika hanya melihat lapisan luarnya saja.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Not Playing With Me merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


MoU Cinta (Part 4)

Oleh:
Kemarin adalah hari yang cukup melelahkan buatku. Untungnya, salah paham antara aku dengan Lola dapat selesai hari itu juga. “Kenapa melamun aja?” tanya Davi atau aku harus memanggilnya Virzha

Love

Oleh:
Namaku remy laura, tapi sering dipanggil blossom. Aku bersekolah di smpk sang timur. Hari ini, hujan mengguyur kota ini. Aku memperhatikan bagaimana secercah butiran yang sengaja diturunkan ke muka

Kepergian Pertama

Oleh:
Air sisa hujan semalam masih tersisa di jalan membuat kolam-kolam kecil, menimbulkan percikan air ketika sepeda motor dan mobil melintas mengenai pejalan kaki di pinggir trotoar. Riana masih setia

Kebahagiaan yang Tak Terduga

Oleh:
Bismillah… Hari pertama kerja mudah-mudahan tidak mengecawakan bos. Demi anak aku harus bekerja keras sendiri, membesarkannya sendiri. Disinilah tempatku bekerja. Resto Xiaoci Taiwanesse, dimana di tempat ini pula aku

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Oleh:
Aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku pun memiliki teman dekat yang kemana-mana selalu berempat, mereka bernama Citra, Indah, dan Rara. Walaupun kami berempat tapi kami itu lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *