Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 April 2018

“Hei Jihan, bangun, bangun, bangguunnnn” Teriak ibuku sambil membuat susu di dapur. “Ini hari besarmu Jihan, tidakkah kau ingin menyambutnya dengan semangat?”.

Kubuka mataku, kulihat mentari pagi seakan dia menyapaku dengan lembut. Aku langsung bergegas ke kamar mandi lalu bersiap-siap untuk hari yang istimewa ini. Hari dimana penentuan takdir.

“Jihan? Kau sudah mandi Nak? Ayo ke sini, kita sarapan bersama” panggil Ibuku. “Iya Ibu” jawabku singkat. Aku bergegas menuju dapur.
“Ibu? Nasi gorengnya enak”. Ibu hanya tersenyum.
“Aku Pergi dulu Ibu” Cium tangan Ibu lalu mengayunkan sepeda dan melambaikan tangan kepada Ibu.

Aku adalah anak satu-satunya yang sebentar lagi akan mempunyai adik. Ayahku bekerja di perusahaan XX. Umurku 17 tahun.
“Tidak kupungkiri akan seramai ini,” Kuletakkan sepeda di tempat parkir.
“Hei Jihan, lama sekali kau datang” Ku menoleh ke sumber suara itu. “Oi Haru, kau juga ikut?” Haru mengangguk.
“Sebentar lagi waktunya, yuk pergi.” Ajak Haru dan kami berjalan ke tempat itu.

Waktunya telah tiba dan kucari nama Jihan di kertas yang ditempelkan itu, “Jihan.. Jihan.. Jihan.. mana nama itu?” Keringat dingin sudah mulai keluar, perasaan takut, cemas, khawatir mulai mengahampiri.
“Tidak mungkin.. Tidak mungkin..” Air mataku tiba-tiba menetes dan tubuhku mulai bergetar brukhh terjatuh.
“Jihan? Aku lulus Jihan, Aku lulus di Universitas itu” Haru mengahampiriku dengan sangat gembira, tiba-tiba terdiam dengan melihatku.
“Ada apa Jihan?” Dengan gugup dia bertanya kepadaku.
“Aku tidak lulus, tidak lulus, Apakah aku selama ini kurang belajar? Apakah pagi, siang, sore, malam itu tidak cukup untuk membuatku lulus?” Jihan seakan tidak percaya ini akan terjadi begitu saja.
“Oh Tuhan, apakah engkau tidak ingin membuat Ibuku bahagia? Ada apa Tuhan? Begitu tidak inginnya engkau melihatku bahagia” Terasa sesak di dadaku, ingin ku marah, tapi sama siapa? Tuhan? itu tidak mungkin. Ibu? Salah apa Ibu.
“Jihan? Tunggu aku” Teriak Haru sambil mengejarku.

“Kenapa kau mengejarku? Aku hanya butuh kesendirian saat ini!” Aku berhenti mengayunkan sepeda lalu memarahi Haru dan meninggalkan Haru sendiri.
Haru hanya terdiam.
“Jihan? Gelombang ke II pengumumannya siang bukan pagi” Teriak Haru mantap.
Seketika aku ingat kalau aku mengikuti ujian gelombang ke II. Tanpa berpikir panjang, Aku putarkan sepeda ke arah Haru berdiri.
“Demi apa aku lupa. Huft” sambil mengatur pola nafasku
“Duduk dulu, aku beliin minum ya” Haru meninggalkanku.

“Nih..” Sambil menyodorkan air.. Kuambil air yang diberikan Haru, lalu kuteguk.
“Udah mendingan? Atau mau kubelikan eskrim?” Goda Haru.
“Aku bukan anak kecil lagi Haru” Tawaku lepas.
“Jadi ke mana kita? Aku rasa kau tidak ingin menjadi patung yang berlumut hingga siang nanti” Goda Haru lagi.
“Itu lebih baik dari pada berdebat denganmu Haru” Aku tidak mau kalah. Dan kami tertawa.
Sudah kuputuskan, aku ingin pergi ke tepian danau yang indah itu. “Haru? Kau ikut denganku?” tanyaku
“Oi. Kau tidak sedih lagi? Cepat kali pergantian mood kau tu” Haru kebingungan
“Terus lah mengomel atau aku tinggalkan” Aku bergegas mengambil sepeda dan mulai mengayuhnya.
“Aku naik atau aku tidak pergi” Haru berkata masygul “Dasar pemalas, naik cepat” sambil tertawa kecil ku suruh Haru naik sepedaku.

Indah sekali, tepatnya danau ini sangat indah. Teratai yang sedang mekar dan ada gerombolan angsa yang sedang mandi. Itu yang aku lihat. Sedangkan Haru, dia melihat ada segerobak eskrim yang ingin dia habiskan, tanpa menyadarinya. Dia langsung menggapai tanganku lalu pergi ke penjual eskrim tersebut sehingga membuat lamunanku buyar.

“Kau tidak ingin eskrim Jihan?” Tanya Haru. “Aku tidak ingin, kau saja” jawabku singkat.
“Yaahh sayang sekali, padahal aku ingin membelikanmu eskrim” dengan wajah yang sok cemberut sambil melirik-lirikku.
“Baik lah… baik. Tapi aku bisa beli sendiri, tidak ditraktir..” Aku mengalah.
“Siapa juga ingin mentraktirmu. Toh aku tadi hanya bercanda” Haru menggodaku lagi.
“Kau sering kali menggodaku Haru, apakah kau suka padaku?” Akhirnya kata-kata itu terucap dengan tidak sengaja.
“Jangan harap” Haru tertawa lepas. “Bang? Beli eskrim ini 2 ya bang,” Akhirnya Haru mengalah.

“Udah jam 14.00 WIB, saatnya pergi” Aku mulai melangkah.
Sambil mengayunkan sepeda dan memboncengi Haru, aku bergumam dalam hati
“Jika aku lulus nanti, aku akan mengutarakan perasaanku kepada Haru 2 tahun belakangan ini, aku berharap dia mau nmenerima aku. Aku tau ini terlambat sekali, sangat-sangat terlambat. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali”
“Jihan? Jihan? Di depan sana ada lubang, kau menghindar atau kita akan jatuh?” Suara Haru membuyarkan lamunanku. Dengan sengit kuhindari lobang yang cukup besar itu.

Sampai. Tidak kalah ramai dari yang pagi tadi..
“Jihan? Aku bantu cari nama kamu ya. Mana tau kalau aku yang cari, kamu bakal lulus” Tanpa aku menjawab, dia telah pergi sambil melambaikan tangannya.
“Apa boleh buat” Aku tersenyum..

“Jihan.. Jihan… Mana nama itu.. Tuhan. Aku mohon” perasaan cemas itu mulai datang..
“Jihan? Jihan?” suara itu sayup-sayup ku dengar. Siapa? Dalam hatiku..
“Jihannn?” suara itu kembali terdengar sayup-sayup dan membuatku tidak konsentrasi.
“Jihan!!” dengan napas yang tidak teratur. “kau lolos kawan. Kau lolos” Haru mengatakan itu dengan nafas yang terhenti-henti
“Kau jangan bercanda Haru, apakah aku juga harus mengungkapkan itu kepadamu?” Oups aku kecoplosan.
“Ikut denganku sekarang!” Tatap Haru serius sambil berjalan mendahului. Sepertinya dia tidak tau apa yang aku bilang tadi.
“No: 113-182-11 Jihan Andeskar” Haru mengatakan itu dengan nada yang tinggi
“Aku tertegun. Aku lulus Ibu.. Aku lulus Ayah.. Haru? Aku lulus” Dengan wajah yang sangat gembira aku bersorak kemerdekaan dan tidak sengaja aku genggam tangan Haru, Haru juga terlihat sangat gembira.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Banyak orang lari ke sana lari ke sini mencari tempat teduh, dan kami juga berlari untuk mencari tempat teduh. Selama berteduh aku hanya senyum-senyum sendiri tidak sabaran ingin sampai ke rumah. Lalu, terbesit perasaan yang terlalu cepat muncul di waktu yang bahagia ini.

“Haru? Ada yang harus aku sampaikan padamu,” Aku memberanikan diri.
“Oi jika aku tau apa yang akan kau sampaikan padaku, apakah aku diberi hadiah?” Dia menatapku dengan tatapan yang serius
“Yaa. Aku akan beri apa yang kau mau” Jawabku mantap.
“Kau mau mengatakan bahwa kau terlalu bahagia sampai-sampai air mata kau itu meleleh bagaikan lava di gunung” Tatapan Haru dengan penuh sok kasihan, lalu tertawa tidak berdosa.
“Ini hujan yang membasahi muka ku Haru” Jawab aku sebal, bagaimana tidak. Aku sudah terlihat serius sekali.
“Baiklah.. aku bercanda. Apa yang mau kau sampaikan? Dengan tatapan yang serius
“Aku mencintaimu Haru” Ups. Kata-kata itu terlontar begitu saja.
Tatapan matanya mulai membesar, mulutnya juga ikut membesar.

“Lelucon macam apa ini Jihan? Kau tidak perlu mengatakan hal yang tak pantas kau katakan. Apakah kau mencintaiku karena aku menolongmu Jihan?” Haru membentak, seakan ini hanya permainan. Lalu dia pergi meninggalkanku diderasnya hujan.
“Haru? Dengarkan aku dulu,,” Aku mengejarnya lantas menggapai tangannya.
“Haru? Aku mencintaimu sejak 2 tahun yang lalu, mungkin kau sebut ini lelucon, tapi ketahuilah. Ini lelucon yang harus kau anggap serius” Suara aku membesar karena derasnya hujan. Haru diam, dan menetes air matanya. Haru menangis.
“Haru? Kau tau. Selama ini aku selalu melihatmu dalam diam, selalu mendoakanmu dalam diam, semuanya dalam diam.. dan kali ini aku tidak akan diam lagi Haru.. aku mengatakan yang sebenarnya, yang sejujurnya. Haru? Tunggulah beberapa tahun lagi, aku akan melamarmu. Karena itu janji suciku padamu” kataku masygul.
“Pergi kau Jihan.!! Pergi…” Haru terus menangis lalu dia berlari. Sementara Jihan, membiarkannya pergi.

Semenjak 4 tahun setelah kejadian itu, Haru tidak memberiku kabar sama sekali. Bagaimana tidak, dia melanjutkan belajarnya di Universitas A, sedangkan aku di Universitas J. Haru harus aku lupakan untuk sementara waktu. Bersabarlah Haru, aku akan datang.

Aku menyelesaikan kuliahku tepat 3 setengah tahun. Oi tepat dihari dimana aku wisuda, kedua orangtuaku datang dan tidak lupa pula adik kembarku yang imut-imut. Namanya Jihad dan Jamil. Beruntung sekali aku punya adik kembar dan tak seiras. Jamil sangat gagah sedangkan Jihad sangat elok rupanya. Ups sebelum aku lulus, aku sudah mendapatkan pekerjaan yang tepat.
Aku akan membuktikan janjiku beberapa tahun lalu, Aku pergi ke rumah Haru, untuk minta restu kepada Orangtua Haru, dan menanyakan kapan Haru pulang. Orangtua Haru setuju kalau aku akan melamar Haru karena Haru dan aku sudah berteman sejak dulu dan keluarga kami sudah kenal satu sama lain. Sambil menuju pintu rumah Haru untuk pulang, aku meminta nomor Haru.

“Hallo. Ini dengan Haru?” “Iya, ini siapa? Ada perlu apa?” dia menjawab disebrang. “Ini Jihan, Haru.. Haru? Apa kabar? Sudah lama tidak komunikasi ya,” Aku menyahut dia.
“Jihan? Aku minta maaf atas kesalahanku beberapa tahun lalu, aku khilaf, aku salah Jihan. Maafkan aku” Terdengar terisak di seberang sana.
“Haru? Kau tidak apa-apa,? Lupakan kejadian yang lalu Haru.. Haru? Apakah kau sudah mendapatkan jodoh? Apakah kau sudah punya pacar?” Aku tidak ingin berbasa-basi. Aku sudah dewasa.
“Aku mencintaimu Jihan, sejak hari itu, Aku mulai mencintaimu Jihan.” Suara Haru melemah.
“Maukah kau menikah denganku Haru? Aku selalu menunggumu Haru. Aku tidak ingin pacaran denganmu, aku hanya ingin menikah denganmu. Aku bertekad sukses dulu baru melamarmu, dan sekarang aku sudah punya pekerjaan tetap. Dan aku akan melamarmu, bagaimana menurutmu Haru? Soal restu orang tua, aku sudah membicarakan ini dengan keluargamu Haru.” Jawabku masygul.
“Jihan… Aku mau Jihan. Aku mau” Haru menangis, sungguh dia menangis bahagia.
“Terima kasih Haru.” Tut.. tut… tut

Hari itu telah tiba, aku melaksanakan resepsi pernikahan dengan Haru.. Haru seakan tidak mau melepaskan genggamannya. Dia selalu mendekap erat tanganku, seakan kami ini sudah lengket.
“Terima kasih Jihan.. Aku mencintaimu” Ucap Haru.
“Haru? Aku tidak ingin kehilangan kamu untuk keduakalinya” Aku berkata mantap sambil menatap mata Haru dengan serius. Haru hanya tersenyum bahagia..
Hari ini adalah hari istimewa bagi aku dan istriku. Hari dimana penantian panjangku berakhir.

“Sudah siap semuanya sayang?” Aku bertanya. “Sudah sayang.” Jawab Haru singkat.
“Yuk ke mobil, kita langsung ke bandara. Kita mempunyai 2 jam lagi untuk terbang ke Jepang” sambil meraih koper dan bergegas ke bagasi belakang mobil, Haru mengikuti.

Yahh ini perjalanan yang sangat menyenangkan, kisah cinta yang berujung bahagia. Langit pun tidak ingin terlihat murung. Diwaktu redanya hujan, matahari pun tidak enggan menampakkan cahayanya. PELANGI. Yah. Langitpun menampakkan rasa bahagianya.
“Kita berangkat” kami pun meluncur ke Jepang.

Cerpen Karangan: Rahmi Yulia Simahara
Facebook: sabariah atau des cekgoe (facebook Ibu dan bapak saya, karena saya tidak punya fb)
Tempat Tanggal Lahir: Kari, 15 Juli 1998
Pekerjaan: Mahasiswa

Cerpen Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Berawal Dari Curhat

Oleh:
Hari baru telah dimulai. Matahari mulai menampakkan diri. Menyinari setiap sudut muka bumi. Memberikan kehangatan bagi seluruh makhluk yang tinggal di planet ini. Tak terkecuali aku, dingin angin malam

You Are The Best Friend

Oleh:
Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Chika akhir-akhir ini. Dia seperti menjauhiku. Sepertinya aku telah melakukan suatu kesalahan padanya. Tapi kenapa? Padahal dulu aku dan Chika adalah sahabat

Let’s Break Up

Oleh:
Gadis itu terus menundukkan kepalanya dan berulang kali meremas tangannya yang ia tautkan. Gadis itu menghembuskan nafas beratnya lalu mendongakkan kepalanya dan memandang pria yang kini sedang asyik memotret

Selalu Ada Maaf

Oleh:
Malam ini begitu menyedihkan bagiku, aku menatap sekeliling kamarku kenapa harus begini, ku kira semua akan sesuai rencanaku tapi ternyata tidak, padahal seharusnya hari ini jadi hari yang membahagiakan

Elizabeth

Oleh:
Wajah manis itu masih terbayang meski sudah ku coba menepisnya berulang kali. Gadis cantik dan baik hati yang ku temui tadi sore di parkiran kampus memang benar-benar membuatkuku gila.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *