One More Time To Be Is Last

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 August 2016

“Citrrraaaaaa…!!!”, teriakan nyokap gue yang selalu gue denger tiap pagi, siang, malem, bahkan saat gue mandi. Inilah gue, Sabrina Citra Dewi Putri Sailendra, cewek penggemar musik dan… kalian bakalan tahu siapa gue nanti.
“Iya maaaa, bentar lagi aku turun ma!!!”
“Iya cepetan sayang!! ini udah siang. Mama sama papa ntar terlambat kerja!”
“Iya ma, nie juga udah jalan.”

Sampailah gue di meja makan buat makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Inilah keluarga gue. Saat gue kecil sampai sekarang, gue terlahir di keluarga mampu. Nyokap dan bokap gue bekerja sebagai pengusaha. Nyokap gue punya usaha butik dan salon, sedangkan bokap gue bekerja sebagai pengusaha hotel dan villa. Oh ya, gue lupa kalau gue adalah anak tunggal.
Gue terkadang berangkat sendiri naik angkot, terkadang gue juga bareng sama nyokap dan bokap kalau mereka berangkat setengah tujuh sama seperti gue. Namun, kadang-kadang gue juga naik mobil pribadi gue sendiri yang disopir sama Pak Parno.

“Kamu semalem tidur jam 21.00 kan Cit?”
“Iya Pa, Citra semalem tidur jam segitu kok.”
“Kirain kamu masih fitnes di ruang atas.”
“Enggak lah pa, lagian citra udah capek lagi pulang sekolah langsung latihan sama anak-anak.”
“Ya udah, kapan acara hari ulang tahun sekolah kamu, Cit?”
“Kurang tiga hari pa.”
“Gimana sama les vokal kamu?”
“Yah, gitu lah, Pa”
“Masih tetep kan prioritasnya penggemar kamu di sekolah dan di luar?”
“Entahlah pa, tapi kemarin anak-anak mau ngajakin ikut audisi talent vocal dan pilihan band terbaik”
“Sampai kapan kamu jadi kayak gini, Cit. Kamu itu anak satu-satunya mama dan papa, kalau kamu gak mikirin perusahaan lantas siapa yang akan meneruskan usaha mama dan papa.”, kata nyokap gue yang langsung nyolot setelah nyokap gue denger kalau gue mau ikutan audisi
“Udah ma biarin aja Citra menghabiskan waktunya untuk cari prestasi dengan hobinya, toh kalau sudah waktunya papa yakin dia akan mampu meneruskan usaha kita berdua.”
“Ma, Pa, aku gak tahu apakah aku bisa jadi yang diharapkan sama mama atau papa. Lomba yang bakalan aku ikutin akan mendapat hadiah gede”
“Segede apa sih Cit sampai kamu pulang malem terus demi band kamu itu, sampai-sampai telepon dari mama gak kamu angkat?”
“Yaelah ma, orang waktu itu HP aku taruh dalem tas, mana tahu kalau ada telepon dari mama.”
“Belum berkarir aja udah lupa sama mama, gimana kalau udah jadi nanti, pasti gak bakalan dianggep kali ya pa kita”
“Ya ampun mama, gak bakalan lah aku sejahat itu ma. Emang aku anak apaan sampe kayak gitu ke orangtua”
“Udah-udah, jangan bertengkar terus. Ayo cepet habisin makanannya ntar keburu telat”
“Citra, papa akan mendukung apa yang kamu lakukan asalkan itu berdampak dan bersifat positif Cit. Intinya jangan sampe kamu malu-maluin keluarga ini Cit!”
“Iya pa. Citra janji. ”
“Udah yuk berangkat pa.”
“Kamu udah khan Cit?”
“Udah kok pa, rotinya aku bawa aja, kan tinggal segigit.”

Setelah bokap ngenterin gue ke sekolah barulah ngenterin mama ke butik. Sampailah gue di sekolah ini. Seperti biasa, temen-temen gue nungguin di parkiran sekolah buat saling nyapa dan berbagi cerita serta tawa mereka.
“Ciiiieeee, calon pengusaha”
“Alah, apan sih Bram udah ah jangan gitu”.
Bram, cowok yang paling keren dan kece di antara 3 cowok yang ada di Band Pro Tecno. Dia juga jadi inceran para cewek di manapun dia berada. Selain ganteng dia adalah drummer buat kita. Kunci drum selalu dia pegang di stiknya.
“Oh ya, bray, lomba yang bakalan kita ikutin itu ternyata pemenangnya bukan cuman dapet uang, piala dan sertifikat doang bray. Tapi, kita bakalan dapet kontrak kerja dan juga audisi buat jadi musisi.”
“Lo serius Bil?”
“Ngapain gue boong sama lo bray”
Kenalin yang satu ini. Billy pemegang bazz di band gue. Dia adalah anak yang selalu memiliki pemikiran yang dewasa di antara kita berlima.
“Bil, tapi audisinya gak kebarengan sama hari ulang tahunnya sekolah kan”
“Ya enggak lah Rio, gimana si lo. Kan HUT sekolah kita tinggal tiga hari. Sedangkan kita audisinya 2 minggu lagi. Masih jauh kaleee,” jawab Riska
Riska adalah cewek pianis terbaik yang pernah gue kenal. Baginya setiap tuts piano adalah nafas bagi dirinya. Ini cewek selalu ambisius dalam hal apapun sama kayak Rio. Bedanya, Rio rada “hek-hong” tapi kalo Riska cerdas. Tapi jangan salah guys, Rio ini otaknya selalu encer kalau di saat-saat mepet dan darurat! Dia adalah pemegang bazz, sama kayak Billy. Kalian pasti tahu dong apa bagian gue. Ok, inilah gue yaitu vocalist band Pro Tecno.
Mereka juga terlahir dari keluarga yang sama kayak gue. Di antara kita berlima, cuman gue dan Rio yang anak tunggal. Tapi gue bangga sama temen-temen band gue yang satu ini. Walaupun mereka anak orang mampu, mereka masih mau main bareng sama semua orang. Bagi mereka, semuanya itu sama gak ada yang berbeda.
“Kriiiiiinnnggg!!!”
“Eh bel masuk tuh, cabut yuk!”
“Siiippp!!!”

Kita berlima beda kelas. Cuma Riska dan Rio yang satu kelas sama gue. Bram dan Billy berada di kelas yang berbeda. Kita bisa ketemuan saat pulang sekolah karena saat istirahat kita belum tentu bisa ketemu walaupun jam istirahatnya sama untuk semua kelas.

“Hai Cit,” sapa Rendy temen satu kelas gue. Keren, tapi wajah gak terlalu ganteng. Tapi, maco kalau penampilan. Gue denger sih, pernah menang lomba modelling sama kayak Bram. Cuma, dia dapet juara 2.
“Hai juga Ren.”
“Gimana sama band lo?”
“Yah… gitu lah ”
“Hmmmmm, kalau boleh tahu lo jadi ikut audisi kan?”
“Iya.”
“Citra, tugasnya gimana udah diedit belom?” tanya latifah
“Udah kok Lat.”
“Ya udah nanti pulang sekolah tinggal print out aja kan?”
“Iya, sekalian deh gue yang print.”
“Beneran?”
“Iya beneran.”
“Eh jangan Cit, itu kan tugas gue. Enak aja ambil jatah orang. Hehehe.” saut Fanny

Latifah adalah temen gue yang selalu inget banget sama tugas sekolah. Jadi, kalau gue kelupaan, dia selalu ngingetin. Selain itu banyak temen gue di kelas yang gue anggep kayak keluarga sendiri, contohnya Fanny dan juga geromboloannya. Dia selalu bikin gue ketawa dengan tinkah alay yang dia lakuin tiap hari. Itulah alasan gue kenapa gue bertahan dari peristiwa 16 Desember yang sampe sekarang jadi jeruji besi yang siap nyakitin hati gue kapan aja.

Oh ya gue lupa, di kelas, gue duduk sama cewek yang namanya, Junda. Cewek ini bawaannya serius mulu sama pelajaran, gak ada santainya. Tiap nilainya rada down dia selalu murung melulu. Untuk penampilan, dia apa adanya, simpel, polos. Bagi temen-temen gue, karir adalah yang utama. Tapi di samping itu, cinta adalah asupan gizi bagi mereka.
Cinta, gue heran kenapa cinta selau bikin orang nangis. Emangnya gak ada yang bisa dilakukan cinta untuk selalu bahagiain manusia? Kenapa cinta hanya indah saat awalnya aja kenapa gak sampai akhir? Apakah cinta sesadis itu sampai ada orang yang rela kehilangan nyawa demi cinta? Apakah cinta memang selalu menghancurkan segala impian? Tapi, kenapa semua orang selalu bilang kalau cinta adalah anugerah dari tuhan? Kalau memang anugerah kenapa banyak darah tangis yang tercecer? Di sanalah gue sempet bertanya sama nyokap dan bokap gue. Tapi, mereka hanya menjawab “suatu saat kamu akan tahu dengan sendirinya”.

“Pengumuman, bagi ketua kelas 10,11, dan 12 untuk berkumpul di ruang TU sekarang juga. Sekian, terimakasih.”
Suara yang keluar dari spiker dalam kelas mengharuskan kaki gue keluar dari kelas di tengah mata pelajaran yang berlangsung.

“Bu, permisi ke luar karena ada panggilan dari TU.”
“Baiklah, silakan, Citra.”
“Terimakasih, Bu.”
“Iya sama-sama.”

Gue pun ke luar dari kelas untuk kumpul ketua kelas. Belum sampai di TU teriakan yang gue kenal banget nyapa gue.
“Citrrraaa, bareng gueeee!!!” teriakan Bram dan Billy bersamaan
Gue pun menghetikan langkah buat nungguin mereka yang berlari ke arah gue.
“Ngapain lo berdua keluar, kenapa gak kabur ke kantin kayak biasanya?”
“Cielah, kumpul salah, gak kumpul salah. Trus, yang bener itu yang mana Cit?”
“Hahahaha, gue juga gak tahu mana yang bener.”
“Udah ah jangan di sini, tengah jalan, Bray,” ajak Billy

Sesampai di TU gue dikagetkan dengan peristiwa itu. Peristiwa yang selalu bikin gue nangis dan galau di depan microphone panggung, studio maupun rumah Bram.
“Citra, lo gak papa kan? ”
“Enggak, gue gak papa kok, Bil.”
“Gue harap lo gak pingsan di sini Cit” sahut Bram.
“Lebay banget gue pingsan.”
“Kali aja gara-gara…,” kata Bram terputus karena gue sengaja memutusnya
“Gak usah dibahas Bram.”
“Fine girl.”
“Ok, teman-teman semua kita dari pihak OSIS mau mengumumkan kalau perayaan HUT sekolah kita digelar dengan berbagai lomba yang ada. Harap semua mempersiapkan kelasnya utuk mewakili setiap lomba yang ada karena lomba yang tergelar adalah wajib. Di sini kami akan membagikan kertas dimana setiap kelas harus menulis tentang harapan untuk sekolah kita. Kalian bisa mengambilnya di meja bertaplak merah, sedangkan pengumuman dan juklas-juklisnya akan disebarkan sepulang sekolah nanti. Apabila ada pertanyaan, silahkan bertanya”
“Yang nyebarkan juklas-juklis itu pihak OSIS atau ketua kelas?”
“Pihak OSIS!”
“Tidak ada pertanyan lagi?” OSIS menunggu sejenak
“Apabila tidak ada pertanyaan, silahkan masuk dan mengambil kertasnya, lalu kembali ke kelas masing-masing untuk mengumumkan kepada anggotanya. Terimakasih atas perhatiannya”

Sesuai dengan perintah yang sudah diumumkan, Gue, Bram, dan Billy masuk ke dalam. Di sana gue tanpa sengaja menabrak salah seorang murid. Terasa di dalam hati, berdebar, senang, sesak, sakit, badan gue terasa membeku saat melihat pemandangan itu. Gue gak mampu berkata untuk meminta maaf.
Billy, dengan penuh kepekaan dia mengambilkan kertas di meja dan buru-buru menarik gue untuk keluar ruangan dan Bram pun membuntutinya dari belakang.
“Cit, nih kertas yang tadi.”
“Makasih banyak ya Bil.”
“Iya sama-sama.”
“Udah lo balik sana ke kelas, jangan jadi patung di sini gara-gara tadi.”
“Iya, sekali lagi makasih.”
“Eh janga lupa pulang sekolah kumpul di parkian, latihan di rumah gue aja gratiiisss, masalah makan kita beli ke luar aja.”
“Ok.”

Gue pun berjalan ke kelas. Di kelas, gue gak mungkin nangis. Gue harus kuat dengan apa yang telah gue alami. Gue pun mengumumkan apa yang telah gue denger tadi di TU. Gak kerasa jam istirahatpun datang. Gue, Riska, Rio dan kelompok Fanny pergi ke kantin untuk makan. Walaupun hati gue kacau tapi saat ini gue masih cukup terobati walau hanya dengan tawa konyol teman-teman sekelas gue. Tapi, semua itu runtuh. Peristiwa 16 Desember menghancurkan gue saat itu juga. Seketika gue terhenyak diam, terpaku dan membeku saat itu juga, dan dalam hitungan detik gue bukan cowok lagi. Tetesan air mata yang gue sembunyikan mengalir. Dengan segera gue meninggalkan kantin dan pergi ke kamar mandi. Riska mengejar gue dan Rio diam tempat.

“Citra, lo gak papa kan Cit?”
Gue hanya terdiam, tak merespons perhatian Riska sama sekali. Hingga tiba saatnya gue berbicara.
“Gue lemah Ris, gue bodoh, gue murahan!!!”
“Cit, gue tahu lo. Citra, lo bukan malaikat yang gak bisa nangis. Lo manusia, lo kuat ngadepin ini semua”
“Tapi kenyataannya apa Ris, gue gak bisa berubah. Gue masih menaruh harapan ke dia”
“Citra, gue tahu lo cinta sama dia. Gue tahu lo sayang sama dia. Gue, di sini mau bilang Cit lo gak selemah itu, lo bisa buat Bram bangkit dari masa lalunya. Kenapa lo gak bisa Cit?. Lo harus bisa!!!. Hapus air mata detik ini juga Cit”
Gue pun menarik nafas dalam-dalam dan menghapus air mata gue dan kembali ke kelas. Sebentar lagi sudah jam pulang sekolah. Gue akan buang rasa sakit ini dengan ngeband bareng teman-teman.

Dua Jam berlalu secepat kilat. Bel pulang berbunyi nyaring. Geupun pulang bareng Riska dan Rio buat ke rumah Bram. Tapi sebelum itu, gue, Riska, dan Rio nungguin tuan rumah di parkiran motor.
“Gimana Guys, udah siap belom sama band kita besok.”
“Maksud lo apa Bram?”
“Oh ya, gue lupa ya gak cerita ke kalian tentang job kita.”
“Hah, job? Maksudnya?”
“Gue di kelas tadi di tawarin sama temen sekelas gue. Kita di undang acara ulang tahun dia nanti malam. Tapi, kita bukan cuman dateng. Orangtua dia nyuruh kita buat jadi penghibur di sana. Kita, akan dibayar dengan rupiah setelah pesta selesai nanti.”
“Jadi itu alasan lo ngajakin kita latihan ini?”
“Gak cuman itu juga kali, kan HUT sekolah kita tinggal beberapa hari lagi. Selain buat nyiapin pensi, gue juga pengen band kita jadi juara audisi yang dicarikan Billy saat itu.”
“Tumben lo tegas, biasanya hidup lo apa kata nanti.”
“Hahahaha, bisa aja lo Ris.”
“Ayo deh cabut, gatal nie jari gue pengen nge-bazz, ya gak Bil?”
“Yo’i bro.”
“Tapi sebelum itu, gue cariin makan lo pada yeee. Ntar kelaparan gara-gara kekunci gerbang kayak dulu gara-gara nyokap pergi ke kondangan dan lupa ngasih kunci rumah ke gue.”
“Iya Bram. Mumpung masih di sini. Kita cari makan dulu deh, bisa-bisa Citra suaranya kayak kodok ayan ntar gara-gara busung lapar di rumah lo.”
“Biar cepet selesai lo ikut gue Bil. Dan cewek-cewek ini langsung ke rumah gue bareng Rio!”
“Siiippp deh, Cap cus guys,” kata Rio.

Sesampai di rumah Bram kita dipersilahkan masuk. Tapi anehnya Bram udah nyampek duluan di rumahnya. Tapi itu gak penting bagi kita, karena di otak kita hanya latihan, latihan dan latihan. Di tengah-tengah latihan band gue dikagetkan dengan suara drum Bram karena kesal.
“Cit, lo kenapa sih salah melulu masuknya. Lo lagi mikirin apa sih?”
“Sorry Bram”
“Cit serius dong maennya. Kita kan pengen jadi juara juga kali Cit. Kalo latihan aja lo gak konsen gimana pas lomba nanti? Lo pasti kepikiran sama yang tadi siang kan?” lanjut Rio
“Tadi siang?, Apa yang udah terjadi tadi siang Ri?”
“Biasa. Adit Bil”
Billy dan Bram mengembuskan nafas beratnya
“Cit apa ini alasan lo jadi kayak gini?” tanya Billy
“Cit kenapa sih lo selalu lemah setiap ada dia? Perasaan, gue kenal lo itu jutek, ceria dan suka gurau, tegas, udah gitu kata lo selalu bijak. Tapi, kenapa lo gak sebijak dan setegas yang gue kenal sih? Jujur Cit, dia udah bikin lo kehillangan jati diri lo.”
Riska hanya terdiam mendengar protes dari anak-anak Pro
“Cit lo berani menyakiti cowok, kenapa lo gak berani nyakitin diri lo sendiri?” tanya Billy
“Lo juga udah bikin gue bangkit dari Nina mantan gue sekaligus, cinta pertama gue. Citra, gue tahu cinta pertama sulit untuk dilupakan Cit. Tapi, asalkan kita mau berusaha untuk melupakan dan ada kemauan untuk bangkit kita pasti bisa Cit. Toh, kalau kita hanya bisa mendengarkan saran tapi tanpa melakukan dengan usaha yang keras semuanya akan sia-sia”, Saut Bram
“Gue gak tahu guys kenapa gue jadi kayak gini.”
“Citra, peristiwa, cinta, jodoh dan rizki itu udah ada yang ngatur Cit. Kita cuman ngejalanin, usaha dan pasrah akan kehendak-Nya,” jawab Billy
“Semua itu tergantung kita Cit. Usaha kita sekeras apapun kalau pencipta tidak menghendaki, semuanya yang kita inginkan gak bakalan kejadian,” saut Rio
“Sesetia apapun kita untuk menunggunya. Sejujur apapun kita menjaga cinta dari kedustaan. Dan, sekeras apapun kita menerima dia apa adanya. Jika pencipta tidak menakdirkan kita untuk bersama dengannnya semuanya akan sia-sia Citra,” saut Billy
“Saat seeorang yang kita cintai pergi meninggalkan kita itu bukan kebetulan semata. Semuanya sudah ada yang ngatur Cit, kita hanya bisa pasrah dengan keputusan yang sudah di tentukan dari sang pencipta takdir. Memang rasanya sakit sekali saat ditinggalkan oleh orang yang kita cintai dan juga kita sayangi. Tapi, kepergiannya tidak hanya kepergian, di dalam sana pasti ada yang bisa kita pelajari dari peristiwa tersebut Citra. Banyak orang yang bilang pelajaran yang sangat tepat adalah saat kita belajar dari sebuah peritiwa baik maupun peristiwa buruk dan juga belajar dari kesalahan yang kita lakukan sebelumnya,” lanjut Riska
“Kapan lagi lo mau bangkit Cit kalau bukan sekarang. Citra, inget nyawa bukan kita yang megang. Iya kalau lo ada waktu untuk bangkit besok. Tapi jika tidak, apa yang bakalan lo lakuin untuk bangkit dari kekelaman lo. Citra, asal lo tahu Cit kemenangan dalam diri kita bukan saat kita emosi dan menahan hawa nafsu saja. Tapi, saat kita berani untuk berdiri saat kita telah terjatuh,” jawab Rio
“Gue ngerasa nyesel banget sekaligus bersalah karena udah nyia-nyiain Adit dulu”.
“Akhiri segalanya dengan senyuman bukan tangisan” kata Bram dengan senyuman tipisnya

Sedikit konflik udah gue lewati di ruangan tadi. Hingga saatnya gue balik dari rumah Bram. Gue pergi ke tempat yang sepi, sunyi, dingin dengan angin semilir dan udara berganti, pendaran cahaya senja sore dan juga pemandangan bangunan kota penuh kerlap.

Di sana, di tempat itu gue merasa ada gairah untuk bangkit setelah apa yang di katak nan semua anggota band gue. Jauh di sana, di dalam hati kecil gue. Dia, berkata saat gue berani memulai, gue juga harus berani mengakhiri walaupun itu berat dan sulit untuk di lakukan. Gue harus berani mengambil resiko dari apa yang udah gue lakukan hari itu. Peristiwa 16 Desember yang nyakitin gue saat ini akan jadi hari kebangkitan gue dari sadisnya Cinta. Di hari dan tanggal itu gue di tinggalkan oleh sosok yang gue cinta. Adit, yah.. di sanalah gue mengerti rasanya cinta.

Sekarang, gue sadar cinta akan indah pada saatnya nanti, dimana kita tidak bisa menerawang kapan itu waktunya. Gue percaya cinta adalah anugerah, contohnya nyokap dan bokap gue, di sana mereka saling melengkapi sehingga saat badai datang menghampiri serta duri kehidupan, mereka menjalani bersama dengan cinta. Cinta akan menjadi berarti bagi seseorang saat cinta diperlakukan dan dijaga dengan baik oleh yang memilikinya. Cinta sebenarnya indah saat disertai dengan kesetian dan kejujuran. Cinta ibarat rumah bagi setiap insan yang merasakan dimana rumah tersebut memiliki pondasi kepercayaan.

Mengenai kepercayaan, di sanalah masalahnya. Kepercayaan ibarat selembar kertas. Saat kepercayaan dibalas dengan kebohongan jangan harap kepercayaan akan kembali utuh seperti semula. Sama halnya dengan kertas, saat kertas tersebut sudah diremas, kertas tersebut tidak akan kembali ke bentuk semula.

Saat temen-temen gue butuh suara gue. Mereka, dan kalian semua adalah obyek yang hanya bisa mendengar suara tangis gue. Bukan vocal tallent gue. Gue yakin, kali ini gue bisa. Hanya satu kata yang bisa gue ucapin. Kita hanya bisa terkalahkaan saat kita tidak bisa menguasai diri kita sendiri. Dan ingat, kesalahan orang lain sepenuhnya bukan berasal dari orang tersebut tapi dari sekitarnya. Let’s go guys untuk mencari jati diri kita dengan memeriksa siapakah diri kita sebenarnya, dan ada di manakah diri kita tersebut.

HUT sekolah telah tiba, tepat pada tanggal 17 Februari. Hari ulang tahun Adit, gue akan memberinya kado. Dan, untuk yang terakhir kalinya gue menghentikan aliran cinta yang mengalir dalam diri gue. Gue akan menitih prestasi untuk masa depan gue nanti. Walaupun gue takut, tapi gue akan membunuh rasa takut ini dengan keyakinan gue dan kemauan gue. Tak lupa, sesuai dengan kata Bram gue akan mengakhiri semua kisah cinta gue dengan senyuman, tentunya tanpa rasa kebencian.

“Mari kita sambut band Pro Tecno yang menjadi kebanggaan kita”

Dengan kesenangan, senyuman dan penguasaan di atas panggung dengan penampilan celana pencil, kaos putih dan berjaket hitam, serta sepatu model model dance separuh cat dan juga tata rias rambut terkuncir gelung, gue beraksi. Memang, terlihat bukan cewek. Tapi, itulah gue. Apa adanya, simpel, yang penting gaul tetep jalan, fashion trendy dan keren pastinya. Selama di paggung temen-temen gue puas. Setelah manggung, tibalah saatnya gue menemui Adit.
“Bisa bicara sebentar gak?” tanya gue ke Adit setelah gue manggung
“Bicara apa?”
“Udah, penting. Bisa gak keluar dari aula ini bentar aja.”
Adit pun mengangguk. Guepun keluar bersama dia.
“Ini kan hari ulang tahun kamu, Happy Birth Day (HBD) ya.”
“Oh, iya thanks.”
“Emmmmhhh, ini ada sesuatu buat kamu.”
“Eh, gak usah repot-repot Cit.”
“Udahlah, terima aja. Mungkin, ini adalah yang terakhir kalinya aku memberikan ini semua. Lagian kan bukannya ini keinginan kamu saat aku masih pacaran sama kamu. Toh, sekalian sebagai tebusan saat itu karena aku gak mau ketemuan sama kamu, dan aku gak bisa nurutin nafsu kamu dan masih banyak lagi.”
“Sekali lagi makasih yah Cit”
“Oh ya, bentar lagi kan kamu lulusan. Apa nih rencananya?”
“Aku mau masuk akmil (Akademi Militer) nerusin jejak ayah aku.”
“Oh…”
“Udah dulu ya Cit, aku masuk dulu.”
“Ok, beye”
“Beye”

Gue lega setelah itu. Gue ngerasa tenang dengan kejadian itu. Papa, mama, Citra janji seusai peristiwa ini Citra akan membawa segudang prestasi untuk mama dan papa. Makasih pa, ma, mama sama papa udah semangatin Citra. Dan untuk kalian Pro Tecno. Gue janji gak akan nyia-nyiain audisi ini. Tuhan terimakasih atas anugerahmu selain kau menghadirkan cinta, kau juga menghadirkan orang-orang yang menyayangiku serta terimakasih atas pelajaran hidupnya.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)

Nama: Pratiwi Nur Zamzani
Asal Sekolah: SMA NEGERI 1 BANGIL Jl. Bader No.3 Bangil-Pasuruan
Telp. (0343) 741873 Fax (0343) 747219
Website: www.sman1bangil.sch.id
E-mail: info[-at-]sman1bangil.sch.id
Tanggal lahir: 4 Juli 1999.
Cita-Cita: pustakawan, penulis, dan juga sastrawan
Akun facebook: Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih )
Twitter: @nur_zamzani
E-mail: pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id
Alamat Rumah: JL. Rambutan, RT: 04 RW: 05, Pesanggrahan Selatan, Bangil- Pasuruan-Jawa Timur
No Telepon: 082-330-080-113 / 087-846-094-895

Cerpen One More Time To Be Is Last merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tejo dan Harapan

Oleh:
Tejo adalah anak dari keluarga yang kurang mampu, Ayah dan Ibunya Seorang Pemulung yang kesehariannya mencari barang bekas di sekeliling mereka, dan yang ada di pinggir jalan bahkan tempat

Ketika Senja Bertemu Fajar (Part 1)

Oleh:
“Senja Kanetisha.. kamu besok jadi speaker apel pagi ya? Besok petugasnya kelas kita 11 ipa 3” suara bass Ilo, ketua kelas 11 ipa 3 mengagetkanku yang sedang menyalin PR

Laki Laki Pemilih

Oleh:
Aku terus memandangi laki-laki yang tak pernah kutemui sebelumnya itu, tak ingin melepas pandangan kemana dia pergi. Laki-laki tampan dan menawarkan pesonanya kepada setiap perempuan. Tubuhnya yang tinggi membuatku

Putri Malam

Oleh:
Bintang. Benda bercahaya yang muncul tiap malam. Jumlahnya banyak. Sangat banyak, juga banyak penyuka. Termasuk aku dan Tira, sahabatku. Entah, sejak kepergian seseorang yang aku sayangi, aku menyukai bintang.

Tak Sempat Kuungkapkan

Oleh:
“Sangat menyebalkan sekali, kenapa dia selalu senyum padaku sedangkan aku tak mengenalnya. Aneh, memang aneh!” ucapku kesal. Dia selalu melontarkan senyumannya untukku setiap saat bertemu, memandangiku tanpa jenuh, membingungankan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *