Pelan Pelan Menembus Awan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 20 April 2016

Dua tahun terakhir Lili habiskan bersama Nathan. Ia tumbuh sebagai seorang gadis mungil yang mendapat segudang keberuntungan karena berhasil menamatkan sekolah menengah atas-nya melalui jalur beasiswa. Jujur, dalam hati ia tak menyangka. Apalagi bisa menjadi pacar dari seorang most wanted guy di sekolah, Nathan. Bahkan untuk pertama kalinya ia merasa dispesialkan oleh seseorang. Iya. Semenjak kecil, ia hidup dan tinggal di Panti Asuhan. Tanpa tahu asal-usul dan silsilah keluarganya secara jelas. Namun ia bukan Lili yang lemah, ia juga bisa bertransformasi menjadi Lili yang hebat pada waktu-waktu tertentu. Kali ini, untuk pertama kalinya ia melangkahkan kakinya memasuki rumah bertingkat yang dijaga ketat oleh para security di gerbang depannya. Tentu saja ia bersama Nathan.

“Sekarang nggak usah takut ya. Nanti di dalem bersikap biasa aja, nggak usah tegang,”
“Tapi takut Nath. Deg-degan banget ketemu sama Mama kamu,” Lili merasa grogi setengah mati hanya karena ingin dikenalkan pada Mama Nathan. Pasalnya, yang ia dengar dari teman-teman semasa SMA-nya, Mama Nathan terkenal galak dan judes.
“Nggak apa-apa. Kalem aja,” Nathan menepuk dua kali pundak Lili. Setelah memantapkan hati berulang kali, kini mereka duduk berseberangan langsung dengan Mona, Mama Nathan. Bahkan di saat ada tamu seperti ini Mona malah masih berkutat dengan laptopnya mengurusi beberapa pekerjaan yang tertunda hanya karena mendapat telepon dari Nathan, katanya ada yang ingin bertemu.

“Mah..” Nathan mendesah.
“Hmm, kenapa sayang?”
“Ini loh Mah ada yang mau ketemu,”
“Oke, bentar ya.” Meski begitu Mona tetap fokus pada pekerjaannya tanpa peduli siapa anak gadis yang dibawa anak sematawayangnya. Ini membuat nyali Lili semakin menciut, bahkan AC yang dingin seolah tak berfungsi menghilangkan keringat dingin di telapak tangan Lili.

“Aku pulang aja deh, Nath. Lain kali–”
“Sssstt..jangan gitu. Kalau nggak sekarang kapan lagi coba?” Nathan memotong desisan Lili.
“Ini siapa Nath?” Mona bertanya sambil menunjuk Lili setelah menutup pekerjaannya.
Lili menelan ludahnya susah payah, “S-saya Lili T-tante,” Entah sejak kapan Lili berubah gagap seperti ini.
“Oh.. Temennya Nathan?”
“Pacar Mah,” Nathan menjawab dengan semangat empat lima.
“Pacar?” Mona terkekeh sambil tersenyum masam.

Dan inilah awal dari semuanya. Bukannya saling menjaga, melainkan mereka harus saling menjauh dan memunggungi. Terutama bagi Lili. Lili harus ditohok dengan verbal milik Mama Nathan. Ia harus rela dipukul mundur dengan pertanyaan serta pernyataan yang menyakiti hati terdalamnya. Ia bukan hanya dihina, tapi ia sudah diinjak dan dijatuhkan sedalam-dalamnya. Tapi Lili juga sadar akan realita. Ia harusnya berpikir dua kali untuk hal ini. Hatinya sakit saat Mona mengungkit tentang asal-usul keluarga, pekerjaan orangtua, dan di mana ia tinggal. Ia juga ditampar oleh kata-kata pedas yang sarat akan hinaan.

“Maaf aja ya.. Keluarga kamu belum tentu keluarga baik-baik. Jadi apa jaminan kamu kalau Nathan akan baik juga?”
“Saya dan Nathan itu terlahir dari keluarga terhormat, dan saya mau keluarga besar kita juga dari yang terhormat.”
“Nikah? Bahkan baru kemarin kalian lulus. Mau makan apa? Kamu kalau nikah sama anak saya, nanti pasti ujung-ujungnya bakal ‘numpang’ kan?”
Dan rentetan kalimat itu benar-benar menusuk relung seorang Lili yang sejatinya memang bukan siapa-siapa. Ia mengaku kalau dirinya memang tak pantas untuk Nathan, tapi beginikah rasanya dipermalukan? Cukup. Lili benar-benar merasa cukup.

“Li… Lili dengerin aku!” Nathan mengejar Lili yang hendak menaiki angkutan umum yang melintas di depan rumah Nathan. “Kamu mau ke mana?” Nathan menahan lengan Lili yang hampir masuk ke dalam angkot dan mengisyaratkan pada sopir untuk meninggalkan Lili. Lili hanya diam dan berusaha menghapus air mata yang seolah berlomba turun dari kedua mata cokelatnya. “Lili.. Aku minta maaf.” Kemudian Nathan memeluk hangat tubuh mungil Lili, “Jangan pergi. Gue mohon Li…” Ia bergumam sendiri berharap Lili mendengar dengan jarak sedekat ini.

“Aku udah bilang sama kamu, ini nggak akan semudah yang kita bayangkan,” Lili melepas pelukan Nathan, “Hati ini terlanjur sakit Nath,” Nathan menggeleng pelan, “Jangan pergi.. Gue mohon. Lo bilang awan yang tebal sekalipun bisa ditembus kalau kita berusaha. Iya kan?”
“Tapi hati itu beda sama awan Nath. Sakit ini akan terus ada, walaupun gue tahu, gue emang nggak pantes buat lo!”
“Aku minta maaf. Tapi kalau kita pelan-pelan, mungkin hati Mama akan luluh sama kamu. Aku sayang sama kamu, Li…”
“Hati aku udah… Tertutup Nath!”

Kau tahu? Kesuksesan akan datang pada siapa pun yang mau berjuang dan berusaha. Seperti halnya Lili. Gadis panti ini meniti karirnya hingga sampai pada titik yang luar biasa. Iya. Dia mengubur dan melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Hinaan, celaan, dan cacian ia jadikan semangat untuk tetap bertahan. Seperti saat ini. Ia sedang mengurus sebuah Taman Bermain baru yang ia rintis bersama beberapa sahabat pantinya dulu. Taman ini disediakan gratis untuk masyarakat yang tidak memiliki biaya untuk pendidikan anak-anaknya. Hal ini juga tentu tak lepas dari bantuan Doni, calon suami Lili.

Hidup Lili kini berubah seratus delapan puluh derajat. Sungguh keajaiban bukan? Tapi inilah hidup. Sementara itu, Nathan mendapat undangan peresmian sebuah Taman Bermain Kanak-kanak dari sahabat lamanya. Ia bilang itu milik calon istrinya. Dan alangkah terkejutnya Nathan saat tahu kalau calon istri dari sahabatnya itu adalah Lili. “Kamu tahu Li? Mungkin awan memang bisa kita tembus bersama. Tapi Tuhan lebih tahu takdir kita. Semoga bahagia bersama Doni. Mulai hari ini kita sahabat.”

– ‘Jangan pernah memandang seseorang dari luar, karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi kedepan.’ –

Cerpen Karangan: Vikky Andrian
Facebook: Vikky andrian

Cerpen Pelan Pelan Menembus Awan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love in A Matter of Time (Part 3)

Oleh:
Tangisan itu mulai mereda, ia sudah tak lagi menangis dengan kencang seperti tadi. Ia mulai kembali tenang. Ia melepas pelukanku, namun aku tetap menahannya. Tangisannya memang sudah reda hanya

Puisi Untuk Kekasih Pilihan

Oleh:
Kupandangi kertas berwarna pink di hadapanku.Masih polos.Tak satu pun huruf menghiasinya.Sedang sebuah bolpoint masih bersiaga di tanganku.Otakku berputar,menggali berjuta kata yang bergelayut disana.Namun entah mengapa tak kudapatkan satu baitpun

Cerita Baru Dimulai

Oleh:
Saat itu aku berpikir bahwa di dunia ini benar-benar tak ada yang adil. Banyak hal yang membuatku harus jatuh, jatuh dan jatuh. Hingga aku harus bangkit kembali. Di sepanjang

Pertemuan dan Perpisahan

Oleh:
Aku masih ingat hari itu, hari dimana aku bertemu dengannya, seorang wanita asal Medan yang kuat dan tegar, seorang chef yang handal memasak western food, dan seorang wanita sederhana

Aku Sayang Kamu

Oleh:
Pada pagi hari saat aku dan teman-temanku jogging aku tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang duduk termenung dan meneteskan setetes air mata yang jernih, aku tak tahu pasti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *