One Day to Remember

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 October 2016

“Are you ready?” Aku melemparkan tatapan sengit pada Nathan. Cowok itu seperti tidak mendengarkan kata-kataku. “WOI NATH!” Dia baru menatapku ingin tahu. “Are you ready?”

“Are you ready apaan?” Katanya datar lalu menguap lebar. Untung tidak ada laler yang masuk. “Ngantuk gue.”

Aku mendengus kesal melihat Nathan yang sekarang sudah memejamkan mata sambil bersandar di pohon palem di taman komplek. Bisa-bisanya dia bilang ngantuk? Iya sih, memang ini masih pagi. Masih sangat pagi sebenarnya. Matahari saja belum mau muncul. Tapi, biarlah. Kita tidak boleh menyia-nyikan waktu.

“Lo mah nyebelin.” Aku berkata dengan nada ngambek. “Nggak ngehargain usaha gue banget udah bikin ginian susah-susah juga.” Aku mengacungkan kocokan undian yang lebih mirip kocokan arisan.

“Siapa yang suruh bikin gituan sih?” Dia berkata masih dengan mata terpejam. “Lagian itu apaan coba?”

“Ya, ini kan hari terakhir kita mau main bareng sebelum besok lo mau pindah gara-gara bokap lo yang dipindah tugasin. Masa lo mau kita main yang kayak hari-hari biasanya? Bosen!” Aku berkata kelewat semangat. “Ini kocokan isinya berbagai macam hal gila menurut survei di internet yang bakal kita lakuin. Cukup lima aja dari total tiga puluh yang ada.”

Nathan membuka matanya lalu bergidik ngeri. “Harus banget, Nad?”

“Harus.”

“Terus sekarang kita ngapain?”

Aku menyerahkan kocokan itu padanya. Dia menerima dengan tampang aneh. “Kocok gih. Kayak ngocok arisan gitu lho. Ntar yang keluar, itu yang kita lakuin.”

Nathan mengocoknya asal-asalan lalu mengeluarkan satu kertas yang sudah digulung dari bolongan yang ada di ujung kocokan. Aku mengambil gulungan itu, membukanya lalu membacanya keras-keras.

“Gangguin anjingnya Brandon.”

Aku menganga lebar sementara Nathan menatap kertas itu tidak percaya.

“Gila! Nggak. Nggak mau gue.” Dia menatapku ngeri. “Anjing galak banget gitu. Ampe di depan rumahnya dipasangin plang ‘awas anjing lebih galak daripada pemilik rumah’ gitu. Ogah gue.”

“Yaelah cemen banget.” Aku berkata meremahkan. “Ini kan lo yang ngocok.”

Nathan lalu mengusap wajahnya frustasi. “Dasar stres lo, Nada!”

Aku mendorong-dorong Nathan agar lebih dekat lagi dengan pagar rumah Brandon yang sedikit terbuka. “Majuan.”

“Berisik lo.” Dia tidak mengalihkan pandangannya. “Gila Nad! Anjingnya nggak diiket!”

“Lanjut Bro!”

Aku hanya bisa menahan senyum melihat Nathan yang sekarang sudah menyalakan korek lalu mendekatkan api dari korek ke arah sumbu petasan kretek. Dia melirikku terlebih dahulu. Aku mengacungkan jempol lalu dengan cepat Nathan melemparkan petasan itu melewati pagar dan masuk ke dalam rumah Brandon.

“Kretek kretek kretek kretek kretek.”

“GUK!”

Mampus!

Nathan mundur satu langkah. Mau tak mau aku jadi ikutan mundur.

“GUK!”

“Nad, kalo gue bilang kabur, kabur ya.” Aku mengangguk mengerti.

“GUK!”

“KABUUUUR!” Nathan langsung berteriak melihat anjing Brandon keluar dari pagar dan saat ini sibuk mengejar kami yang sudah lari kalang kabut.

“Guk! Guk! Guk!”

“Mampus. Itu. Anjing. Nggak. Capek. Capek. Ngejar. Kita. Apa?” Kataku ngos-ngosan.

Nathan tidak menjawabnya. Dia sedang sibuk mengatur nafasnya.

Tiba-tiba saja aku merasakan tanganku ditarik ke sebuah belokan. Nathan yang menarikku langsung menyuruhku diam. Beruntunglah kami saat anjing gila tadi tidak berbelok dan malah berlari lurus ke dapan. Bagus. Jauh-jauh sana!

Nathan mengelap keringat yang sudah membasahi dahinya. Haduh, kenapa dia bisa terlihat begini keren sih? “Sumpah, engap banget gue.”

“Tapi lo jadi nggak ngantuk kan?” Aku nyengir. “Itung-itung olahraga pagi.”

“Nggak gini-gini juga, kali.”

Aku mengatur nafasku sebentar lalu mengeluarkan kocokan tersebut dari dalam tas kecilku. “Sekarang giliran gue ya?” Tanpa menunggu jawabannya aku langsung mengocok kocokan tersebut dan mengeluarkan satu gulungan kertas. Dengan hati berdebar aku membukanya dan membacanya keras-keras. “Bantuin nenek Ema.”

Nathan langsung menghembuskan nafas lega.

“Pilihan gue mah bagus. Emang elo?”

“Berisik.”

Nenek Ema adalah seorang nenek renta yang tinggal di ujung jalan sana. Dia hidup sebatang kara. Aku sering melihat hanya duduk bengong di teras tanpa melakukan apa-apa. Terkadang aku merasa kasihan melihatnya.

Aku dan Nathan lalu mendatangi rumah nenek Ema. Nenek Ema yang awalnya kebingungan apa maksud kami datang ke rumahnya, akhirnya bisa menerima kami di sana.

Kami membantunya menyapu halaman, menyapu rumah, mengepel lantai, memasak, memasang gorden, memijiti Nenek Ema, sampai memetik buah kelapa —yang terakhir ini sih, hanya Nathan yang melakukannya.

Sekitar jam sebelas siang kami selesai bantu-bantu di rumah Nenek Ema dan segera pamit pulang setelah sebelumnya kami disuguhi makan siang dari Nenek Ema.

Benar-benar Nenek yang baik. Kasihan dia ditinggalkan keluarganya.

“Nenek Ema kasihan ya.” Aku bergumam tanpa sadar di jalan pulang dari rumah Nenek Ema. “Gue nggak kebayang kalo udah tua nanti gue digituin.”

Nathan menatapku serius. “Ya makannya lo nurut sama orangtua.”

Kurang ajar! Aku kan memang anak baik-baik!

Kami menepi sebentar dan duduk di trotoar jalan.

“Capek?” Nathan bertanya tiba-tiba. Aku menggeleng secepat mungkin. Tanpa sadar dia lalu mengacak-acak rambutku. Duh, kenapa aku jadi salah tingkah begini?

Untuk menghilangkan rasa grogiku, aku mengambil kocokan itu lagi dan menyerahkannya pada Nathan. Berbeda dengan kali sebelumnya, kali ini Nathan menyempatkan diri untuk berdoa terlebih dahulu. Katanya sih, biar dapetnya bagus. Dia mengocoknya dan mengambil sebuah gulungan kertas yang keluar dari sana lalu membukanya, setelah sebelumnya menatapku terlebih dahulu.

Dia menghembuskan napas lalu membacanya keras-keras. “Matiin sekring warga komplek.”

Aku dan Nathan sama-sama refleks menepuk jidat masing-masing.

“Kocokan lo kok bala terus sih?” Aku cemberut.

Dia hanya nyengir bersalah lalu mengebalikan kocokan tadi padaku.

Kami lalu berjalan menuju pusat listrik warga komplek yang terletak persis di samping rumah Pak RW.

“Bisa digebukin kita.” Nathan berkata takut-takut. Aku hanya terkekeh sebentar.

“Tadi dikejar anjing, sekarang dikejar warga?” Aku berbicara meledek. “Boleh juga sih pilihan lo.”

Dia mendengus bete.

“Nad.” Aku bergumam. “Abis gue matiin, langsung lari ke arah jam tiga ya. Di situ ada semacem tempat buat sampah gaje gitu, nanti kita ngumpet di sana sampe warga nyalain lagi nih listrik.”

Aku mengangguk mengerti, lalu memberi semangat pada Nathan. Nathan mengangguk kecil lalu mematikan listrik tersebut.

Dengan cepat kami langsung berlari ke arah jam tiga, lalu merunduk di balik tembok yang biasa digunakan untuk menampung sampah. Serius, ini bau banget! Pada buang apaan sih?

“Mati lampu ya?” Aku mendengar suara ibu-ibu ke luar dari rumahnya dan bertanya kepada tetangga samping rumahnya.

“Iya deh kayaknya.” Tetangga itu menjawab sekenanya.

“Nath.” Aku menyikut Nathan sementara dia mengaduh kesakitan. Dasar lemah. “Gue rasa pada ngira ini mati lampu deh. Ke luar aja yuk. Bau banget. Pengen muntah gue.”

Dengan cepat Nathan menyetujuinya, dan dengan cepat pula kami ke luar dari tempat sampah itu kemudian berjalan setengah berlari menuju taman komplek tanpa menghiraukan para warga yang sekarang sedang bingung apakah ini mati lampu atau bukan.

“Njir gue jadi bau!” Nathan mendengus jijik sambil menciumi baunya sendiri, setelah kami sampai di taman komplek. Yeh memangnya hanya dia saja yang bau?

Aku mengeluarkan kocokan tersebut. Nathan menatapku ngeri. “Kocokan gue pasti bagus!” Dia hanya menatapku, mencoba percaya.

Aku lalu mengocoknya, mengambil satu gulungan kertas, membukanya, lalu membacanya keras-keras. “Ngobrol sama orang gila yang di perempatan.”

Mampus!

Aku melongo sementara Nathan sudah tertawa gila-gilaan. Dasar nyebelin!

“Makan noh pilihan bagus. Bhahahahaha.” Aku semakin bete saja. “Itu orang gila kan sering nggak pake baju. Mana cowok lagi. Hiiii.”

Dasar nyebelin! “Apaan sih lo. Lo harus temenin pokoknya! Masa sih? Biasanya dia pake karung gitu tau.”

“Itu pas tujuh belas agustus kali.” Hah? “Dia mau balap karung! Bhahahaha.”

Dasar jayus. “Pokoknya temenin!”

“Iya bawel.” Dia merangkulku tanpa sadar. Sialan. Aku jadi deg-degan nggak jelas gini. Padahal Nathan santai-santai aja.

Aku menghembuskan napas berat lalu bergegas ke perempatan bersama Nathan. Gila! Ini gila! Gimana kalo itu orgil marah? Mampus udah. Mampus!

“Tuh kan bener dia pake karung!” Aku berbisik pada Nathan saat jarak kami dengan orang gila itu kurang dari satu meter. Aku bisa dengan jelas melihat orang gila itu sedang menggetok-getokkan batu ke aspal di bawahnya. Entah apa gunanya.

Setelah meyakinkan diriku sendiri kalau dia tidak berbahaya, aku lalu duduk di sampingnya. Nathan mengikutiku dan duduk di sampingku.

“Mau diapain sih batunya?” Aku bertanya dengan suara bergetar. Orang gila itu menatapku sebentar lalu kembali menggetok-getokkan batunya.

“Biar bulet.”

Aku tersentak. Setengah mati menahan tawaku. “Kalo udah bulet mau diapain?”

“Dimakan.”

“Emangnya harus bulet?” Nathan menimpali. Menyadari ada suara baru, orang gila itu langsung menengok ke arah Nathan yang saat ini langsung jiper.

“Soalnya kalo bulet lebih enak.” Orang gila itu berkata sambil menggetok-getokkan batunya lagi. “Kayak telor. Telor itu enak karena bulet.”

Aku mengangguk-angguk. Lah kenapa aku setuju dengan kata-kata orang gila?

“Terus jagung. Jagung juga enak karena bulet.”

Buset. Jagung siapa yang bulet?

“Lalu, kepala manusia. Dia juga enak karena bulet.”

Mampus, kanibal ini orang! Nathan langsung menarik-narikku untuk pergi yang dengan senang hati aku iyakan. Kami lari dengan terburu-buru menuju kembali ke taman komplek. Untungnya, si orang gila yang gilanya parah banget tadi tidak menyadari kepergian kami dan masih sibuk ngoceh sendiri sambil menggetok-getokkan batunya ke aspal.

Sebenarnya dia pemakan apa sih? Telur, iya. Jagung, iya. Manusia, iya. Batu pun juga iya.

Kenapa aku malah memikirkan orang gila itu? Haduh, baru ngobrol lima menit saja, masa aku sudah ketularan gila?

“Ngapain lo cengar-cengir sendiri?” Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Nathan saat ini sedang memperhatikanku. “Ketularan gila lo ya?”

“T*i banget Nath.”

“Kok t*i sih?”

“Au ah!” Aku meliriknya sebal karena sudah tertawa di atas penderitaan orang lain, yang tidak lain dan tidak bukan adalah aku!

Saat ini kami sudah kembali lagi ke taman komplek. Duduk berdua di bangku taman. Hari sudah malam. Sekitar pukul tujuh. Lampu taman yang menyala dengan riangnya, serta bunyi jangkrik yang sekarang entah di mana, tiba-tiba saja menimbulkan suasana yang romantis.

Idih amit-amit. Nggak sama sekali. Nggak ada romantis-romantisnya sama sekali. Yang ada kami berdua malah menjadi bulan-bulanan nyamuk yang haus darah.

“Ini yang terakhir.” Aku memberikan kocokan itu pada Nathan yang menerimanya dengan ogah-ogahan.

“Jangan yang aneh-aneh kek.”

“Tergantung elo.”

Nathan langsung mengocoknya dan mengeluarkan satu gulungan kertas dari sana. Dia lalu memberikan gulungan itu padaku. “Lo aja deh yang baca. Ngeri gue.”

Aku menerima gulungan itu dengan senang hati, lalu membuka dan membacanya dengan lantang. “Nyatain cinta sama orang yang lo suka.”

Aku dan Nathan berpandangan. Sialan kenapa aku jadi deg-degan melihat Nathan yang menatapku tanpa berkedip?

Kusudahi saja pandang-pandangan tidak jelas itu. “Kocokan lo nggak pernah bener. Bisa ngocok nggak sih?”

Sial. Aku baru menyadari kalimatku barusan ambigu banget. Nathan jadi cengar-cengir nggak jelas kan.

“Terus sekarang gimana?” Dia bertanya tidak jelas.

“Apanya?”

“Nyatainnya lah.”

“Nanti dulu gue belom siap.” Aku berkata tanpa sadar. Yah, jelas. Aku akan menyatakan cintaku pada orang di sampingku ini. Pada Nathan.

“Gue juga.” Sepertinya dia mengucapnya tanpa sadar juga. Tiba-tiba aku jadi cemburu berat. Pada siapa sih dia akan menyatakan cintanya?

“Nath?” Dia bergumam. “Sering-sering Whatsapp gue ya nanti.”

“Iya.”

“Telepon juga.”

“Iya.”

“Ketemuan juga.”

“Iya bawel.” Dia mencubit pipiku. “Tenang aja sih.”

Kenapa sih dia bisa begitu santai? Tidak tahu apa kalau deg-deganku yang tidak jelas jadi muncul lagi?

“Nad?” Sekarang giliranku yang menggumam. “Udah siap?”

Huh. Oke. Tarik napas. Buang. Tarik lagi. Buang lagi. “Oke.”

“Itungan ketiga langsung ya.” Aku mengangguk.

“Satu.” Dia mulai menghitung.

“Dua.” Aku menimpali.

Kami sama-sama menghembuskan napas sebelum akhirnya berkata berbarengan.

“Gue suka lo Nad.”

“Gue suka lo Nath.”

Aku terbelalak lalu menatapnya tidak percaya saat kata-kata yang hampir sama meluncur begitu saja dari mulut kami berdua. Dia menatapku juga lalu kami tertawa bersama-sama.

“Serius.” Nathan berkata setelah hening cukup lama. Duh mulai deh deg-degan nggak jelasnya. “Jadi pacar gue ya? Gue bisa stres kalo ninggalin lo tanpa status apa-apa. Ntar kalo lo jadian sama yang lain, kicep gue.”

Aku terkekeh sebentar. Saat ini aku merasa telah menjadi wanita paling beruntung di dunia. Dengan perasaan bahagia aku mengangguk. Setelah itu Nathan langsung merangkulku dan menciumi rambutku.

Ah, satu hari ini akan menjadi hari yang tak terlupakan sepanjang hidupku.

THE END

Cerpen Karangan: Peggy Laras Purwatika
wattpad.com/plpurwatika
Untuk cerita lain, kalian bisa temukan saya di wattpad dengan nama plpurwatika.
Sampai bertemu di sana. Thank u!^^

Cerpen One Day to Remember merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melepaskanmu

Oleh:
Sore hari saat aku pulang dari suatu tempat, pas depan pintu kostku, aku membuka pintu kamarku kemudian terdengar suara dering handponeku. Aku segera meraih handpone yang masih berada dalam

Ranking Satu

Oleh:
Sama seperti hari kemarin. Selesai mandi, sarapan dan berangkat menuju Sekolah, Jihan kembali tersenyum penuh arti. “Jihan, kamu, Ranking satu, ya!” Tebak Kak Indri, Kakak Jihan. “Wah! Hebat Kak

You’re My Guardian Angel

Oleh:
“Hay, Fann?” sapaan itu selalu terngiang di mana kita pertama saling mengenal. Kita memang satu sekolah namun beda beberapa kelas saja sehingga membuat kita beda jam masuk sekolah aku

Karena Kamu Innocent

Oleh:
Hari ini mas Adin pulang telat lagi. Sudah hampir jam sebelas malam dia belum sampai rumah. Hal ini terjadi satu minggu termasuk hari ini. Huft. Aku menghembuskan napas. Aku

Cinta Berawal dari Teman

Oleh:
Namanya adalah Cinta Adhinda Wulandari. Dia seorang remaja berumur 16 tahun yang terbilang cukup kaya. Dia juga suka membaca buku dan jutek, walaupun begitu Cinta juga dikit-dikit ngeluangin waktunya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *