Oh, Kesempatan Ke 4 (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 November 2013

Siang itu Rasanya panas sekali, karena takut kulit putihku terbakar matahari, jadi sepulang sekolah aku langsung minta jemput papa. Oh iya, Namaku Rizia, remaja perempuan yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Banyak yang bilang bahwa parasku lumayan cantik dengan perawakan yang tinggi dan langsing, tak heran jika banyak temanku yang menyarankanku ikut modeling.

Sebenarnya belum pernah sekalipun aku mencoba yang namanya pacaran, meskipun di SMP dulu banyak teman laki-lakiku yang berwajah tampan menyatakan perasaannya padaku, namun entah mengapa rasanya tidak ada yang spesial dari mereka, jadi selalu saja ku tolak, terlebih aku terlalu malas untuk menjalin hubungan khusus dengan seseorang. Mungkin itu yang membuatku cenderung lebih penyendiri. Ada yang bilang bahwa tanpa pacaran kita tak akan punya masa depan? Huh, siapa bilang?

Setelah masuk SMA ternyata ada saja laki-laki yang mengejarku, yang aku tau saat ini ada 2 orang teman satu angkatanku, Namanya Izan dan Joe. Joe lebih dulu suka padaku ketimbang Izan. sejak pertama masuk SMA si Joe sudah terpesona melihatku, itu pun kata temannya yang berusaha menjodohkanku dengannya, sementara Izan adalah teman dari sahabatku, tapi kudengar Izan sering menjelek-jelekan Joe, ah aku tidak suka laki-laki yang bersaing dengan cara tidak sehat. Bikin ilfil jadinya jika harus menceritakan si Izan lagi. lagi pula dari segi fisik Joe pun lebih baik dari Izan.

Joe dilihat dari tingkahnya akhir-akhir ini sepertinya dia benar-benar jatuh hati. Ya, dia benar-benar menyukaiku. Sebenanrnya Joe berwajah lumayan, kadang terlihat biasa, kadang terlihat sangat tampan dan membuatku ingin meliriknya terus. Meskipun secara langsung aku tidak pernah meladeni Joe, namun aku sering memperhatikan prilakunya. Ya wajar sih sebagai perempuan pasti senang jika ada Laki-laki yang mengagumi. Oh iya, dengar-dengar Joe meminta jasa teman sekelasku “Nadya” untuk menjadi Makcomblangnya denganku. Tanpa sepengetahuanku Nadya memberikan nomer Handphone ku pada Joe. Malam harinya Joe benar-benar menghubungiku, namun tidak terlalu kuhiraukan karena sajak dulu aku paling malas berurusan dengan laki-laki lewat Handphone, ditambah aku malas menggerakan jari-jari tanganku untuk sekedar mengketik SMS, jadi aku hanya meresponnya dengan seperlunya dan bilang pada Joe malam itu juga untuk tidak lagi menghubungiku lewat Handphone.

Suatu hari aku pernah di pergoki Joe saat sedang memperhatikannya, dia langsung tersenyum padaku, aku hanya sedikit melebarkan bibirku hanya karena tidak ingin terlihat terlalu genit. Malu aku saat itu, namun secara professional aku menutupinya dengan membuang pandanganku ke arah lain. Joe dan aku sering saling menggoda untuk sekedar bercanda tawa. Membayangkannya sering membuatku senyum-senyum sendiri, mendadak wajahku sering menjadi merah merona namun aku terlalu takut untuk jatuh cinta. Joe sangat berbeda dengan laki-laki lain yang mengejarku, Joe benar-benar membuatku seperti perempuan yang istimewa, dia begitu memujiku, aku bahagia saat Joe mengistimewakanku. Tak kusadari Joe kini begitu dekat denganku, aku takut dia malah menganggap aku memberikannya kesempatan, padahal aku sendiri hanya menganggapnya teman dan hanya menyukai semua usaha dan pujiannya untukku. Benar saja, tidak lama di suatu siang waktu istirahat aku sedang mengobrol dengan Joe di teras sekolah, Joe seakan-akan memberi tanda bahwa dia akan menyatakan cintanya saat itu, secara spontan aku pergi meninggalkan Joe yang baru hanya mengucapkan kalimat
“Aku mau jujur kalo selama ini aku…”.
Aku hanya berpura-pura tidak mendengarnya karena tidak pernah siap untuk saat-saat seperti itu.

Setelah siang itu aku mencoba untuk jauh-jauh dari Joe dengan maksud merenggangkan hubungan kami. Aku tau betul bahwa Joe kecewa dengan perlakuanku dan akupun masih menyalahkan diriku sendiri. Apa mau dikata jika hati ini tidak siap.
Sebenarnya aku hanya tidak ingin menolak Joe karena jika aku menolaknya aku akan kehilangan laki-laki gentle yang berjuang mengejarku seteguh itu, namun jika aku memberinya kesempatan, menerima cintanya, lalu cinta itu akan hilang perlahan, lalu kami putus? Joe akan meninggalkanku juga. Aku hanya ingin Joe tetap mengejarku. jadi kukira ini pilihan terbaik. Tak kusangka setelah kurang lebih 2 bulan aku menjauhi Joe, Joe juga malah menjauhiku, dan kabarnya Joe kini berpacaran dengan Nadya, makcomblang kami dulu.
Fyuh, Bye Joe..!

Sejak ditinggal Joe, aku mulai menyibukan diri dengan kegiatan sekolah lainnya. Naik ke kelas 2 SMA, mama bilang sering membayangkan jika aku, anaknya yang cantik ini benar-benar menjadi model, akhirnya aku mencoba mewujudkan angan-angan mama dengan mengikuti ajang Modeling kecil di suatu Mall di kotaku. Kebetulan aku mempunyai teman laki-laki bernama Bio yang sudah sering mengikuti ajang modeling dan Bio mengajakku untuk menjadi Couple nya karena butuh berpasang-pasangan untuk kompetisi ini. Bio adalah salah satu teman tertampanku di sekolah. Wajahnya memang fotogenik jadi tak heran jika dunia modeling menjadi pilihannya. Kalau di bandingkan dengan Bio, Joe sih lewat menurutku.

Saat itu di catwalk sederhana, kami berdua memperagakan busana pesta dimana aku berbalut gaun yang anggun dan Bio dengan Hem yang tampak serasi dengannya. Bio memang tampan dan kami tampak sangat serasi. Mungkin hoki ku sedang bagus, di pengalaman pertama itu aku langsung menjadi juara favorit di ajang itu. Mama menontonku di sisi pertunjukan, terlukis ekspresi bahagia di raut wajahnya.

Semakin hari aku merasa Bio benar-benar laki-laki tipe impianku. Baru sekarang aku alami rasa kasmaran sepanjang SMA. Oh, aku sedang jatuh cinta. Sempat kudengar bahwa Bio itu laki-laki yang sering kurang ajar pada perempuan, namun nyatanya sekian lama aku mengenalnya dia baik-baik saja kok. Aku jadi sering kali memperhatikan si Bio yang hidupnya Glamour ala-ala cowok metrose*sual dan cool itu. Aku selalu mencuri-curi kesempatan untuk dekat-dekat dengannya di sekolah. Kufikir, memang Joe saja yang bisa bahagia?

Suatu malam aku coba SMS Dinda dengan maksud curhat. Maklum lah perempuan sedang jatuh cinta, namun di sela-sela SMSku dengan Dinda, Joe tiba-tiba mengirimku pesan singkat. Tadinya aku malas meladeninya namun setelah difikir-fikir kasihan juga.
“Hey! perempuan Jutekk!” ejek Bio yang sejak dulu mengataiku dengan julukan “si Jutek”.
“hmm? Apa?” jawabku dengan singkat.
“jutek amat?, ngapain aja nih sekarang?” dengan basa-basi bertanya.
“ya gini aja.., awas noh ada yang marah kalo situ ngeSMS ke saya” ejekku, sebenarnya aku menakut-nakuti berharap dia menyudahi percakapan ini.
“siapa? Mamaku? Hehe” jawabnya santai.
“itu tuh, miss N.. you’re girlfriend”
“hhooh, udahan kalee..” jawab Joe.
“udahan? Sejak kapan? Kok bisa?” jadi Kepo aku dibuatnya.
“ya, udah lumayan lama, ya bisa lah, makanya pacaran biar tau!! 😛 ” ejeknya di sela-sela jawabannya.
“ih dassar! Pasti gara-gara cowoknya!”
“yee, bukan lagiii.. emang udah ga cocok aj :P” jawabnya membela.
“iya deh terserah” kataku. obrolan basi itu akhirnya ku akhiri dengan mendapatkan bahwa Joe telah putus dengan Nadya. Ah, pacaran memang Omong kosong. Untung aku tak menerima Joe, buktinya baru 2 bulan pacaran Joe sudah putus dengan Nadya.

Besok harinya di sekolah, suasana kelas terlihat tidak seperti biasanya. Teman-teman kelasku berkubu-kubu membicarakan suatu hal yang sepertinya menjurus kepadaku, terbukti saat aku memasuki kelas, semua mata dan senyuman aneh tertuju padaku. Lalu kudengar Dinda, teman terdekatku di kelas berteriak lantang selantang-lantangnya.
“BERI SAMBUTAN UNTUK NYONYA BIO!!”
“Yee… !!!” sorak dan tepuk tangan teman satu kelasku pecah saat itu juga.
“cie..cie, yang naksir Bio!!” kata salah seorang temanku lagi mengejekku. Sial! Aku baru baru ingat kemarin di isi curhatanku pada Dinda adalah semua cerita tentang Bio! Benar-benar berbibir dua temanku bernama Dinda ini. Untungnya pagi itu Bio tidak masuk sekolah, aku masih selamat di mata Bio namun aku malu bukan kepalang. Rasanya seperti stress sendiri di tengah-tengah 40 orang yang ada disitu. Aku benar-benar down. Aku fikir aku tamat hari itu. Rasa kesal dan malu menjadi satu dalam fikiran ini.

Hari itu aku hanya tertunduk di kelas seharian, memikirkan apa yang akan terjadi besok saat Bio mendengar berita ini. Istirahat pun aku hanya terdiam di kelas “sendiri” karena mungkin Dinda dan teman-teman dekatku yang lainnya merasa bersalah padaku sebab bercandaan mereka yang berlebihan. Tak lama dari jendela kulihat Joe ada di luar kelasku, sepertinya dia sedang nongkrong dengan genknya, tiba-tiba pandangannya tidak sengaja menoleh ke arahku, lalu benar saja dia masuk ke dalam kelasku dan menghampiriku yang sedang duduk sendiri.
“sendirian aja nih?” goda Joe sambil senyum kepadaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum balik menatapnya.
“boleh aku temenin? Hehehe” Joe nyengir dengan wajah penuh harapan.
“hmm, gimana ya…?” jawabku seolah-oleh berfikir, padahal aku ingin sekali Joe menemaniku yang sedang sendiri dan bingung, diam seribu bahasa. Akhirnya aku anggukkan kepalaku dan mempersilahkan Joe duduk di kursi di depanku. Wajah Joe masih semanis dulu, setelah nogbrol ngalor nigdul dengan Joe, penasaran aku bertanya mengapa dia dan Nadya putus, namun Joe seperti menutup-nutupi masalah itu. Setelah aku menekannya berkali-kali, akhirnya dia bilang bahwa Nadya ternyata menduakannya. Aku sangat yakin karena Joe adalah laki-laki yang jujur, terlebih sifat Nadya yang ku ketahui memang sedikit centil. Aku hanya mengucapkan kalimat duka pada Joe dan sedikit kalimat Move On’ku agar Joe tidak galau lagi.

“kamu gak perlu simpati sampe ngomong ini itu, bisa duduk bareng kamu lagi juga udah bikin aku move kok, kalo ibaratnya ya, hati aku ini kaya Nasi Riz, aku butuh mejikom buat ngejaga hati ini supaya gak dingin, dan aku ketemu Nadya sebagai mejikomnya waktu itu, supaya hati aku buat kamu nanti bisa anget lagi” Ujar Joe menanggapi kata-kataku sebelumnya dengan senyuman merayunya.
“haha, bisa aja ngegombalnya..” tanggapanku. namun secara mengejutkan Joe berkata.
“bukan ngegombal kok sebenernya, emang aku belum bisa lupain kamu Riz, bahkan waktu aku sama Nadya”
“hm, kok bisa?” tanyaku dengan wajah serius.
“sebenernya aku jadian sama Nadya cuman buat alternatif supaya aku bisa lupain kamu, mestinya kamu tau kan aku Naksir sama kamu, dan itu nyiksa aku Riz, soalnya semua perasaan aku waktu cuma bisa aku sembunyi’in sendiri, eh ternyata udah sama Nadya pun aku belum bisa Lupain kamu Riz, udah gitu di dua’in pula, hehe…” jelas Joe yang tiba-tiba tertawa membawa obrolan agar tidak terlalu serius.
“maaf ya, aku bingung Harus gimana.. semuanya rumit joe, aku…”
“kriiing!!…” bunyi bell tanda istirahat berakhir memotong perkataanku padahal belum sempat aku meminta maaf pada Joe. Lalu kami menunda pembicaraan dan Joe kembali ke kelasnya.

Keeseokan harinya baru saja aku sampai di sekolah, Dinda dan 3 teman lainnya menghampiriku meminta maaf atas kejadian kemarin, mereka bilang tak tau bahwa respon teman sekelasku akan segitunya. Hari itu aku tidak sendiri lagi karena Dinda kembali menemaniku, meskipun sebenarnya aku masih menyimpan sedikit sakit hati. Di jam istirahat aku dan Dinda pergi ke kantin bersama seperti biasa. Tak sengaja Kulihat Joe di depan kelasnya memperhatikan aku sambil tersenyum melambaikan tangannya dan melempar senyumnya yang manis itu. Aku sempat terpana memandangi Joe sambil berjalan perlahan hingga akhirnya menjauh dan tidak terlihat lagi. Joe sebenarnya selalu ada saat aku sendiri dan membutuhkan teman di sisiku. kulihat sepertinya Joe sedang mengejarku lagi untuk kedua kalinya karena akhir-akhir ini joe sering sekali ke kelasku hanya untuk memperhatikanku atau sekedar mengajakku ngobrol berdua, dan di semua percakapan kami, pasti Joe selalu menyisipkan pujiannya yang membuat aku selalu merasa spesial seperti dulu. suatu saat di waktu yang berbeda aku sedang duduk berdua dengan Joe di kelasku, kami bercanda dan tertawa seasick-asiknya berdua. Joe memang lucu jika sudah bercanda, namun ada becandaan Joe yang membuatku tersinggung yaitu saat dia bilang,
“ciee.. katanya ada yang lagi jatuh cinta nih sama si Bio” ejeknya.
“ih kamu! Bisa gak sih Becanda yang lain aja!” kataku dengan memasang wajah Manyun pada Joe. Joe yang melihat aku tersinggung segera meminta maaf, namun aku terlanjur jadi Bad mood, lantas ku bilang ingin menyudahi obrolan siang itu. Joe seperti merasa bersalah, kulihat penyesalan di wajahnya. Namanya juga perempuan, mood cepat berubah itu wajar saja kan. Berkali-kali Joe meminta maaf via SMS, jadi aku memaafkannya dan hubungan kami kembali membaik seperti biasa.

Tak perlu waktu yang lama, Aku dan Joe kembali sedekat dulu pertama kali, ini membuat aku risih lagi, antara takut untuk jatuh cinta, dan takut Joe menembakku atau pergi seperti dulu. Sebenarnya aku masih belum bisa benar-benar membuka hati untuk Laki-laki, namun bukan berarti aku Les*ian juga dong. Mungkin buat Joe, ini adalah kesempatan kedua. Aku hanya masih tidak mengerti dengan prinsip pacaran. Apa yang dicari dari pacaran? Sedangkan Joe saja di dua’kan karena cinta. Sebenarnya aku ingin memberi harapan untuk Joe, namun aku terlalu malas mendengar kata “pacaran” dan membuat aku mengurungkan niatku, walaupun sebenarnya aku memiliki rasa pada Joe. AKhirnya untuk kedua kalinya aku menjauhi Joe yang kembali menaruh harapan padaku.

Cerpen Karangan: Fikri Maulana
Facebook: Fikrie Maulanaa

nama saya Fikri Maulana
cerpen yang satu ini based on true story.
saya masih belajar menulis. baru saya sadari menulis bisa menghilangkan stress.

Cerpen Oh, Kesempatan Ke 4 (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melepasmu

Oleh:
“Semakin ku menyayangimu, semakin ku harus melepasmu dari hidupku.. Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini, kita tak mungkin trus bersama..” “Gue sayang sama lu vi”, kata Ryan ke

Surat Terakhir

Oleh:
“dian” sapaku kepadanya saat aku melihat dia berlari-lari dari depan pintu perpustakaan, ia menoleh ke arahku namun tak menghiraukanku dan terlihat airmata telah keluar dari mata indahnya itu. kenapa

And At Last, We’re Together

Oleh:
Pagi ini adalah pagi yang indah untuk Arsha. Akhirnya ia bisa bersekolah di SMU Sumpah Pemuda yang selalu ia idam-idamkan. Dengan penuh semangat, ia berangkat ke sekolah bersama Ayahnya.

Izinkan Aku Berbuat Sesuatu Untukmu

Oleh:
Aku ingin bertemu denganmu, Gara Suasana malam minggu begitu gaduh di terminal. Hiruk pikuk pedagang asongan menambah suasana makin semrawut. Ah itu lumrah namanya juga terminal. Lain dengan kuburan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *