Nothing Has Changed

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 August 2016

“Kau sudah menyiapkan pertanyaannya kan?” Tanya Gea memastikan.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Kau tak perlu khawatir”
“Ingat, ini demi karirmu, Rana. Jangan merusaknya!”
“Kau tenang saja. Semua pasti berjalan sesuai rencana” Aku meraih rambutku lalu menguncirnya ringkas ke belakang. Setelah merasa rapi, aku merogoh tas di pangkuanku untuk memastikan benda-benda yang kuperlukan sudah ada di dalam. Ya, semua siap!
“Tidak ada yang tertinggal kan?” Tanya Gea dengan masih menatapku.
Aku menggeleng mantap.
“Bagus! Telepon aku jika kau sudah selesai. Aku akan menjemputmu” Gea memelukku. “Good luck!” Bisiknya sambil menepuk pelan punggungku.
“Thanks” Balasku. Setelah menguraikan pelukan Gea, aku turun dari mobil.
“Semangat! Jangan lupa untuk meneleponku, oke?”
“Pasti” Aku mengangguk pelan.

Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa kini aku berdiri di depan salah satu restoran terkenal di kota ini. Restoran yang tidak asing, aku sering mengunjungi restoran ini, dulu. Ya dulu.
Jantungku berdegub kencang ketika otakku mulai mengingat kejadian-kejadian masa lampau. Kejadian yang sudah dengan susah payah kulupakan, tetapi kini dengan mudahnya berkelebat kembali di pikiranku. Aku tersenyum miris mengingat kejadian itu. Betapa bodohnya diriku dulu?
Oh ayolah, kenapa aku harus memikirkan kejadian tidak penting itu lagi? Bangun Rana! Aku pasti bisa melakukannya dengan baik. Tidak akan kubiarkan kejadian itu merusak karirku. Ya!

Aku melangkah mendekati pintu kaca restoran itu dengan langkah mantap. Setelah kakiku menginjak ubin keramik kuning gading, kuedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya dalam hitungan detik aku sudah mengetahui meja mana yang harus kutuju. Dengan perlahan, kulangkahkan kakiku mendekati meja di pojok ruangan yang sudah berpenghuni itu.
“Ehm.. selamat siang, Pak Derry” Sapaku sopan ketika aku berdiri di samping meja tersebut.
Lelaki itu mengangkat kepalanya terkejut. Mata kami bertemu. Oh tidak! Mata itu masih sama. Tatapan sendunya pun tak berubah. Tiba-tiba sebuah perasaan menyeruak begitu saja dalam diriku.
Tidak! Aku tidak boleh membiarkan pertahanan yang selama ini kubangun menjadi runtuh. Logikaku melarang keras. Aku harus mengusir perasaan itu.
“Ehm…” Aku berdehem pelan sambil mengalihkan pandangan.
“Ah ya, selamat siang” Lelaki itu bangun dari duduknya. Ia mengulurkan tangan kanannya kepadaku.
Aku membalas uluran tangan itu tanpa mengatakan apapun. Ah sial! Tangannya pun masih sama hangatnya. Aku harus segera melepaskan tangan itu, jika tidak otakku pasti akan berhenti bekerja.
“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Rana” Ujarnya dengan senyuman kecil.
Tanpa menghiraukan perkataannya barusan, aku menarik kursi dan menghempaskan tubuhku di sana. Derry pun melakukan hal yang sama, ia mengambil duduk di depanku. Aku merogoh tas, mengeluarkan beberapa benda yang kuperlukan. Tak lupa, aku mengeluarkan kertas pertanyaanku. Dari sudut mata, aku menangkap pandangan Derry tertuju lurus kepadaku. Sial! Pandangan itu membuatku salah tingkah. Tenang, Rana!
“Baiklah, apa anda siap Pak Derry?” Tanyaku sedatar mungkin
Derry tersenyum. “Pak Derry? Apa dalam jarak 2 tahun wajahku mengalami perubahan pesat?”
“Saya harap anda bisa bersikap professional, Pak Derry” Semburku
Matanya membesar, mungkin ia terkejut mendengar sindiranku. Namun ekspresinya kembali melembut. “Siapa yang tidak professional? Aku hanya berusaha mencairkan suasana”
“Baiklah. Apa wawancara ini bisa dimulai?”
“Terserah anda, Nona” Jawabnya santai “Apa anda tidak ingin memesan sesuatu terlebih dahulu?”
Aku mengutuki diriku sendiri karena suasana canggung ini. “Tidak, saya…”
Tiba-tiba Derry mengangkat tangan kanannya dan seorang pelayan berjalan mendekati meja kami. Membuatku bingung sehingga menggantungkan ucapanku sendiri.
“2 jus alpukat” Ujarnya singkat pada pelayan tersebut.
Aku masih dalam kebingunganku. Setengah hatiku terkejut, ternyata Derry masih mengingat minuman favoritku, namun setengah hatiku lainnya berusaha mematikan rasa terkejut itu agar tidak berkembang lebih jauh untuk kedua kalinya. Dan pikiranku sepertinya tidak memihak salah satu dari separoh hatiku itu. Pikiranku terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang baru dicernanya. Ya, Derry menyukai alpukat? Bukankah dia dulu sangat membencinya?
“Lanjutkan, Nona” Ucapan Derry membuyarkan lamunanku. Seketika itu juga aku sadar bahwa pelayan sudah meninggalkan meja kami.

Perlahan aku mulai memberanikan diri untuk menatap mata cokelatnya. “Baiklah. Bapak Derry Thomas Suhandi, perkenalkan saya Vanesa Kirana. Anda bisa memanggil saya Rana. Saya wartawan dari majalah Superteens, suatu kebanggaan bagi saya bisa mewawancari pengusaha hebat seperti anda” Perkenalanku singkat dengan nada datar dan lancar. Sip! Permulaannya yang bagus, Rana, pikirku senang. “Semua tau, merk sepatu perusahaan anda menjadi salah satu merk yang digemari oleh masyarakat, terlebih anak muda. Mengingat banyaknya merk sepatu dari luar negeri yang sudah terkenal namun merk sepatu anda mampu menyaingi merk-merk tersebut di pasaran. Tentu itu bukanlah hal yang mudah, antusiasme anak muda jaman sekarang terhadap merk local bisa dibilang rendah namun tidak untuk merk perusahaan anda. Bahkan sepatu anda merupakan merk hits beberapa tahun terakhir. Bagaimana anda mengawali usaha ini?”
Lelaki itu tersenyum kecil. “Sudah kutebak, Nona”
“Maksud anda?” Tanyaku bingung.
Ia mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya kemudian diulurkannya kertas itu kepadaku. “Ini, jawaban atas semua pertanyaanmu kujamin ada di kertas ini” Ujarnya dengan seringai penuh kemenangan.
Dengan ragu kuraih kertas itu dan kubuka. Ternyata lipatan itu terdiri dari beberapa lembar kertas yang berisikan biografi seorang Derry Thomas Suhandi. Aku setengah kesal namun setengah bahagia. Tapi bagaimana dia bisa tahu?
“Bagaimana anda bisa tahu? Dan kenapa anda repot-repot membuat biografi tentang anda sendiri?”
“Ini bukan pertama kalinya aku diwawancarai, Nona wartawan. Aku sudah bisa menebak pertanyaan-pertanyaan apa yang akan terlontar dari bibir mungil anda itu” Ia menghentikan ucapannya ketika menyadari seorang pelayan berdiri di samping meja kami.
Setelah meletakkan pesanan kami –tidak, maaf itu hanya pesanan lelaki sialan ini-. Ia tersenyum ramah ke arah kami. “Selamat menikmati” ujarnya sopan -yang kubalas dengan senyuman- kemudian meninggalkan meja kami kembali.

“Kalau begitu apa ini yang anda lakukan setiap ada wartawan yang mewawancari anda?” Tanyaku dingin. Sebenarnya aku cukup kesal dengan sikapnya, itu berarti dia tidak menghargai pertanyaan-pertanyaan yang sudah susah payah kubuat tadi malam. Tapi aku cukup bahagia juga berarti wawancara sialan ini akan segera berakhir.
Derry menyeruput jus alpukatnya sejenak. Mimik wajahnya menggambarkan kenikmatan. Aneh. Sejak kapan lelaki itu menyukai jus alpukat? Batinku penasaran.
“Tentu saja tidak, Nona. Aku akan menjawab dengan ramah semua pertanyaan yang mereka ajukan kepadaku meskipun aku sudah menjawab pertanyaan itu berpuluh-puluh kali” Ia terkekeh sejenak. “Aku melakukannya karena kau yang mewawancariku saat ini”
Deg! Jatungku seperti dihujam batu besar. Sialan. Kenapa jantungku berdegup kencang saat mendengar ucapan laki-laki ini barusan. Ayo Rana bangun! Benteng yang kubangun sudah cukup tinggi, mana mungkin sekarang aku membiarkan runtuh dengan mudahnya?
“Wow saya sangat tersanjung Pak Derry! Suatu kehormatan bagi saya anda menyiapkan lembar biografi ini, itu berarti anda mempermudah pekerjaan saya. Terimakasih” Ucapku dingin sambil merapikan kertas-kertas pertanyaanku.
Sontak lelaki itu tertawa. Aku hanya melirik dari ujung mataku.
“Kau pikir aku melakukan ini tanpa alasan?” Tanyanya enteng.
Aku mengerutkan kedua alisku. Permainan macam apa yang sedang dimainkan laki-laki ini?
“Kau pikir untuk apa aku repot-repot menyuruh sekertarisku membuat bigografi itu? Kau pikir untuk apa aku menyetujui wawancara ini? Dan satu lagi, kau pikir untuk apa aku meminta tempat wawancara kita di restoran ini? Kau pikir untuk apa, Nona Wartawan yang terhormat?” Bertubi-bertubi pertanyaan terlontar dari mulut Derry.
Aku menghentikan aktivitasku. “Lalu apa yang anda inginkan Pak Derry?” Tanyaku dengan nada setenang mungkin.
“Stop Rana! Berhenti bersikap seperti kita tidak saling mengenal.” Balasnya dengan penekan disetiap nadanya. Matanya menatapku tajam. “Seperti yang kau katakan, aku sudah mempermudah pekerjaanmu. Sekarang sebagai balasannya kita bertukar profesi”
“Apa maksudmu?” Tanyaku kebingungan.
“Kau sebagai narasumberku” Jawabnya dengan senyuman yang tak menyentuh matanya.
“Tidak! Aku yang wartawan disini. Kau tidak berhak mewawancaraiku”
“Oh kenapa tidak? Kau takut, nona Wartawan?” Tanyanya dengan nada merendahkan. Sial. Dia tahu aku paling tidak suka diremehkan seperti ini. Tapi bagaimana mungkin dia yang mewawancaraiku? Permainan bodoh apa ini?
“Baiklah, kau hanya kuberi 3 kesempatan untuk bertanya” Balasku licik.
“Hei mana bisa seperti itu?” Protesnya.
“3 atau tidak sama sekali?” Ancamku dingin.
Terlihat kekesalan di raut wajahnya. Aku yakin dia pasti mengumpatiku di dalam hatinya. Biarkan saja. Tak kan kubiarkan dia yang memegang kendali permainan ini.
“Bagaimana kalau kita taruhan? Jika aku menang kau harus menjawab semua pertanyaanku” Tanyanya dengan senyum kemenangan.
Taruhan. Yaa, itulah cara yang biasa kita lakukan dulu ketika kita berbeda pendapat. Taruhan untuk menentukan warna apa yang cocok untuk gaunku, taruhan untuk menentukan tujuan liburan kita dan masih banyak hal lagi yang kita putuskan dengan cara taruhan. Betapa konyolnya kita dulu. Sayang semua sudah berakhir. Tidak akan ada lagi kita di antara aku dan lelaki ini.
Kenapa aku jadi memikirkan masa-masa itu lagi? Ayo Rana, selesaikan permainan ini dan semua akan berakhir. Kau hanya perlu menjawab pertanyaannya dan menelepon Gea setelah ini. Aku pasti bisa menyelesaikannya.
“Baiklah. Apa yang perlu kita pertaruhkan?” Jawabku sambil menyandarkan tubuh pada sofa mini yang kududuki.
Derry tersenyum. “Kau lihat pelayan itu, ia membawa 2 cangkir yang entah apa isinya. Tebak meja mana yang akan ia tuju?”
Aku memperhatikan gerak-gerik pelayan yang dimaksud Derry. Pelayan itu berjalan ke sisi kanan ruangan ini. Ada 2 meja berpenghuni di sisi tersebut dan 2 meja itu masih kosong –belum terdapat makanan atau minuman-. Namun hanya ada 1 meja yang berpenghuni 2 orang. 2 wanita yang dari penampilannya merupakan wanita high-class. Sedangkan meja di sebelah kirinya hanya berpenghuni seorang lelaki tua ditemani tumpukan buku tebal. Baiklah, permainan ini cukup mudah untuk dipecahkan bukan?
“Meja no 9” Jawabku mantap.
“Hmm oke aku meja no 11” Balas Derry.

Kami masih mengamati pelayan itu. Ia berjalan mendekati meja 9, meja yang ditempati 2 wanita high-class. Aku tersenyum penuh kemenangan. Namun tak lama senyumku hilang. Pelayan itu melewati meja 9 dan menuju meja… 11 dan meletakkan 2 cangkir yang dibawanya di meja lelaki tua itu. Oh tidak! Habislah aku.
Derry menatapku. “Seperti biasa, Nona. Kau selalu kalah bila bertaruh denganku” Ucapnya dengan kekehan pelan.
“Kau hanya sedikit beruntung saja” Balasku asal
“Tenang saja, sesuai perjanjian awal wawancara ini hanya 2 jam, dan…” Derry menggantungkan ucapannya sembari melirik jam tangan di pergelangan. “Kurang 45 menit dari sekarang.” Ia mengubah posisi duduknya dan sedikit memajukan tubuhnya. “Kuperhatikan kau belum menyentuh jus alpukatmu, bukankah ini favoritmu?”
“Sejak kapan kau menyukai alpukat?” Tanyaku balik tanpa menggubris pertanyaannya. Rasa penasaranku berhasil mengalahkan logikaku.
Ia terkekeh pelan. “Sejak kau meninggalkanku”
Oh siapapun kumohon tolong aku! Jantungku sudah tidak terkontrol lagi.
“Dan kupikir rasanya tidak buruk. Seperti katamu dulu, alpukat sangat lezat. Perkataanmu terbukti, Nona” Tambahnya lagi dengan senyuman samar.
Aku tak bergeming. Bukan karena aku tidak mempedulikan ucapannya barusan. Ya, pernyataan yang sangat salah jika aku tidak mempedulikan lelaki ini. Aku diam karena bibirku seperti terkatup rapat, mengikuti otakku yang sepertinya mulai bekerja lambat.
“Kau tahu mengapa aku menyetujui wawancara ini?” Derry mengangkat sebelah alisnya.
Aku menelan ludah dengan susah payah. “Apa maksudmu?”
“Karena saat seperti ini yang kutunggu-tunggu dari 2 tahun yang lalu. Kau tiba-tiba menghilang entah kemana, dan lihat sekarang? Kau yang datang sendiri padaku, Rana. Takdir yang mengantarkanmu kepadaku” Derry tersenyum tipis. “Apakah kau merindukanku?”
“Tuntutan pekerjaan yang membuatku datang kesini. Dan itu tidak ada hubungannya denganmu. Aku kesini murni demi karirku, Derry” Balasku dingin.
Lelaki itu memejamkan mata. Aku mengernyit melihatnya.
“Aku tau itu, Rana” Jawabnya lirih. “Senang kau bisa mendapatkan pekerjaan yang kau inginkan.” Untuk kesekian kalinya senyuman terukir di bibir tipisnya.
“Terimakasih” Aku menatap jemariku yang saling bertautan. Ya, ini lebih baik daripada harus terbayang-bayang senyuman sempurna itu.
“Sejak kapan kau bekerja di majalah remaja itu? Tepatnya pada bulan apa?”
“Satu setengah tahun yang lalu. Juni” Jawabku sambil mengangkat wajahku. Aku tidak boleh terlihat rapuh di depannya.
“Oh berarti 2 bulan setelah kau meninggalkanku” Derry menatapku lurus. “Apa kau bahagia dengan keadaanmu saat ini?”
Aku terkekeh. “Tentu saja, hidupku jauh lebih baik dari beberapa tahun yang lalu”
Derry masih menatapku. Entah apa yang di pikirkannya. Tapi sungguh aku tak berbohong. Hidupku saat ini jauh lebih baik jika dibandingkan 2 tahun yang lalu, dimana masa-masa terpurukku menjalani hidup tanpa dirinya. Namun berbeda cerita lagi jika yang dimaksudkan saat ini dibandingkan dengan saat-saat aku bersamanya. Tentu saja aku sangat jauh lebih bahagia bersamanya. Namun semua sudah selesai.
“Senang mendengarnya, Rana” Balasnya. “Mengingat kau selalu berusaha menghilang dari kehidupanku namun kenapa sekarang kau mau mewawancaraiku? Kenapa kau tidak menolaknya?”
“Sudah kukatakan sebelumnya bukan? Ini semua kulakukan demi karirku. Dan menolak? Untuk apa aku menolak? Kau pikir hanya karena kau mantan pacarku maka aku akan menolak tugas ini?” Aku tertawa. “Pikiranku tak sedangkal itu”
“Kau cukup mempunyai nyali, Nona wartawan” Ujarnya sambil tersenyum miring.
“Tentu saja. Tak ada alasan yang membuat nyaliku menciyut saat berhadapan denganmu” Balasku cepat.
“Wow! Lalu kenapa 2 tahun lalu kau tiba-tiba meninggalkanku? Bahkan kau memutuskan hubungan kita lewat surat? Apa itu yang dimaksud bernyali?” Tanyanya yang di telingaku terdengar seperti sindiran tajam.
Deg! Sudah kutebak dia akan menanyakan hal ini. Tenang, Rana! Aku pasti bisa mengatasi ini.
“Bukankah kau sibuk dengan perjodohanmu? Aku tak ingin menggangu perjodohan itu, Derry. Aku adalah pihak yang tidak diinginkan saat itu, jadi tidak ada alasan yang membuatku tetap bertahan” Jawabku jujur.
Derry dijodohkan dengan relasi bisnis keluarganya. Meskipun saat itu Ia selalu mengatakan tidak mencintai gadis itu tapi Ia tidak pernah membantah perjodohan itu. Keputusanku tepat bukan? Jika aku memilih bertahan, aku hanya sebagai pihak ketiga. Perempuan mana yang suka menjadi pihak ketiga?
“Bodoh! Sudah kukatakan kau hanya perlu menunggu. Kau pikir membatalkan suatu perjodohan adalah hal yang mudah? Asal kau tau, aku juga tidak pernah menerima perjodohan itu hingga saat ini sekalipun” Jawabnya sedikit emosi.
“Kau tidak menerima perjodohan itu tetapi kalian sering berkencan. Kau pikir aku tidak tahu?” Tenggorokan sedikit tercekat. Tiba-tiba rasa sakit yang sudah lama kumatikan kini kembali menyeruak. Derry tak pernah tau berapa banyak malam yang kulewati dengan tangisan. Ia tak tahu bagaimana terpuruknya aku saat pergi dari hidupnya. Ia tak akan pernah tahu dan tidak perlu tahu.
“Jadi itu alasannya kau meninggalkanku?” Tanyanya remeh. “Ternyata kau lebih bodoh dari yang kukira. Kenapa kau tidak mencoba mencari penjelasanku saat itu ha?”
Bibirku terkatup rapat. Aku sendiri juga kehabisan ide untuk menyangkal ucapannya. Lagi-lagi aku menatap jari-jariku saling bertautan. Kau benar, Derry. Aku memang bodoh.
“Aku tidak pernah benar-benar kencan dengan gadis itu, Rana. Aku selalu mengajak Shasa. Aku tidak pernah pergi berdua dengan gadis itu. Kami selalu bertiga” Derry menjelaskan. “Shasa tahu kalau aku tidak setuju dengan perjodohan itu, maka dia membantuku membatalkannya. Aku sangat bersyukur mempunyai adik selicik dia” Tambahnya
“Maksudmu?”
“Shasa memiliki kartu As, ternyata gadis itu bukanlah gadis baik-baik. Dia gadis malam yang siap tidur dengan siapa saja asalkan keingininannya terpenuhi” Derry menyentuh daguku, mencoba mengangkat wajahku. “Sejak saat itu kedua orangtuaku membatalkan perjodohanku. Mana mungkin mereka rela anak mereka yang tampan ini menikah dengan gadis macam itu”
Aku menatap matanya. Entah apa yang tergambar di bola mata cokelat itu. “Lalu?” Tanyaku lirih
“Lalu aku mencarimu kemana-mana. Aku menghubungi teman-temanmu dan tetanggamu, bahkan setiap hari aku pergi ke tempat yang mungkin kau datangi”. Pandangan Derry menerawang. “Saat itu aku sangat frustasi karena aku tak bisa mendapatkan sedikit info pun tentangmu. Setelah beberapa bulan, aku mendapat info kau sudah tidak di kota ini lagi. Apa kau tak tahu seberapa besar rasa khawatir yang selalu menyelimutiku setiap harinya ha?”. Ia berhenti sejenak kemudian tersenyum kecil. “Tapi takdir memang berpihak padaku kan? Kini kau ada di hadapanku” Jawabnya. Tanganya beralih dari dagu ke tanganku. Ia menggenggamnya.
Tidak. Bentengku runtuh sudah. Genggaman ini sangat kurindukan. Aku tak bisa lagi berpura-pura tegar. Air mataku mulai berkumpul di ujung mataku.
“Aku masih sama, Rana. Aku tetap Derry, lelaki yang mencintaimu. Tidak ada yang berubah dariku sedikit pun” Genggaman Derry semakin erat. “Kuharap kau pun begitu”
Aku menghembuskan napas sejenak. “Der…” Ucapanku tergantung karena aku tak mampu menahan air mata yang sudah membasahi pipiku.
“Hei sayang, jangan menangis” Derry dengan lembut menghapus airmataku. “Kenapa kau jadi secengeng ini? Padahal beberapa menit lalu kau sangat menyebalkan” Tambahnya
“Sial” Umpatku pelan sambil memukul tangannya pelan.
Derry tertawa melihat ekpresiku. “Kemana perginya Nona wartawan yang terhormat?” Godanyaa.
“Hentikan!” Ucapku kesal bersamaan dengan terukir sebuah senyuman di bibirku. Namun senyumku perlahan memudar menyadari tatapan Derry yang sangat serius.
“Aku mencintaimu, Rana. Maukah kau memulai semuanya dari awal?”
“Tapi kau tau kan di dalam kamusku tidak ada kata balikan untuk hubungan yang sudah berakhir?” Tanyaku hati-hati.
Derry mengernyit. “Siapa yang mengajakmu balikan?”
Mataku membesar. Apaaa? Lalu apa maksud ucapannya barusan? Permainan apa lagi ini? Pikirku was-was.
Derry tersenyum manis. “Aku tidak mengajakmu balikan, Sayang. Tapi aku mengajakmu menikah”
Aku tercengang. Haruskah secepat ini?
“Me.. me..nikah? Kau yakin?” Tanyaku memastikan.
“Heii umur kita sudah tidak muda lagi, sudah bukan waktunya untuk hubungan cinta monyet seperti abg”
“Apa katamu? Umurku baru 23 tahun!” Balasku kesal. Enak saja dia mengataiku tua.
“23 tahun tapi sudah menyebalkan seperti nenek-nenek” Gerutu Derrry pelan.
Tuk! Aku melempar sedotanku ke arahnya. “Aku bisa mendengarmu, Pak Derry!”
“Hei kau…!!” Geramnya
“Apa? Aku kenapa?” Tantangku.
Derry tiba-tiba terdiam. Menatapku dalam. “Kau adalah calon istriku” Ujarnya.
“Apa kau yakin, Pak Derry? Seingatku aku belum menjawab lamaranmu” Godaku
“Sayang sekali, Rana. Barusan itu bukan lamaran tapi perintah” Balas Derry sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Cih emang kau sapa berani memerintahku?”
“Aku Derry Thomas Suhandi lelaki yang akan selalu mencintaimu” Jawabnya cepat.
“Baiklah baiklah, hentikan ucapan menjijikan itu” Cibirku sambil menutup kedua telingaku.
Derry tertawa. Aku pun tertawa. Kami tertawa. Tak pernah kubayangkan akan berakhir seperti ini.
“Ayo 45 menit kita sudah habis!” Ajak Derry setelah tawa kami mulai reda. Ia berdiri dan menarik tanganku pelan.
Aku mengikutinya.

Kami berjalan bergandengan ke luar. Restoran ini menjadi saksi buta cinta kami. Dari dulu hingga sekarang.
“I love you” Bisik Derry di tengah perjalanan kami menuju mobilnya.
“I love you too” Jawabku tulus sambil menatapnya. Derry melepas genggaman tangannya di tanganku. Tangannya beralih meraih pinggangku. Ia melingkarkan tanggannya di pinggangku dengan posesif. Aku hanya tersenyum. Lelaki ini tidak pernah berubah.
“RANAAAA…!!!”
Ups, Gea!!!! Habislah aku!

Cerpen Karangan: Ifarifah
Blog: Ifarifah.blogspot.com

Cerpen Nothing Has Changed merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Dia Tapi Kamu Vin

Oleh:
Ku melirik alvin yang berdiri tak jauh dariku, alvin asyik ngobrol dengan danar temannya. Aku kembali melihat ke depanku andini masih asyik melihat pengumuman di Mading sekolah. Aku mendekati

Introvert

Oleh:
Dosenku baru membagi tugas kelompok untuk makalah tentang Permasalahan seputar Lingkungan Sosial. Aku cukup terkejut dengan siapa aku harus bekerjasama, yaitu dengan cewek paling pendiam di kelas. Aku sama

Aku (Masih) Cinta Kamu

Oleh:
Angin sore yang berhembus ini. Mengingatkanku tentang kamu yang dulu mewarnai hidupku. Air danau yang jernih ini seperti pikiranku dulu sebelum mengenalmu ‘jernih’. Sore itu, aku seperti di buat

Dan Dia Hadir

Oleh:
Perjalanan panjangku untuk menemukan penggantinya tak semudah membalikan telapak tangan, orang sering menyebutnya dengan kata MOVE ON, aku punya pengertian sendiri tentang apa itu Move on dan bagaimana harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Nothing Has Changed”

  1. Dayu says:

    Serius cerpen ini bagus bgt hehehe. Alur ceritanya unik dan dibungkus cantik, apalagi akhirnya happy. haha favorit deh, terus berkarya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *