November Rain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 18 June 2016

– Sajak rindu –
Aku menatap bayangnya yang kian kabur,
Bayang yang selalu kurindu kala malam menjelang,
Bayang yang selalu kupeluk erat kala sepi menyentuhku..

Sosok itu begitu memukau,
Menggetarkan relung batin kala ku merindu.
Tlah lama ia menjadi cahaya dalam pekat,
Hanya saja ia tak pernah menyadari betapa hati ingin merangkulnya erat..

Untuk kau yang disana,
Yang entah merasa atau tidak,
Aku harap kau dapat membaca sajak yang kutulis jelas untukkmu,
Sajak rindu yang mengalun begitu indah,
Yang aku pun tak tau dimana awal dan akhirnya..
Tak harus kau membalas,
Cukup mengakui bahwa rasaku ini nyata..

Mungkin hanya sajak-sajak itu yang mampu mewakilkan perasaanku, perasaan yang begitu lama aku pendam sendiri. Aku tak tau entah kapan rasa ini mulai hadir dan bersemayam di lubuk hati kecil ini, tetapi aku bahagia dengan rasa yang aku miliki untuknya. Walaupun terkadang tak jarang rasa itu sendiri yang membuatku meneteskan butur-butir bening dari sepasang mata indahku. Yah, inilah aku dan cintaku untuknya yang mungkin ia pun tak tau tentang ini. Cinta sendiri, sungguh pedih bukan?
Dia.. pesonanya begitu memukau, menghipnotis setiap mata anggun yang menatapnya. Wajahnya bersinar bak purnama di bulan juli, pembawaannya yang hangat dan humoris serta gayanya yang keren membuat siapapun betah berada di dekatnnya. Ia juga pandai bernyanyi dan memainkan alat musik, menambah panjang daftar kesempurnaanya. Itu adalah daya tarik yang membuatku jatuh hati padanya. Jujur saja, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Rain, pemilik semua kesemprnaan itu, tipe cowok idaman hampir semua siswi di sekolahku, tapi sejauh ini aku belum pernah mendengarnya dekat dengan siapapun. Setidaknya hal ini yang terus menahanku untuk memendam rasaku padanya.

Aku ingin pagi segera menyapa, agar aku dapat melihat wajah tampannya lagi, wajah yang membuatku selalu merindu akan senyum manis yang lahir dari bibirnya.
“Selamat pagi, pangeran hujan”, sapaku padanya ketika aku dan dia berpapasan di lorong kelas. Dia hanya melempar senyum kemudian berlalu tanpa sedikit berucap. Aku maklum, seperti itulah dia padaku, mungkin karena ia tak begitu dekat denganku.

Bel berbunyi, tanda pelajaran akan segera dimulai. Aku bergegas masuk ke kelas dan duduk manis di bangku pojok kanan depan, hanya duduk manis tapi tak fokus pada pelajaran karena pikiranku melayang entah kemana bersama bayangnya.
“November, apa yang kamu pikirkan? Kenapa melamun saja? Jika tak ingin belajar silahkan tinggalkan kelas!”. Kata-kata bu Dini mengagetkanku. Teman-teman menatap ke arahku, aku hanya menunduk karena malu. Aku memutuskan untuk keluar dari kelas dan berjalan menuju atap gedung sekolah yang notabenenya berlantai tiga itu. Atap adalah salah satu tempat favoritku di sekolah ini. Tak sadar, ternyata Dera mengikutiku, lalu ia berdiri di sampingku. Kami diam sesaat menikmati pikiran masing-masing sebelum Dera yang akhirnya memulai pembicaraan.
“Nov, kenapa? Kamu sakit?” tanya Dera, gadis cantik yang sudah dua tahun menemaniku di bangku pojok kanan depan ini. “aku baik-baik aja kok Der, hanya saja aku lelah” ucapku lirih. “lelah? Kenapa?” tanya Dera heran. “aku lelah karena harus memendam dan menyembunyikan rasa yang telah lama hadir ini, dia ada disini, dekat, tapi aku tak bisa menggapainya” mataku berkaca-kaca. Dera menatapku lekat. “dia ada disini? Dekat? Siapa Nov? Jangan bilang itu Rain?!” selidik Dera. “ya, dialah orangnya, Rain” jawabku cepat. “tapi kenapa harus dia Nov?” Dera masih setengah percaya. “lalu kenapa? Apa tak boleh?” aku menatap Dera. Ia merangkulku. “bukan gitu Nov, hanya saja…” “sudahlah Der, lupakan saja! Anggap aku tak pernah mengatakan apapun padamu” aku memotong ucapan Dera, aku tak siap bila mendengar lanjutan ucapannya, mungkin sebaiknya tak kudengarkan saja. Aku menjauh meninggalkan Dera yang masih tak percaya pada pengakuanku beberapa detik yang lalu.
Entah apa yang kupikirkan, aku kalut. Aku tak tau apa yang harus kulakukan? Aku malu pada Dera, kenapa bisa aku membocorkan semua ini padanya, rasa yang satu tahun pahit dan manisnya mencintai aku telan sendiri. Tapi ada sedikit perasaan lega setelah mengakui itu.

Seminggu setelah pengakuanku hari itu, semua kembali seperti seharusnya. Dera tak mengungkit atau bertanya kenapa aku bisa menyukai pangeran hujan itu. Pangeran hujan, panggilanku untuk Rain, karena ia begitu menyukai hujan. Ketika hujan turun, Rain selalu menikmatinya dengan berjalan di bawah guyuran hujan atau hanya sekedar menengadahkan tangannya untuk menyentuh sejuknya rinai hujan.
Berbeda halnya dengan Rain yang begitu menyukai hujan, bagiku hujan adalah petaka, karena jika hujan hingga malam, maka aku tak bisa menikmati cahaya jingga yang tamaram di ufuk barat. Ya, senja. Senja adalah bahagiaku dan aku bahkan tak pernah lupa menikmati indahnya setiap hari.
Hari ini setidaknya lebih baik dari hari-hariku sebelumnya, tak biasanya Rain menyapaku lebih dulu. Ia juga menebarkan senyum khasnya yang membuatku semakin luluh. Aku merasa selangkah lebih dekat dengannya.

Malam pun hadir, seakan ia tau ada aku yang ingin bercengkrama dengannya.
“Wahai malam yang tak berbintang, dengarkanlah sajak rinduku
Ketika gelap semakin pekat,
Kurangkul erat bayangnya dalam penat,
Kukirimkan nada rinduku yang syahdu kepada sepoi angin malam
Aku harap purnama disana kan merasa, setidaknya ada aku yang selalu merindu pada eloknya” ujarku memberitahu sang malam.

Selangkah demi selangkah aku merasa semakin dekat dengannya, entah angin muson apa yang membawanya padaku. Tapi tak kupungkiri aku bahagia, setiap pagi bertukar senyum daan sesekali bercanda bersama menikmati waktu senggang di sela-sela pelajaran. Aku menikmati senyum dan tatapan-tatapannya, meski ku tahu semua itu seutuhnya bukan untukku, tapi setidaknya aku mendapatkan itu.
“Rain, aku yang nyanyi dan kamu yang main gitar? Bolehkah? Tanyaku penuh harap. “tentu, mau nyanyi lagu apa?” ucapnya dengan senyum menawan. “lagu rindu” jawabku. “baiklah”. Ia kemudian mulai memetik senar-senar gitarnya, lalu aku benyanyi dengan penuh perasaanku. Romantisnya..
Setelah semua yang kami lalui, aku masih tak memiliki keberanian untuk sekedar bercerita tentang perasaanku padanya. “pendam saja dulu, ini belum saatnya” batinku.

Disaat aku yakin keberuntungan berpihak kepadaku, namun kenyataanya berkata lain. Di lain hari, aku melihat Rain bergandengan tangan dengan gadis lain, mesra sekali, dan gadis itu sepertinya aku kenal. Oh Tuhan! Bukankah itu Dera? Gadis yang setiap harinya berbagi bangku denganku, gadis yang menyebut aku sahabatnya dan gadis yang tahu aku memendam rasa pada laki-laki tampan yang saat ini mengandeng mesra tangannya itu. Setega inikah dia? Aku membisu memyaksikaan semua ini. Senyum daan tatapan-tatapan penuh cinta terpancar dari mata Rain ketika menatap Dera. Kaki ku lemas, badanku ngilun dan lidahku kelu, sesak sekali.

Mereka melangkah ke arahku, dekat dan semakin dekat, dan kini mereka telah berdiri di hadapanku. “hai Nov, ini bidadari hatiku, Dera. Maaf baru sempat kasih tau kamu soal ini, sebenarnya aku sama Dera udah lama pacaran, tapi gak ada yang tau” ujar Rain tanpa rasa bersalah. Aku tak menjawab, mataku berkaca-kaca, aku yakin sebentar lagi butir-butir bening ini akan tumpah. Dera yang menyadari reaksiku sedikit menyimpan rasa tak enak padaku, terlihat dari raut wajahnya. “Nov, kamu gak apa-apa kan?” tanya Dera khawatir. “aku baik-baik aja, tak usah menghawatirkanku” jawabku sembari meninggalkan mereka dan berlari menuju atap, lalu aku menumpahkan semua pedihku bersama sepi, menangis.

Aku terbangun dari tidur panjangku,
Dan kudapati kenyataan yang lama tak kusadari jauh lebih menyakitkan dari yang pernah terbesit dalam benak sang senja..
Gadis itu..
Gadis yang selalu berada di sampingku ternyata adalah pujaanmu wahai sang pangeran hujan..
Kau tau bagaimana aku ketika menyadari itu? Rasanya aku ingin hilang seketika dari dunia ini.

Aku berlari membawa kepingan-kepingan hati yang luka. Awan disana mendung, lalu sepersekian detik kemudian hujan pun mengguyur tubuhku yang lunglai dengan derasnya. Hujan yang dulu tak kusuka kini menemaniku dalam tangis, ia seakan dapat melihat rona sendu di wajahku. “hujan, taukah kamu kenapa aku menangis di bawah rintikmu? Itu karenaa pengagum yang selalu menikmati rintikmu dengan bahagia itu telah mematahkan hatiku, menyisahkan kepingan-kepingan yang entah aku pun tak yakin akan bisa merangkainya kembali.”

Inilah titik jenuhku, jenuh setelah setahun lamanya aku memendam sendiri rasa ini padanya. Saat pertama kali jatuh cinta, saat itu dia tampil membawakan sebuah lagu bersama bandnya saat acara perpisahan kelas 12 kala itu. Aku menatapnya lekat, ada rasa yang tak biasa dan itu cinta. Lalu ketika letih menjadi sahabat di ujung sepi, yang membesitkan untuk menjauh dan meninggalkan rasa yang ku miliki, namun senyum menawan dan mata indahnya selalu membatku mampu untuk bertahan tan memberiku setitik cahaya yang menuntunku untuk kembali pada hati yang pernah kuyakini. Tapi kini apa arti semua ini?

Hari-hari terasa berat setelah hujan pertama awal bulan november lalu. Kini aku memilih menjauh darinya, aku tak peduli lagi pada rasaku yang mungkin meganggapku lemah karena menyerah begitu saja setelah memendam semuanya selama satu tahun. Meski bahagia kala mendapat lengkungan senyum menawaan darinya masih selalu terkenang, tapi kini biarkan semua itu menjadi kenangan.

Tanggal 27, minggu terakhir bulan november. Aku di sibukkan dengan latihan menyanyi untuk pertunjukkan musik yang akan diadakan akhir tahun nanti oleh sekolahku. Aku pikir kesibukkan ini akan membuatku lupa padanya, tapi nyatanya tidak. Rain dan bandnya juga ikut serta dalam acara ini, ditambah lagi dengan Dera yang diajaknya duet, tak jarang aku melihat mereka latihan, membuatku semakin muak saja.

Hari ini hari minggu, tak ada aktivitas sekolah, tapi ini jadwalku untuk latihan. Sekolah masih sepi, maklum saja aku berangkat satu jam lebih awal dari waktu latihan.
Aku melihat sosok yang tak asing disana, Rain berdiri di depan ruang latihan, ku hentikan langkah ketika melihatnya. Ia menoleh ke arahku, menatapku lalu melempar senyum, senyum yang sesungguhnya sangat kurindukan namun aku hanya bisa meresponnya dengan ekspresi datar, kemuadian berbalik arah menuju taman belakang sekolah. Aku tak tahan jika harus berhadapan dengannya, aku takut tak dapat mengendalikan perasaanku, aku tak ingin menangis di depannya.

Rain mengejar dan menghadangku. “apa yang kamu lakukan? Menepilah, jangan halangi jalanku!” ucapku padanya. “kamu akhir-akhir ini beda, kamu semakin menjauh dari aku semenjak tau aku dan Dera pacaran, kenapa? Kamu gak suka?” tanyanya padaku. “menurutmu apa? Sebenarnya jangan tanyakan itu padaku tapi bertanyalah pada dirimu” aku segera berlalu dari hadapannya namun ia menahan tanganku. “kau menyukaiku?”. Deg!! Jantungku berdegup kencang seakan ingin melompat keluar, kalimat ini tak pernah ku prediksi sebelumnya. Aku gugup, aku tak tau harus menjawab apa.
“kau menyukaiku, wahai November!?” tegasnya. Mataku dan matanya bertemu namun aku segera membuang muka. “setelah setahun berlalu, tapi kamu baru menyadarinya sekarang? Kemana saja kamu Rain?” ucapku dengan suara sedikit bergetar. “jadi benar kamu suka sama aku? Tapi kenapa tak mengatakannya” tanyanya lagi. “maaf, tapi aku tak punya banyak keberanian untuk sekedar memberitahumu, jadi aku memilih untuk memendamnya sendiri. Kamu tau? Kamu adalah sumber dari sajak-sajak indahku, sajak yang tak pernah terbaca olehmu” air mataku mulai mengalir perlahan. “tapi bukankah sangat menyakitkan memendam semua itu sendiri?” ia seakan tau apa yang kurasakan. “memang, tapi apa daya? Sudahlah, lupakan saja. Jangan pedulikan rasaku lagi. Sekarang kamu telah bersama bidadari hatimu itu, biarkan rasa ini menjadi kenangan” jawabku berpura-pura tegar. “jadi kamu percaya dengan semua itu? kamu cemburu?” mata Rain memancarkan sinarnya, lalu ia tersenyum puas. “apa maksudmu?” tanyaku bingung. “semua itu hanya sandiwara belaka untuk membuatmu cemburu” jawabnya dengan percaya diri. “tapi kenapa? Apa maksud dari semua ini?” aku semakin bingung. Kemudian Dera dan teman-temanku muncul di belakangku dengan membawa kue yang dilapisi krim cokelat dan di atasnya terpasang lilin yang bertuliskan angka 17. Mereka menyanyikan lagu yang tak asing lagi. Oh, astaga! Aku lupa hari ini usiaku genap 17 tahun, sweet seventeen. Aku terpaku menyaksikan semua ini, aku kehabsan kata-kata, kejutan ini tak pernah kuduga sebelumnya. “selamat ulang tahun sahabat terbaikku, maaf untuk semua kebingungan ini” Dera memelukku, aku pun membalas pelukan sahabatku ini. Kemudian Dera melepaskan pelukannya dan aku kembali menatap sosok tampan yang berdiri di hadapanku. “selamat ulang tahun, Novemberku. Maaf mumbuatmu mengeluarkan air mata untuk kebahagiaan kecil ini” Rain berbisik di telingaku lalu ia mendekapku dengan erat. Aku meneteskan air mata haru dalam dekapan hangatnya itu. “tapi kalian berhutang penjelasan padaku” ucapku, Rain dan yang lainnya hanya tersenyum.
“Sebenarnya aku dan Dera hanya bersandiwara dan berbohong padamu tentang hubunganku dengan Dera. Aku lakuin itu untuk memastikan kamu benar-benar suka sama aku. Jujur, aku juga suka sama kamu seperti halnya kamu suka sama aku, tapi aku butuh waktu untuk memastikan rasaku karena aku tak ingin menyakitimu dan aku butuh waktu satu tahun untuk mengumpulkan semua keberanianku untuk mengungkapkan semua ini” jelas Rain. “Rain udah lama suka sama kamu, Nov. Dia sering cerita sama aku, tapi aku gak pernah bilang ke kamu, Rain bilang belum saatnya kamu tau tentang perasaannya” tambah Dera.
Aku merasa seperti bermimpi, tak percaya rasanya. “tapi kenapa selama ini kamu cuek, Rain? Padahal aku selalu berharap bisa dekat sama kamu” ucapku. “aku pikir dengan cuek padamu aku bisa menyembunyikan rasaku. Kamu tau? Setiap kita berpapasan aku sangat ingin menyapamu dan aku sangat ingin berjalan di sebelahmu kemanapun kamu pergi, tapi aku tak berani melalukan semua itu, Nov”. Pengakuan Rain membuatku melayang ke awan, aku tak mampu untuk sekedar berkata-kata. Rain kemudian meraih kedua tanganku lalu digenggamnya erat, “November, setelah semua yang terpendam ini, maukah kamu membuat mimpi kita menjadi nyata? Maukah kamu menjadi bidadari hati ini?” ucap Rain dengan tatapan lembut dan senyum tipis tergores di wajah tampannya. Aku tersenyum. “kamu tau? Kamu ibarat hujan yang di nanti oleh bumi yang gersang, lalu setelah semua pengorbanan dan lelahku menuliskan sajak-sajak indah untukmu, bagaimana mungkin aku membiarkanmu berlalu begitu saja? Tak cukupkah air semua air mataku untuk meyakinkanmu bahwa aku ingin menjadi satu-satunya bintang yang ada di hatimu?”. Rain kembali mendekapku dengan eratnya seakan tak peduli pada semua tatapan Dera serta anak-anak lain yang tertuju pada kami. “aku menyayangimu, terima kasih untuk semua kebahagiaan ini” bisikku lembut padanya.

Senja, kau tahu? Kini aku dan dia menjadi kita. Setelah melewati skenario panjang dengan klimaks dan anti klimaks yang tak terduga sebelumnya, aku dan dia sampai di ujung cerita yang berakhir bahagia. Rasaku untuknya terbalaskan, bukan lagi cinta sendiri atau cinta sepihak.
“Rain, kau adalah hadiah terindah untukku”.

THE END

Cerpen Karangan: Nurul Islamiyati
Facebook: http//www.facebook.com/nurul.lovescoutforever

Cerpen November Rain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan Yang Tak Pasti

Oleh:
Hari ini adalah hari Senin, hari dimana Nita akan mengadakan ulangan semester. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 waktunya Nita berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah, Nita langsung mencari ruangan yang

Siti Nurbaya Hidup Lagi

Oleh:
40 tahun yang lalu, ada gadis bernama Siti. Nama panjangnya Marsiti. Satu kata saja. Menurutnya, dia rupawan. Dan itu memang benar. Dia kembang desa. Banyak orang terpesona dengan wajahnya

Walau Hanya Sebatas Mimpi

Oleh:
Malam ini aku melihatnya lagi. Tersenyum manis seraya menatapku dengan cahaya indah yang sontak keluar dari kedua bola matanya. Aku terdiam sejenak dan menikmati pemandangan yang tak sekalipun bisa

Setelah Lulus SMA (Part 1)

Oleh:
Seperti anak SMA yang baru lulus pada umumnya pasti rata-rata sudah mulai merencanakan tempat untuk melanjutkan sekolah misalnya dengan berbagai pilihan seperti ke perguruan tinggi atau langsung mencari pekerjaan.

Manipulasi

Oleh:
Manusia adalah makhluk yang sangat terlatih untuk memanipulasi segala sesuatu. Begitu nyatanya, banyak wanita yang berkompetisi menarik lawan jenisnya dengan manipulasinya. Trik manipulasi itu dengan cara merubah hitam menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *