OptimIsMe

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

“Namaku, Optimus! Orang yang optimis!”

Ia lalu menulis sesuatu dalam catatannya. “OptimIsMe” begitu tulisannya yang ia tunjukkan lekat-lekat di depan wajahku. Mataku langsung membulat begitu membaca tulisan itu. dan aku mendapat wangsit bahwa 4 tahun hidupku di kampus ini, akan sangat rumit dan tidak karuan, karena bergulat dengan orang ini. Si OptimIsMe.

“Op-ti-mis-m?” bacaku.

Ia menarik bukunya dari depan mataku. Melihat kembali tulisannya sambil mengerutkan dahi. Aku melihatnya dalam bingung. “Kawan. Aku tidak menulisnya seperti yang kau baca. Lihatlah baik-baik dan baca ulang.” Aku menerima catatannya. Membaca kembali tulisannya yang besar dan jelek itu. Aku membacanya lagi, “optimis? m?” aksen Inggrisku ku rasa cukup baik. “Ulangi,”

Ha? Aku mulai kesal. Aku mengembalikkan buku itu padanya dengan melemparkannya begitu saja ke dadanya. Ini waktu Ospek. Kami disuruh berkenalan dengan teman di sebelah kiri kami. Ini adalah salah satu aturan ospek yang paling menyesatkan. Sialan sekali aturan ini. Kenapa tidak di sebelah kanan saja? Di kananku, ada seorang jelita yang suaranya lembut dan aku yakin tidak sesinting orang yang ada di kiriku. Aku benci si Kiri. Aku berharap, kami hidup di zaman Orde baru saja, biar orang Kiri ini ditumpas juga dan aku akan bersama orang yang kanan.

“Optim-Is-Mi” Ia membaca tulisannya sendiri. Aku menatapnya kesal. Kemudian ia memberitahuku, “Begitulah bacanya, Kawan. Kau hanya perlu melihat bagaimana aku menulis. Bukan bagaimana kau harus membacanya.” Ia tersenyum dan aku benar. Sepanjang 4 tahun dalam hidupku, bagian ini adalah bagian yang terberat, namun sekaligus juga yang paling indah dalam hidupku. “Dan dengan begitu, kau akan tahu siapa aku dan bagaimana aku hidup..” lanjutnya.

Aku meliriknya lewat ekor mataku. Namun, pada waktu-waktu berikutnya, aku tahu ia benar. Bahwa dari sebuah nama, kamu bisa merincikan karakter orangnya. Namun pendapat itu juga fifty-fifty benar dan salahnya. Sebab, namaku Padi. Menurut kakekku yang memberikan nama itu, aku pasti akan punya sifat seperti padi, makin tua makin merunduk. Awalnya aku kagum. Namun ku tahu, ternyata itu adalah satu-satunya peribahasa yang dia kutip saat mendengar tetanggaku yang seorang penceramah di mesjid itu, mengawali ceramahnya dengan kalimat itu. Kalimat itu, diucapkan tepat di hari aku lahir.

Sangat kebetulan, selepas kalimat pembuka itu diucapkan oleh Ustadz Mahmud, aku terlahir ke dunia. Sehingga kakekku tergopoh-gopoh dari mesjid ke rumah untuk melihatku. Dia tidak lagi mendengar kalimat ceramah selanjutnya. Hanya, “Seperti ilmu padi, makin tua makin merunduk.” Hanya kalimat itu saja. Dan itu juga yang ia bawa pulang untuk melihatku. Itu juga hadiahku saat aku tiba di dunia. Padi. Setelahnya pun, hingga kini, aku selalu makan padi yang sudah diolah sedemikian rupa dan berubah nama menjadi Nasi.

Kemudian temanku, Optimus Prima nama lengkapnya. Nama yang benar-benar terlalu cemerlang untuknya. Aku berpikir, orangtuanya punya pengharapan yang luar biasa tinggi untuk Optimus. Berharap ia menjadi orang yang selalu positif, dan berpandangan baik. Seperti di suatu ketika, Optim melihatku merenung di depan pintu kamarku. Lama ia memandangiku yang sedang merengut melihat layar hp-ku. “Adikmu butuh lebih bulan ini. Kamu bisa bersabar yah, Di.” Itu isi SMS yang ibu kirim minggu lalu.

“Ah.. belum makan yah, Di?” suaranya sudah ada di sebelah kiri telingaku. Aku kaget, namun sebisa mungkin tidak menunjukkannya. Aku diam saja, sambil memasukkan hp ke dalam saku celanaku. Ia malah tersenyum. Ia ke kamarnya, dan mengambil sepiring nasi dan semangkuk sambal. Ia menunjukku. Aduh! Perutku!!! Perutku siap menerkam Optim dan piring serta mangkuk yang digenggamnya.

“Aku juga belum makan. Mari makan bersama,” katanya. Aku diam saja. Aku malu padanya. Apalagi saat perutku berteriak, dan kedengaran olehnya. “Kawan, santai saja. Semua akan indah pada waktunya. Hari ini kita makan sepiring berdua, tapi suatu saat nanti, kita akan makan berpiring-piring berdua..” Ujarnya sambil menepuk punggungku saat aku sedang kesal karena orangtuaku terlambat mengirimiku uang makan.

Dalam hati, aku mengucapkan selamat untuk orangtua Optim. Harapan untuk anaknya terkabul. Cerita di lain waktu, ia mengatakan padaku bahwa sebenarnya cita-citanya adalah menjadi seorang entertainer (bekerja di dunia hiburan). Entah itu jurusan tarik suara, ataupun main peran, “Intinya, entertener,” ujarnya pasti. Makanya Optim ingin ikut lomba menyanyi di radio. Ia mendaftar ke ajang pencari bakat, Kontes Bintang Radio. Aku kontan kaget. Sudah dua tahun berlalu, dan aku tidak tahu, apakah ia bisa bernyanyi.

“Kau yakin, Tim?”
“Sangat.” Wajahnya serius sekali.
“Kalau tidak lolos bagaimana?”
“Aihh.. kau ini?! Masa kalah sebelum berperang? Untung kau tidak hidup di Negara yang masih ada perang saudaranya. Kalu tidak, rugilah Negara itu karena punya kau!!”
Aku memilih diam. Kembali pada bacaanku. Namun ia masih terus saja berceloteh tentang Bintang Radio yang akan diadakan sebulan lagi itu. lalu, setiap hari ia berlatih. Tidak kenal waktu, tempat, dan suasana, ia menyanyi saja. Lagu-lagu pilihannya, lagu Indonesia yang tenar di tahun 2000-an. Saat itu sedang boomming lagunya Peterpan-Bintang di Surga.

“Optimus Prima!!!”
Optim menutup rapat mulutnya. Ia kaget. Aku pun kaget.
“Keluar kamu dari kelas saya!!!”

Dosen sastra kami mengusir kami begitu mengetahui Optim sedang mendengungkan lagunya Peterpan itu. Optim lalu berdiri, dan berjalan ke luar ruangan. Aku berpikir, Optim sudah gila. Dia kelewat optimis dengan calon predikat barunya: Bintang Radio. Dan pada hari H, Optim dinyatakan gugur dalam audisi karena ia terlambat datang ke tempat audisi. Ia sibuk latihan menyanyi di kamar mandi sampai lupa waktu. Aku khawatir padanya, dan segera kembali ke kos saat masih ada kuliah tambahan. Aku rela bolos hari ini, demi Optim.

“Tenang saja, Padi. Masih ada lain waktu. Jangan cemas. Aku ini Optim. Ingat, Optim-Is-Me?!”
Aku menarik napas lega. Dia benar. “Kau masih punya kesempatan untuk ganti cita-cita, Tim.” Namun ia menggeleng. Ia tidak setuju dengan saranku. Aku memakluminya. Kemudian, kami melewati hari-hari kami seperti biasa lagi. Kuliah, kerja tugas, makan sepiring berdua, dan jalan-jalan.

“Di..” Optim mendorong pintu kamarku. Aku menoleh kepadanya yang sedang masuk ke kamarku dengan sebuah bantal dan selembar kertas. Ia tersenyum sumringah.
“Aku tidur denganmu malam ini, ya?” Aku mengangguk kemudian kembali menghadap laptopku. Analisis naskah dramaku belum selesai.
“Aku ingin cerita,” katanya.
“Apa?”
“Tentang Jelita.”

Aku menoleh kepadanya, kemudian kembali menghadap laptop dan menyentuh tombol ctrl dan S sekaligus. Ku-save dulu tugasku. “Cewek yang mana?”
“Yang namanya Jelita itu..” katanya sambil tersipu. Aku mengerutkan dahi. Ada apa lagi ini?
“Kenapa dia?”
“Aku jatuh padanya.”

“Hah? Kau terluka tidak? Terus Jelita itu bagaimana keadaannya? Kau menindihnya atau dia menindihmu?” aku panik. Ia malah tersenyum terhadap responku.
“Ketahuan. Belum pernah jatuh hati ya, Di..” godanya. Aku mendengus kesal. Mendorong bahunya dengan keras. “Aku tidak mau dengar,” rajukku. Namun ia tidak peduli meski aku merajuk. Ia tahu, apa pun yang ia katakan padaku aku akan mendengarkannya meski dalam kondisi genting sekali pun. Jadi saat aku menghadap wajah laptopku lagi, ia bercerita tentang Jelita.

“Jelita tuh, yang duduk di sebelah kananmu pas ospek. Dia anak teater. Anaknya cerdas, cantik, gemulai pula. Aku suka senyumnya. Lagi pula ia murah senyum. Tadi pagi ia tersenyum padaku saat kami hampir bertabrakan di perpustakaan. Aihhh…” Ia memeluk erat bantal gulingku, lalu melanjutkan, “Aku jatuh hati padanya saat itu juga..”
Kasus optimis lagi, pikirku. Esoknya ia mendaftar untuk ikut casting pemeran Rama dalam teater Rama dan Shinta yang diadakan oleh sanggar fakultas.

“Kenapa?” tanyaku.
“Asaku untuk menjadi seorang entertener belum lenyap, Di. Aku malah makin bersemangat. Karena di sana juga ada Jelita.” Jawabnya dengan riang.
“Jelita terlalu tinggi buatmu. She is an uptown girl, man.” Aku mengutip Uptown Girl-nya Westlife. Ia malah tertawa dan menyangkalku dengan potongan lagu itu juga, “Now she’s been looking for downtown man, and that’s was I am..” Aku tertawa saja. Ia benar-benar optimis luar biasa. Kali ini kasus optimisnya, menyukai cewek cantik nan kaya, dan aku mengatakan ia tidak mampu untuk itu. “cewek itu sedang mencari seorang pria miskin dan akulah orangnya,” tampiknya. Optimis sekali.
“Baiklah. Asal jangan sampai lupa waktu saja,” kataku mengingatkannya ke kejadian lampau. Tragedi Bintang Radio, kataku. Ia tersenyum riang.

Dua hari berlalu sejak Optim ikut casting. Aku rindu celotehannya. Aku baru menyelesaikan kuliah Fiksiku saat SMS dari Optim masuk. “Aku tunggu kau di sanggar. Aku dapat peran.” Itu isi SMS-nya. Aku senang. Wah.. aku membayangkan kawanku Optim berubah gagah menjadi Rama. Namun aku juga pasti akan tertawa bila ia berbedak dan bergincu. Cantikkah ia? Hahaha.. aku berlarian kecil menuju sanggar seni. Rupanya ia telah duduk menngguku di alun-alun sanggar. “Tim!!” sapaku. Ia tersenyum lebar melihatku.
“Kau sudah makan?” tanyanya. Aku menggeleng. Ku katakan aku baru selesai kuliah fiksi. Ia manggut-manggut lalu menyodorkan makanan yang dibungkus dengan daun pisang. Aku tersenyum.

“Wah.. kau benar-benar mendalami peranmu sebagai Rama, Tim..” aku membuka isi bungkusan itu. Setangkup nasi putih dengan ikan teri kering dan sambal tomat. “Rama makannya beginian, Tim?”
“Aku bukan Rama, Padi.” Ia tersenyum padaku. Lembut dan tetap, tidak hilang sedikit pun aura riangnya. Orang lain yang lebih tampan darinya yang mendapatkan peran Rama. Ia hanya menjadi seorang abdi biasa. Namun ia tetap bangga.
“Penjaga kamar Shinta, Di. Hehehe. Jelita dapat peran Shinta.”

Aku terdiam. “Tak apalah. Asalkan aku bisa berada di dekat Shinta.” Lanjutnya. Aku mendengus kesal namun tertawa juga. Optim.. optim.
“Tapi tadi..” Ia ingin membagiku kebahagiaannya yang lain. Aku memasang kuping dan berhenti mengunyah. “Kami terjatuh.” Katanya.
“saling jatuh cinta? Ah!! Memangnya ini versi apa? Masa Shinta jatuh cinta dengan pengawalnya? Jelek sekali versinya.”

Ia tersenyum. “Bukan, Di. Ia mau terjatuh. Aku meraih tangannya. Namun sepertinya, aku terlalu gugup karena bersentuhan dengannya, akhirnya kami jatuh bersama.” Ia tersipu. Hanya itu? tanyaku. Ia mengangguk. Bahkan hal sesepele itu bisa membuatnya bahagia. Kemudian katanya, “Hari ini memang kami jatuh bersama dalam panggung. Tapi nanti, kami akan jatuh bersama dalam cinta, Di.” Aku tersedak!! Aku memberi judul baru untuk kasus kali ini. Tragedi Rama, Shinta, dan Sang Abdi. Rama dan Shinta, berganti Shinta dan Abdinya. Versi terburuk!

Hari-hari berikutnya, aku tidak bertemu Optim lagi. Ia sibuk latihan katanya. Kadang di sela tumpuknya tugas-tugas kuliahku, aku ke kamarnya. Hanya untuk mengeceknya. Namun tidak ada dia di sana. Mungkin ia menginap di sanggar. Ia pasti takut terlambat lagi. Hari berikutnya, pementasan teater dimulai. Tepat pukul 7. Aku tidak bisa hadir. Aku harus pulang kampung. Kakekku yang memberiku nama Padi sakit dan memintaku pulang. Tiga hari kemudian, aku kembali dan mendengar kabar buruk. Katanya, temanku Optim main dukun. Hah?!! Main dukun untuk urusan apa? Aku ragu akan kebenaran berita itu. Tapi, agak yakin juga. Mungkin saja saking optimisnya dia, ia meminta Jelita menjadi pacarnya, Jelita menolak, kemudian memaksanya pakai jasa dukun. Gawat!! Optim sialan!!

Aku mencari Optim di kamarnya. Ia tak ada. Ke mana Optim? Sanggar! Ia, sanggar seni! Aku ke sana. Aku mencarinya di alun-alun, tidak ketemu. Aku memutar ke bagian belakang sanggar, siapa tahu dia di kamar kecil. Tidak ada juga. Aku masuk ke dalam sanggar. Ada beberapa orang yang sedang merapikan ruang pentas. Tidak ku dapati Optim di antara mereka. “Padi!!” aku menoleh ke asal suara. Aku tidak berpikir panjang. Aku menariknya menuju sudut sanggar. “Kau sudah kembali. Bagaimana Kakekmu?”
Aku menatapnya marah.

“Kau..” suaraku serasa menggumpal di tenggorokan.
“Kau.. katakan padaku bahwa itu tidak benar!” aku memelas.
“Soal apa?” tanyanya.
“Jelita,” aku menarik napas lagi sebelum melanjutkan, “Kau tidak..”
“Kau ini bicara apa?”
“Hai, Tim..” Jelita menyapa dari arah alun-alun sanggar. Kami sama-sama menoleh.
“Sudah baca pesan dariku? Bagaimana menurutmu?”
Pesan? Pesan apa? “Aku mengajakmu kencan malam ini. Oke?”

Kami sama-sama melongo. Jelita? Aku menatap kawanku. Ia melihat Jelita, lalu bilang, “Oke. Aku jemput ya.” Dan tersenyum lembut. Lalu Optim menatapku. Ia berkedip lucu, sambil bilang, “Optim is still me..” Kami lalu tertawa.
“Kemarin mereka jatuh bersama dari panggung. Hari ini, mereka jatuh bersama dalam cinta. Temanku tidak main dukun. Cuma optimis saja!! Oh.. Optim Kawanku.”
“Optim-Is-Me-fren.”

Cerpen Karangan: Hanifan

Cerpen OptimIsMe merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Geishaku

Oleh:
Kantin sekolah selalu ramai oleh anak-anak genk “Dynamite”. Sebagai ketua genk, Yogi, harus selalu mengontrol keadaan di kantin agar tidak ada keonaran di sana. Yogi yang memilikki wajah tampan,

Secerah Mentari Seindah Embun Pagi

Oleh:
Rasa haru membungkus kalbu. Air mata telah berderai entah sejak kapan. Dua orang gadis saat ini sedang melepaskan seluruh rasa rindu mereka masing-masing. Takdir membawa mereka ke pertemuan indah

Cinta Dan Persahabatan

Oleh:
Mataku semakin sembap, hampir dua jam aku menangis. Tapi rasanya aku masih perlu menangis, hatiku masih tak karuan antara merasa bersalah, kecewa, terluka dan benci semua tergambar tak jelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *