Pa.ra.doks

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 November 2021

Pandangannya menyisir ke penjuru bangunan berharap segera mengenali sosok-sosok yang ingin ia temui. Dapat! Mereka bertiga menempati selasar samping kafe menghadap danau buatan milik kampus.

“Makasih udah nunggu gue.” Alih-alih mengucap maaf ia lebih memilih berterima kasih.
“Banyak tugas lo?”
“Iya.” Alasan sesungguhnya mereka tak perlu tahu. “Daf, pulang entar gue bisa nebeng ke toko buku simpang, nggak?” tanyanya balik.
“Sorry, Lil. Gue nganterin Lana soalnya.”
Seolah tersadar ia segera bersuara, “Ya ampun! Maaf maaf gue pikir lo masih sering bawa mobil, Daf. Lagi pula searah sama lo pulang. Maaf maaf ya Lan, gue lupa. Gini nih gegara gue jarang update sama kalian.” Dirinya tertawa canggung.
“Nggak papa kali Lil, santai aja,” Lana menyahut memaklumi.

“Bareng gue aja, Lil. Gue juga mau nyari buku.”
“O-oke. Lo pulang jam berapa?”
“Jam 3 gue jemput di gerbang.”
“Oke sip. Makasih sebelumnya, Ger.”
“Belum apa-apa udah bilang makasih kayak sama siapa aja sih lu.”
Lila menanggapinya dengan tawa sumbangnya. “Eh gue pesen minum dulu ya. Ada yang mau nitip?”
“Panggil aja Mas atau Mbak-nya ke sini.”
“Gue lebih suka ke sana sih, Daf.”
“Ribet lu,” Gerda menatapnya malas.
“Heh kalian para cowok! Kayak nggak tau aja si Lila tuh lagi prospek gandengan wisuda entar.”
“Hah? Nggak woi! Sembarangan! Beneran gue cuma mau pesen doang kok.”
Lila berjalan masuk menuju dalam kafe yang masih nampak jelas dari bangku yang mereka tempati di luar.

“Lila nggak ada cerita apa-apa ke kamu, Yang?”
“Cerita apa?”
“Ya apa aja. Gebetan mungkin?”
“Nggak ada. Lila tuh orangnya nggak seterbuka itu ke aku. Tapi nggak tau ke kalian.”
“Nggak ada sih. Dia adem ayem aja tuh. Ke lo, Ger?”
Yang ditanya mengedikkan bahu.
“Ya udah sih kalo tuh anak nggak cerita apa-apa ya berarti dia baik-baik aja,” jelas Gerda.
“Ya tapi seenggaknya tuh anak cerita kek ke kita.”

“Kamu kenapa sih Daf khawatir sama Lila? Ada sesuatu yang kamu sembunyiin?”
“Nggak ada, Yang. Beneran! Aku cuma aneh aja si Lila nggak pernah curhat atau ngobrol soal keluarganya.”
“Kamu tuh yang aneh! Kamu ada apa sih sama Lila?!”
“Nggak ada apa-apa, Yang. Beneran!”

Seolah tak terpengaruh oleh pertengkaran sepasang kekasih di hadapannya, Gerda khusyuk memperhatikan Lila yang berdiri di seberang barista bersama seorang pria. Dari pengamatan matanya pria itu adalah dosen yang berpapasan dengannya di koridor kantor rektor pekan lalu. Mereka berdua tampaknya terlibat percakapan alot. Dari gesturnya Lila sesekali mengarahkan pandangan ke bangku yang mereka tempati di selasar.

Lila berjalan kembali mendekati mereka dengan tangan kosong. Gerda mengalihkan pandangan.

“Gengs, gue permisi duluan ya. PA gue minta ngadep beliau sekarang. Maaf ya,” ucapnya sembari mengambil tas yang ia tinggalkan di samping Gerda.
“Ada masalah, Lil?”
“Nggak ada kok, Lan. Paling ngomongin progres gue semester kemarin aja. Gue permisi ya semua.”
Lila berbalik berjalan menjauhi mereka yang saling tatap kebingungan.

“Apa gue bilang Lila tuh aneh.”
“Yang aneh tuh kamu, Daf!”
“Apa sih, Yang?”
“Gue cabut,” Gerda pergi meninggalkan dua insan yang masih asyik berseteru.

Gerda berjalan dengan yakin menyusuri koridor gedung FEB di sore hari. Setelah hampir sebulan pertemuan terakhirnya dengan Lila di selasar kafe waktu itu kini dirinya perlu bertemu langsung dengan gadis itu.

“Di mana?”
“Gue ada urusan bentar sama PA, Ger. Lo tunggu bentar ya.”
“Gue tunggu di selasar kantin.”
“Oke oke. Entar gue nyusul.”

Lila menyimpan kembali ponselnya ke saku celana. Beralih fokus ke lawan bicaranya yang sempat diinterupsi panggilan telepon dari Gerda.

“Gerda?”
“Iya, Pak.”

Pria awal tiga puluh di depannya ini mengusap kasar wajahnya.

“Mau apa dia?”
“Belum tau, Pak,” lebih baik tidak memberitahu meski dirinya tahu persis apa motif Gerda mencarinya.
“Ada hubungannya sama Alana?”
“Nggak tau juga saya, Pak.”
“Bisa kamu pastikan kalau dia nggak ngejar Alana juga?”
Lila menatap dosennya sejenak, “Untuk apa?”
“Saya minta tolong sama kamu, Lila. Bisa?”
“Untungnya buat saya?”
“Saya bimbing kamu sampai sidang skripsi.”
“Lah itu kan memang tugas Bapak membimbing saya sebagai PA supaya saya lancar kuliah sampai akhir.”
“Saya pastikan kamu nggak dibantai di sidang nanti.”
“Bapak yakin banget kalo saya nggak akan dibantai? Saya rasa ini nggak etis, Pak. Melibatkan urusan pribadi Bapak pada kelangsungan skripsi saya nanti. Kalau nggak ada lagi saya pamit undur diri ya, Pak,” dirinya bangkit hendak keluar ruangan, “Saya pastikan Bapak nggak akan kecewa sama mahasiswi bimbingan Bapak ini.”
Lila menutup pintu meninggalkan Ibra yang diam mematung di kursinya.

“Ger,” gadis itu menepuk pelan pundak Gerda yang tengah asyik melamun sendirian. “Kenapa malah nyasar ke sini?”
Gerda memberitahunya untuk beralih lokasi temu ke toko buku di simpang jalan.
“Lebih tenang suasana di sini ketimbang kampus.”

“Oke. Lo mau ngomong apa?”
“Lu udah tau apa mau gue, Lil.”
Lila tersenyum masam. Melihat Gerda seperti ini pastilah kesabaran cowok ini sudah diambang batas maksimal.

“Lu mau apa dari gue? Uang? Gue rasa lu nggak sematre itu deh.”
“Matre sama realistis beda tipis, ‘kan?” tanya Lila retorik.
“Oh jadi lu mau berapa? Sebut aja.”

Mereka berdua berdiri berhadapan di rak buku kumpulan novel. Lila meletakkan kembali buku yang dipegangnya.
“Gue nggak butuh duit lo.” Gerda mengangkat satu alisnya. “Gue butuh lo ngomong ke rektor untuk buat recommendation letter gue, bisa?”
“Lu mau lanjut S2 ke mana?”
“Penting untuk lo tahu? Bisa nggak?”
“Gue bisa.”
“Oke. Gue butuh lo untuk buatin janji temu dan kepastian kalo beliau bakal buatin surat itu. Selebihnya biar gue urus sendiri.”
“Lu bakal bantu gue buat misahin mereka?”
“Ya. Lo tinggal eksekusi rencana gue nanti di waktu yang telah ditentukan.”
“Oke deal?”
“Deal.”

Mereka berdua berjabat tangan tanda kesepakatan telah dilangsungkan. Penilaian Gerda terhadap cewek di depannya ini mulai berubah. Kesampingkan semua hal itu, yang terpenting dirinya bisa selangkah lebih dekat menuju gadis incarannya.

Perkelahian kedua cowok tenar berbeda fakultas itu menjadi pusat perhatian warga kampus. Kegiatan belajar mengajar terpaksa bubar demi menonton pergulatan antara mantan ketua BEMU dan anak rektor. Banyak pasang mata yang menonton mereka tapi tak cukup berani untuk melerainya.

Dalam perkelahian itu mereka juga menyebut nama Lana yang notabenenya mantan Dafa dan sekarang terlihat dekat dengan Gerda. Massa yang mulai mengerti duduk perkaranya mulai melihat Lana dengan tatapan menilai. Cewek itu mulai terpojok dan berlari kabur meninggalkan kerumunan massa yang masih setia menonton perkelahian dua cowok yang katanya bersahabat itu.

Lila memperhatikan semuanya dari lantai dua. Kemungkinan terburuk dari kesepakatannya dan Gerda pun terjadi. Jebakan itu terbongkar. Rektor sampai turun tangan menarik anak lelakinya untuk menyudahi pertunjukan sok jagoannya di depan umum. Mata mereka bertemu. Gerda melihatnya sekilas yang menonton dari lantai dua.

Lila terpaku ingatannya kembali ke sepekan lalu. Saat kesepakatan jahat itu dibuat.

“Lu bakal bantu gue buat misahin mereka?”
“Ya. Lo tinggal eksekusi rencana gue nanti di waktu yang telah ditentukan.”
“Oke deal?”
“Deal.”
Mereka berdua berjabat tangan tanda kesepakatan telah dilangsungkan. Penilaian Gerda terhadap cewek di depannya ini mulai berubah. Kesampingkan semua hal itu, yang terpenting dirinya bisa selangkah lebih dekat menuju gadis incarannya.

“Lo harus merahasiakan hal ini dari siapapun.”
“Oke. Lu juga jangan nusuk gue dari belakang.”
“Maksud lo?”
“Bisa jadi lu ngomong ke Dafa duluan kalo gue yang jebak dia. Jangan jadi musuh dalam selimut lu.”
“Nggak akan. Kalo pun Dafa tau lo jebak dia. Gue pastikan itu bukan dari gue.”
“Oke. Gue pegang omongan lu.”

Tinggal menunggu waktu baginya untuk ikut terseret arus masalah ini.

“Puas kamu?”
Lila berbalik mendapati sang dosen berdiri dengan tenang di dekatnya.
“Maksud Bapak?”
“Kamu ‘kan dalang dari masalah ini?”
“Maaf? Gimana Bapak bisa menyimpulkan seperti itu?”
“Mudah saja bagi saya untuk membaca gerak-gerik kamu, Lila.”
Lila tak bisa berucap apa-apa sejenak. Dirinya kagum akan pemikiran pembimbing akademiknya ini.

“Pak Ibra, ada bukti kalau saya ikut terlibat?”
“Kita lihat nanti.”
Lila meninggalkan dosennya itu tanpa berkata-kata lagi.

H-1 wisuda.
Lila duduk di hadapan Gerda yang tengah menyulut rokok. Dari hari itu hingga sekarang namanya tak terbawa ke dalam masalah itu. Gerda benar-benar melindungi namanya.

“Thanks, Ger.”
“Buat?”
“Nggak nyeret nama gue.”
“Oh.”
Mereka berdua diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Semester kemarin mungkin masa terburuk sepanjang ia berkuliah di sini. Manusia bisa melakukan apa saja untuk hal duniawi. Mengorbankan segala hal termasuk perasaan.

“Pak Ibra tau kalo gue juga ikut terlibat.”
“Lo dilabrak dia?” Gerda mematikan rokoknya.
“Enggak sih. Dia ada di club malam itu. Lihat gue terlibat percakapan sama cewek yang ngebawa Dafa ke hotel waktu itu.”
“Lu bilang yang sejujurnya sama dia?”
“Iya.”
“Lu diancem, Lil?”
“Nggak,” meski jujur Pak Ibra mengancamnya untuk memberitahu rektor yang sebenarnya dan menahan recommendation letter miliknya, “Beliau juga nggak bisa apa-apa juga kok kalau tau.”
“Biar gue urus dia.”
“Nggak, Ger. Nggak perlu. Semua udah selesai, ‘kan?”
“Iya. Udah selesai.”

Hanya dirinya dan Gerda yang berada di bingkai itu. Berpose melempar toga dengan senyum sumringah. Tak terasa tujuh tahun terlampaui. Gerda satu-satunya yang masih setia menghubunginya meski intensitasnya jarang.

Siang ini lepas acara seminar hari kedua di kampusnya ia diundang makan siang oleh mantan dosennya. Ibra yang masih setia mengajar di kampus itu hingga kini. Tak ada salahnya menerima ajakan sang dosen. Dua hari ini meski berada di kampus yang sama tapi mereka tak ada kesempatan bertemu untuk sekadar menyapa menanyakan kabar.

“Halo, Pak. Saya udah di kafenya. Bapak, di mananya ya?”
“Di pojokan, Lil,” ucapnya seraya melambaikan tangan.
“Oh oke keliatan, Pak.”
Mengakhiri sambungan, ia berjalan ke arah tiga pria dan seorang wanita berkumpul. Semakin mendekat semakin canggung raut wajahnya.

“Halo, semua. Apa kabar?” sapanya.
“Duduk sini, Lil. Lama banget lu sok sibuk ya,” Gerda menarik kursi kosong di sampingnya.
“Thanks, Ger.”

Lila menatap ketiga pasang manik mata lainnya dengan gugup. Jangan lupa kalau mereka sudah tahu yang sebenarnya.

“Daf, Lan, gue minta maaf soal waktu itu.”
“Gue nggak maafin lo. Jahat banget lo setelah ngerusak semuanya lo seenaknya pergi gitu aja. Seolah lo nggak merasa bersalah sama kita. Jahat banget tau, Lil.”
“Maaf, Lan.”
“Gue nggak nyangka seorang Lila setega itu sama temen sendiri. Picik banget lo demi kepentingan pribadi lo memanfaatkan keadaan.”

Lila berekspresi aneh, antara malu, kesal, juga ingin menangis.
“Gue minta maaf sama lo semua. Gue nggak akan membela diri toh pembelaan diri gue juga nggak berarti apa-apa buat kalian. Kalo pun kalian nggak maafin ya udah. Gue terima.”

Mereka hening setelah ucapan Lila dilontarkan. Lila berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis. Mengalihkan pandangan entah ke mana agar tak melihat mereka.

“Sorry gue harus pergi sekarang. Gue udah maafin lo, Lila. Gue cabut dulu ya. Anak-anak udah nyariin emaknya di rumah. Bye, guys.”
“Thanks, Lan.”
Lana mengangguk sebelum meninggalkan mereka berempat.

“Udahan nangisnya. Cengeng banget lu.”
“Gue lega Ger. Setelah bertahun-tahun kepikiran.”
“Lil, nggak mau minta maaf ke gue langsung nih?”
“Kan tadi udah.”
“Kurang lah. Beliin gue apa kek atau traktir gitu.”
“Ngelunjak lo ya. Tadi aja lo ngatain gue picik.”
“Masa’ sih?”
“Bangke lo!”
Tawa Dafa meledak mendengar Lila yang mengumpat padanya.

Lila melototi Dafa yang baru selesai mengurai tawanya. Beralih memandang sengit Ibra yang sedari tadi diam tak bersuara.

“Kenapa?” Ibra bertanya karena dipandangi begitu sengit oleh Lila.
“Bapak lemes banget ya mulutnya. Pake acara ngasih tau mereka segala.”
“Loh saya hanya berbagi kebenaran aja ke mereka.”
“Astaga!” Lila tak percaya jawaban mantan dosennya ini. Ia tertawa sumbang sekenanya.
“Kenapa lo ketawa-ketawa, Lil?”
“Lucu aja cara kerja takdir membawa kalian semua ke titik ini. Dari kalian bertiga yang suka Lana nggak ada yang jadi suaminya. Hahahaha …”
“Bertiga? Maksud lo?”
“Lo berdua nggak tau Pak Ibra juga ngincer Lana pas kuliah?”
“Hah?!” Dafa dan Gerda kompak menatap ke pria paling dewasa di antara mereka.
“Ekhem! Nggak asyik kamu, Lil. Malah buka-buka masa lalu saya.”
“Lah udah masa lalu kali, Pak. Nggak usah malu lah.”
“Pak Ibra beneran ngincer Lana?” Dafa bertanya tak sabaran.
“Ya iya. Emang nggak boleh?”
“Tapi kalah saing sama ketua BEMU dan anak rektor hahaha ….” Lila tertawa puas mendapati ekspresi mantan dosennya jadi datar.
Mereka menyudahi topik tentang Lana dan masa lalu yang menurut mereka konyol kalau diingat-ingat sekarang.

“Lu menetap di mana sekarang, Lil?” tanya Gerda.
“Di Istanbul. Udah nyaman aja di sana.”
“Karena ketemu jodoh lo?”
“Nggak,” dirinya membalas tanya Dafa dengan wajah datar.
“Hahaha … ngenes banget sih, Lil. Masa’ nggak ada bule yang kecantol sama lo sih?”
“Kalo nggak ada kenapa? Sewot banget lo jadi orang.”
“Ya ampun, Lila! Gue baru tau lo bisa sensian begini hahaha ….”
“Dafa berisik lo!”
Dafa menghentikan tawanya. Tapi masih menatap geli Lila yang menekuk wajahnya.

“Nggak usah buru-buru Lil buat nikah. Nggak boleh melangkahi sesepuh,” tunjuk Gerda dengan dagunya ke arah Ibra.
“Nggak sopan kamu ya!” balas Ibra.
“Pak Ibra belum nikah? Jadi bener dong yang batal nikah itu Pak Ibra. Turut berduka ya, Pak,” ucap Lila sungguh-sungguh.
“Tau dari mana kamu?”
“Ada deh nggak penting juga, Pak. Menikah itu di waktu yang tepat, bukan karena umur udah telat.”
“Bijak banget lo,” ucap Dafa.
“Iya lah.”
“Jangan percaya si Lila suka ngibulin.”
“Kapan gue ngibulin lo, Gerda?”
“Hati-hati Lila suka makan temen sendiri.”
“Kapan sih Pak saya makan temen sendiri. Tuh buktinya mereka berdua masih utuh aja badannya.”
Lila menekuk wajah karena bully-an tiga pria yang memojokkannya.
“Hahaha ….” ketiga pria itu kompak tertawa karena puas menjahili Lila.

Siang itu mereka habiskan dengan bernostalgia masa kuliah. Juga rencana-rencana masa depan yang mungkin bisa direalisasikan bersama. Membicarakan bisnis atau usaha yang mungkin akan mereka geluti nantinya.

Semua yang dilakukan Lila seolah-olah menentang kebenaran dan pendapat umum. Menjadikan dirinya terlihat seperti protagonis jahat di mata teman-temannya. Tapi nyatanya tindakannya mengandung kebenaran. Lila melakukan bukan hanya untuk kepentingan dirinya tapi memberi pelajaran untuk manusia lainnya. Karena apa yang mereka inginkan tidak semua akan sesuai ekspektasi mereka pada akhirnya.

Cerpen Karangan: Galiot Sastra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Pa.ra.doks merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nothing Is Impossible

Oleh:
Sebuah roda kehidupan tentu tidak akan pernah bisa untuk ditebak. Ada 3 misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini yaitu, jodoh, rizki, dan maut. Bahkan para peneliti dunia pun

Terlalu Polos

Oleh:
Ucep seorang pemuda yang masih duduk di kelas tiga SMK. Walaupun usianya sudah 18 tahun tapi dia masih polos. Karena kepolosannya ia sering ditipu oleh teman-temannya. Hingga suatu hari

Kutemukan Bahagia Baru

Oleh:
Malam ini aku menangis lagi “iya sayang itu semua benar aku sudah dekat dengannya sejak desember tahun lalu” kata-kata itu selalu teringat olehku dia masih berani memanggilku sayang dengan

It’s Just A Dream (Part 1)

Oleh:
Tepat pukul 10 pagi, pesawat Garuda Airlines yang Aku tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Haluoleo, kendari Sulawesi Tenggara. Dengan sigap, Aku segera mengambil koperku dan menyeretnya ke luar

My Prince

Oleh:
“Pagi?” Sapaku pada teman-teman sekelasku. Mereka membalas dengan senyuman dan anggukan. ” Kamu udah kelihatan membaik, Key dan, agak kurusan.” Ujar temanku, saat aku duduk dan meletakkan tas selempangku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *