Pacarmu Bukan “Ninja”

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 31 May 2013

Siang ini di kelas aku menatap keadaan di luar kelas dari jendela, minggu ini aku mendapat giliran duduk di bangku paling pinggir dekat jendela yang memang berukuran besar dan lebar, karena setiap minggunya memang ada sistem rolling bangku di kelas ini agar semua siswa merasakan pernah duduk di bangku depan atau belakang, tidak ada kaca yang menutupi jendela tersebut, maklum bentuk bangunan di SMA ku terkesan tua karena dari jaman Belanda, sekolah yang berumur tua memang, jadi masih banyak ditemui bentuk jendela dan pintu yang besar dan lebar di sepanjang lorong kelas-kelas sekolah ini, jadi aku bisa melihat keadaan di luar kelas tanpa ada halangan apapun, rasanya seperti duduk di dekat pintu yang terbuka. Angin sepoi-sepoi yang berhembus dari luar membuatku tidak konsentrasi mendengar pelajaran kimia siang ini, aku memandang ke luar dari dalam kelas, melihat taman kecil yang berada di tengah pekarangan sekolah, memperhatikan pohon dan pot-pot yang berjejer dibawahnya dan sesekali memandang langit yang cerah sekali hari ini. Aku melihat Ibu guru sedang menerangkan di papan tulis tentang rumus suatu reaksi kimia, aku melihatnya tidak sampai lima detik dan aku palingkan kepala melihat keluar kelas kembali.

“Hufff.. bosen..” kataku lirih, kelas tiga ini memang terasa monoton, cuma belajar belajar dan belajar jika sudah masuk di sekolah, tidak seperti masa kelas dua SMA yang masih banyak waktu buat senang-senang.
Tidak hanya memperhatikan taman, pohon dan juga langit untuk menghilangkan kebosanan di dalam kelas, aku juga melihat siswa-siswi di kelas lain dari dalam sini, bentuk bangunan gedung untuk kelas tiga seperti huruf L, dengan demikian aku bisa memperhatikan mereka dari pinggir jendela kelas yang bentuknya juga sama. Dan yang aku amati adalah Sefi. Seorang siswi yang berwajah manis dan berkulit putih bersih, badan yang ramping dan
rambutnya hitam lurus alami yang panjangnya sepunggung dan terkadang di kuncir kuda simpel sehingga membuat siapapun siswa di sekolah ini betah memandangi sosoknya. Akhir-akhir ini aku cukup sering memperhatikannya karena posisi bangku di pinggir jendela ini dan kebetulan Sefi juga duduk di pinggir dekat jendela di kelasnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kelasku. Dan kadang sesekali dia menyapaku dengan ramah dari dalam kelasnya saat tahu aku sedang memperhatikannya dari sini.

Setiap dia menyapaku dalam hati aku berkata senyuman yang indah..
Aku tidak terlalu akrab mengenal Sefi hanya sekedar tahu dan kenal, karena dia pernah satu kelas dengan ku selama di kelas satu dulu. Dan selama kelas dua dan sekarang kelas tiga, aku sudah tidak pernah sekelas lagi dengannya, hanya sekedar bertegur sapa jika bertemu di kantin atau di luar kelas. Di kelas satu dulu Sefi adalah gadis yang manis dan polos tapi jika aku perhatikan sekarang dia menjadi lebih cantik dan lebih dewasa penampilannya.

dan iya benar… Sefi sudah punya pacar…

Pacar Sefi bernama Rendi, sama-sama di kelas tiganya tapi dia tidak sekelas dengan Sefi dan juga tidak sekelas denganku, aku tidak terlalu mengenal Rendi, yang aku tahu dia ke sekolah dengan mengendarai motor Kawasaki Ninja model sport berwarna hijau yang memang salah satu motor dengan predikat keren di kalangan anak sekolah. Dan semenjak Rendi jadian dengan Sefi mereka selalu terlihat berdua di sekolah seperti sewajarnya orang SMA pacaran di sekolahan, dan tiap hari Rendi mengantarkan Sefi ke sekolah dengan motor ninjanya dan tentu pulangnya juga mereka sama-sama, pemandangan antar jemput menggunakan motor keren ini membuat beberapa cowok merasa sedikit iri dengan hubungan mereka. Jika aku melihat setiap hari Rendi membonceng Sefi ke sekolah dan pulang ke rumah dengan motor ninjanya yang memang keren itu dalam hati aku cuma bisa berkata ya.. ya.. ya.. cewek cantik bertemu dengan cowok kaya.. pasangan yang serasi..

Kadang aku berpikir apa gara-gara Rendi anak orang kaya lantas Sefi jadi mau jadian sama dia ya? ah ini sungguh pemikiran yang tidak sopan, buat apa mengurusi hubungan orang lain, toh itu hak mereka dan menurutku Sefi bukan tipe cewek seperti itu, walaupun aku tidak tahu pasti sifatnya, hanya menerka-nerka saja dari luar.

Bel sekolah berbunyi. Tanda sekolah hari ini telah berakhir, saatnya pulang ke rumah masing-masing. Sungguh rasanya seperti momen-momen yang menyenangkan jika jam sekolah telah berakhir. Aku meregangkan tubuhku sambil berdiri, dan aku langsung memasukkan semua buku dan alat tulis di mejaku kedalam tas karena mata ini sudah tidak ingin melihat buku-buku ini lagi di depan mata dan rasanya ingin cepat-cepat lulus dari sini. Aku tidak langsung pulang, aku duduk di kursi panjang yang berada di depan kelas bersama teman sekelasku Budi untuk sekedar ngobrol dan bercanda tentang segala hal agar otak ini tidak stres dengan segala pelajaran IPA dan kawan-kawannya. Aku melihat Sefi berjalan didepanku, dia akan menuju parkiran sekolah yang tentunya Rendi sudah siap mengantarkannya pulang dengan motor kerennya. Dan aku menyapanya “ciee.. pacaran mulu nih tiap hari ya.. jadi ngiri nih” dan Sefi menjawab dengan senyumnya yang manis dan ramah sembari terus berjalan “Ah.. udah deh.. jangan bilang gitu.. aku duluan ya Ver..” kata Sefi sambil melambaikan tangannya kepadaku untuk berpamitan. “iya hati-hati fi..” jawabku.
“tambah cantik ya dia bro” tiba-tiba Budi berkata demikian, “iya.. banget malah” aku menjawab dengan santai. “ciee lu naksir dia ya” kata Budi. “hah?! ya enggak lah, dia jelas-jelas ada yang punya bud, masa masih di taksir aja” jawabku. “alah lu kan temennya dari kelas satu, dan akhir-akhir ini lu sering lihatin dia kan dari kelas? ngaku aja lah” kata Budi sambil mendorong pelan pundakku.

“..cowok mana sih yang ga mau sama dia Bud?..” akupun menjawab demikian.

Budi diam sejenak sambil memperhatikan wajahku, lalu dia berkata “ok, cowok manapun pasti mau pacaran sama dia, itu normal, tapi menurutku kalaupun dia sekarang lagi jomblopun, gue saranin mending jangan pacaran sama dia deh bro..”. Gantian aku mendorong pundak Budi “yee bilang aja lu juga naksir terus pengen ngurangin saingan Bud..!!”. “bukan. ga gitu maksudku, gue serius nih… menurutku gue Sefi itu mau jadian ama Rendi karena ada maunya tuh cewek..” kata Budi dengan wajahnya yang memang serius.

Aku terdiam mendengar perkataan Budi barusan. “maksudnya Bud?” aku bertanya dengan nada serius. “ya lu tau sendirikan Rendi itu anak orang tajir, keluarganya emang kaya, coba deh kalau Rendi biasa-biasa aja, pasti Sefi mungkin ga bakal mau jadian sama dia” jawab Budi.
“wah elu Bud.. kalau ngomong ati-ati dah, trus maksudnya si Sefi itu kaya cewek matre gitu maksudmu?..” akupun menanggapi dengan dingin jawaban Budi barusan dan Budi pun dengan santai menjawab “aku ga bilang matre sih tapi ya.. semacam itu lah Ver”.

Aku berpikir pembicaraan ini sudah tidak benar dan aku berniat menyudahinya saja.

tapi aku masih penasaran…

“kita kok jadi kaya cewek-cewek yang lagi gosip gini sih tiba-tiba Bud? emang lu ngomong kaya gitu tau darimana coba?” tanyaku.
“dari Rendi..” jawab Budi.

Aku termenung mendengar jawaban Budi yang singkat tapi membuat cukup kaget ini, aku melepaskan tas punggungku dan menaruhnya di lantai, kami berdua masih duduk di kursi dan aku mulai bertanya dengan serius kali ini..
“lu serius Bud?” tanyaku, “Iya, Rendi sendiri yang cerita, dia biasanya curhatnya ke aku masalah hubungannya sama Sefi..” jawab Budi. Aku bisa mengerti kalau Rendi cerita ke Budi karena memang Rendi dan Budi berteman sejak SMP. Jika Rendi sedang tidak lagi jalan dengan Sefi, Budi lah temannya untuk di ajak keluar.
“masa Rendi jelek-jelekin pacarnya sendiri ke lu Bud? Aneh banget dengernya” kataku terheran heran, “ya dia kalau cerita ke gue sih kesannya ga jelek-jelekin gitu juga, intinya dia cerita kalau Sefi itu anaknya baik tapi ada hal yang membuat Rendi jadi ga nyaman dengan sikap Sefi selama mereka pacaran, yang pasti merekalah yang lebih tau kan, aku cuma diceritain aja dan ngambil kesimpulanku sendiri..” jawab Budi.

Aku melihat keadaan sekolah sudah mulai sepi, aku melihat jam dan tidak terasa hari sudah mulai sore. “Bud balik sekarang yuk, laper nih perut..” Aku berkata sambil berdiri dan mengambil tasku yang aku letakkan di bawah tadi. Budi mengangguk dan kami langsung berjalan menuju parkiran sekolah. Aku tidak bertanya lagi hal tenang Sefi selama berjalan ke tempat parkir dan Budi pun juga tidak meneruskan percakapan tadi, seolah-olah percakapan tadi berhenti begitu saja.

Menu makan malam di rumah kali ini sangat nikmat, membuat perut ini seperti di manja. Badan jadi lebih bersemangat mengerjakan latihan soal yang diberikan guru di kelas untuk dikerjakan di rumah. Tapi seperti biasa semangat ini hanya bertahan selama 30 menit selebihnya hanyalah berjuang agar mata ini tidak tertutup karena kantuk sudah mulai
menyerang. Di tengah-tengah perjuangan menahan kantuk, tiba-tiba terbesit di kepala tentang percakapanku dengan Budi tentang Sefi sore tadi.

Sejujurnya aku tidak tahu harus percaya apa tidak tentang apa yang kudengar dari Budi, meskipun semua perkataan Budi bersumber dari Rendi sendiri. Dan mau percaya atau tidak pun hal ini bukan urusanku ataupun Budi juga, karena ini masalah hubungan pacaran mereka, tidak ada alasan untuk ikut mencampuri masalah orang lain. Tapi jika membayangkan sosok Sefi yang manis dan baik, hal ini malah membuatku penasaran. Tapi sudahlah, lebih penting memikirkan hal lain yang lebih penting daripada hal semacam ini.

Bud, lu tadi ga lg bercanda kan? mslh cerita lu tntg sefi td?

dan akhirnya aku mengirim sms ke Budi…

Beberapa menit kemudian suara dering sms masuk, dari Budi,

msh pnasaran aje nih critanya? ga percayaan amat sih ma gw?

Membaca balasan sms dari Budi rasanya memang aku benar-benar penasaran dengan hal ini. Aku tidak membalas lagi sms dari Budi barusan, aku memasukkan kertas latihan soal yang hanya kukerjakan beberapa nomor saja dan mengambil bantal untuk segera tidur malam ini, agar rasa penasaran ini bisa berkurang dan akhirnya tidak aku pikirkan lagi.

Matahari mulai menampakkan sinarnya, aku sudah berseragam rapi dan bersiap berangkat ke sekolah pagi ini. Setelah memanasi mesin motor aku segera melaju dengan santai. Diperjalanan menuju sekolah teringat lagi tentang hal yang membuatku penasaran semalam tapi segera kualihkan pikiran itu dengan melihat pemandangan selama perjalanan, meskipun yang ku lihat hanya orang-orang yang sedang berangkat sekolah dan kerja juga.

Setelah memasuki gerbang depan sekolah dan menyapa bapak satpam sekolah yang terkenal ramah, aku segera menuju parkiran dan seperti menjadi kebiasaan aku dari dulu yaitu memperhatikan motor milik teman-teman yang terparkir dengan maksud apa mereka sudah datang atau belum di sekolah. Dan jika aku perhatikan motor Budi belum terparkir begitu pula motor ninja milik Rendi yang memang mudah di cari di parkiran sekolah karena paling menonjol jika sedang terparkir. Setelah memarkir motor aku berjalan menuju kelas, keadaan sekolah seperti biasanya, sebelum bel masuk berbunyi ada sebagian siswa-siswi yang masih asik mengobrol didalam atau di luar kelas, ada pula yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah di kelas yang karena itu dia harus datang pagi-pagi benar, dan ada juga yang sekedar duduk melamun di kursi panjang depan kelas yang mungkin dia sedang melamunkan masa depannya setelah lulus dari SMA ini. Tas Budi belum ada di bangkunya jadi memang Budi belum datang, biasanya Budi juga sudah datang kalau aku sedang memarkir kendaraaan, mungkin dia hari ini bangun kesiangan.

Sambil menunggu Bel masuk yang kurang beberapa menit lagi aku menunggu di luar kelas sambil duduk di kursi panjang biasanya. Belum lama aku duduk aku melihat Sefi sudah duduk di bangku kelasnya tepat di pinggir jendela kelas dan sepertinya sedang membaca semacam buku. Jika aku perhatikan tadi di parkiran motor Rendi belum terparkir tapi Sefi sudah datang, apa hari ini dia tidak berangkat sekolah dengan Rendi?

Tidak tahu mengapa aku tiba-tiba berjalan menghampiri Sefi pagi itu, aku berdiri di dekat jendela yang berada di samping bangku Sefi. “hai Sefi..” aku menyapanya pelan. “hei ver” dia menjawab sambil tersenyum. Rasanya tidak ada cowok yang tidak terpesona jika melihat Sefi yang lagi tersenyum ini, ternyata dia bukan sedang membaca buku tapi sedang melihat-lihat gambar di suatu majalah. “Tumben kamu uda di kelas? perasaan tadi motornya Rendi belum ada deh di parkiran, ga bareng dia tadi?” aku mulai bertanya hal itu kepada Sefi. Tiba-tiba, sambil menutup majalahnya dia menjawab “huff.. iya nih Ver, tadi Rendi sms katanya bangun kesiangan jadi aku di suruh berangkat duluan, takut telat katanya..” terlihat di wajah Sefi yang sedang sedikit sebal karena harus berangkat sendiri. “oh.. gitu ceritanya, terus tadi kamu berangkat sama siapa?” tidak tahu kenapa aku jadi pengen tahu dan bertanya tentang hal ini. “sama papaku tadi ver, dianterin sekalian papa berangkat kerja, emang kenapa Ver?” Sefi mulai bertanya mungkin sedikit heran. “ga pa-pa sih cuma nanya aja hehe kan biasanya tiap hari sama Rendi gitu kan..” jawabku. Sefi hanya tersenyum manis. Lagi-lagi aku dibuat terpesona tiap melihat senyuman khas Sefi ini.

Bel masuk berbunyi, seketika membuyarkan pikiran yang sedang di hipnotis oleh senyuman Sefi dan hampir kaget aku dibuatnya. “Eh uda bel masuk, aku kelas dulu ya Sef.. “ kataku. “iya ver.. dadah very..” jawab Sefi sambil melambaikan tangan dengan ekspresi wajah yang imut dan manis. Astaga… rasanya aku seperti tidak berdaya jika di depan cewek ini, sungguh beruntungnya Rendi punya pacar semanis Sefi.

Aku berjalan menuju kelasku, teman-teman yang lain masih ada yang di luar kelas menunggu guru masuk kelas. Saat akan memasuki kelas tiba-tiba handphoneku berdering, sepertinya ada panggilan masuk, aku berbelok arah ke samping kelas toh guru juga belum masuk kelas, aku mengambil handphone yang berdering dari saku celanaku.
Budi Calling… benar juga Budi memang belum datang dari tadi, apa mungkin dia mau bilang kalau ijin tidak masuk? lalu aku mengangkat panggilan dari Budi.

“halo? Kenapa Bud? Lu ga masuk hari ini?” tanyaku tanpa basa basi, “Eh Ver gue lagi di rumah sakit nih, rumah sakit yang deket sekolah kita itu, lu kesini ya sekarang, nemenin gue..” suara Budi terdengar jelas di telp. “hah!?!! lu kenapa Bud?!” aku kaget mendengar ucapan Budi tadi. “ga, bukan aku yang lagi sakit, si Rendi kecelakaan motor tadi, terus aku yang nganterin ke rumah sakit, sekarang lagi di rawat, uda ntar aja aku jelasinnya, cepetan kesini
Ver sama ajakin si Sefi juga, ok..” tut.. tut.. tut dan setelah mengatakan hal itu Budi langsung menutupnya, mungkin keterbatasan pulsa juga, maklum anak SMA.

Rendi kecelakaan motor?.. dalam hati aku kaget mendengarnya.
Seketika itu aku langsung berlari ke kelas Sefi. Aku menyuruhnya untuk keluar kelas, sebagian guru sudah memasuki kelas lain, kelasku dan Sefi masih belum ada guru yang datang. Sefi keluar kelas dengan wajah yang bingung karena aku tiba-tiba menyuruhnya keluar di saat jam pelajaran mau dimulai. “kenapa Ver?” tanyanya pelan dan heran. “em.. anu Sef… itu.. si Rendi..” Aku terbata-bata karena bingung harus bagaimana menyampaikan kabar ini ke Sefi. “Rendi?.. kenapa Rendi Ver?” Sefi mulai bertanya cemas. “gini aku barusan dapet telephone dari Budi, katanya si Rendi kecelakaan motor terus sekarang lagi di rawat dirumah sakit, si Budi yang nganterin Sef..” Aku menjawabnya dengan pelan-pelan tapi dengan wajah yang ikut cemas juga. Dan mendengar dari apa yang aku katakan, wajah cemas Sefi menjadi yang tadinya cemas menjadi kaget, kedua matanya terbuka lebar, aku terdiam beberapa detik untuk menunggu tanggapan dari Sefi, yang pastinya dia syok mendengar pacarnya kecelakaan, aku berharap tidak ada adegan pingsan dari Sefi mendengar kabar dariku, tetapi aku bersiap-siap jika tubuh Sefi mulai melemas dan akan terjatuh.
Saat aku ingin meneruskan perkataanku, Sefi berkata, yang kata-katanya mungkin tidak akan pernah lupa dibenakku dan kata-kata yang lebih mengagetkan daripada kabar kecelakaan Rendi itu sendiri menurutku, kata-kata dengan ekspresi cemas bercampur kaget, tetapi…
Sefi mengatakan…

“Rendi..? Rendi kecelakaan motor Ver? kamu ga lagi bercandakan? terus motornya gimana Ver?..”

Kabar kecelakaan yang sudah membuatku kaget seakan akan lebih di buat kaget lagi setelah mendengar ucapan Sefi barusan, jika bisa dikalikan, wajahku sekarang kaget dua kali lipat dibandingkan tadi. Tidak percaya dan bercampur heran yang ada dipikranku. Pacar yang sedang kena musibah kecelakaan motor dan kata-kata yang keluar dari seorang Sefi pertama kalinya adalah menanyakan keadaan…

motornya …

bukan malah keadaan pacarnya itu sendiri…

tapi apakah tidak penting sekarang memikirkan atau membahas hal ini..

“Ver, kamu kok malah diem Ver?” tangan Sefi menggoyang goyangkan pundakku, dengan ekspresi yang tegang dan cemas yang membuatku tersadar bahwa aku masih berada di tengah-tengah percakapan penting dengan Sefi. Aku mencoba memfokuskan pikiranku lagi dan membuang pikiran-pikiran yang tidak penting tadi. “Oh.. motornya… motornya… emm… aku belum tahu keadaan motornya Sef, yang pasti Rendi sekarang di rumah sakit sama Budi dan Budi nyuruh aku nganterin kamu sekarang kesana Sef..” jawabku dengan masih merasa heran. “iya..iya.. kita kesana aja sekarang Ver.. ya udah kamu ambil motormu, aku ke ruang guru minta ijin buat kita keluar sekolah sekarang..”. Setelah mengatakan itu dengan cepat Sefi berlari menuju ruang guru.

Aku sempat terdiam mematung di luar depan kelas Sefi, teman-teman Sefi yang mendengar percakapanku dengan Sefi tadi mulai gaduh dengan suara-suara

“eh Rendi kecelakaan tuh kata Veri..”, “apa?!!”, “Rendi? pacarnya Sefi?”, “terus keadaannya gimana?”, “Rendi itu yang mana sih?”, “gimana kejadiannya?”, “hoe Ver! Rendi gimana? rumah sakit mana Ver”?, “dia nabrak apa Ver?”, “duh moga-moga ga parah”..

Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka aku langsung berlari menuju parkiran motor, selama berlari aku berpikir… bahkan teman-teman Sefi ga ada yang bertanya keadaan motornya…

Tapi.. Sefi sendiri…

..ini cewek uda ga beres…

Aku mengeluarkan motorku dari parkiran yang penuh sesak, sesekali aku harus berbenturan dengan motor lain yang sedang terparkir, tapi aku harus tenang, jika aku terlalu tergesa-gesa dan tidak fokus bisa-bisa terjadi apa-apa juga di jalan nanti, di tambah lagi aku harus membonceng Sefi.

Aku menyalakan mesin motor, terlihat Sefi sudah menunggu di dekat gerbang sekolah, bapak satpam sedang membukakan pagar untuk kami dan bapak berpesan, agar kami hati-hati di jalan dan semoga teman kami (Rendi) tidak terlalu parah keadaannya. Diperjalanan aku dan Sefi tidak saling berbicara satu sama lain, aku melihat ke arah kaca spion yang kuarahkan ke arah Sefi, aku melihat kecemasan pada mukanya, ekspresi yang baru pertama kali ku lihat dari wajah Sefi.

…Tapi apa yang sebenarnya yang dia cemaskan?…

Sampai di rumah sakit, kami langsung di sambut Budi di depan, dan dengan segera mengantarkan kami ke depan ruang dimana Randi masih di rawat. Kami bertiga menunggu di luar, sembari Budi menceritakan musibah yang menimpa Rendi pagi ini. Ternyata pada saat Budi diperjalanan menuju sekolah pagi ini, dia melihat ada kecelakaan di pinggir sekolah tidak jauh dari jalan menuju sekolah kami, setelah mendekat ternyata Rendi sudah terbaring di pinggir jalan tetapi masih dengan keadaan sadar dan dikerumuni orang-orang yang sedang membantu, menurut saksi mata, Rendi sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi dan tiba-tiba ada sebuah mobil yang memotong jalannya tepat sebelum jalan menikung, tapi Rendi berhasil menghindari mobil tersebut, tapi naasnya Rendi harus berbenturan dengan pohon yang ada di pinngir jalan. Rendi sempat terlempar beberapa meter dari motornya setelah menabrak pohon tersebut, dan mengakibatkan patah tulang di kaki dan tangan sebelah kiri, beruntung kepalanya masih terselamatkan oleh helm. Luka sobek dan lecet pun tidak terhindari, akan tetapi keadaan Rendi cukup stabil menurut dokter. Aku lega mendengar cerita Budi, setidaknya nyawa Rendi masih selamat dengan kecepatan seperti itu.

Aku melihat Sefi duduk terdiam sambil menundukkan kepala setelah mendengarkan penjelasan Budi, aku melihat air matanya mulai menetes, badannya mulai gemetar dan Sefi mulai menangis…

Aku menyuruh Budi untuk menenangkan Sefi, karena aku bingung harus bersikap bagaimana terhadap Sefi saat ini, aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Sefi saat ini… aku tidak tahu…

Beberapa menit kemudian datanglah ayah dan ibu Rendi, kecemasan terlihat jelas di wajah kedua orang tua Rendi. Budi menjelaskan sekali lagi kejadian yang menimpa Rendi ke kedua orang tuanya. Aku melihat Sefi berpindah tempat duduk sepertinya menjauh dari kehadiran orang tua Rendi. Air matanya masih menetes. Akhirnya aku tidak tahan melihat keadaan Sefi. Aku menghampirinya duduk disampingnya dan berusaha menenangkannya. “udah Sef, aku yakin kok Rendi ga pa-pa, udah ditangani sama dokter, dan Rendi masih sadar setelah kecelakaan tadi artinya keadaannya masih stabil meskipun harus menahan rasa sakit” aku berusaha menenangkannya sebisaku. “ini semua salahku Ver..” Sefi berkata sambil tetap meneteskan air mata. “ini musibah Sef, ga ada yang perlu disalahin Sef, bisa saja menimpa semua orang kn? kamu jangan nangis terus, yang penting Rendi selamat kan..” kataku lirih ke Sefi. Badan Sefi masih bergetar dan air matanya menetes jauh lebih banyak, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan posisi setengah membungkuk. “Sef.. tenangin dirimu kamu..” aku berlutut di depan kursi Sefi dan menghadap kearahnya.

Sefi mulai membuka kedua tangan dari wajahnya, “ini semua memang salahku.. aku yang menyuruh Rendi buat naik motor itu tiap hari ke sekolah, padahal Rendi sendiri pernah bilang kalau lebih baik motornya itu ga di pake ke sekolah, dia ga enak sama temen-temennya, ntar takut di kira sombong atau pamer, dia memilih lebih baik memakai motor bebek biasa..”. Air mata kembali menetes dari kedua mata Sefi, dan dia melanjutkan perkataannya, “tapi aku malah tetap memaksa menyuruhnya untuk memakai motor ninja itu.. dengan alasan biar kami berdua lebih keren dari anak-anak lain atau pasangan lainnya di sekolah…”. Sefi kembali menutup wajahnya. “sampai tadipun aku juga menyuruhnya pakai motor itu aja ke sekolah, padahal dia uda niat pake motor bebeknya agar bisa lebih gampang di jalan menuju sekolah karena dia bakalan telat kalau ga cepet-cepet… cewek macem apa aku ini!!…”. Sefi semakin menangis menjadi-jadi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Motornya bagian depannya hancur banget Sef, dan kalaupun bisa diperbaiki, kalau gue jadi Rendi gue ga akan naik motor naas itu lagi!..” Tiba-tiba Budi sudah berdiri dan mengatakan hal tadi dengan tegas dibelakangku. “gue yakin lu sebenernya cewek yang baik Sef, kamu ga seburuk yang gue pikirkan selama ini, dan semoga setelah kejadian ini lu bisa lebih sadar dan lebih tulus sayang ma Rendi, karena Rendi tulus sayang ma lu Sef” Budi melanjutkan perkataannya. Sefi masih menangis dan menutupi wajahnya tapi dia tetap mendengarkan ucapan Budi. Aku berdiri dan bilang ke Budi “udah Bud, waktunya ga tepat kalau mau bahas beginian, tunggu keadaannya tenang dulu, kasihan Sefi Bud..”, “Justru ini waktu yang tepat Ver buat gue ngomong kaya gini ke dia, lu bisa bilang kasihan sama Sefi, tapi apa lu juga ga kasihan sama Rendi sekarang ini? untung nyawanya selamat, kalau engga? Rendi itu sahabat gue dari SMP!..”. Hening, aku tidak tahu harus berkata apa lagi, ucapan Budi benar, tapi jika melihat kesedihan Sefi yang sudah menyadari kesalahannya rasanya kasihan kalau harus di bentak juga. “sabar Bud, lu juga harus ngerti Sefi itu cewek, plis ngertiin perasaannya sekarang, toh dia uda ngakuin kesalahannya..” kataku ke Budi. “yah semoga dia bisa lebih baik dari ini!” Sekali lagi Budi membentak ke arah Sefi dan berjalan meninggalkan kami.

Baru beberapa langkah meninggalkan kami, Budi tiba-tiba berhenti, dia menoleh ke belakang dan memanggil Sefi, “Sef..” Sefipun mulai melihat ke arah Budi. “pacarmu itu Rendi Sef, bukan motornya..”

Cerpen Karangan: Dwipayana K
Twitter: @dwipadepe
Saya suka bercerita, bercerita dalam hal apapun, saya selalu bersemangat jika harus menceritakan hal yang saya tahu dan menarik yang saya ketahui dan pahami. Karena itu sebagian cerita – cerita tersebut saya tuangkan dalam bentuk tulisan agar bisa dibaca dan diketahui oleh siapapun, Dan salah satu bentuk tulisan yang saya buat adalah cerpen.

Cerpen Pacarmu Bukan “Ninja” merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My First Love is Failed

Oleh:
*Namaku gadis , aku baru berusia 10 tahun dan tepatnya aku masih kls 6sd .. aku berasal dari keluarga yang berkecukupan .. aku mempunyai 1orang kakak perempuan yang usianya

Just Keep Being You

Oleh:
Di kala jemarimu mulai membelai jemariku dan berkata, “Aku rindu padamu,” di kala tanganmu menghampiri pundakku dan mulai merangkulku, di kala bibirmu mulai mendekati keningku, kau kecup itu dengan

Ketika Hati Yang Memilih

Oleh:
Apakah kita hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya saja? Apa ada yang salah ketika orang yang kita cintai itu memiliki kekurangan? Bukankah di dunia ini manusia tidak ada

Belum Selesai

Oleh:
Sudah waktunya. Aku harus bertahan. Malam ini terakhir melihat wajah penuh pesonanya. Karena esok lusa semua sudah berakhir. Aku membuka pelan pintu minimarket langgananku. Mengambil barang, lalu bergegas membayar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *