One

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 November 2016

Huh, bagaimana aku bisa melupakannya jika kesan pertama saat bola matanya bertemu pandang denganku sudah membuat diri ini terpesona. Ia membuat degupan jantungku menari dengan kencang, ritmenya tak karuan seperti habis dihantui oleh hantu. Perutku berbunyi. Bukan, ini bukan karena lapar tetapi bunyi perut ini menggelitikiku serasa kupu-kupu sedang beterbangan di dalam sana. Oh Tuhan, apakah aku jatuh cinta dengan pria berbola mata kecokelatan itu? Ah entahlah, biar waktu yang menjawab.

Lucas menemaniku di studio musik hari ini, ia juga yang mengajariku memainkan gitar rythym sampai aku benar-benar handal memainkan gitar sama seperti dirinya. Jujur, mata birunya membuatku jatuh cinta pada sahabatku ini. Tapi.. aku masih memikirkan pria berbola mata cokelat yang kutemui saat itu. Aku tak tahu, apa aku hanya mengagumi si pria berbola mata cokelat itu atau memang benar-benar jatuh hati padanya? Ya sudahlah, aku tak perlu pusing-pusing karena sahabatku ini juga tampan.

“Woy Maureen, lo ngapain senyum-senyum sendiri?” Lucas dengan sengaja menyenggol diriku dengan santainya hingga gitarku hampir terjatuh.
“Eh santai dong, gak usah dorong juga, gak pernah jatuh cinta sih makanya gini.” Tukasku memasang wajah cemberut.
“Oke fix, ternyata lo lagi jatuh cinta? Sama siapa? Sama gue?”
Ia langsung menganggapku menyukainya karena aku selalu tersenyum kepadanya.
“Pede banget sih, cuma karena gue suka senyum bukan berarti gue jatuh cinta sama lo ya.”
“Yah salah lagi deh gue. Iya gue selalu salah di mata lo Maureen. Minggu depan gue gak mau ajarin lo lagi.” Ia berpura-pura memasang muka jutek padahal peduli.
“Kan masih ada Orlando yang mau ngajarin gue.” Aku menjulurkan lidah tanda meledeknya.
“Orlando ada urusan sama gue minggu depan.” Dengan datarnya ia berbicara seperti itu.
“Dia udah janji sama gue lebih dulu. Sekali lo ngomong lagi, gue blacklist dari pertemanan.”
“Blacklist aja, masih ada Arzel. Gue masih bisa jalan sama dia tanpa repot ngajarin lo gitar segala. Ribet tau gak.”
“Oke Lucas. Fine. Lo lebih milih dia dibanding sahabat lo sendiri. Cukup tau.”

Aku ke luar dengan membanting pintu studio hingga berdebam. Kulihat seorang pria sedang duduk memainkan sebuah stick drum tengah melihatku keheranan.

“Are you okay, girl?” Tanyanya dengan hati-hati.
“Yeah, i’m okay. Thanks.” Aku memberikan senyum kepadanya dan segera pergi dari tempat yang membuatku gerah. Aku masih memperhatikannya lewat ekor mata, nampaknya ia begitu penasaran dengan apa yang kulakukan. Membanting pintu dengan seenaknya lalu pergi dari tempat itu. Terserah ia mau mengkritikku dengan apa, yang penting aku bisa keluar dari tempat itu secepatnya.

“Lucas, siapa gadis itu? Pacar baru? Atau ia semacam Arzel?”
“Stop berbicara tentang dia!”
“Kenapa? Gue cuma nanya, apa itu salah? Temperamen banget jadi cowok. Gue kenal lo udah lama, jadi gak usah pura-pura.” Pria itu menginterograsi Lucas dengan tegas, Ia adalah Ares.
“Bukan siapa-siapa.”
“Masih gak ngaku juga? Jadi lo anggep gue apa selama ini?”
“Ares cukup! Gue lagi gak mau debat sekarang! Gue mau balik!”
“Oke, gue tunggu lo nanti malam di studio sama si dua bocah beler!”

Ares segera mengunci pintu studio ketika Lucas beranjak ke luar dari tempatnya. Akhir-akhir ini Lucas memang sering temperamen ketika melihat Maureen sedang tersenyum tanpa alasan. Itu membuatnya sedikit risih walaupun sebelumnya ia tak pernah bermasalah dengannya. Ia hanya takut Maureen menggantikan posisi Arzel di hatinya.

Orlando memarkir mobil sportnya dengan tangkas di depan studio. Tak lupa ia mengajak Farrell untuk menumpangi mobil yang ia kendarai. Kedua pria ini habis bermain di Timezone rupanya. Lihat saja, mereka menggenggam boneka pikachu, kitten dan juga puppy. Di kepala Orlando terdapat topi pikachu sedangkan Farrell memakai topi puppy. Penampilan mereka sudah cool, sangat manly. Farrell memakai kaos Dropdead yaitu kaos kebesarannya, dan Orlando memakai kaos tanpa lengan. Tetapi dalam hal tertentu mereka bisa berubah menjadi anak kecil. Inilah keunikan dari mereka berdua yang tak dimiliki oleh Ares dan Lucas.

“Hello there, are you here? Lucas, Ares? We are here, buddy.” Suara Farrell dan Orlando menggema, berteriak bersamaan.
“Yes, i’m here.” Ares berteriak.
“Hey buddy, Lihat apa yang kami beli. Lucu sekali, bukan?” Farrell menunjukkan mainan yang ia beli bersama Orlando.
“Farrell, lo itu udah gede tapi masih aja kayak anak umur lima tahun. Lo juga Ndo, Katanya mau jadi rocker tapi gayanya anak kecil banget, man.” Ares terkikik melihat tingkah dua kawannya ini. Lucas datang dari arah belakang sambil membawa minuman.
“What’s up my bro, kita party malam ini.” Lucas tertawa riang sekali sambil meminum birnya.
“Sorry Lucas, gak ada b*r buat malam ini. Jadi, ayo kita kembali ke masa kecil yey.” Farrell dan Orlando berbicara dan menari-nari dengan riang sambil memutarkan lagu Twinkle-twinkle.
“Mimpi apa gue semalem bisa punya temen sebeler ini ya ampun.” Tukas Lucas dalam hati.

Lagu Twinkle-twinkle pun berhenti berputar. Farrell dan Orlando merebahkan diri di kursi usai menari-nari seperti penari ballet. Mereka mengambil air mineral dan meneguknya hingga habis.

“Oh ya, katanya ada yang bawa cewek ke studio nih. Siapa sih ceweknya?” Orlando menggoda Lucas sambil bersiul.
“Ndo, udah jangan bahas itu. Bikin bad mood tau gak.” Lucas berbicara secepat mungkin.
“Ehm, ternyata Lucas udah nemuin penggantinya Arzel ya? Bagus deh. Gue harap cewek itu lebih baik dari Arzel.” Farrell menyambar perkataan Lucas.
“Woy, bisa diem gak sih? Apa perlu gua siram lu pada biar cabut dari sini?” Lucas meningkatkan nada bicaranya dua oktaf.
“Oke-oke kita diem. Tapi kita mohon, tolong cari cewek yang agak lebih cantik dan lebih baik dari Arzel.”

Lucas hanya menggelengkan kepala.

“Apa yang salah dari Maureen? Dia gak pernah bikin masalah, tapi kenapa gue kesel sama dia? Ini gue yang gila atau dia?” Tukas Lucas dalam hati.

Aku sudah lama tak bertemu dengan Lucas semenjak kejadian tempo hari. Tak apa, mungkin dengan ini aku bisa melupakan kekesalanku padanya. Namun, belakangan aku makin sering bertemu dengan si pria berbola mata cokelat itu. kurasa, kami seperti mengalami waktu yang sama saat ia ingin bepergian. Kemarin malam, aku tak sengaja bertemu dengannya bermain bersama dengan Orlando di Timezone. Ternyata dia cute, mempunyai lesung pipi yang mengembang, chubby walaupun ia terlihat macho dan menawan. Kami bertiga menghabiskan malam bersama dengan bermain di Timezone itu sampai puas, mereka mengantarku pulang dan langsung bergegas ke studionya. Ternyata ia bernama Farrell, nama yang unik. Aku sangat menyukai dirinya. Sejak malam itu, aku dan Farrell menjadi akrab. Tak perlu canggung untuk berbicara, kami cocok satu sama lain. Orlando juga, memang belum lama aku mengenalnya. Tetapi kami bisa jadi teman dekat.

Aku mengambil handphone dan membuka layar kunci. Ku ketik pesan untuk Orlando lewat line messenger.

To: Orlando
“Hai Ndo, nanti malem temenin gue main gitar yuk. Bete nih.”

Pesan terkirim. Dua menit kemudian ia membalasnya, aku segera membuka pesan itu.

To: Maureen
“Hei buddy, bete? Lo ajak Farrell aja buat main bareng. Gue lagi ada janji nih sama Chrystal. Sorry ya.”

Aku baru ingat, ia sudah mempunyai seorang kekasih. Ternyata ia tak jauh berbeda dengan Lucas. Mementingkan kekasih dibanding sahabat sendiri, cuih. Untung saja ia tak begitu menyebalkan seperti Lucas.
Dering handponeku kembali berdering, tanda pesan masuk. Farrell rupanya.

To: Maureen
“Maureen? Malem ini kosong? Gue jemput ke rumah ya.”

Demi apapun aku sangat bahagia sekali melihat Farrell ingin menjemputku malam ini.

To: Farrell
“Oke Rell. Sampai ketemu nanti ya.”

To: Maureen
“See you soon girl.”

Aku merebahkan diri, menatap langit-langit kamar sambil tersipu malu. Malam ini akan menjadi malam yang indah.

Farrell membawaku ke sebuah pantai, kupikir dia akan mengajakku ke studio untuk melihatnya bermain bass. Tapi malam ini ia membawaku untuk makan malam bersamanya di bawah naungan pohon rindang, desiran air laut yang mengisi keheningan malam menjadi alunan makan malam kami. Aku tak bisa berhenti menatap matanya. Seolah mata itu ingin mengajakku berbicara lewat sebuah tatapan.

“Maureen? Kenapa? Ada yang aneh sama penampilan gue?” Farrell membuyarkan lamunanku. Aku tersadar dan tersenyum. Ia tergelak melihat tingkahku.
“Tak apa Rell, gue cuma suka sama bola mata lo.”
“Oh, kenapa gak sekalian suka sama orangnya aja.”

Uhuk-uhuk, aku tersedak ketika ia berkata seperti itu.

“Eh, Ren? Lo kenapa? Lo gak kenapa-kenapa kan?” Ia langsung menepuk-nepuk bahuku. Aku tersipu malu. Mungkin sekarang wajahku sudah memerah karena menahan rasa malu.
“Gue gak apa-apa, cuma kesedak dikit tadi.”
“Syukurlah.” Kata Farrell sambil menyalakan lilin ditengah-tengah kami.

Farrell menyanyikanku sebuah lagu dengan gitarnya sebagai tanda bahwa pertemuan kami malam ini telah usai, ia berkata bahwa bersamamu adalah hal yang tak biasa.

“Entah sejak kapan aku menyimpan perasaan lebih untuknya, sahabatku sendiri. Aku tak ingin terjebak dalam situasi yang disebut dengan friendzone. Lantas, aku harus bagaimana? Membiarkan perasaan ini tumbuh? Jujur, aku cemburu ketika Farrell mengajak Maureen untuk pergi bersama. Tetapi, aku bisa apa? Aku menyayangimu Maureen, aku lebih mengenali dirimu dibanding Farrell. Dan tentang Arzel, aku hanya bermain-main dengannya. Aku tak serius dengannya. Memang kedengarannya aku jahat sekali, tetapi rasa ini terlalu nyata dan semakin kuat bahwa.. aku mencintaimu Maureen.”

Lucas membatin dalam hati, apakah salah jika ia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri? Maureen telah membuat Lucas jatuh terlalu dalam. Jatuh ke dalam cinta yang berbeda dari sebelumnya, mengenal dan memahaminya adalah anugerah yang sangat Lucas syukuri. Sesak memang, ia terlambat jatuh cinta pada Maureen setelah Farrell mulai menempati ruang dihati Maureen.

Lucas bahkan sudah menyiapkan semuanya untuk melamar Maureen dengan bertunangan dengannya, Kedua belah pihak Lucas dan Maureen juga sudah menyetujuinya.

Ia mengorbankan waktunya yang sedikit padat untuk membuat kejutan untuk acara lamaran. Ia meminta Ares dan Orlando untuk membantunya dan juga temannya yang lain. Pada saat yang tiba, Lucas bersimpuh di atas satu lutut dengan setangkai mawar yang ia gigit sedangkan kedua tangannya menggenggam sebuah cincin. Ares, Orlando, dan segenap teman lainnya muncul dengan membawa kertas bertuliskan, “Will you marry me?” Kemudian salah seorang temannya memutarkan lagu The Way You Look At Me dari Christian Bautista. Itu adalah hal teromantis yang pernah dialami oleh Maureen.

“Lucas, maksudmu apa? Jadi, kau memintaku untuk datang kesini karena hal ini?”
“Iya Maureen, aku melakukannya untukmu.”
“Lucas, aku sangat berterima kasih atau semua ini. Aku juga senang kau bersedia menjadi sahabatku, aku senang kau mau menjadi bagian dari hidupku, tapi aku ingin jujur.” Segenap rasa Maureen lontarkan dengan perasaan terharu.
“Jujurlah Maureen, katakan apa yang kau ingin bicarakan. Aku akan menunggunya.”
“Walapun itu akan terdengar sakit, Lucas?”
“Ya, aku akan tetap mendengarkan.” Lucas mulai kalang kabut.
“Baiklah, jika kau ingin aku jujur. Aku tak bisa menerima pertunangan ini karena aku jatuh cinta pada laki-laki lain, aku menyayanginya. Tapi, kita masih bisa menjadi teman walaupun itu sulit dan akan aneh untuk saat ini. Dan bukan berarti setelah ini kita akan menjadi musuh kan?”
“Maureen, aku mencintaimu.”
“Aku tahu Lucas, maaf. Tapi aku tak bisa menerima semua ini.”
“Tapi mengapa kau menolakku?”
“Cinta tak bisa dipaksakan Lucas, ada kalanya cinta harus bertepuk sebelah tangan, cinta tak harus memiliki. Aku pun pernah merasakan hal itu Luke. Sakit memang.”

Rintik hujan mulai turun perlahan membasahi tempat yang menjadi momen terindah sekaligus momen menyedihkan bagi Lucas. Banjir dimatanya sudah tak dapat ia bendung. Ia memeluk Maureen dengan sangat erat. Ia tahu, ia memang mengambil keputusan terlalu cepat tetapi apa daya. Maureen telah jatuh cinta kepada orang lain.

Maureen menghilang untuk beberapa waktu. Ia memilih pergi jauh untuk menghilangkan penat yang ia alami. Tetapi, ada satu orang yang terus menerus menunggunya walaupun orang itu tak tahu kapan orang yang ditunggunya kembali. Ia hanya memohon agar ia dan Maureen dapat dipertemukan secepat mungkin.

“Hai Maureen, berita tentang Lucas melamarmu sudah tersebar sampai ke seantoro wilayah ini. Terus terang aku kaget ketika tahu kau menolaknya dan kau lebih memilih untuk menungguku. Aku tahu, untuk sementara ini kau akan menjauh, tapi aku tak akan pernah pergi. Tak akan. Dan, maukah mau membawa pergi harapan dan mimpiku kemudian tinggal bersamaku? Karena kau satu-satunya y/n. Kau mebuatku terhuyung dan mabuk akan dirimu. Aku berjanji, aku akan menjadi yang terakhir untukmu, Maureen. Semoga saat kau terbangun dan membuka handphone, kau segera membuka voice note ini dan mendengarkannya. Aku jamin kau akan tersenyum–senyum sendiri. Oh ya, satu lagi. Aku rindu senyummu, i miss you, Maureen. I love you.”

Ujar Farrell meninggalkan voice note untuk Maureen.

Cerpen Karangan: Enggar Melati S
Blog: enggarmsw.blogspot.com

Cerpen One merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Senja Di Kelasku

Oleh:
Tidak ada nada pada tiap syair dalam tiap baitnya, aku memang tidak bernada. Apalagi tiap kata yang aku rangkai sangatlah sederhana. Sesederhana aku mencintaimu, tanpa kamu tahu, tanpa harus

Thank you, Chalia

Oleh:
“Sekali lagi kamu melakukannya, kamu akan kena hukuman! Paham?!” Aih! Berisik banget nih guru. Daripada lama, gue cuma mengangguk dan tertawa kecil aja. “Hey! Kenapa kamu tertawa? Ada yang

Sekilas

Oleh:
Sejenak ku luangkan waktuku untuk mengulang kembali rutinitas ini lagi. Ya, melukis. Dimulai dari menggoreskan setitik cat hitam pada kuas ini ke kertas kanvas tepat di hadapanku. Perlahan ku

Nota Bahagia

Oleh:
Bulan telah purnama, sabit yang tersenyum pergi ke seberang jalan yang gelap gulita di tepi hutan Kota Malapa. Tak lama kemudian gerik samar-samar manusia berkerudung semakin kentara berjalan menuju

Jogjakarta

Oleh:
Aku masih menyusuri jalan ini, jalan yang tak akan pernah membuatku merasa bosan untuk melewatinya. Pedagang-pedagang kaki lima, tukang becak, mbok-mbok penjual gudeg, dan kusir delman yang semuanya seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *