Nota Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 December 2017

Bulan telah purnama, sabit yang tersenyum pergi ke seberang jalan yang gelap gulita di tepi hutan Kota Malapa. Tak lama kemudian gerik samar-samar manusia berkerudung semakin kentara berjalan menuju arah rumah yang terlihat kotor penuh dengan dedaunan kering yang gugur tertiup angin dari pepohonan yang rimbun.

Sepi sekali malam itu, suara malam yang khas dengan derik jangkrik terdengar di telinga siapa saja yang berada dalam keadaan sepeti itu, tapi mungkin tidak bagi gadis yang berjalan sambil mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya, dan ternyata dia memasang sesuatu ke telinga, sepertinya dia mengenakan headshet, entah dia sedang mendengarkan musik atau apa untuk menghilangkan suara malam disetiap harinya, maklum saja. Di situ jarang terdengar suara lain kecuali jika sedang berlangsung acara tertentu, itu pun bisa dihitung dengan jari berapa kali dalam setahun acara itu ada.

Sorot lampu kendaraan dari kejauhan memberikan cahaya ke arah rumah, yang kemudian menampakkan warna rumah tersebut. Warna kuning kecoklatan berhias keramik berdiri jauh dari tepi jalan, tanpa adanya rumah yang bedekatan, rumah lainnya jauh lebih masuk lagi, sehingga hanya terlihat remang remang cahaya putih dan kuning seperti kunang kunang dari rumahnya.

Sebelumnya tiada cahaya di rumah bercat kuning itu, setelah membuka pintu dan masuk rumah, lampu led kuning menyala menerangi dan memperlihatkan tempat tinggal gadis tersebut setelah beberapa jam setelah matahari tenggelam. Bagi orang yang baru pertama kali melewati rumah tersebut memang seperti rumah kosong yang tak berpenghuni. Bagaimana tidak, beberapa hari terakhir angin di desa tersebut bertiup dengan kencang, sehingga debu-debu dan dedaunan beterbangan kemana mana, wajar saja setiap rumah yang banyak pepohonan di sekitarnya menjadi kotor dan tak terawat jika tidak langsung dibersihkan.

Waktu itu Wanita tersebut pulang terlarut malam, ia baru sempat membersihkan rumahnya ketika habis fajar, tepatnya setelah dia selesai menjalankan kewajibannya sebagai makhluk yang taat kepada penciptanya. Dalam khas gelap pagi, sebelum mentari menyingsingkan sinarnya menusuk sela-sela pepohonan, terdengar suara lirih sapu membersihkan rumah dan halaman sekitar. Kegiatan seperti itu dilakukan setiap hari olehnya, sembari juga sekalian sambil menunggu tukang sayur lewat menjual dagangannya. Setelah selesai membersihkan rumah dan halaman sekitar, terdengar suara bapak bapak berteriak menyuarakan sayurnya,

“sayuuurrr, yur sayuuuurrrrr”, Dia pun segera mendekati tukang sayur tersebut. Dan menanyakan “Sayur yang biasanya ada gak bang?”. Aduhh maaf, sayur sawinya sudah habis, tadi diborong sama seorang laki-laki yang keliatan keburu-buru di pinggir jalan deket tempat biasa nunggu angkutan, ehh saking keburunya, dompetnya nyampe jatuh dan isinya berceceran, gak tau dah tadi sayurnya buat apa”, “oooh, ya udah lah gak apa-apa, itu aja deh bang tempe sama sayur bayamnya aja seiket”. Makasih bang.

Kesendirian membuat gadis tersebut tangguh dan mandiri, apa saja dilakukannya sendiri semampu dia, dia adalah gadis desa yang sangat ramah, ceria dan tau sopan santun, meskipun dalam hati kecilnya terbesik kesunyian, namun ia selalu bisa menutupinya dengan semangat dan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, selalu saja dia menyempatkan diri untuk membaca kalam-Nya setelah dia berkecimpung dengan kesibukannya. Dia masih terngiang dan selalu ingat akan nasihat dan wejangan dari gurunya ketika dulu dia nyantri di pondok pesantren, “yen siro wis sibuk sak sibuke siro, ojo nganti siro lali marang Al-Qur’an”, “(jika kalian sudah sibuk-sesibuknya, jangan sampai kalian lupa akan Al-Qur’an).

Belum lama, sekitar dua bulan dia memutuskan untuk tidak nyantri lagi, dikarenakan adanya suatu hal yang menambah beban pikiran dirinya, ibunya tinggal sendiri sejak 2 tahun lalu ditinggal suaminya karena kecelakaan lalulintas, kecelakaan itu terjadi ketika mengantarkan seseorang yang dihormatinya pergi ke luar kota untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Tiga bulan terakhir ibunya sering sakit, pada akhir-akhir masa ibunya, dia mendapatkan pesan yang sangat bijak dan saat itu juga perasaaanya, semakain tidak karuan.

Pagi-pagi buta sepulang dari mushola, dari kamar, ibunya memanggil dan dengan nada sendu dan raut wajah ikhlas meminta supaya dia tegar dalam menghadai semua ini, “nak, kamu tak boleh bersedih, sebagai orang yang kuat, kamu harus bisa menyembunyikan kesedihanmu, supaya orang lain, melihatmu terlihat tegar dan selalu ceria. Dia yang maha mengetahui selalu tahu bagaimana keadaan segalanya hambanya, maka dari itu jangan sekali kau melupakannya, jalani apa yang menjadi kewajibanmu, dan tinggalkan apa yang tak pantas untuk dilakukan”. Tak terasa air mata berurai, sembari ibunya dengan wajah tersenyum berpindah kealam kekal, nada sembab dari seorang riang pecah menghantarkan kepergian sang bunda.

Beberapa waktu setelah itu, hari demi hari, linglung dan terombang ambing dalam kesunyian tak terelakkan, hingga suatu malam, dalam munajatnya teringat pesan yang dulu disampaikan ibunya. perlahan, perasaan sedih pun hilang pada dirinya. Dengan adanya keikhlasan menerima kenyataan yang tak terelakkan, dalam dirinya terdapat tekad yang kuat, harus berusaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, ia kembali pulih, pulih sebagai insan yang selalu berjuang menata dan menyiapkan bekal untuk nanti.

Harum masakan di rumah itu tercium sampai luar rumah, sehingga tak jarang orang yang pagi-pagi berangkat ke sawah, ladang, sekolah ataupun kantor mengeluarkan mimik wajah seolah olah sedang berhadapan dengan hidangan ala restoran yang menggiurkan. Maklum saja dia bisa menghasilkan aroma masakan yang sebegitu enaknya, sebagai wanita, keterampilan masak merupakan hal yang wajib dimiliki, kan malu seumpama tidak bisa masak, selain itu semasa di pondok, ia sering membantu memasak di Ndalem maupun ketika ada acara yang diselenggarakan pondok tersebut, seperti khataman, peringatan hari besar, ataupun yang lainnya.

Terik mentari sudah menghilangkan embun di pucuk-pucuk rerumputan, menandakan bahwa waktu pergi meninggalkan rumah, seolah-olah sebagai alarm alami yang selalu tepat waktu jikalau tidak ada hujan di waktu itu. Raut wajah sumringah terpancar di depan pintu dan tersibak ketika membalikkan badan setelah selesai mengunci pintu rumah. Lelaki mana yang tidak terpesona dengan muka natural berkharisma tanpa make up menghiasi wajahnya, bersih dengan pipi merah merona, lesung pipi, gigi kelinci dan berkacamata pula. Tak pelak ini dia yang namanya wanita sebagai perhiasan dunia, dan juga rangkap sebagai wanita sholeha sebagai perhiasan yang sebaik-baiknya. Aduhh, apakah ini yang namanya bidadari surga?…

Langkah demi langkah mengantarnya ke tempat biasa menunggu angkutan yang akan membawanya menuju tempatnya bekerja, tapi sebelum sampai ke tempat itu, tak sengaja ia melihat secarik kertas yang terlipat dan juga berdekatan sebuah foto berukuran 3×4 di semak pinggir jalan, benda itu terlihat baru saja terjatuh, “mungkinkah ini isi dompet milik laki-laki yang tercecer yang diceritakan tukang sayur tadi ya”, spontan diambillah kertas dan foto tersebut, sambil meneruskan jalannya, secarik kertas itu dia buka, dan ternyata sebuah nota belanjaan yang berisikan catan pembelian sembako, nota tersebut terlihat tidak asing baginya, setelah beberapa detik ia sadar bahwa nota itu berasal juga dari toko biasanya membeli sembako.

Sepuluh meter lagi ia sampai di tempat menunggu angkutan, (orang di situ menyebutnya gubug), dan masih saja melihat apa saja yang tercatat di nota belanjaan tadi, tak sedikit memang jumlah nominal belanjaan yang dibeli di toko langganannya, beras 10 kwintal, minyak 20 liter, gula 50 kg, dan masih banyak lagi, sempat terpikir di pikirannya “pasti akan ada acara yang besar di sana kalau belanjaannya sebanyak ini”. Setelah sampai di gubug, baru ia melihat foto yang ditemunya, terpampang seorang laki-laki mengenakan peci hitam dan jas almamater yang tak asing juga baginya.

Beberapa menit kemudian angkutan telah datang dan kernet memanggil
“ayok naik, depan masih kosong”,
Dan kemudian naiklah dia ke bus itu, dan ditanya kernet, “turun mana mbak?”, “biasa mas, lampu merah deket toko Semar, kernet bilang “OK” . Di bangku depan persis di belakang sopir ia duduk, di dekat jendela Ia menyandarkan kepalanya, jendela yang terbuka sedikit membuat angin masuk dan mengibaskan kerudung merah yang dikenakannya, sepertinya ia menikmati hembusan angin pagi yang masih segar, nota dan foto tadi masih digenggam, kemudian nota dimasukkan ke dalam tas, sedangkan fotonya tidak, sepertinya ia masih ingin memandangi foto itu, benar saja sepanjang perjalanan ia memandangi foto tersebut, sampai-sampai terbawa suasana yang berbeda, bisa dibilang hanya terfokus pada foto lelaki pemborong sayur kesukaannya. Dari belakang kernet bus mulai menarik ongkos penumpang, setiba di tempatnya duduknya, biasanya sih dengan suara lirih “mbak” sudah tau, tapi saat itu kernet bus sedikit agak keras memanggilnya karena tidak merespon, “mbak mbak, ongkos ongkos”,. Dia kaget dan kernet bus pun juga ikut kaget, “berapa mas, tanya gadis”, “empat ribu mbak”. “Ini mas uangnya”. Sambil memberikan kembalian, kernet menyeletup padanya, “oalah, jadi itu to yang bikin ngelamun ngak denger pas tadi dipanggil” (sambil melihat foto yang dipegang gadis itu). “apa sih mas” (dengan gerik yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu tapi sudah diketahui). “haha, mbak-mbak kaya aku ini gak tau aja situ sedang ngapain, lagi mandangin foto itu kan?”, tenang mbak dia pantes kok buat mbak”, (dengan nada mantep dan memastikan dari ucap sang kernet). Setelah itu kernet melanjutkan menarik ongkos, Dia masih mikir tentang perkataan kernet tadi, ahhh sudahlah dalam hatinya.

Sekitar 20 menit perjalanan, sampailah Dia di tempat yang ia katakan ketika tadi ditanya tujuannya ke mana oleh sang kernet. Tempat ia bekerja berada tidak jauh dari lampu merah, sekitar lima puluh meter kira-kira, ia bekerja sebagai penjual dan pemilik toko buku. Ya, toko yang merupakan tinggalan Ayahnya. Buku yang diperjualbelikan bermacam macam, dari buku pengetahuan umum, anak-anak, sekolah, agama dan lain lain. Toko itu sempat tutup untuk beberapa hari ketika ibunya meninggal, maklum saja tidak ada karyawan yang membantunya, namun setelah kembali buka banyak yang menanyakan kenapa itu tutup ketika membeli buku di sana. Toko itu bisa dibilang toko yang tidak sepi pembeli, koleksi bukunya yang lengkap membuat orang-orang yang mencari buku selalu datang ke tokonya. Setiap hari, tokonya tutup jam setengah lima sore, terkecuali hari Jum’at, ia menutup tokonya lebih awal karena ia harus pergi ke masjid tidak jauh dari tokonya untuk mengajar anak-anak mengaji. Anak-anak di sana merupakan penghibur yang sangat mengasyikkan. Baginya, polah tingkah polos, gemesin, lucu dan cerewet selalu ia jumpai ketika mengajar ngaji. Untuk hari itu ia biasanya pulang agak larut malam karena selesainya juga beberapa menit sebelum maghrib, selain itu juga angkutan umum sudah jarang yang beroperasi setelah maghrib.

Hari berikutnya setelah pulang dari toko buku, Dia mampir ke toko sembako langganannya, persedian sembako di rumah sudah menipis, jadi sekalian pulang ia sempatkan untuk membeli beras, gula, minyak dan semacamnya. Ketika itu ia teringat sesuatu yang tersimpan di dalam tasnya, secarik kertas nota yang kemarin ia temu di jalan beralamatkan di mana ia sedang membeli sembako. Ia keluarkan nota itu, dan ia tanyakan ke karyawan toko tersebut, “mbak, kemarin saya nemu nota ini di jalan, dan sepertinya ini nota penting buat laporan dan bukti pembelian, soalnya jumlah belanjaannya yang banyak banget kaya buat acara besar gitu mbak”… “ohh, terimaksih mbak, kemarin lusa ada laki-laki yang memang belanja sembako dalam jumlah besar sih mbak, katanya sih buat acara khataman di pondok, laki-laki itu pelanggan kami yang sudah lama belanja di sini, sampai-sampai kami sudah kenal akrab sama dia”, orangnya kalem, lucu, beradab, ramah dan ganteng lagi”, (haha mereka ketawa berasama) hehe mbaknya bisa aja kata Dia. “Ya sudah mbak ini notanya saya titipkan di sini, barangkali mau diambil, itu sudah selesai belanjaan saya, berapa mbak totalnya?”. “85 ribu mbak”. “ini uangnya mbak, terimaksih ya”. “sama-sama”.

Toko langganan yang buka sebelum dia sampai di toko buku sudah kedatangan pelanggan, saat itu dia membeli sesuatu yang kurang dari belanjaan sebelumnya, dan saat itu juga ia menerima dua nota sekaligus, satu nota yang saat itu ia beli dan satu nota yang kemarin lusa. “loh mbak, kok ada nota ini?, Nota ini kan sudah diberikan kemarin lusa?”, “iya, tapi kmaren ada pelanggan kami ke sini dan membawa nota itu”

Tak berapa lama setelah beberapa langkah turun dari bus, dia dipanggil mbak-mbak karyawan toko langganannya, “mbak-mbak, ke sini sebentar”, sambil berkata pada laki-laki di hadapannya, “nah itu lho mas, panjang umur sekali dia, mbak itu lho yang nemu nota belanjaanmu, kmarin dia ke sini dan ngasih notanya sekaligus beli beras dan lain lain. Katanya dia nemu berserakan di pinggir jalan dekat rumahnya”. Dalam hati, laki-laki berkata “oh iya, pas aku beli sayur mungkin, kan dompetku jatuh dan isinya berserakan”.
… “ada apa mbak, kok ngagetin aja?”, sambil terkejut yang tidak ditampakkan, dia melihat laki-laki yang dia lihat difoto itu ia lihat di depan mata, dan juga dia agak sedikit malu, entah apa yang dia rasakan, sejak dia nemu foto itu, sepertinya ada rasa manis-manisnya gitu bagi dia kalau melihati fotonya.
“ini lho ada yang mau bilang sesuatu” celetuk karyawan, tiba-tiba saja karyawan itu berkata seperti itu. -mbak karyawan ini seolah-olah ada maksud lain-
“ohh, gmana mas?”, dengan tepat mata mereka bertatapan dan membat grogi keduanya “a ee a, ini mbak, mau bilang maksih soal nota ini, -sambil menunjukkan notanya- “sama-sama mas, saya juga gak sengaja nemu nota dan foto mas, ehh”. keceplosan mengatakan foto,
“Foto?”, “a… iya mas”, “aduh jadi malu, kok foto juga yang ditemu” “trus di mana fotonya?”, a…aanu mas, bentar tak carikan”. sambil membuka tas dan mencarinya, “aduh mas gak ada, kayanya di rumah, tadi malem barang-barang di tas ini tak keluarin, mungkin gak ikut tak masukin lagi ke tas ini lagi, maaf ya mas, maaf”.
“sudahlah, gak papa gak usah dikembalikan juga gak papa, aku masih punya kok”.
“maaf mas, tak duluan dulu soalnya mau buka toko, sudah siang ini, kasian kalau ada yang mau beli”,
“ya udah, makasih ya” dengan tatapan yang mantab dan terpesona.
“ya” sahut dia… sembari berjalan, di dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang berbeda. “ahh masa iya”, berdegup-degup bahagia.

Saking penasarannya laki-laki itu mencari tahu tentang wanita itu ke mana-mana, dari toko langganannya sampai tukang sayur yang ia borong sayurannya kala itu”. Setelah mencari beberapa lama, akhirnya Dia tahu tentang wanita itu, di mana rumahnya, siapa dia, pekerjaannya apa, termasuk jika dia tinggal sendiri dan seorang santriwati, Dengan Umurnya yang sudah mapan, ia sowan ke Pak Kiainya untuk pamit boyong dan meminta ridho untuk menikah. Sowannya pun diridhoi kiainya.

Jum’at sebelum Ashar dia sudah sampai di rumah, tidak ada kegiatan mengajar mengaji di masjid karena sedang ada rangkaian acara haul. Sehabis Ashar, betapa terkejutnya wanita itu, setelah membukakan pintu rumahnya yang diketuk seseorang dan mengucapkan salam, sosok laki-laki di foto yang ia temu dan keluarganya bertamu, tak disangka-sangka maksud kedatangannya adalah untuk melamarnya. Dengan, perasaaan yang campur aduk, dan mempertimbangkan yang dialaminya, ia malu-malu menerima lamaran laki-laki itu.

Selang beberapa minggu, Pernikahan pun berlangsung, hidupnya pun berubah, tiada kata kesepian dan kesendirian, hidup mereka sakinah, mawadah, warohmah wa barokah. Nafkah pun ia cari bersama sebagai penjual buku dan Guru ngaji.
Duhh bahagianya bidadari surga menemukan pangerannya.

Cerpen Karangan: Ikhwan Masruri Nur Shalihin
Facebook: Ikhwan masruri

Cerpen Nota Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Suka Kamu

Oleh:
Seperti apa bahagia yang sederhana itu? bisakah diartikan dengan sebuah senyum indah yang kamu lukiskan dalam bingkai pesonamu. Kamu itu bisa membuatku gila setiap hari. Apakah kamu sadar, kamu

Bukan Hanya Sekedar Saudara

Oleh:
Semilir angin segar berhembus melalui celah-celah kaca jendela yang memang sengaja terbuka agar angin dapat masuk, berbagai pemandangan indah yang kutemui dari perjalananku kali ini menambah semangatku untuk segera

Cokelat Story

Oleh:
Aku dan Anton sebenarnya sudah kenal lama, kami teman sekelas waktu SD. Aku masih teringat kebiasaan buruknya, karena kebiasaannya itu sempat membuatku marah. Suatu ketika kaos kaki kesayangannya yang

Setetes Darah Kehidupan

Oleh:
Febby, dan Rasya adalah dua orang sahabat. Mereka telah bersahabat sejak kelas tiga SD hingga sekarang mereka yang telah duduk di bangku kelas satu SMP, mereka telah dipertemukan kembali

GARIS (Part 3)

Oleh:
Jam kuno itu berdentang 12 kali. Bunyinya melambung ke seluruh sudut rumah, menggetarkan kaca- kaca di dekatnya. Itulah suara jam kuno yang ada di menara belakang rumah. Setelah bunyi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *