Orangtua atau Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 May 2014

Setiap manusia pasti memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Dikelilingi Keluarga dan orang-orang terkasih adalah hal paling indah yang sangat diinginkan oleh setiap manusia. Keluarga, Sahabat, bahkan mungkin Kekasih yang bisa menjadi teman dekat. Akan terasa indah bagi para remaja jika kita memiliki semua itu.

Gadis itu bernama “Riani”. Aku adalah siswi di sebuah Universitas di Jakarta Selatan. Aku memiliki Papa dan Mama yang sangat menyayangiku dan sangat mencintaiku, namun aku tidak diperbolehkan untuk dekat dengan seorang Laki-laki siapapun dengan alasan apapun yang sampai saat ini Aku tidak tau kenapa ini dilarang. Serta aku memiliki 3 orang adik perempuan ku yang sangat Aku sayangi. Aku pun juga memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada disaat suka dan duka. Namun, Aku tidak memiliki kekasih hati yang banyak dibicarakan oleh teman-teman sebayaku.

Hingga suatu hari aku dikenalkan sahabatku seorang laki-laki berparas putih dan manis. Dan ternyata, dia lah yang menjadi pilihan hatiku yang tanpa Aku sadari bahwa Aku terjebak dalam cinta pertama yang Aku alami selama Aku hidup. Atau selama Aku pertama kali mengenal seorang Laki-laki. Laki-laki yang aku suka pertama kalinya itu bernama “Ian”. Sampai Ian itu mengatakan perasaannya padaku kalau ia memiliki perasaan yang sama denganku.

Kami sama-sama saling menyayangi dan mengerti keadaan satu sama lain, serta kami pun menciptakan suasana hati yang berbeda dari yang lain. Suasana hati yang tidak kami dapat dari keluarga ataupun sahabat. Suasana ini yang membuat kami nyaman dengan keadaan ini.

Hingga 5 bulan lamanya kita lalui dengan hubungan backstreet (hubungan di belakang orangtua) dengan terasa menyenangkan karna Kami belum menyadari bahwa Kami sedang berada di situasi yang salah. Kita menjalani hubungan ini dengan selalu melawan orangtuaku. Kenapa hanya orangtuaku? Karena orangtua Ian membebaskan hubungan kita berdua.

Setiap pulang sekolah Aku tidak langsung pulang, tapi Aku pergi jalan-jalan dengan Ian dan membuat alibi bahwa ada tugas kelompok dari sekolah untuk mengelabui orangtuaku. Aku merasakan senang dan indahnya dunia saat Kami berdua, Aku tidak merasa bahwa Aku melakukan sebuah kesalahan. Dan Aku tidak memikirkan bagaimana perasaan orangtuaku yang khawatir jika Aku pulang terlambat. Aku hanya memikirkan kesenangan kami berdua saja tanpa memikirkan orang lain.

Setiap malam kami selalu mengatur jadwal pertemuan kita agar setiap malam bisa bertemu walaupun setelah pulang sekolah kami sudah bertemu. Kami kembali bertemu dan berjalan-jalan berkeliling daerah rumah kami berdua. Namun, Aku tidak memikirkan perasaan orangtuaku yang mencariku tengah malam karena takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padaku.

Tanpa Aku sadari kalau Aku dan Ian akan terjebak dalam situasi yang akan menyulitkan diri kami masing-masing. Dan, pada akhirnya kami pun mengalami dihadapkan oleh kesulitan yang kami takutkan. Aku dihukum oleh orangtuaku, Aku dipukuli oleh mereka dengan buku setebal 200 lembar dan sebuah sandal kulit sebelah kanan milik Papaku.

Namun, suatu ketika Aku dihancurkan oleh sebuah kenyataan bahwa Aku dikalahkan oleh perasaanku sendiri dimana Aku bingung memilih orangtuaku atau Ian. Aku tidak dapat berfikir kenapa Aku dapat berfikir seperti ini? Aku tidak bisa mengontrol emosi pikiranku yang semakin lama semakin semrawut.
Semuanya terjadi karena setelah Aku mengenal laki-laki itu!! Laki-laki yang bisa membuatku selalu dimarahi oleh orangtuaku karena Aku pulang malam, karena Aku selalu membantah omongan mereka, karena Aku selalu tidak mau mengerti apa yang mereka ucapkan padaku. Mataku ditutupi oleh kenakalanku, Mamaku menangis memohon agar aku kembali menjadi anaknya yang dulu, Ayahku menangis dan meronta kesal setelah ia memukulku dengan kasih sayang. Aku menangis, menangisi perubahanku yang aku tidak tau kenapa tiba-tiba bisa berubah dikarnakan seorang laki-laki yang baru aku kenal. Hatiku berteriak karrna aku tidak bisa mengungkapkan apa yang ada dalam benakku.

“Kenapa sekarang kamu berubah nak? Mana anak Mama dan Papa yang dulu, yang masih manja dengan kami?” tangis Mamaku sambil memeluk Aku.
“Kalau Papa boleh milih, Papa mau kamu jadi lebih baik kak, Papa gak mau kamu jadi anak yang durhaka sama orangtua. Papa tau kamu anak yang baik, kamu punya sifat penyayang dan mengerti kemauan orangtua. Kamu akan jadi pengganti Papa kelak nak. Kamu bakal ngasih kehidupan ke adik-adik kamu. Kamu harus bisa sukses dan jangan sampai kaya Mama sama Papa yang cuma jadi tukang suruh nak.” mintanya dengan Lirih.

Suasana hening membuatku mengerti mengapa selama ini mereka marah padaku. Mereka tidak ingin aku jatuh dalam lubang yang siapapun tidak dapat menolongnya. Aku melupakan jasa Mamaku yang melahirkan Aku dengan nafas yang terengah-engah, yang mempertaruhkan nyawa dan seluruh kehidupannya untuk membuatku melihat isi dunia ini. Dan Aku pun juga melupakan jasa Papaku yang tak kenal siang atau malam untuk mencari nafkah untuk memberi kami kehidupan yang layak.

Aku pun terseentak dan menyadari semua kesalahanku pada orangtuaku, Aku tidak tau apakah maaf dariku cukup untuk menebus segala kesalahanku pada mereka yang sudah merawatku dari kecil hingga dewasa. Dari aku tidak bisa apa-apa hingga sampai sekarang Aku dapat menuliskan cerita di zaman ketika Aku masih mengikuti hawa kenakalanku.
Aku sangat berdosa pada mereka!!

Karena sebelumnya aku pernah bingung untuk memilih mereka Papa dan Mama ku yang sejak aku lahir mereka menemaniku, atau Ian yang baru sebentar aku kenal. Jika pilihan itu dijatuhkan lagi padaku. Aku tidak akan ragu lagi untuk memilih siapa di antara dua pilihan yang diajukan padaku. Aku akan memilih…
Mama, yang sudah mengandungku selama 9 bulan 10 hari di kandungannya untuk dijadikannya buah hati yang berakhlak mulia, serta ia melahirkanku mempertaruhkan kehidupannya dan seluruh nafasnya tanpa ia meminta balas budi padaku.

Papa, yang sudah mengazankanku memberi seruan agama di batinku, yang tidak pernah mengenal kata-kata lelah dan letih untuk memberikan kehidupan yang amat layak untuk kami.

Aku kembali ke keluargaku dan aku memilih untuk menjauhi Ian. Namun, Ian tetap bersikeras menungguku sampai kapanpun. Aku tetap pada janjiku untuk tetap bersama keluargaku untuk menuruti dan menyenangkan hati mereka.

Setelah akhir tahun sekolah kelulusanku, Aku memulai mencoba berubah dengan awal tidak melukai perasaan siapapun termasuk orangtuaku. Aku mulai tidak keluar malam, Aku tidak bertemu dengannya seperti biasa yang kulakukan dulu bersamanya.

Saat kelulusan sekolah.
Hal yang tidak pernah Aku duga-duga. Mama dan Papa berjalan bersama Ian menghampiriku. Tapi Ian berhenti di gerbang sekolah, sedangkan aku berada di aula sekolah. Mama dan Papa menghampiriku dan tersenyum sambil bermain mata mengarah ke Ian.

Spontanitasku terjadi dan Aku berlari menghampiri Ian dengan seluruh kerikil kerinduan yang mengganjal benakku setelah beberapa bulan ini kami tidak saling berhubungan satu sama lain.

“Sttt… Ga usah sedih, Aku disini nunggu kamu wisuda. Aku udah beraniin diri Aku untuk temuin Mama Papa kamu untuk memohon supaya cinta monyet kita gak dilarang.” Hibur Ian yang melihatku membendung air mata.
“Makasih. Aku tau kamu pasti sabar ngehadepin keadaan ini.” jawabku dengan seluruh kebahagiaan yang ada dalam lubuk hatiku.

Tak kusangka, keadaan seperti inilah yang aku inginkan. Aku tetap bisa melihat orangtuaku tersenyum, namun aku tetap bisa melihat Ian bersamaku. Ian mulai akrab dengan seluruh keluargaku dan Aku merasa kalau hubungan ini akan lebih baik dari sebelumnya. Semoga aku tidak mengecewakan siapapun.

Semoga keadaan ini dapat Aku pertahankan untuk seterusnya dan seterusnya. Aku sangat mencintai Ian. Namun, Aku lebih mencintai OrangTua yang sudah memberiku kehidupan yang selama ini aku rasakan dalam hidupku yang tidak seorang pun yang bisa memberikannya kepadaku.

~ Selesai ~

Cerpen Karangan: Tiara Fitriani
Facebook: Tiara Fitriani Wibowo

Cerpen Orangtua atau Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)

Oleh:
Huh. Lagi-lagi masalah ini yang di bahas. Tahu tidak apa yang membuatku semakin kesal? Vater menyuruhku untuk membaca buku semacam Self Help yang dipopulerkan oleh M. Scott Peck. Well,

Beautiful

Oleh:
Jarum sudah menunjukan pukul 6.10 saat seorang Kinan bangkit dari kasur empuknya dengan perasaan ogah-ogahan. Sebetulnya jiwa dan raganya protes berat. Tetapi panggilan alam sudah menuntut disertai suara mamanya

Diary Tasya

Oleh:
Tasya, seorang gadis imut yang sangat mungil berusia 5 tahun. Ia baru mempunyai seorang adik bayi bernama Rehan berusia 3 bulan. Tasya kecil sangat suka pada adik laki-lakinya itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *