Operasi Outlone (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Satu penjaga masuk. Tasim berjalan pelan ke belakang penjaga yang masih diam berdiri. Dengan stun gun, ia arahkan ke lehernya. Dia gemetar lalu pingsan. Ia seret badannya ke semak-semak. Dengan cepat ia kembali ke balik dinding menunggu penjaga lain. Satu penjaga ke luar menuju jalanan. Dia menengok kanan-kiri tidak menyadari keberadaan Tasim di belakangnya. Saat dia menoleh, badannya sudah gemetar. Dia pingsan. Tasim seret ke dekat temannya. Tidak ada siapa pun di jalanan. Tasim masuk ke dalam rumah.

Terdengar langkah kaki dari tangga. Tasim masuk ke dalam kamar dan bersembunyi di bawah kasur. Dua orang masuk ke kamar. Dari suaranya, satu pria dan satu lagi wanita. Wanita itu terdengar memberontak. Keduanya naik ke kasur sehingga Tasim tertindih tapi masih bisa bergerak. Kasur itu berguncang. Tasim bisa menebak yang terjadi. Sedang terjadi pemerk*saan. Perlahan ia ke luar dan berdiri menghadap pria itu. Ia berikan setrum di lehernya. Pria itu terjatuh dan pingsan. Wanita itu menangkap isyarat diam darinya. Dia menghapus air matanya dan turun dari kasur. Dia ke luar dari rumah. Setelah diperiksa tidak ada siapa pun lagi di tingkat ini, Tasim naik tangga untuk memeriksa lantai atas.

Semua pintu kamar terbuka kecuali kamar yang paling besar. Pintu itu terkunci. Ia paksa buka tapi tetap tidak bisa. Ia pastikan tidak ada siapa pun yang melihat kemudian mendobrak pintu itu. Berbarengan saat itu pula kaca jendela pecah oleh peluru yang menembus kepala pria besar yang tadi memegang pisau. Tasim menghajar satu pria yang hampir memukulnya dengan kayu. Setelah ia yakin tidak ada lagi penjahat, ia dekati Shinta yang terikat di sebuah kursi. Mulutnya ditutup ikatan kain. Ada bekas pukulan di sekujur tubuh dan matanya. Tasim melambaikan tangan ke luar jendela untuk memberi tanda kepada Wahyu untuk masuk.

“Kak.. Maaf aku telat, ini sak..”
“Jangan pegang gue, siapa yang menyuruh lo ke sini?!”
Tasim sangat kaget, bagaimana dia bisa menjadi kasar, apakah karena semalam? Apa karena ia telat? Tapi yang paling ia tidak mengerti apa maksudnya dengan kata menyuruh. Ia hanya terdiam menatapnya penuh kesal.

“Yuli lo gak apa-apa?” Tanya Wahyu yang baru masuk ruangan sambil memegang pistol di tangan kanannya.
“Lo gila ya?! Anak kencur lo suruh nyelamatin gue?! Pake otak lain kali!” Shinta merebut pistol dari tangan Wahyu dan segera ke luar dari kamar itu.
“Kak… Kak.. Shinta!!” Teriak Tasim kebingungan.
“Gue bukan Shinta!” Bentaknya sembari menuruni anak tangga.
“Tasim, bisa tenang sebentar?” Pinta Wahyu sambil memberikan kursi kepadanya.
“Lo kenal dia? Yuli namanya? Apa maksudnya? Kenapa dia bisa marah ke gue? Apa salah gue?!”
“Maafin gue kawan, gue harus ngelakuin ini.” Wahyu memukulnya hingga Tasim pingsan. Ia bawa kawannya menuju mobil. Mereka bertiga meninggalkan lokasi kejadian. Tasim terlelap di bangku belakang. Wahyu menyetir mobil sementara Shinta membersihkan luka-lukanya. Ia masih tampak kesal atas kejadian yang baru terjadi.

“Lo gak perlu teriak seperti itu ke Tasim, dia lelaki yang baik,”
“Gue disekap dan lo mengirim bocah ingusan? Bilang ke bos kalau dia mau gue mati biarin gue mati sendirian,”
“Asal lo tahu, gue gak menyuruh dia ke sini, dia bisa aja panik gak jelas bahkan nelepon polisi saat tahu lo yang asli disekap, tapi enggak, dia nekat pergi sendiri bahkan menyuruh gue pulang dan gue harus mengemis untuk ikut dia. Lo boleh percaya atau enggak, tapi lo harus minta maaf ke dia. Dia udah merelakan nyawanya untuk lo. Dia cowok pertama yang berani ketimbang …”
“Ketimbang cowok-cowok pengecut lain yang udah gue tidurin.. Thanks, gue ngerti,”
“Gue berencana bilang ketimbang kandidat lain,”
“Diam.”

Wahyu berharap sahabatnya bisa mengerti semua ini dan sanggup menerima kenyataan pahitnya. Ia merasa bersalah tidak segera memberitahunya tapi merupakan kewajiban telak baginya untuk tutup mulut hingga bosnya berkata lain. Ia juga khawatir dia lebih memilih bunuh diri ketimbang bergabung bersama satuannya. Ia kembali menatap Yuli, kali ini dengan tatapan menakutkan. “Tasim adalah sahabat gue dan lo baru saja menyakiti hatinya, lo harus meminta maaf kepadanya atau lo gak akan hidup lama,”

Yuli bukanlah gadis penakut, sebagai pasukan wanita elit ia sering mendapatkan ancaman. Tapi Wahyu tidak pernah semarah ini kepadanya. Ia hanya bisa diam tidak ingin memulai keributan atau menunjukkan tanda perlawanan. Bagaimanapun juga, Tasim benar-benar menyelamatkannya sendirian. Dia mempertaruhkan nyawanya demi keselamatannya. Ia menyesal telah membentaknya. Dia pasti sangat sedih, pikirnya, ia berjanji pada dirinya akan meminta maaf setelah dia mengerti.

Tasim terbangun di sebuah ruangan, hanya ada satu meja besar dan dua kursi serta kaca dinding, ruangan itu diterangi lampu kuning, ia melihat pintu yang terbuka tapi ia tidak bisa ke luar karena kakinya diborgol. Masuk seorang pria tua berkacamata, mengenakan kemeja putih berjas hitam, menenteng satu folder dan sebuah remot di tangannya. Ia mengeluarkan puntung rok*k dari kotaknya dan menyerahkannya kepada Tasim, dia menolak dengan gelengan.

“Apa Anda kenal saya?” Tanya bapak itu.
“Shinta,” Jawabnya sambil melihat ke arah kaca di ruangan, ia tahu itu kaca dua arah dan ada orang lain di baliknya. Ia harap itu Shinta.
“Maaf?”
“Shinta,”
“Namanya bukan Shinta, dia Yuli, dan saya tidak bisa mengkonfirm apakah itu nama asli, dan dia tidak ada di balik kaca itu, Nak.”

“Yuli? Yah benar saya lupa, wanita seperti itu tidak mungkin bernama Shinta, dia pasti bernama Yuli, Angelina, James, Risda, Novi, nama-nama tomboi,”
“Apa Anda yakin tidak kenal saya?”
“Tidak,”
“Koreksi jika saya salah, Anda termasuk orang yang lebih suka menjadi pendengar ketimbang memotong pembicaraan, apa itu benar?”
“Benar,”
“Maka izinkan saya memperlihatkan sesuatu.” Pak tua itu menekan tombol di remot ke arah kaca, muncul sebuah cuplikan rekaman pembicaraan antara Tasim dengannya di ruangan itu juga, tanggal di rekaman menunjukkan rekaman itu diambil dua tahun lalu.

9 Januari 2014
“Sebutkan nama Anda untuk dicatat,”
“Tasim Sudirman,”
“Jelaskan alasan Anda berada di sini?”

“Saya seorang penakut, tidak berani berinteraksi dengan orang lain, tidak memiliki teman, menjauh dari keluarga, tidak memiliki harapan masa depan, tidak memiliki semangat berjuang. Saya ingin berguna untuk negara ini, ingin menjadi prajurit, saya siap mati untuk negara ini. Tapi rasa takut saya lebih besar dari impian itu. Saya datang ke sini, siap menjadi objek percobaan dengan tujuan saya bisa digunakan untuk membela negara setelah semua rasa takut saya hilang,”
“Anda paham apa yang akan Anda alami?”
“Halusinasi memiliki kekasih. Saya paham dan siap dengan segala resikonya. Saya percaya dia, dalam kurung kekasih khayalan, bisa mendorong saya untuk menggapai semua yang saya mau.”

“Anda sudah punya nama untuknya?”
“Shinta,”
“Anda sudah punya kriteria untuknya?”
“Cerdas, kuat, mahir bela diri, tinggi, berambut panjang hitam, memiliki tubuh yang indah, senyumnya menggoda, sehat, mempunyai pekerjaan, dan yang terpenting, selalu menyemangati saya untuk berubah, untuk pergi ke mana pun, berbicara dengan siapa pun dan melakukan apa pun yang sebelumnya saya takuti. Itu kriteria yang saya inginkan,”
“Sebutkan kisah pertemuan Anda dengannya!”

“Saya memiliki komputer yang rusak, lalu menelepon jasa servis, mereka mengirim Shinta untuk memperbaiki komputer itu, tapi komputer itu selalu rusak dan selalu Shinta yang dikirim, lama kelamaan terjalin komunikasi di antara kita dan saya menyukai dia, suatu hari saya bertanya apakah dia bersedia menjadi pacar saya, dan dia mengiyakannya. Itu awal pertemuan kita,”
“Sebutkan aktivitas yang Anda inginkan bersamanya!”
“Setiap subuh, dia menjemput saya untuk lari pagi, saat malam dia melatih saya beladiri di atap gedung apartemen, di hari minggu dia mengajari saya menembak di sebuah lapangan, dan di hari libur kami berdua, saya ingin menghabiskan hari bersamanya di apartemen.”

“Apakah Anda paham, Anda tidak bisa mengajaknya ke luar dari jadwal aktivitas yang sudah Anda tentukan?”
“Paham,”
“Apakah Anda paham, dia tidak bisa ditunjukan kepada keluarga atau kenalan dekat Anda?”
“Paham,”
“Apakah Anda paham, suatu hari kebohongan ini akan terbongkar?”
“Paham,”
“Apakah Anda siap menerima rasa sakit ketika mengetahui kebohongan ini?”
“Siap.”

Rekaman itu dihentikan oleh Pak Tua, dia menunggu reaksi dari anak muda yang kebingungan di hadapannya. Tasim tidak percaya apa yang sudah dilihatnya, ia tidak bisa percaya bersedia melakukan perjanjian sekejam itu, ia tidak bisa percaya bahwa kekasihnya, yang selama ini selalu bersamanya, adalah khayalan, ia mencoba mencari bukti bahwa Shinta itu benaran ada.

“Saya dan dia pernah berfoto selfi bersama, saya punya foto yang membuktikan dia benar-benar ada,” Tantang Tasim.
“Biar saya tebak, foto itu diambil sehari setelah Anda menyatakan cinta kepadanya?”
“Ya,”
“Foto seperti ini?” Pak tua itu mengeluarkan beberapa foto dari folder cokelat.
“Anda mengambilnya?”
“Kami juga memiliki sudut pandang lain, silahkan dilihat-lihat.”

Tasim melihat foto-foto itu, foto itu diambil dari dalam mobil yang parkir di seberang gedung apartemennya, yang parkir di seberang lintasan lari tempat ia dan Shinta selalu lari pagi, yang parkir di seberang lapangan tempat ia dan Shinta latihan menembak, ada pula foto yang diambil dari gedung apartemen seberang, foto itu menunjukkan dirinya sedang berlatih bela diri, berpelukan, bercanda dan lainnya. Ia tidak percaya selama ini hubungan mereka diintai oleh orang lain.

“Foto-foto ini…”
“Nyata? Yah tentu nyata, jika saya bisa melihatnya maka ini nyata, jika keluarga Anda bisa melihatnya maka ini nyata, jika orang lain bisa melihatnya maka ini nyata. Tapi pertanyaannya adalah, apakah wanita dalam foto ini, memberikan cinta yang nyata? Nak saya berharap bisa mengatakan ini dalam bahasa yang lebih halus dan percayalah saya mengerti rasa sakit yang Anda alami setelah mendengar ini tapi Anda harus mengetahuinya sekarang.”

“Kami mencari agen yang memiliki kriteria yang sesuai dengan yang Anda sebutkan, maka diutuslah agen Yuli untuk membantu menanamkan gagasan ide halusinasi di kehidupan Anda. Pada enam bulan pertama Anda diberikan obat melalui berbagai macam media seperti kapsul, suntikan, dan sebagainya. Obat itu berfungsi merekam aktivitas yang kalian berdua lakukan, sesuai dengan aktivitas yang Anda inginkan. Obat itu membantu otak mengingat gerakan Shinta, bagaimana dia marah, bagaimana dia sedih, gembira, bagaimana sifatnya, responnya, kegiatannya. Pada intinya, obat itu menduplikat ingatan kalian berdua untuk dimainkan ulang setelah Yuli berhenti berpura-pura menjadi Shinta lalu ke luar dari kehidupan Anda.”

Tasim teringat dulu ia sering sakit dan dibawa ke dokter, ia sering mendapatkan suntikan, mungkin itulah saat dimana ia mendapatkan obat khayalannya. Dan ia ingat pertengkarannya dengan Shinta yang membuat dia pergi dalam waktu lama, mungkin itulah saat dimana Shinta yang asli digantikan dengan halusinasinya. “Siapa Anda? Apa yang Anda lakukan?”
“Panggil saya Rusli, saya bisa menunjukkan rekaman kita berdua membicarakan organisasi ini tapi biar saya jelaskan ulang.”

Bersambung

Cerpen Karangan: Anhar Tasman
Facebook: Anhar Tasman

Cerpen Operasi Outlone (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sentuhan Kerinduan

Oleh:
“Felly! Turun sayang! Mama udah siapain makanannya!,” seru Anjani kepada anak tunggalnya. Felly Anggi Wiraatmaja. Ia adalah gadis dengan fisik yang begitu indah. Maklum saja, Anjani telah mendidiknya sejak

Paradoks

Oleh:
Semua berawal pada saat ulang tahunku yang ke-7, tepatnya pada tanggal 3 Maret 2002. Hari itu adalah ulang tahun yang sangat spesial, karena itu juga ulang tahun terakhirku yang

Belahan

Oleh:
“Fel!,” panggil Billy. Felly tidak menggubrisnya. Ia tetap berada di pikirannya. Matanya tetap terfokus pada partitur muisk yang ada di depannya. Waktu yang begitu panjang untuknya. Sebuah hasil dimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *