Ospek Tambahan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 April 2016

Mei 2015, waktu itu waktu dimana nasibku dan teman sebayaku akan diputuskan. Kami tak sabar namun juga bingung dan sedikit takut akan hasil yang akan kami peroleh setelah berjuang sebulan sebelum hari itu yaitu hasil pengumuman kelulusan yang aku perjuangkan mati-matian dengan menempuh ujian nasional sebelumnya. Tepat pukul sepuluh pagi yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ibu guru akhirnya mengumumkan hasilnya. Sorak sorai dari siswa-siswi pun mulai terdengar, ada juga yang menangis karena kebahagiaan itu. Begitu juga denganku, aku amat senang dengan hasil yang ku dapatkan. Dering teleponku berbunyi. Seseorang memanggilku. Aku segera mengangkat teleponku, saking bahagianya aku tak tahu siapa yang meneleponku langsung berkata hal yang membahagiakan bagiku ini.

“Halo, aku lulus dengan nilai yang bagus, aku senang sekali.” kataku.
“Hei, alhamdulillah aku ikut senang, kenapa kau tahu jika aku meneleponmu untuk menanyakan hal itu?” jawabnya dengan penuh tanya dan bahagianya juga terlihat dari cara bicaranya.

“Eh, Kak Rama, maaf Kak aku sebenarnya tidak tahu kalau ini Kakak, apalagi tahu kalau Kakak mau nanya tentang hal ini, aku sangat senang Kak karena aku bisa lulus dengan nilai yang bagus pula, aku mendapat peringkat pertama di sekolah Kak dengan nilai UN yang terbaik.” jawabku kegirangan. Kak Rama adalah teman kakakku, dia orang yang ramah dan cerdas. Kebanggaan mama papanya dia sekolah di universitas ternama di indonesia di fakultas di mana orang-orang cerdas berada di mana nanti kerjanya amat mulia membantu orang yang tak berdaya. Menyembuhkan luka dari luka biasa sampai tak terduga. Ya dokterlah cita-citanya.

“Wah, selamat ya, ditunggu teraktirannya.” katanya sambil tertawa ringan.
“Siap siap, mau makan apa? Batok kelapa apa batu bata?” tanyaku dengan sedikit lelucon untuknya.
“Emm, makan cinta aja deh, haha.” katanya yang membuatku diam seribu kata.
“Kak Rama bisa aja, ya udah ya Kak aku mau jalan pulang dulu gak sabar mau ngomongin berita gembira ini ke Mama Papa.” kataku padanya.
“Haha, oke deh hati-hati jangan sampai semut di jalan mati kamu injek-injek nanti.” jawabnya dengan lagi-lagi lelucon untukku.
“Ye, Kak Rama Ma ya nggak mungkin lah aku nginjek semut sampai mati, Kakak aja sini aku injek sampai mati.” jawabku sambil tertawa.
“Ampun Dek ampun, sudah gih pulang!” perintahnya padaku.
“Oke Kak, assalamualaikum.” salamku padanya.
“Waalaikumsalam.” salam jawabnya padaku sambil mematikan teleponnya.

Aku segera menuju ke rumah aku pulang untuk menemui mama papaku di rumah. Dengan kebahagiaanku aku sangat senang sekali. Aku tidak sabar untuk memberitahukan dan berbagi kebahagiaan kepada mama dan papa. Tapi temanku mengajakku untuk merayakan ini dengan makan-makan di rumah makan yang baru launching. Yaah namanya anak muda pasti nyari yang banyak diskonnya, hehe. Sejam aku bersama teman-teman dan aku segera pulang. “Assalamualaikum, Ma, Pa, anakmu yang cantik jelita ini pulang.” salamku di rumah yang terlihat sepi tanpa penghuni.

Tidak ada yang menjawab salamku. Aku berpikir apa mama papa belum pulang ya tapi kok sore banget. Nggak biasa biasanya mama papa belum pulang jam segini. Aku menuju kamarku untuk berganti baju. Lelah sekali rasanya tertawa dan gembira sepanjang hari. Namun tak apa ini hari yang sempurna. Aku menuju ke kamar mandi yang berada di belakang untuk membasuh mukaku yang sudah terlihat lusuh ini. Dan aku tak menyangka di belakang rumah ada kejutan untukku yang telah disiapkan mama, papa, kakak, dan Kak Rama untukku.

“Congratulation Rima.” ucap mereka semua padaku.
“Mama, Papa, Kakak, Kak Rama, kalian ini ngagetin aja.” ucapku sedikit kesal namun sangat bahagia.
“Ram, kamu pernah dapat nilai terbaik satu sekolah gak?” tanya kakak pada Kak Rama dengan nada menyindir.
“Ih, Kakak gak usah nyindir deh.” kataku pada kakak dan Kak Rama hanya tersenyum.

Keceriaan terlihat di setiap muka kami berlima. Terutama aku tokoh utamanya, hehe. Tentu saja aku yang paling bahagia di sini. Aku berencana akan melanjutkan sekolah ke universitas ternama di indonesia juga tempat Kak Rama dan kakakku menuntut ilmu juga. Aku bercita-cita mengobati orang dan jiwanya. Semacam dokter cinta, haha. Ya betul aku ingin menjadi seorang dokter spesialis jiwa. Sebulan kemudian setelah pengumuman kelulusan dan libur semester akhirnya waktu yang ku tunggu-tunggu datang.

Pagi sekali aku sudah bersiap rapi segera pergi dengan sejuta kebahagiaan di hati. Lebay ah padahal cuma mau pergi ke tempat kuliah. Aku menjalani ospek di awal semester yaah kegiatan wajib yang dilakukan setiap mahasiswa baru itu berlaku pula padaku. Dan tanpa ku sangka Kak Rama teman kakakku yang sudah seperti kakakku sendiri itu menjadi salah satu panitia ospek yang ku jalani. Hari pertama dia sangat kejam padaku. Ku kira dia akan baik padaku karena dia kenal kakakku tapi dia terus saja membentakku sepanjang waktu, menyiksaku seakan aku tahanan polisi yang wajib dicaci maki.

“Push up seratus kali cepat!!” teriaknya.
“Seratus, Kak?” Celetukku seraya kaget.
“Yang bertanya ditambah sepuluh kali, lakukan cepat!” teriaknya lagi.

Ini semakin membuatku kesal padanya. Lihat saja akan ku adukan ke kakakku biar dia dimarahi nanti. Mau tidak mau aku melakukan hal yang diperintahkan itu. Karena di sini aku bukan lagi adik temannya namun sebagai junior. Ya ku pikir ini profesionalitas saja namun ini keterlaluan, setidaknya jangan seberat ini, hatiku terus saja bergumam kesal. Ospek hari ini pun selesai. Aku menuju ke tempat parkir motorku. Dan di motorku ada surat dan sebotol air minum. Surat itu berisi “Gomen” yang artinya maaf. Aku tak tahu ini dari siapa aku berpikir jika Kak Rama mana mungkin dia tak mungkin main surat-suratan karena aku dan dia sudah seperti aku dan kakak.

Selalu terbuka dan bicara begitu saja. Ya sudahlah aku segera pulang. Lelahnya baru hari pertama saja. Sesampainya di rumah aku langsung membasuh muka, berganti dan tidur, karena aku cape sekali hari ini. Tersiksa seperti aku sedang mendaftarkan diri menjadi seorang tentara. Empat hari telah ku lalui. Ini hari terakhirku ospek. Akhirnya penderitaanku selesai hari ini. Karena dari hari pertama aku amat penat dan lelah. Aku sudah bicara pada kakakku tentang kelakuan Kak Rama padaku, namun kakakku malah membelanya.

Di tengah kegiatan ospek semua junior dan senior berkumpul di tengah teriknya mentari yang menyengat sampai ke ulu hati. Kak Rama yang berada di antara para senior menghampiriku di tengah para junior. Dia memegang tanganku menarikku kedepan ke tengah lapangan. Mukaku memerah tanganku dingin pikiranku acak-acakan. Aku tak tahu harus bagaimana, langkahku melangkah mengikuti langkahnya yang menggandengku. Saat di tengah lapangan aku merasa seketika dunia menjadi sejuk. Namun malunya tak terbendungkan. Keringat yang bercucuran bagaikan air mancur di alun-alun kota menetes di bawah mata dan pelipisku. Mataku memandang ke arah matanya yang berbinar. Kedua tangannya memegang kedua tanganku.

“Udah nggak usah deg-degan merah tuh mukanya kayak badut, tangan juga dingin banget kayak lagi di kutub aja.” katanya sambil tersenyum.
“A.. A.. Apaan sih Kak, ini bagian dari ospek ya Kak, kurang apa ngerjainnya udah empat hari juga.” jawabku kesal.
“Haha, iya ini bagian dari ospek, kamu bakalan ospek seumur hidup.” jawabnya sambil ketawa lagi.

Tiba-tiba dari atas gedung sekolah terlentang tulisan “I love you” warna-warni balon berbentuk hati melayang di sekitar tulisan itu, dan salah seorang seniorku menghampiriku dan Kak Rama yang berada di tengah lapangan memberikan sebuah bunga mawar merah yang merekah indah. Kak Rama berlutut di depanku memegang bunga itu dan memberikannya padaku. “Aku nggak pernah nembak cewek sebelumnya, kamu yang pertama jangan buat aku nggak percaya lagi akan cinta.” katanya padaku. “Aku tak pernah menerima juga berkata cinta pada seorang pria namun ku tak akan membuatmu tak percaya cinta, karena cinta itu anugerah untuk kita sebagai manusia.” jawabku.

“Gimana nih jadian nggak, yang keras dong, bagi-bagi kek bisik-bisik mulu, kayak kita-kita setan aja.” celetuk salah seorang seniorku.
“Rima, aku cinta kamu.” teriak Kak Rama.
“Kakak, Kakak nggak malu apa, aku malu banget nih.” bisikku padanya.
“Udah cepetan jawab, malu juga aku, apalagi kalau kamu gak jawab.” bisiknya padaku.
“A.. A… Aku juga.” teriakku terbata-bata.
“Juga apaan, yang keras dong.” teriak salah seorang seniorku.
“Aku juga cinta Kak Rama.” teriakku sedikit lirih.

Kak Rama berdiri lalu dia memelukku erat. Dia terlihat sangat bahagia aku pun juga namun mukaku ini masih merah saja. Gemetar dan rasa deg-degan ini tak kunjung reda. Dan jantung ini semakin berdegup kencang dipeluknya, di bawah teriknya mentari cinta ini bersemi.

Cerpen Karangan: Revika D F P
Facebook: Revika Dwi Febri Puspitasari

Cerpen Ospek Tambahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Chat Random

Oleh:
Tahu aplikasi chat random gak? Pasti tahu dong. Itu loh aplikasi semacam sosial media dimana kita bisa chattingan dengan orang tak dikenal. Di situlah, pertama kali aku mengenalnya. Namanya

Bertempur (Part 1)

Oleh:
“Broook!!!” “Khin, woy Khin!” suara gebrokan meja terdengar dan bergetar di telingaku seiring dengan suara lantang seseorang. “Apaan sih? Biarkan aku terbuai dalam mimpi-mimpiku dengan tenang!” ucapku yang merasa

Penantian

Oleh:
“tenang, Nis. Bukannya kita berdua dulu pernah janji, kalau nanti kita sudah menggapai cita-cita kita. Kita nanti ketemu lagi di sini.” ucap Fikri untuk menenangkan hati Annisa yang sedang

Secangkir Kopi in Story

Oleh:
Ketika pagi datang mempertemukan pada sosok lelaki yang dulu sempat berencana merajut masa depan. Kita berada di sebuh cafetaria di pinggiran kota kecil menikmati secangkir kopi, menunggu senja. “Kita

Oh Ternyata

Oleh:
Aku bersahabat dengan Dinar semenjak kami duduk di bangku SMP. Aku sudah sangat mengenalnya, hapal dengan tingkah lakunya yang kadang-kadang sedikit berlebihan dan kurang peka terhadap perasaan orang lain.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *