One Special Love For Mom

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

“Fel.. gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?” tanya Bram di tengah langkah mereka saat mereka telah melakukan rutinitas seperti biasanya. Yaitu, latihan band bersama.
“Tanya aja pake izin. Kayak baru kenal aja sama gue lo!” ucap Felly dengan terus menyedot milk strawberrynya.
“Kenapa sih lo nggak nyari pasangan aja, Fel?! Emangnya, lo nggak ngerasa kesepian ya selama ini? Dan juga, apakah lo nggak malu dengan media sosial yang terus menanyakan pria yang lagi kencang sama lo?!”
“Bilang aja kalau gue pacaran bakalan jadi hot news dan kita bisa dibayar mahal sama mereka.”
“Yah.. nggak segitunya juga kali! Lo nethink mulu sih?!”

“Habis, lo nanyanya aneh-aneh sih!”
“Yaelah! Gue kan takut kalau lo…”
“Lo apa?! Nggak normal?! Santai aja, gue bukan Yui kok! Ok! Jadi, jangan kawatir!” ucap Felly nyolot saat ia telah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Bram. Kemudian, dengan langkah cepat Felly meninggalkan Bram setelah ia melihat jam tangannya.
“Hhh! Semoga aja, lo bisa menemukan cinta lo lagi Fel! Gue udah anggep lo kayak adik gue sendiri! Mana mungkin gue tega harus melihat sorot mata lo yang berisi dengan kekosongan meski lo menutupinya dengan pelangi.

Felly menancapkan gasnya untuk menuju ke tempat itu. Yah.. tempat yang selalu membuatnya mengaum bersedu di tengah julukannya sebagai ‘singa liar’. Bagaimana tidak? Sekuat apa pun ia bertahan, ia tetap rapuh. Mengingat, ia hanyalah manusia biasa. Bukan malaikat yang memiliki hati besar dan juga kokoh bak baja dan besi anti peluru. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Felly saat ia telah melihat ukiran nama di batu itu.

“Ma, maafin Felly ya. Felly telat harus jenguk Mama di sini! Ma, Felly nggak tahu harus gimana lagi. Felly seperti cewek bodoh yang tak tahu arah kehidupan Felly ke mana? Mama tahu, Felly sangat merindukan Mama meskipun Papa berada di samping Felly. Entah kenapa, Felly sekarang terasa gila saat terbesit bayangan dan juga senyum tawa Mama. Ma… maafin Felly karena Felly belum bisa menjadi gadis yang tumbuh sesuai dengan keinginan Mama. Felly telah berusaha Ma. Tapi… hasilnya selalu nihil. Padahal, Mama selalu mengajarkan bahwa setiap usaha akan ada hasilnya. Tapi kenapa…”

“Karena kamu melakukan bukan berdasarkan dengan niat. Melainkan, hanya sebagai tugas!” ucap seseorang saat Felly bergumam bak orang gila di tengah pemakaman yang sepi. “Kamu siapa?” tanya Felly dengan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
“Nih!” kata laki-laki tinggi dan tampan itu dengan menyerahkan plester luka kepada Felly. Seketika, Felly mengernyitkan dahinya. Heran. Akan tetapi, laki-laki itu menekuk lututnya dengan posisi yang sama seperti Felly. Sehingga, ia dapat menatap Felly sejajar dengan posisi itu.

“Maaf sebelumnya karena aku tidak bisa memberikan plester hati untukmu. Aku hanya memiliki itu. Aku harap, kau bisa menyembuhkan lukamu dengan melihat plester itu dan memiliki semangat hidup. Aku tahu, rasanya begitu sakit saat orang tersayang meninggalkan kita. Tapi, tak seharusnya kau harus terpuruk terus menerus dengan air mata yang hanya bisa membuat Ibumu cemas di alam Sana. Alangkah baiknya kau melangkah lebih maju tanpa harus menghiraukan dan juga tetap dengan semangat yang sama sebelum orang yang kita sayang meninggalkan kita. Dan, itu akan terasa lebih baik,” katanya dengan menepuk pundak Felly lembut.

Kemudian, ia meninggalkan Felly yang masih termangu menelaah ucapan laki-laki itu. Di sisi lain, Felly terus bertanya siapa laki-laki itu. Mengapa juga, laki-laki itu seakan begitu akrab dengan Felly sebelumnya. Sejenak, Felly mengingat sesuatu. Mungkin, ia bisa mengingat bahwa ia mengenal orang itu tapi lupa akan siapa orangnya.

“Felly! Bangun! Kita udah ditunggu di aula untuk penyambutan motivator!” kata Riska dengan menggoyangkan tubuh Felly.
“Dia pasti semalam habis begadang. Main gitar sambil lihatin foto Maknya!” ucap Billy yang ada di belakang Riska.
“Kasihan juga ini anak! Sampai kapan dia bakalan kayak begitu! Udah ditinggal kekasih, ditinggal Mamanya pula!” lanjut Bram dengan menatap sendu Felly.
“Sekarang jam berapa?” tanya Felly dengan mengucek kedua matanya.
“Sembilan pagi,” jawab Riska lembut.
“Oke deh, nanti gue nyusul. Gue mau cuci muka dulu, biar kelihatan seger!”
“Kita tunggu di Asrama ya sebelum kumpul di auditorium sekolah!” ucap Bram tak kalah lembut.

Felly hanya mengangguk dengan senyuman manisnya. Riska, Bram, dan Billy meninggalkan Felly yang tengah berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air. Sesampainya di asrama, Bram dikagetkan oleh seseorang. Ya.. seseorang yang membuatnya napasnya naik turun, matanya yang terasa akan lompat, dan tatapan matanya yang tajam.

“Lo ngapain hah ke sini? Masih belum puas nyakitin Felly?!” bentak Bram di tengah keramaian ruang tamu Asrama yang ramai dengan anak-anak untuk bersiap ke auditorium.
“Bram! Dengerin gue dulu. Gue ke sini cuma mau minta maaf sama Felly. Gue nggak ada maksud untuk menyakiti dia lagi. Gue tahu diri Bram kalau lo juga sayang sama Felly!”
“Tapi semuanya tetep aja, Ka! Nggak akan pernah berubah! Maaf lo nggak akan sebanding dengan air mata Felly yang keluar setiap harinya! Gara-gara lo! Dia hampir gila kayak zombie! Gara-gara lo dia nggak memiliki semangat hidup! Dan satu lagi! Gara-gara lo! Dia membuat pelangi palsu di depan gue dan anak-anak lainnya!”
“Arka!” panggil Felly lirih memecahkan keramaian saat itu hingga berubah menjadi hening. Felly berlari ke arah laki-laki itu. Yah… lebih tepatnya, laki-laki yang telah meninggalkan dirinya tujuh tahun silam. Ia menepis semua orang yang menghalangi jalannya hingga ia berada di depan laki-laki itu.

“Felly! Ayo kita pergi sekarang!” ucap Bram tegas dengan memegang pergelangan Felly. Namun, langkah Bram terhenti saat Felly melepaskan genggamannya dan juga mengambil plester luka yang ada di saku seragamnya.
“Kenapa kau tidak bilang bahwa kau adalah kekasihku yang hilang tujuh tahun itu?”
“Dia nggak pantes lo sebut kekasih, Fel!” tegas Bram.

Felly menghiraukan ucapan Bram. Langkahnya semakin dekat dengan leki-laki itu. Hingga akhirnya, ia melingkarkan kedua tangannya memeluk laki-laki itu. Sejenak, Arka hanya bisa terdiam dan mematung. Tatapannya terlihat begitu kosong. Matanya terasa begitu panas. Dan tanpa mereka duga, hatinya telah menggerakkan fisiknya untuk saling berpagut rindu. Merasakan kehangatan bak pelukan ibu yang telah Felly rindukan setelah kepergian ibunya.

“Felly, maafkan aku. Maaf karena aku harus pergi di saat kau membutuhkanku. Maaf… Maaf. Ku mohon… Maafkan aku.” ucap Arka lirih di tengah isak tangisnya.
“Kau memang jahat. Sama seperti yang aku duga. Tapi, hatimu begitu kasar. Sekasar plester ini. Dan juga, hangat. Sehangat pelukan Mamaku!” pinta Felly lirih dengan mencari tempat yang pas untuk sandaran kepala Felly di dada Arka.

Arka hanya terdiam di tengah isak tangisnya. Ia hanya bisa merapatkan pelukannya kepada Felly. Sedangkan Felly, ia memejamkan matanya. Menikmati, meresapi, dan juga memahami rasa yang telah melandanya di kala itu. “Mama benar! Aku pasti akan mendapatkan pangeran yang sama seperti Mama. Terima kasih Mama. Karena doamu, kau telah kembali. Meski dalam wujud yang berbeda. Bagiku, merasakan hangatnya kehadiranmu sudah lebih dari cukup. Daripada aku hanya bia merasakan dinginnya udara makam dan menatap batu nisanmu dengan rintiknya tangisan pilu bak hujan yang mulai deras,” gumam Felly dengan tetap memeluk Arka.

“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Peganglah janjiku! Dan, terima kasih telah menungguku di tengah posisi sulitmu. Terima kasih juga, karena kau telah memelihara cintamu untukku. Terima kasih. Terima kasih… sayang.” ucap mereka bersamaan tanpa mereka sengaja. Di sanalah Felly menemukan Ibunya kembali. Ya.. cinta dengan kehangatan yang sama.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani (Pakai kerudung putih), twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen One Special Love For Mom merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kucing dan Beruang

Oleh:
Seekor burung pipit terbang rendah. Mengeja kata membentuk kepakan berirama untuk menuju sarang. Di sarang, beberapa anaknya telah membuat sebuah penantian dengan mulut menganga, tanda lapar. Tangis anak pipit

The Magic of Love

Oleh:
Syur, deg… deg… deg, lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Kalau sudah begini, pasti disebabkan kehadiran Kak Arko. Entah mengapa setiap kali bertemu dengannya, hal itu selalu saja terjadi. Meskipun dia

OSIS Displeasure

Oleh:
Sialan, tahu begitu kutendang tulang keringnya lebih keras dari kemarin hingga dia meringis kesakitan seperti seorang bayi yang merengek minta susu pada ibunya. Bagaimana tidak, orang itu telah menipuku

The Power of Qur’an

Oleh:
Matahari mulai menampakkan wujudnya, sang ayam pun telah berkokok membangunkan semua yang sedang terlelap, burung-burung pun bernyanyi mengiringi datangnya sang fajar. Angin yang berhembus dengan lembut membuat siapapun yang

Emas Berharga

Oleh:
Dia tak kunjung sembuh. Sudah bertahun-tahun dia mengidap penyakit itu. Bagaimana bisa, aku pun tak percaya. Tapi aku baru mengenalnya selama sebulan. Karena aku baru pindah ke rumah ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *