Only Time Will Tell

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 May 2013

Kring kring kring suara sepeda baru yang ku alunkan berulang-ulang pagi itu. Haha entah apa yang telah terjadi sebelumnya, hingga semangat sekolahku meningkat 50%. karena sepeda baru? Atau kuciran cantik rambut hitamku ini? Yang jelas aku merindukan mereka. Mereka yang tak kutemui dari dua minggu lalu ketika bagi rapor, ya kawan-kawanku yang kini menginjak kelas 4 SD horeeee…

Seperti biasa aku meletakkan sepedaku di parkiran pojok dekat warung Pak Uen dan menguncinya erat-erat dengan password he he he… maklum sempat kehilangan ketika pulang sekolah. Hilang? Tersembunyi maksudnya, eh disembunyikan oleh dia. Ya dia, “Rudi” seorang si jagoan katanya, entah jago apanya huft, yang jelas memang menyeramkan hihi dia beberapa tahun lebih tua dariku dan awaknya jauh lebih besar tentunya. Dia sering tak naik kelas karena “saking badeurnya” ya begitu kata guruku, siapa tak takut? hihi

Setelah menunggu tiga tahun lamanya, akhirnya aku menginjak kelas 4 SD, maksudnya ruangan kelasku di bagian atas juga hehe memang sejak awal aku ingin sekali bertempat di kelas bagian atas, hanya 5 tangga lebih atas padahal, memang sekolahku tidak rata tanahnya.. hmm karena memang sengaja di dekor seperti itu mungkin hehehe

Dengan absen lengkap, suasana kelasku sama berisiknya seperti ketika kita kelas 3 SD hoho tapi… Siapa mereka? “dia Faldi pindahan dari Garut, dan itu Aldo pindahan dari Bandung, mereka anak baru di kelas kita”, bisik Nia senyum–senyum. sepertinya telah suka dengan kehadiran 2 cowo tampan itu, ya mereka memang tampan dan akan menjadi teman yang baik, mungkin. Semoga saja, gumamku dalam hati.

Aku duduk dua bangku paling belakang dan tiga bangku dari pojok kanan. Tepatnya dua bangku di samping kiri tempat duduk Faldi, anak baru pindahan dari Garut, anak pertama dari tiga bersaudara, dan yang beberapa minggu kemarin sempat mengalami musibah jatuh dari motor hingga Nampak dari luka kepala yang di perban rapi dan membuatnya lebih terlihat keren. Elaaah apa maksud dari talaranku tentang privacynya? Tak sengaja aku mendengar percakapan antara Alwi sahabatku dengan Faldi. Wajar karena Alwi duduk disampingku dan Faldi disampingnya. Tentu pembicaraan mereka jelas tersimak dan di rekam dengan seksama hihi.

Pulang sekolah…
“fara!” tegur Alwi meyakinkanku akan pentingnya sesuatu yang akan dia sampaikan.
“ada apa wi?”, sahutku penasaran. “sore ini jadi kan?”, tanyaku pura-pura tak tau,
tentang ajakan Alwi belajar bersama di rumahku. Aku yakin dia takan membatalkannya.
“hmm maaf ra, tadi Faldi ngajak aku belajar bareng di rumahnya, kamu ikut aja yuk!”
“oh gak usah, aku belajar sendiri aja”, jawabku sinis. dugaan yang salah. Sedikit kecewa, dan hampir menggelikan lidahku untuk bicara banyak padanya. namun dengan ekspresi muka melongo penuh salah, Alwi berhasil menggagalkan niat tidak baikku. Aku lebih memilih diam dan memaafkannya, karena itulah kami bersahabat dengan sangat damai.
“ayolah, nambah satu temen gapapa kali ra. pliiis”, ajak alwi lagi penuh harapan, entah karena saking tak inginnya lewati waktu tanpaku atau ketakutan tak ku beri lihat PR, entahlah padahal dia anak yang pintar namun kurang beruntung. Dia kurang pandai dalam mempercayai dirinya sendiri dan orang lain. kecuali aku, karena memang aku orang yang paling lama dia kenal dan dekat dengannya di banding dengan teman yang lain.
“iya Fara yuk ikut” sambung Faldi dengan sangat ramah, sepertinya Faldi anak yang baik. Apa salahnya jika aku berteman dengannya. Seperti dalam lirik lagu almanar yang entah apa judulnya “masih kurang seribu teman, carilah selalu penambahan, kurangilah satu lawan”, selama ini aku memang sulit sekali berinteraksi dengan orang lain, aku tipe orang yang pilih-pilih temen, terlalu terobsesi pada kelanjutan lagu almanar yang tadi “watak teman mempengaruhi”. Tapi baiklah mungkin Faldi memang sebaik yang ku kira.
“emm, ya udah deh”, sahutku setuju sambil tersenyum pada keduanya. Kedua teman yang akan menjadi sahabat baikku hingga nanti. Alwi dan Faldi 😉
“yes!”, Alwi menepukan kedua tangannya di bahuku. Pertanda dia sedang senang, begitulah ciri khasnya.

Sejak itulah Aku, Alwi dan Faldi menjadi teman dekat sangat dekat. Kita selalu pergi bersama. Di mana ada aku pasti mereka menyambut dengan penuh kehangatan, begitupun sebaliknya. Faldi selalu bilang “kita bertiga sahabat, sahabat yang selalu ada ketika suka dan duka, sahabat yang baik yang membantu sahabatnya menjadi orang baik, dan sahabat sejati yang bisa di ajak bercinta untuk syurga”. Kata-katanya selalu aku ingat hingga kini, hingga kita masih bisa bersahabat dengan baik, hingga kita kelas satu SMA. Di SMA yang sejak dulu kita inginkan untuk duduk bersama melukis langit dengan impian tentang aku, mereka dan kehidupan.

Pagi hari di sekolah, hari yang sangat cerah secerah hatiku yang tak pernah tak jauh dari kedua sahabatku Alwi dan Faldi, sekaligus seseorang yang sangat kuharapkan menjadi pendamping hidupku kelak, Faldi. Ya dia. ups. Entahlah apa yang tengah terjadi padaku, aku merasa semuanya terasa menyenangkan bila bersama Faldi. Ya Tuhan aku takut perasaan ini cinta? Aku takut menghancurkan persahabatan yang baik ini hanya karena keegoisanku untuk memilikinya. “maafkan diriku tak mampu, membatasi rasa yang sewajarnya, mengaku mencintai sungguh ingin diriku menjadikanmu seorang kekasih”.

Tahun ini Aku, Alwi dan Faldi tak ada yang satu kelas, tapi kami selalu menyempatkan diri untuk bekerja sama dalam melakukan segala hal, termasuk belajar. Dan seperti biasa aku, Alwi dan Faldi bertemu di perpustakaan, karena perpustakaan adalah base camp kita bertiga. Selain memang nyaman untuk bersantai kita bertiga juga senang sekali membaca, terutama Alwi. Dia terkenal dengan julukan si kutu buku.
Hari demi hari kita lewati bersama, dengan keadaan diamku dari segala hal yang kusembunyikan dari mereka berdua.
“Ra”, sapa Faldi yang tiba-tiba mengubah detak jantungku 35% lebih cepat dari biasanya.
“iya fal?”, sahutku dengan biasa saja. Tanpa dia tau aku menyukainya dari tingkah bodoh gambaran betapa pecundangnya aku.
“tadi malem Dinda sms aku”, katanya sambil senyum-senyum. Aku hampir lupa beberapa minggu lalu Faldi sempat bertanya-tanya tentang Dinda padaku. Aku memang selalu lupa akan hal yang pernah melukuaiku, pura-pura lupa maksudnya. Ya Allah apa maksud dari semua ini, apa aku cemburu?
“oyah? Ciee seneng dong. Dari mana dia tau no kamu fal?”, tanyaku tanpa memperlihatkan bahwa aku benar-benar cemburu dan takut kehilangannya. Siapa aku? Penggemar rahasianya? Pecundangkah?
“aku juga ga tau ra, lagian ga penting jugalah ra dari siapanya yang pentingkan…”, katanya dengan sumeringah dan sangat menyakitiku.
“kamu seneng yeee, wi nih wi Faldi udah ada calon, kapan nyusul? Wkwk candaku menahan perih.
“sorry kawan, gak niat sama sekali ngecengin cewe nih. Wleee”, balas Alwi dengan PDnya. Memang selama ini Alwi tak pernah mengatakan perasaannya pada seseorang yang dia suka, entah memang tak ada mungkin.
“lagi pula sesuka-sukanya aku sama cewek, aku ga akan pernah bilang sama orangnya karena emang belum waktunya”, kata Faldi lagi-lagi membuat jantungku 50% berdetak lebih cepat dari biasanya. Juga membuat nafasku terhenti seketika dan menggelikan lidahku, “kau lain Faldi, kesejatian iman yang kau jalani, aku semakin kuat dengan kerahasiaanku, tentang kamu, tentang aku padamu”, aku menghela nafas dan “aku rela menjadi lilin walau sinarnya redup tapi gak habis di makan api asalkan bisa memberi cahaya dan menerangi hatimu”. Gumamku dalam hati.

Setelah mengerjakan PR dan mempersiapkan pelajaran untuk besok, sepeti biasa aku menyempatkan diri untuk menggores tinta hitam di diary hijau toskaku, kado ulang tahun dari Faldi. Faldi memang sangat mengetahui apa yang aku suka, menulis dan warna hijau toska. Wajarlah seperti aku yang tau warna biru dan melukis kegemarannya. Juga warna cokelat serta bernyanyi, itu yang Alwi suka.
“Malam ini hujan turun dengan sangat rapi, rata membasahi bumi di bagian tempat tinggalku, memang sebagian kecil masih kering, tapi bukan karena mereka tak ingin basah, mereka hanya terhalang tembok yang sengaja di buat untuk melindungi seseorang penyayang dirinya sendiri. Bagaikan ratanya Tuhan dalam menyebar kasih sayang pada setiap hambanya, hanya mereka yang tak pandai bersyukur yang tak menyadari nikmat yang telah Allah berikan. Seperti aku?”. Lagi-lagi Faldi mengiang-ngiang cukup jelas dalam jiwa dan pikiranku saat ini. Serta hujan menyadarkanku betapa beruntungnya aku selama ini.
“hati hanya dapat mencintai dengan sekejap, kaki hanya bisa melangkah jauh lebih lelah. Busana tak selamanya indah dalam tubuh. Tapi memiliki sahabat sepertimu adalah keabadian yang tak mungkin kulupakan”. “Ya aku beruntung bersahabat dengan mu faldi”, pikirku lagi.
“lama persahabatan ini terjalin dengan indah, tak mungkin ku akhiri hanya karena kumencintaimu”. “sudahilah wahai keadaan, hentikan! lagu ini seperti menterorku dari segala sudut, siapa yang bunyikan lagunya? Hmm siapa yang menelfonku? Faldi, 3 panggilan tak terjawab.
Ada apa Faldi menelfonku? Aku tercengang seolah tak percaya, aku bahagia dan sedikit meragu, meragu jika dia memang akan membuatku bahagia.
Drrrtt drrrtt Handphone ku bergetar, Faldi memberiku secarik pesan singkat, pertanda dia akan mulai percakapan denganku malam ini.
“Ra? Kamu ga apa-apa kan?
Tiba-tiba aku keingetan kamu”.
Tanyanya penuh kekhawatiran. Lagi-lagi membuat jantungku kembali berdetak lebih kencang dan jiwaku melayang jauh lebih tinggi lagi dari biasanya.

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku nyatakan padanya, namun aku takut tak tau cara bagaimana menjawab pertanyaannya bukan dengan jawabanku yang sebenarnya. Lalu aku lebih memilih diam dan tersenyum akan keberuntunganku, menjadi sahabatmu, diperhatikan olehmu, Faldi. “Maaf aku tak membalas pesanmu, kita akan bertemu di perpustakaan besok, belajar bersama lagi”. Gumamku dalam hati. Aku menghela nafas dengan sangat berat malam ini, aku mencoba menahan air mata yang memaksa keluar menemani keperihanku.
“Namun jika cinta ini beban biarkan aku menghilang, jika cinta ini kesalahan biarkan aku memohon maaf, jika cinta ini hutang biarkan aku melunasinya, tapi jika cinta ini suatu anugerah maka biarkanlah aku mencintai dan menyayangimu sampai nafas terakhirku tanpa kau tau, tanpa kau duga”. Dengan memejamkan mata aku berniat tuk tetap memendam perasaan ini, hatiku menunggu kau yang membukanya.

Entah sampai kapan aku menyembunyikan kebenaran di dalam hatiku, bisakah aku menyimpan rapat-rapat perasaanku lama-lama? “Only time will tell”
“aku mencintaimu. Kau? Tak perlu tau :’)”

Cerpen Karangan: Zulfa Maulida
Facebook: zulfa maulida

Cerpen Only Time Will Tell merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Petualangan dan Cinta (Part 2)

Oleh:
Setibanya di tenda lau kawar kami bergegas kembali melaksnakan sholat berjamaah yang dipimpin oleh fahmi. Setelah makan malam selesai kami mulai agenda berikutnya yaitu membuat lingkaran dan membakar kayu

Butterfly

Oleh:
“Loh pagi-pagi gini kamu kok sudah cemberut, jelek tau…” kata Rima yang melihat Nita yang sudah duduk termenung di bangkunya, teman-teman yang lain juga tampak berusaha menghibur Nita. “Benar,

I’ll Be Waiting For You, My Sun

Oleh:
Drtt.. drrrt.. suara handphone berdering membangunkanku, sebuah pesan baru saja masuk “Selamat pagi, maaf ya aku belum bisa menemuimu karena aku harus mengikuti kegiatan di kampusku” Juandra. Ohiya, Juandra

Senja Terakhir

Oleh:
Namaku Vanessa Jessica Greysce biasa dipanggil Jessace (baca: Jesech) aku punya 3 sahabat di rumah, bernama Vinka, Regina dan Emma, ketiga temanku itu sangatlah baik dan tak lupa sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *