Operasi Outlone (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Ia di sana, menatapnya penuh kasih sayang, jaket hijau dan jeans biru yang dipakainya menambah kesan tomboi. Ia begitu tinggi hingga Tasim selalu mendongak ke atas setiap kali berbicara dengannya, tapi rasa pegal di lehernya terobati oleh kekagumannya pada Shinta, dengan gemetar dia letakkan tangan di bahu kirinya yang harum, memerasnya lembut, otot bahunya sangat kuat untuk ukuran wanita. Tasim menatapnya penuh haru hingga air mata ke luar tanpa ia sadari.

“Kenapa sayang?” Tanya Shinta lembut serta khawatir.
“Au.. aku… Kak,” dia tatap dalam matanya penuh ketakutan.
“Ya sayang.. kenapa?”
“Aku takut Kakak selingkuh..” kedua kelopak matanya terpejam menahan derasnya air mata yang mendobrak ke luar.
“Sayang… Dek.. kenapa bicara begitu? Aku gak akan pernah selingkuh, aku sayang banget sama kamu.” Jawab Shinta sambil memeluk erat pacarnya yang sangat kekanak-kanakan itu.

Bukan pertama kalinya dia menanyakan hal bodoh, tapi Shinta tidak mengeluh, ia mencintai Tasim apa adanya, baginya dia adalah pria baik yang tidak boleh dibiarkan sendiri. Bagi Tasim, Shinta adalah pacar, kakak, pelindung, dan gurunya. Berbeda dengan pasangan lain yang berakhir dengan hubungan s*x ketika berpelukan. Tasim hanya ingin merebahkan beban pikirannya pada Shinta sembari menangis hingga perasaannya kembali lega setiap kali berpelukan. Bahkan ketika Shinta hanya mengenakan B*a dan celana jeansnya, dia tidak begitu tertarik, ia hanya ingin Shinta memandang tajam matanya dan meyakinkannya semua akan baik-baik saja, ia hanya ingin sentuhan hangat dan kuat darinya.

Tasim adalah lulusan jurusan Teknik Informatika yang hidup sendirian di sebuah apartement yang dibelinya dari proyek sistem informasi yang dia kerjakan tahun lalu. Kini ia hidup sendiri, sehari-hari ia jalani dengan bekerja sebagai freelance programmer, mengerjakan proyek-proyek yang ia dapatkan melalui internet. Sifatnya yang penutup membuatnya tidak begitu dikenal oleh para tetangga dan jarang ke luar apartemen.

Berbeda dengan Tasim, Shinta adalah wanita yang super aktif, ia periang, pintar, cantik, tinggi, dan lebih tua satu tahun. Ia bekerja sebagai customer service di salah satu perusahaan telekomunikasi terkenal. Ia sangat ramah kepada setiap orang. Bahkan ia mendorong Tasim untuk mengunjungi beberapa tetangga apartemennya, mereka yang tadinya berprasangka buruk terhadap Tasim berubah menjadi suka pada sifatnya yang pemalu tapi ternyata sangat ramah. Berkat dukungan Shinta, Tasim menjadi lebih dekat dengan tetangga. Ia bahkan membawa laptop pekerjaan ketika menongkrong dengan mereka di halaman basket depan gedung apartemennya sehingga dia tetap bisa bergaul sambil bekerja. Ia sesekali juga mengajari mereka pemrograman dan cara membuat animasi. Tasim pun senang keahliannya diminati para tetangganya.

“Dek.. kok melamun? Udah siap?” Tanya Shinta dari depan pintunya, ia sudah menenteng handuk dan botol air mineral, pakaian olah raganya yang ketat memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah. Tasim berlari kecil lalu mengunci pintu kamarnya untuk jogging dengan Shinta. Ini resolusi tahun baru yang mereka sepakati. Tasim bertekad untuk menguruskan badannya yang tambun, Shinta dengan semangat terus membantunya. Mereka jogging di subuh hari di lintasan samping kanan. Mereka memilih saat subuh karena saat itu hanya ada mereka berdua.

Shinta mengerti pacarnya tidak suka keramaian oleh karena itu dia rela bangun jam 4 lalu menjemput Tasim untuk jogging, bagi dia itu pengorbanan yang menyenangkan, ia bahagia bisa merubah pacarnya menjadi lebih baik, dari yang tadinya penutup diri menjadi terbuka, yang tadinya tambun kini badannya mulai kurus. Shinta hanya ingin Tasim menjadi lelaki yang kuat dan sehat, ia memang bersedia menjadi tempatnya memanjakan diri seperti anak kecil. Tapi ia tahu orang lain tidak akan selembut itu padanya, karena itu ia ingin Tasim siap dengan kerasnya dunia luar di mana ia tidak selalu bersamanya, ia tidak ingin mencari pria sempurna, baginya lebih baik bersama-sama orang yang ia cintai dan berubah bersama menjadi lebih baik daripada menghabiskan umurnya menunggu sosok sempurna.

“Ayo Dek.. masa baru lari sudah cape begitu.” Ledek Shinta pada Tasim yang tertinggal di belakang.
“Iya Kak.. tunggu dong! Huuft!!” Ia melihat rambut panjang Shinta berombak ke belakang dengan indahnya, seindah tubuhnya yang tertutup jaket biru itu.
“Aku tak akan menyerah, akan aku kejar kamu Kak.” Batin Tasim,.

Ia tahu pengorbanannya untuk menjemputnya setiap pagi tidaklah mudah, ia sebenarnya mulai malas dan ingin menyerah dengan resolusinya tapi ia tahu itu akan mengecewakan kekasihnya. Ia sadar ia hanyalah pria yang tidak sejati yang harusnya bersyukur mempunyai malaikat cantik yang selalu mendukungnya. Pagi ini ia akan membuatnya bangga, walaupun lelah ingin berhenti, ia terus berlari menunjukkan bahwa ia pria yang kuat yang bisa membahagiakannya suatu hari, ia terus berlari menyusul pacarnya yang seksi itu.

“Awas kamu Kak, akan aku peluk dan cium kamu sampai habis.” Batin Tasim, ia melesat seperti mobil yang memakai NOS saat balapan.
“Maju woy! Ah bego! WOY!” Teriak sopir mikrolet pada mobil sedan di depannya. Teriakan itu salah satu elemen khas pagi hari di jalan raya samping kanal, selain bunyian klakson, tukang bubur, candaan ibu-ibu, tawa ledekan anak sekolahan dan tangisan anak kecil.

Tasim dan Shinta sedang berdiri santai di samping jembatan kanal, menikmati keindahan pemandangan air mengalir dari arah munculnya matahari. Mereka biasa berdiri di sana setengah jam setelah lari. Tanpa pelukan, tanpa ciuman, tanpa obrolan panjang, hanya dua manusia yang saling cinta sedang menikmati momen berdua di antara elemen bising khas ibukota. Tasim yang biasanya sensi dengan kebisingan dan semeraut jalan raya, kini seperti tuli sejenak, ia terpesona keindahan alam itu dan merasa nyaman dan aman ada Shinta di sampingnya.

“Kak ayo kita sarapan..”
“Hmm Kakak harus berangkat kerja, motor Kakak tadi di parkir di sana, kamu pulang sendiri bisa kan?”
“Aku takut.. maunya sama Kakak..”
“Adeee… mau Kakak cium di sini sekarang?”
“Engga Kak malu hehe, oke Kak aku pulang dulu, Kakak hati-hati di jalan yah,”
“Iya sayang…”

Tasim berjalan pulang sendirian, di tengah perjalanan ia melihat sosok pria yang sepertinya ia kenal. Wajah itu tidak asing lagi, dia adalah Wahyu, teman lamanya saat masih duduk di tingkat satu kuliah. Ia begitu bahagia bisa bertemu dengannya, mereka sudah lama tidak saling berkomunikasi, ia sudah sering mencoba menelepon nomornya tapi tidak diangkat, dan chat melalui facebook tidak dibalas dan profilnya tidak pernah diupdate sejak perpisahannya di akhir semester 2.

“Wahyu? Lo wahyu kan?” Tanya Tasim padanya yang sedang menunggu dilayani penjual kebab.
“Weh.. Tasim? Apa kabar lo men?” Mereka berjabat tangan.

Wahyu bercerita dia baru saja pulang dari perjalanan bisnis di pulau kalimantan. Dia sekarang berbisnis pakaian batik dan sedang mencari tempat tinggal dan kebetulan memilih gedung apartemen yang sama dengan yang Tasim pilih. Tasim tidak percaya Wahyu sudah berubah, pria yang dulu introvet seperti dirinya kini tampil lebih hebat. Ia ingat bagaimana dia mengeluh tentang orang-orang sebagaimana ia juga tidak menyukai keramaian, dan dia mengeluh nilai kuliahnya yang sangat jelek dan memutuskan pindah fakultas.

Ia mencoba menahannya untuk bersabar tapi dia tetap pindah. Setelah itu ia terus mencoba menghubunginya tapi tidak mendapat balasan. Hubungan mereka tidak lama, hanya 2 semester, tapi meski begitu, Wahyu adalah teman terdekat yang dimilikinya, ia ingat bagaimana dia menjemputnya dari kontrakan dan mengantarnya ke rumah saat ia demam dan sendirian. Dia adalah sahabat satu-satunya yang ia miliki. Tasim tidak bisa menahan untuk mengakui betapa besar kerinduannya kepada Wahyu.

“Gimana dengan lo? Sudah menikah?” Tanya Tasim sambil menyodorkan secangkir teh di ruang tamu apartemennya.
“Haha, lo udah punya ya tas, hebat, gue belum, masih mencari dan menunggu, oh iya, mana foto pacar lo itu? Gue mau lihat,”
“Dia gak mau difoto Yu, gue sering minta tapi dia terus nolak,”
“Dia di mana sekarang? Tinggal sama lo?”
“Oh enggak, dia tinggal di gedung apartemen deket kantornya, kapan-kapan gue kenalin lo ke dia,”
“Sip, oh ya gue harus balik sekarang nih, udah siang,”
“Wah gak kerasa yah, oke Yu, eh iya nomor handphone lo berapa?”

Setelah bertukar nomor handphone, Wahyu pergi, Tasim segera mengirimkan SMS pada Shinta untuk mengatur makan malam bersama. Ia ingin mengenalkan sahabat lamanya. Setelah berjam-jam menunggu balasan. Shinta akhirnya membalas SMS-nya saat malam, dia memintanya segera bersiap dan naik ke atas gedung karena ingin melatihnya ilmu bela diri seperti yang biasa mereka lakukan setiap malam. Tasim tidak menolak, ia senang bisa diajarkan, ia merasa sebagai lelaki macho saat bisa melakukan gerakan-gerakan karate. Ia pun segera mengganti pakaian, membawa bekal dan berlari ke tangga, sementara itu Shinta sudah menyiapkan tempat untuk mereka latihan.

Setelah berlatih, mereka berdiri menikmati pemandangan malam disertai angin yang berhembus mengusir keringat, mata Tasim tertuju pada lintasan lari yang sekarang sudah menjadi pasar malam, orang-orang berjual beli barang-barang murah di sana. Ia mendapat ide untuk membelikan hadiah untuk Shinta, dia wanita tomboi dan suka bela diri, mungkin miniatur pedang sangat cocok, bisa ditaruh di mobil atau kamar, tapi setelah ia melihat restoran yang tidak jauh dari lintasan lari itu, ia mendapat ide yang lebih baik, yaitu mengajak pacar dan sahabatnya makan malam.

“Kak… aku ingin kita makan malam di restoran,”
“Restoran?”
“Ya Kak, kita bertiga bersama sahabatku Wahyu, besok malam setelah latihan?”
“Kakak gak bisa Dek, aku harus segera pulang setelah latihan karena paginya harus menjemputmu lari pagi kan?”
“Kak, hanya malam besok saja, aku ingin mengenalkanmu padanya, kalian berdua orang yang ku pedulikan, aku ingin kalian saling kenal,”
“Dek.. Kakak gak punya waktu, dan Kakak harus menjaga stamina karena selalu sibuk di kantor kamu tahu kan. Bahkan untuk bertemu denganmu hanya bisa saat subuh dan malam hari kan? Kakak gak sefleksibel dulu karena jabatan Kakak udah naik.”

“Yah selalu beralasan kantor, kantor, dan kantor. Kak aku butuh kamu!”
“Ya dan Kakak sedang mengumpulkan uang untuk masa depan kita!”
“Tidak ada masa depan dimana Kakak dan aku bisa selalu berdua kan?! Aku lebih memilih Kakak mencari pekerjaan lain,”
“Dek… Kakak gak pernah meminta kamu dewasa, kamu bebas menuntut apa pun dan tidak pernah sekali pun aku menolak memberikannya, aku berikan apa pun dan menjadi siapa pun yang kamu butuhkan, kamu mau kurus oke kakak siap jemput dan menyeret kamu keluar dari gua itu untuk lari setiap pagi.”

“Kamu mau bisa bela diri Kakak ajari setiap malam, kamu pencinta senapan, Kakak latih kamu menembak setiap minggu, Dek jabatan aku lebih tinggi sebelum kenal kamu, percayalah aku sudah berusaha maksimal membagi waktu. Aku gak meminta apa pun selain… aku ingin kamu pada titik ini saja mendukung pekerjaanku karena aku sedang mengumpulkan uang untuk membeli rumah untuk kita berdua dan kakak cinta pekerjaan ini, oke dek? Aku mohon minta lah apa pun selain yang menghambat rutinitas Kakak, apa pun dan Kakak akan penuhi semampu Kakak, oke? Plis? Honey?” Shinta tidak ingin menyakiti perasaan kekasihnya, ia berjanji pada dirinya untuk berusaha memberikan yang dia minta, apa pun selain harus membuatnya ke luar dari jadwal-jadwal pekerjaannya. Ia diam menatap Tasim, menunggu jawabannya.

Tasim terbangun keesokan paginya dengan kaus dan celana bersih, Shinta telah menghilang, ia merasa takut ada orang datang karenanya ia segera berlari menuju tangga, masuk ke lift dan menuju kamar. Wahyu sedang berdiri di depan pintu terus-menerus menekan bel sambil menggedor dan memanggil namanya, ia menenteng kotak cokelat. Tasim yang melihat dari jauh merasa tidak enak dia mungkin sudah menunggu lama sementara ia tertidur.

“Woy bro! Sorry udah lama ya? Gue lagi senam di atas, sorry nih gak bawa hp,”
“Oh.. slow, eh gue perhatiin lo atlet tembak ya? Kemarin gue lihat ada foto-foto lo lagi nenteng senjata, laras panjang pula,”
“Bukan atlet tembak sih, tapi gue sering latihan nembak sama cewek gue. Itu kotak apaan? Martabak?”
“Haha bukan ini gue mau nunjukin koleksi pistol gue, pistol angin sih,”
“Wooh lo atlet nembak? Eh lupa, ayo masuk, eh sorry banget nih nunggu lama, lo udah sarapan?”
“Udah selow, masih aja kaku. Sama kayak lo gue latihan di lapangan, bokap gue ngajarin nembak setiap minggu.”

Tasim membuatkan mereka berdua sarapan mie goreng telur dan teh hangat. Mereka bercerita panjang lebar tentang senapan dan metode latihan yang mereka lalui. Tasim sudah lama tahu ayah Wahyu seorang tentara dan betapa takjubnya ia mendengar cara dia mengajarkan Wahyu berkamuflase dan survival di hutan layaknya tentara sungguhan, dan Wahyu juga tidak percaya Shinta bisa mengajarkannya menembak senapan mesin dan dia ingin segera menemuinya. Tasim masih merasa bersalah karena telah memaksa Shinta bahkan tega memintanya pindah pekerjaan, ia merasa tidak tahu diri dan ingin segera meminta maaf kepadanya nanti malam. Wahyu membaca gerakan tidak enak dari kawannya dan dia pun mengganti subjek pembicaraan. Kini mereka membiacarakan film aksi yang berisi para aktor tua yang kembali berlagak tembak-menembak.

“Hahaha! Kakinya terlalu pendek untuk menendang raksasa besar itu, hahaha, dia seharusnya.”
“DING!” Bunyi bel pintu. Ketika Tasim buka, tidak ada siapa pun, di depan kakinya ada amplop putih, ia buka dan ada surat bertuliskan “Nyalakan TV-nya”
“Bro? Siapa?” Tanya Wahyu sambil mengunyah biskuit di sofa.
“Bro tolong nyalain TV dong,” Kaki Tasim tidak bisa beranjak dari gagang pintu, dia merasakan perasaan tidak enak tiba-tiba.
“Eh TV? Oke tunggu, nih.”

Mereka berdua ternganga menyaksikan pemandangan mengerikan, adegan penyiksaan seorang wanita di ruangan yang dipenuhi pria bersenjata. Tasim mengenali wanita itu, dia adalah Shinta, mulutnya disekap, bahunya penuh sayatan, kepalanya diperban, tangtop putihnya penuh darah, lehernya dekat dengan mata pisau yang dipegang pria kekar yang sepertinya sedang bertanya sesuatu yang tidak jelas terdengar.

“Triiiing!” HP Tasim berbunyi, dia masih syok tapi mencoba tenang saat mengangkatnya. “Halo?”
“Tasim, bagaimana latihanmu? Ku harap dia sudah mengajarkanmu cara menjadi pahlawan, datang ke alamat yang ada di amplop depan pintumu dalam waktu satu jam, tidak ada polisi, turuti permintaan ini atau akan kami bunuh.” Tasim menoleh ke belakang, ada amplop baru, ia mendengar pintu lift terbuka, segera ia berlari tapi sayang terlambat, tidak terlihat siapa dia, orang misterius yang baru saja menaruh amplopnya. Ia kembali ke kamarnya, di sana Wahyu membaca amplop kedua lalu menoleh ke Tasim.

“Gue tahu alamat ini,” Kata Wahyu.
“Wahyu gue harus pergi ke sana, tanpa polisi,”
“Hah? Dengan tangan kosong? Itu bunuh diri,”
“Gue datang dengan tangan kosong dan mobil penuh senjata, gue gak punya waktu banyak, lo harus pulang, biar gue selesain ini sendiri,”
“Tunggu bro! Tunggu!” Kata Wahyu sambil menahan Tasim yang penuh emosi.

“Gue ikut lo oke,”
“Itu tempat berbahaya,”
“Ya Tasim terima kasih penjelasannya, gue bisa lihat sendiri dari video itu,”
“Gue gak mood untuk bercanda,”
“Bagus, karena gue gak menganggap ini candaan. Lo tahu apalagi yang bokap gue ajarkan selain bertempur? Dia mengajari gue tentang kesetiaan. Sekarang, sebagai teman lo gue bersikeras untuk ikut lo, gue bisa jaga diri, lu bisa jaga diri, kita akan hajar mereka.”

“Lo punya..”
“Ya gue punya mobil,”
“Dan lo…”
“Ya gue punya banyak amunisi dan senapan,”
“Apa ada di..”
“Ya semuanya ada di bagasi mobil. Gue rencananya ingin ke rumah bokap untuk latihan, tapi biarlah. Kita bisa berangkat sekarang.”

Rumah itu berwarna kuning. Memiliki tingkat dua. Semua jendelanya ditutup. Dijaga oleh dua orang memegang golok di depannya. Pagarnya terbuka. Ada mobil Shinta di parkiran dalam. Wahyu memberhentikan mobil di dekat pohon. Tasim ke luar membawa stun gun dan pistol. Mengendap mendekat melalui semak-semak, disusul Wahyu yang membawa senapan tembak jarak jauh.

“Wahyu, lo cari posisi aman untuk menembak, gue akan masuk sendirian,”
“Jangan sok pahlawan bro, kita bisa masuk barengan,”
“Dan dibantai saat baru masuk? Jangan khawatir, gue punya rencana, lo cari aja tempatnya,”
“Oke bro, hati-hati.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Anhar Tasman
Facebook: Anhar Tasman

Cerpen Operasi Outlone (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tipe Ex Cinta

Oleh:
Cinta itu bagaikan angin tanpa bau, karena cinta yang seperti angin itu tidak akan memiliki bau tapi memiliki rasa yang menyentuh. Dalam kehidupan seorang manusia cinta antara laki-laki dan

Benang Tersembunyi

Oleh:
Kedua orangtuaku sudah bercerai sewaktu aku masih berumur 5 tahun. Dulu sewaktu SD, terkadang aku sangat iri melihat teman-temanku yang mempunyai orangtua lengkap dan mereka hidup bahagia. Tidak sepertiku

Cinta Itu…

Oleh:
Manusia, apa kau ingat siapa dirimu? Apa kau ingat tugas yang diberikan padamu di dunia ini? Apa kau ingat apa tujuan hidupmu? Manusia, kau nodai dunia dengan minimnya akhlakmu

Rangga Revina

Oleh:
Dinginnya malam ini menusuk hingga ke dalam tubuh. Ini adalah malam Minggu, dimana aku duduk terdiam memandangi sebuah taman yang penuh dengan pasangan romantis tengah merasakan cinta di malam

Kita Bersatu Dalam Perbedaan

Oleh:
Namanya adalah Fahri Rahman, dia adalah salah satu siswa yang jenius, tampan, pintar menggambar, dan berbakat, tetapi sayangnya dia dijauhi oleh teman-temannya karena dia adalah seorang kidal alias dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *