Operasi Outlone (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

“Badan Inteligen Negara membentuk program pelatihan sipil yang bernama ‘Outlone’. Program ini dijalankan oleh para dokter yang ahli di bidangnya dan diawasi oleh tentara dan polisi terpercaya, tujuan program ini dibentuk untuk menciptakan agen-agen rahasia yang tertanam di seluruh lapisan masyarakat yang suatu waktu bisa dipanggil untuk membantu mempertahankan wilayah kita dari berbagai ancaman. Para kandidatnya adalah orang sipil yang tidak memiliki anak istri, tidak memiliki teman banyak dan anti sosial yang memiliki impian untuk berubah tapi terlalu takut untuk pindah dari zona aman mereka.”

“Anda, Tasim, dulunya adalah kandidat, Anda berlatih ilmu beladiri, menembak, berinteraksi dengan orang lain, pada awalnya Anda melakukan itu semua bersama wanita yang asli, pada kasus ini agen Yuli atau yang Anda sebut dengan Shinta, dia kami sebut sebagai ‘installer’, tugasnya menanam keyakinan bahwa dia adalah kekasih Anda, seseorang yang selalu ada untuk Anda membantu dan melakukan apa pun yang Anda inginkan, setelah proses instalasi selesai, pikiran Anda memproyeksikan wanita yang hanya bisa dilihat oleh Anda sendiri yang kita sebut dengan konverter. Konverter inilah yang menarik Anda dari kehidupan suram ke arah kehidupan yang lebih baik. Tadi pagi, Anda membuktikan diri Anda sudah berubah, Anda berani melawan para penjahat itu untuk menyelamatkan dia, bahkan sendirian. Saya menerima rekomendasi dari Wahyu bahwa Anda sudah siap. Sekarang, Anda bukan lagi kandidat, Anda adalah sleeper agen yang akan kami gunakan untuk melawan kejahatan, jika Anda setuju.”

“Saya bisa memilih?”
“Ya tentu. Kami menyediakan tiga jalan keluar untuk Anda,” Pak Rusli mengeluarkan tiga pil.

“Pil merah, jika Anda ingin bunuh diri. Kami akan membuat mayat Anda seolah-olah mati karena kecelakaan atau over dosis. Pil kuning, jika Anda ingin meneruskan kegilaan ini. Anda akan melupakan semua yang terjadi hari ini, Anda akan terbangun di apartemen dan kembali berhalusinasi memiliki pacar bernama Shinta, Anda akan menghabiskan sisa hidup bersama wanita yang tidak bisa dilihat siapa pun. Pil hijau, jika Anda ingin bergabung dengan kami. Anda akan sembuh, tidak bisa lagi melihat dirinya yang palsu, Anda akan kami tempatkan di manapun penjahat berada, Anda akan menjadi berguna untuk negara seperti yang Anda impikan.”

“Saya perlu waktu untuk memikirkannya,”
“Oke.” Pak Rusli menembakkan jarum suntik ke dada Tasim, dia pingsan, ia menyuruh untuk membawanya kembali ke apartemennya dan mengirim Yuli untuk memantau.

Setelah sadar, Tasim kembali mengingat apa saja yang sudah terjadi, ia juga mengingat tiga pilihan yang diberikan, ia turun dari tempat tidur, mandi air hangat, memotong kuku, memakai pakaian rapi dan parfum, kemudian pergi ke dapur mengambil makanan, menyantapnya di ruang makan, di hadapannya ada foto Shinta sedang merangkulnya, ia makan dengan perlahan sambil memperhatikan foto itu, kadang ia tertawa, kadang menangis, ia keluarkan semua perasaannya, semua yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Setelah selesai makan, ia pergi ke ruang tidurnya, meraba bagian bawah kasur, mengambil kotak cokelat lalu membawanya ke ruang makan, dia ambil pistol dan peluru dari kotak itu, sambil terus memperhatikan fotonya dengan Shinta, ia bersihkan pistol dan memasukkan peluru ke dalamnya, ia tertawa dan menangis beberapa saat kemudian tersenyum dan mengarahkan moncong pistol ke dagunya, ketika ia siap menekan pelatuk, pintu kamar terbuka, terdengar langkah kaki berlari kepadanya.

“Tasim! Jatuhkan pistol itu!” Tegas Yuli. Tasim berdiri dan mengarahkan pistol kepadanya.
“Jika kau palsu, kau tidak akan mati, jika kau asli maka kau akan mati, tidak ada ruginya bagiku,” Tantang Tasim.
“Jika aku asli, sniper di gedung sana akan menembak kepalamu, tidak ada untungnya bagimu.”
Tasim terdiam beberapa saat kemudian mendapatkan ide.

“Sepertinya, aku tahu cara mengetahui kau asli atau palsu tanpa harus membuatmu terbunuh,”
“Apa pun itu, turunkan pistolnya, berikan padaku,” Tasim menjatuhkan pistolnya kemudian menendangnya ke arah Yuli, dia mengambilnya. Ia berjalan pelan kepadanya, dia acungkan pistol ke arahnya sebagai peringatan untuk berhenti tapi ia tetap berjalan tanpa terlihat rasa takut. Sementara itu di luar sana, seorang sniper siap menarik pelatuk jika Tasim melukai Yuli.

“Berhenti!” Bentak Yuli.
“Kau tahu Pak Rusli memberikanku tiga pil?”
“Ya,”
“Aku sedang membuat pil keempat,”
“Apa maksudnya?”
“Tadi pagi aku merelakan nyawaku untuk menemui wanita yang ku cintai, untuk bisa bersama dengannya lagi dan merasakan lagi pelukannya, dan sekarang aku akan melakukannya lagi. Shinta.. Kak.. Jika itu kau maka peluklah aku.. aku takut dan membutuhkanmu.. Yuli.. jika itu kau maka tembaklah aku, aku sudah siap mati. Siapa pun kau… aku bergerak untuk mendapatkan pelukan yang aku inginkan dan siap mati karenanya.”

“Tasim, berhenti! Ini gue Yuli.”
“…..”
“Diam! Sekali lagi lo gerak akan gue ledakkan kepala lo!”

Tasim memandangnya dengan senyuman, ia geser lengan yang menodongkan pistol, Yuli tidak tega untuk menembak, ia tidak berkutik ketika dia menggeser lengannya, jari-jarinya tidak kuat untuk menekan pelatuk, sementara itu Tasim terus maju hingga akhirnya memeluk Yuli. “Lo tahu kenapa gue terus maju? Meskipun lo mengancam ingin menembak?” Yuli tidak bisa berkata apa pun, pegangannya pada pistol di tangan kanannya makin melemah.

“Tahun lalu, gue dan Shinta bertengkar hebat, dia pergi ke dapur, memegang pisau dan mengarahkannya ke gue, seperti yang lo lakukan tadi, saat itu gue sadar sudah kelewat batas, gue berusaha mendekatinya tapi dia tetap mengancam jika gue mendekat akan dibunuh, seperti yang lo lakukan tadi, tapi gue terus mendekat dan dia terus mengancam, seperti yang lo lakukan tadi, hingga akhirnya gue berhasil memeluk dia, seperti yang gue lakukan sekarang.”

“Dan dia tidak berkata apa pun, seperti yang lo lakukan sekarang. Tapi apa yang membedakan? Shinta, semarah apa pun dia, dia akan membalas pelukan gue, seperti yang dia lakukan dulu, dia jatuhkan pisaunya, dia belai kepala gue, dia peluk gue dan gue meminta maaf kepadanya, kemudian esok harinya kita kembali mesra. Yuli, maafin gue sudah membuat lo tidak nyaman seperti ini, dan terima kasih telah mengizinkan gue memeluk lo, tubuh yang asli. Dan Yuli, gue tetap siap mati, gue mohon tekan pelatuk itu ke kepala gue, akhirin penderitaan ini, plis, tembak gue sekarang.”

“Tasim… maafin gue.” Yuli menitikkan air matanya, dia peluk pria malang itu untuk terakhir kalinya.

DUUAAAR!!

Lima tahun kemudian.

Pak Rusli sedang meminum segelas anggur di ruang kantornya, ia merayakan kemenangan dan kekalahannya, menang dalam pertempuran bawah tanah membawakan kekalahan berturut-turut, satu per satu agennya meninggal secara tidak wajar, ia mencurigai adanya pengkhianat tapi belum satu pun yang ia dapatkan. Siapa pun dia, telah memberikan kerusakan yang sangat besar, ia kembali mengingat cabangnya di makassar tempat dulu membersihkan konflik masyarakat.

Cabang di bandung tempat pembersihan kelompok ekspor ilegal, cabang di bali tempat pembersihan organisasi teroris, dan begitu pula cabang-cabangnya yang lain hancur, kini ia tidak memiliki cabang lagi, kantor tempatnya berada sekarang adalah satu-satunya yang tersisa, dan semua agen yang ada di kantor itu adalah agen yang tersisa, tiga agen terhebatnya yaitu Tasim, Wahyu, dan Yuli juga meninggal. Tiba-tiba ia merasakan perasaan tidak enak, datang firasat sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.

“Sebuah gedung di Jakarta siang tadi terbakar, puluhan orang meninggal dunia dan sampai sekarang pemadam kebakaran belum berhasil memadamkan apinya, pihak kepolisian menjelaskan penyebabnya adalah kebocoran saluran gas.” Suara penyiar berita melaporkan kebakaran dari TV di sebuah bar.

“Mau pesan apa?” Tanya pelayan.
“Martini, please,” Jawab seorang pria.
“Buat dua Martini, saya yang bayar,” Pria itu menoleh, ia mengenal wanita itu, wanita yang sudah lama tidak dilihatnya. “Mau mabuk? Ini masih pagi,” Ucap wanita itu kemudian menghisap rok*k dan menghembuskan asapnya ke atas, ia pandangi lelaki itu sudah banyak berubah dari tampilan dan caranya membawa diri.
“Mungkin ya, mungkin tidak, entahlah, apa yang lo lakukan di sini?”
“Lo membuat banyak orang marah, termasuk gue.”

“Semua orang yang marah ke gue sekarang berada di gedung itu, menunggu jasadnya dibawa ke luar, kecuali lo mau ikut berada di situ, gue saranin lo pergi sekarang,”
“Negara kita sudah menang Tasim, berkat lo. Kenapa? Kenapa lo membunuh mereka?” Tanya wanita itu sambil menahan tangisnya. “Agar tidak ada lagi Tasim yang lain. Gue yang terakhir, dan lo… lo Yuli yang terakhir.” Jawab Tasim.

Ia masih melihat Yuli seperti saat melihat Shinta, ia melihatnya sebagai tempatnya untuk bermanja, untuk merebahkan kepala, untuk pasrah, untuk merasa nyaman, dan terlindungi. Sudah tiga tahun mereka tidak bertemu tapi rasa itu masih ada hingga sekarang, bahkan ia ragu apakah wanita yang di hadapannya ini halusinasi atau bukan. “Tasim.. Lo sudah lebih dewasa sekarang. Gue senang bisa bertemu lo tanpa ancaman apa pun. Semuanya karena lo. Tidak ada lagi Pak Rusli, tidak ada lagi outlone, tidak ada lagi agen lainnya. Maafin gue selalu menjauh, tapi sebenarnya gue selalu ada, gue selalu melindungi lo,”

Setelah negara memenangkan perang dingin dengan kelompok asing, Tasim menjalankan misi gerilyanya memberantas satuannya sendiri. BIN sudah banyak mengirim para pembunuh bayaran untuk menghentikannya, tapi tidak ada satu pun yang berhasil menyentuhnya karena Yuli menjaganya dari kejauhan. Ia juga mencintai Tasim, tapi ia tidak bisa mendekapnya selama outlone masih ada, yang bisa ia lakukan hanyalah menjauhkannya dari pembunuh bayaran, bom mobil, penembak jitu, maling, preman, dan elemen lain yang bisa membunuhnya.

“Gue gak bisa menggantikan Shinta, gak akan pernah, dia membawa lo ke luar dari area buruk hingga menjadi hebat seperti sekarang, dia yang membantu lo, melatih lo, bukan gue. Tapi beri gue kesempatan untuk mengembalikkan hubungan itu, gue akan menjadi apa pun yang lo mau, gue akan selalu menjaga lo seperti yang selalu gue lakukan. Kita harus pergi sekarang. Memulai hidup baru di suatu tempat.”

“Semua agen, semua kandidat, semua installer, semua caller, mereka sudah gue urus. Tidak ada lagi yang perlu kita takutkan.”
“Lo tahu kenapa BIN tidak memberikan Pak Rusli nama lo? Karena mereka sengaja ingin menghampuskan dia dengan cara membiarkan lo mendekatinya. Kini setelah dia meninggal, mereka membentuk operasi lain, dan, gue merasakan ada ancaman di sini sekarang.”

Di luar bar, polisi sedang mengatur lalu lintas seperti biasa, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan senapan mesin dari bar, kaca-kaca pecah, para pejalan kaki terluka, polisi itu berlindung, ia mencari pelaku penembakan sambil mengontak satuannya untuk mengirimkan bantuan. Sementara itu tembak-menembak masih berlangsung, kemudian satu per satu orang terlempar ke luar dari lantai dua ke jalanan. Orang-orang yang terjatuh itu memegang senjata api dan senjata tajam. Setelah bantuan datang, polisi masuk ke bar, lantai tiga meledak, melemparkan lebih banyak orang ke jalanan. Di tempat lain, mobil hitam melaju cepat melewati mobil-mobil lain di jalan raya, si pengemudi memastikan tidak ada yang mengikutinya, si penumpang memegang pistol di tangannya bersiap menembak ban mobil yang ia curigai.

“Yuli..”
“Kristina.. nama asli gue Kristina.”
“Kristina… i love you Kak,”
“I love you to Adekku sayang.”

THE END

Cerpen Karangan: Anhar Tasman
Facebook: Anhar Tasman

Cerpen Operasi Outlone (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Pelangiku

Oleh:
Sore ini kota jogja tampaknya kurang bersahabat dengan banyak orang, di luar tampak suasana kota yang mendung dan diselimuti dengan rintik-rintik hujan, tapi tidak untuku, aku lebih menyukai keadaan

Teman Jadi Pacar

Oleh:
Berawal dari aku masuk SMK dan aku bertemu dia (cewek loh bukan cowok). Pada hari pertama MOS aku tidak sengaja menemukan topi dia yang terjatuh dari ranselnya. Lalu ku

Sepucuk Surat

Oleh:
“Surat lagi!” seruku Ini kali keduanya aku mendapatkan potongan surat, aku mencari nama pengirim dan sama seperti potongan surat yang pertama tidak ada nama pengirimnya. Aku kepikir kalau pengirim

Cinta Tulusku

Oleh:
Hembusan angin yang semilir pagi ini membuat tubuhku merasa sedikit kedinginan. “Dingin…” ujarku dalam hati sambil kupeluk tubuhku sendiri. Aku yang saat ini sedang duduk di bawah pohon depan

Sudah Terlambat

Oleh:
Semilir angin menghembus menusuk ke dalam jaket yang ku pakai. Ya, ini sudah musim dingin. Malam sudah tiba dan aku masih berada dalam perjalanan menuju rumahku. Inilah aku Didit.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *