Pelangi Arka dan Rain (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

Hal yang paling romantis dari hujan ialah dia selalu mau kembali meski tahu rasanya jatuh berkali-kali. Seperti hujan di malam hari, yang tetap jatuh ke bumi meski tidak menjanjikan pelangi.

“Selamat ulang tahun ya Kay. Udah tujuh belas tahun aja. Moga semua keinginan dan cita-cita loe tercapai. Dan yang terpenting, moga jahilnya gak menjadi-jadi.” Ucap Ray sambil memeluk gadis bergaun merah yang terlihat semakin manis dengan ikal-ikal rambutnya yang tergerai indah di bawah bahu.
“Aa.. makasih sahabat gua tercinta, Rain Ava Alexis alias Ray ku tercinta. Maafin gua karena sampe saat ini, gua gak berharap untuk bisa berhenti ngejahilin loe.” Jawab Kayla Camille sambil mencubit pipi sahabatnya itu. “Lagipun, sehari aja gak ngejahilin loe, hidup gua hampa banget.”
“Terserah loe ya Kay. Berhubung loe ulang tahun hari ni, sah-sah aja dah buat loe. Udah ah, gua mau cari tempat duduk. Mau makan, laper gua. Sengaja gak makan biar puas makan gratis disini, sekalian, kali aja ketemu jodoh di sini.” Jawab Ray sambil tersenyum kecil.
“Dasar gak tau malu. Sono lu. Habisin aja sama baskom-baskomnya. Ngomong-ngomong soal jodoh, mana jodoh?” Kayla menoleh ke kiri dan kanan dengan gerakan cepat sambil menyipitkan mata, seolah jodoh itu tidak akan pernah bisa dilihat dari dekat.
“Terserah loe dah.” Ray mengeluyur pergi tanpa menunggu jawaban gadis yang berulang tahun.

Ray berjalan ke tengah-tengah ruangan. Ia berhenti sejenak, memanjakan matanya melihat ke sekeliling ruang pesta yang indah dengan hiasan serba merah putih. Mulai dari balon yang di tempelkan di setiap sudut ruangan dengan pita merah putih yang menghubungkan balon-balon di setiap sudut. Kain merah putih tipis yang digantung berkibar-kibar ditiup angin. Semua perpaduan ini meembuat Ray merasa bagai berdiri di aula istana raja. Kayla sengaja memilih tema merah putih karena tanggal lahirnya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Lampu kaca di tengah langit-langit ruangan bersinar terang memancarkan kilauannya. Meskipun ruang pesta serba putihlah yang menjadi impian Ray, namun, Ray mengakui bahwa nuansa merah putih bukan ide yang buruk. Di tengah-tengahnya, ia masih dapat membayangkan kehadiran seorang pangeran tampan yang mengajaknya berdansa di tengah keramaian pesta.

“Hai Ray!” sapa Abigail Casey. “Udah datang dari tadi?”
“Eh hai bii. Be.. belum kok.” Jawab Ray tergagap karena masih terkejut dengan sapaan Abigail yang tiba-tiba. Sebenarnya Abigail tidak dengan mendadak menyapa Ray. Hanya saja, tak sengaja, Ray hanyut dalam pikirannya, mengagumi indahnya pesta ulang tahun Kayla. Ray mengerjapkan matanya sekali lagi agar ia tersadar sepenuhnya dari lamunannya.
“Ray, loe baik-baik aja kan?”
“Eh? gua? Iya, baik-baik aja. Kenapa? By the way, gaun putih loe bagus deh. Rambut loe juga. Bagus disanggul begitu. Jadi kesannya kayak putri-putri raja.”
Abigail memang kelihatan cantik malam itu. Gaun putih dengan hiasan permata menghiasi kulit cerahnya. Postur tubuhnya yang terbilang pendek tidak menjandi kekurangannya. Bahkan, ia terlihat imut.

“Ah, kebanyakan dongeng loe mah. Itu mata loe sembab begitu kenapa? Habis nangis loe?” Tanya Abigail menyadari ada yang berbeda dengan mata Ray.
“Eh si mata. Jeli banget dah. gua Cuma kurang tidur. Emangnya hidup gua penuh tangisan apa? Uda cukup ya gua nangis-nangis ditinggalin mantan gua yang gak seberapa itu.” Jawab Ray sambil memutar bola matanya.
“Ceilah.. baru sadar dia, kalau mantannya gak seberapa.” Abigail mendengus.
“Ah ya sudahlah. Loe datang sama siapa Bii? Bawa cogan ga?”
“Apaan cogan?”
“cowok ganteng..”
“Nih adek gua.. mau loe? Kalau mau nih Arka.” Abigail menoleh ke anak laki-laki jangkung yang berdiri tepat di belakangnya

Sesaat setelah Ray menoleh ke arah Arka, Ray diam seribu bahasa. Ia tidak mengerti kapan adik laki-laki temannya itu bisa tumbuh setinggi itu dan yang terpenting, ia… tampan… Ray ingat betul, terakhir kali ia bertemu Arka, Arka adalah bocah laki-laki pendek, hitam dan kekanak-kanakan. Sama sekali tidak menarik perhatian. Namun, yang saat ini berdiri di hadapan Ray adalah Arka dewasa, yang memakai kemeja putih, dengan poni-poni rambutnya yang terpotong rapi, jatuh menutupi dahinya. Hidung mancungnya, mata sipitnya dan bibir tipisnya, terkombinasi dengan baik mengisi wajah mungilnya. Mungkin kulit Arka tidak berubah menjadi lebih cerah, tapi, satu hal yang diketahui pasti oleh Ray adalah dia sangat manis. Untuk sesaat, indahnya ruang pesta Kayla, dentum musik disco, suara tawa yang melengking juga denting gelas-gelas kaca yang sempat mengganggu telinga Ray beberapa saat lalu, terlupakan untuk sementara. Ia sungguh terhipnotis dengan perubahan yang ada pada diri Arka. Ray mengangkat sebelah tangannya ke dada, merasakan degup jantungnya sendiri, sambil bertanya pelan, “apa kau pangeran yang diutus untuk menemani pestaku?”

“Kak Ray? Kak? Kak?” Panggil Arka sambil mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Ray. Ray tersentak dan mengerjap, kemudian,
“Eh Arka, ia, ada apa?”
“Kok kakak melamun? Kakak datang bareng sapa? Kak Abii udah rempong bareng temen gosipnya tuh. Kakak mau temenin aku ga? Aku gak kenal siapa-siapa lah di sini.. bosan..”
“Iya. ayo cari tempat duduk bareng gua.”
“Eh, bentar kak. Ada fotografer tuh. Foto bareng yuk.” Tanpa menunggu jawaban Ray, Arka dengan penuh semangat menarik tangan teman pestanya ke arah si fotografer. Tak menyadari bahwa genggamannya membuat wajah gadis itu memerah dan yang lebih parah, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ray sempat takut kalau saja jantungnya akan copot di tengah pesta, atau yang lebih parah, ia takut Arka mendengar degup jantungnya yang keras.

Ray dan Arka berdiri di bawah balon yang dibentuk hati berwarna merah putih dengan lampu-lampu kuning yang melilitnya. Mereka berdiri berdampingan. Tubuh tinggi Ray terbalut gaun putih berenda di bagian atas dengan panjang selutut, ditambah lagi, sepatu hak tinggi putih yang menghiasi kakinya, membuatnya terlihat begitu anggun. Dan saat ia berdampingan dengan Arka yang juga memakai baju putih, mereka terlihat serasi, bagaikan sepasang … pengantin?
Ray pulang ke rumah setelah fotografer menyerahkan dua amplop coklat yang berisi fotonya dan Arka. Amplop pertama untuk Arka dan yang satunya lagi untuk ia sendiri.

Sesampainya Ray di rumah, ia melemparkan tas tangannya ke lantai dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Ultah Kayla cukup melelahkan bagi Ray. Ray berbaring menatap langit-langit kamarnya yang ditempeli sticker berbentuk bintang-bintang biru. Tatapannya menerawang jauh menembus langit-langit kamarnya. Ia tidak habis pikir, kapan ia terakhir kali sebahagia ini. Sejak berpacaran dengan Nicholas, Ray tidak pernah bahagia. Ia tidak pernah merasa diperlakukan sebagai seorang pacar. Bahkan, ia cenderung dicuekin. Ray ingat betul bagaimana Nicholas yang menjelek-jelekkannya saat Ray tidak ada. Seseorang dari teman Nicholas memberitahukan semuanya kepada Ray saat di sekolah. Ray tidak bisa menahan air matanya. Ia sudah berusaha menahannya. Namun kata tiap kata menghujam hati, membuatnya tidak kuasa menahan genangan air mata yang memaksa mengalir. Ray selalu berpikir, bahwa dirinya yang terlalu egois dan terlalu memaksakan kehendak kepada Nicholas sehingga Nicholas tidak nyaman dan memilih menjaga jarak dengan Ray. Namun setelah Ray berusaha mengubah diri demi Nicholas, Ray tidak pernah mengerti kenapa ia masih tetap salah di mata Nicholas. Hingga saat semua terbongkar, Ray menyadari bahwa Nicholas memang tidak pernah mencintainya. Ia tidak ingin marah, memaki, ataupun menuntut semua kesalahan yang dibuat Nicholas. Ia lebih memilih diam, mengubur semua perasaan dalam-dalam, dan mencurahkan semuanya dengan air mata. Tidak ada yang tau betapa perihnya perasaan seorang Ray saat itu. Hanya Kayla yang mengerti. Bagaimana tidak orang-orang tidak tau. Ray selalu tersenyum ramah dan hangat kepada setiap orang, yang kemudian berubah sedingin hujan dimalam hari setiap ia mengurung dirinya di dalam kamar. Satu hal yang menjadi prinsip Ray, dia adalah bagian dari hujan. Dia adalah ‘Rain’. Jika langit akan tetap memancarkan pesona cerahnya setelah mendung karena turunnya hujan, kenapa ia tidak. Dia adalah ‘Rain’ yang mengendalikan kapan langit itu akan terlihat sendu. Maka, ia juga harus bisa mengendalikan dirinya sendiri, berusaha mencerahkan senyumnya meskipun sebelumnya, sempat ada air mata yang mengalir deras di pipi mulusnya. Meskipun rasa perih menghiasai lubang yang menganga di dalam hatinya.

Air mata Ray menetes ketika sekelebat bayangan menyedihkan itu terlintas di pikirannya. Ray menyeka air matanya dan bangkit berdiri untuk membersihkan diri bersiap untuk tidur. Saat Ray berdiri, kakinya tersandung tas yang ia lempar ke lantai saat ia baru masuk ke kamarnya. Karena tersandung, isi tas tersebut keluar sebagian. Ray sempat ingin melupakan tasnya untuk sementara, namun Ray menghentikan langkahnya dan berbalik. Mengambil amplop coklat yang tergeletak dan mengeluarkan isinya. Ia tersenyum. “Kenapa kau begitu mudah masuk ke dalam kehidupanku dan menghangatkan hatiku yang dingin karena “hujan”? Apa karena namamu Arka yang berarti matahari? Bahkan senyummu tak kalah cerah dan hangatnya dari matahari.” Ray mengusap lembut foto itu dan meletakkannya kedalam laci meja belajarnya.

Jam menunjukkan pukul 6 tepat. Entah sejak kapan Ray begitu bersemangat pergi ke sekolah. Udara pagi begitu sejuk dan segar. Langit pagi tersenyum biru. Embun masih menempel didedaunan, berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Dihirup Ray dalam-dalam bau hujan dan dedaunan yang masih menghiasi pagi itu karena hujan semalaman. Ray menyusuri anak tangga sekolah untuk menuju ruang kelasnya. Diikuti oleh suara langkah kaki yang berderap di belakang Ray. Ray tidak mau ambil pusing dengan berhenti dan menoleh. Namun, tiba-tiba..
“Pagi kak Ray.”

Ray menghentikan langkahnya. Jantungnya berdebar-debar. Nafasnya tertahan. Ia menoleh perlahan. Arka. Berdiri satu langkah di bawah anak tangga yang di pijak Ray dengan senyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi. Dalam hati Ray, ia berharap Arka menghentikan senyum itu, karena ia tidak akan pernah kuat melihat senyum semenawan itu. Ray merasa ia bisa pingsan saat itu juga jika perlu. Namun, tentu ia tidak ingin merepotkan orang-orang dengan pingsannya dia di pagi secerah ini. Maka, Ray berdiri tegak, mencengkeram sisi tangga dengan erat sembari menjawab,
“Hy Arka. Loe uah dateng juga?”
“Udah kak. Emang biasanya datang jam segini.”
“Oh..”
“Kakak cantik deh hari ini. Tadi malam juga.” Ucap Arka tiba-tiba.
Deg! Jantung Ray semakin berdebar kencang. Pipinya memerah.
“Ka? Kakak? Kakak kenapa? aku salah ya?” Tanya Arka bingung.
“Hah? ngg… nggak kok. Nggak salah. Ermm kakak ke kelas duluan ya..”
“Ia kak. Semangat ya belajarnya..” Deg! Apa lagi? Ray hanya diam menatap Arka yang tersenyum manis dan kemudian bergumam tidak jelas dan menyusuri anak tangga demi anak tangga lagi.

Arka masih berdiri di sana. Tidak bergerak. ia hanya diam memandangi punggung Ray yang pelan-pelang menghilang di ujung sana. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, dan mendongak. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sejak hari dimana ia bertemu kembali dengan Ray. Ia tidak mengerti mengapa jantungnya bisa berdebar sekencang itu setiap kali ia bertemu Ray. Ia tidak mengerti mengapa semua yang ada pada diri Ray terasa begitu sempurna dimatanya. Ia tidak mengerti kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkan Ray bahkan hingga malam larut. Kenapa sekarang ia merasa ingin sekali bertemu dengan gadis itu. Kenapa ia merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Kenapa ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum saat melihat Ray. Dan yang parahnya, ia tidak tau kenapa ia harus selalu menahan diri untuk tidak menarik Ray dalam pelukannya. Apa ia mulai menyukai gadis itu? Tapi menurutnya, ini tidak mungkin. Ray adalah kakak kelas yang dua tingkat di atas Arka. Lagipula, apa Arka harus menjadi laki-laki brengsek dengan menyukai gadis lain sementara ia sudah punya Catrine. Mereka sudah 6 bulan bersama. Mungkin hubungan mereka mulai renggang, tapi apa itu baik mencari cinta yang lain sementara ia belum sekalipun mencoba mengklarifikasi semua masalah di antara mereka.

“Pagi Ray sayang.. Loe baik-baik aja kan hari ini? Hari ni gada PR kok.. kenapa loe datang pagi-pagi begini?” Tanya Kayla ketika Ray mendudukkan dirinya dikursi disebelah Kayla. Ray tidak langsung menjawab melainkan mengusap wajahnya.
“Kay, gua kenapa?” Tanya Ray seperti orang bodoh. Bagaimana bisa ia menanyakan keadaan dirinya pada orang lain.
“Loe kenapa? Mana gua tau loe kenapa? Ada apa sih?”
“Tadi gua ketemu Arka di tangga Kay”
“Arka mana? Emang kenapa kalau ketemu dia? Dia mesum ya? Kasi tau gua dah. Mana? Tunjukkin orangnya yang mana? Biar gua habisin.” Jawab Kayla menantang sambil menggulung lengan seragam putihnya. Sementara Ray mulai tenang. Tatapannya kosong. Ekspresinya yang tegang tadi berubah menjadi lebih datar.
“Kay. gua sakit kali ya? Kenapa jantung gua bisa debar-debar kenceng gini yak kalau ketemu Arka? Apa gua kurang olahraga?”
“Ya Allah.. sabarkan lah hati hamba.. Ray ku sayang.. itu namanya loe jatuh cinta.. Arka mana yang berhasil nyuri hati sahabat gua? Semenawan apa sih dia? Emang apa yang dia lakuin sampe loe berhasil membuka hati loe lagi setelah galau berbulan-bulan?”
“Kay, masa gua jatuh cinta sama adik kelas? Loe tau kan, Arka adiknya Abigail? Gak mungkin kan Kay? Terus, darimana loe bisa nyimpulin ini cinta? gua bukannya masih belum bisa move on dari Nicholas ya?” Memang benar, Ray terdengar bodoh karena menanyakan perasaannya pada orang lain. Tapi, ia benar-benar tidak bisa menyimpulkan perasaannya. Ia butuh orang lain untuk menjawab kebingungannya. Dan ia berharap Kayla bisa membantunya.

“Ray, pertama, gak ada salahnya jatuh cinta dengan adik kelas. Bukan umur yang menjadi masalah dalam suatu hubungan, tetapi perasaan dan ego masing-masingnya. Kedua, Arka bukan adik kandung Abigail, dia hanya sepupunya. Ketiga, untuk menjawab tentang perasaan loe, loe jawab pertanyaan gua baik-baik.”
Ray mengangguk patuh.
“Apa loe merasa nyaman dan bahagia saat berada di dekat Arka?”
Ray mengangguk cepat.
“Apa loe juga merasa nyaman saat berada di dekat Nicholas?”
Ray berpikir sejenak dan mengangguk lagi.
Kayla kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sambil berpikir, kemudian,
“Jantung loe berdebar kencang saat berada di dekat Arka?”
Ray mengangguk sangat cepat.
“Jantung loe berdebar kencang saat berada di dekat Nicholas?”
Ray diam. Berpikir lagi. Dan menjawab,
“dulu iya. Tapi sekarang tidak. Apa artinya ini Kay?”
Kayla tersenyum penuh kemenangan. Dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ray.
“Benar kan kata gua? Loe itu jatuh cinta sama Arka. Loe memang nyaman, bahagia dan menyukai Nicholas. Tapi rasa suka loe terhadap Nicholas dan Arka itu berbeda. Loe menyukai Nicholas sebagai seorang mantan yang tak seharusnya loe musuhi. Tetapi, loe menyukai Arka sebagai seorang laki-laki.”
Ray merenung. Berpikir. Apa semudah itu melupakan Nicholas. Kehadiran Arka dalam hidup Ray dengan mudah mengubah cerita hidup Ray. Mungkin karena Arka adalah matahari yang selalu siap menghangatkan hati siapa saja yang dingin karena cinta termasuk Ray.

Cerpen Karangan: Chee

Cerpen Pelangi Arka dan Rain (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Belum Yang Terakhir

Oleh:
Sore itu, aku duduk di pasir putih pantai sambil menyaksikan ombak berlari-larian di tepi pantai kuta, menjelang si raja siang terbenam, untuk menenangkan diri dari segala masalah yang menerpaku.

Semoga Hidupmu Menderita

Oleh:
Kota ini masih belum tidur. Angin berhembus dari lautan menimbulkan riak ombak kecil dari muara sungai. Pantulan cahaya lampu membentuk sebuah garis vertikal di permukaan air. Kiriman sampah dari

Siswa Baru di SMA

Oleh:
Di suatu pagi yang cerah, burung-burung berkicau riang menyambut datangnya sang surya, ayam jago tak mau kalah berkokok dengan nyaring menyambut datangnya pagi dan membangunkan orang-orang yang masih tidur

Suatu Proses

Oleh:
Masa SMA adalah masa terindah dan menyenangkan. Semua orang menuturkan hal yang sama, baik yang sudah melewatinya maupun yang belum merasakannya. Hal ini cukup menjadi perbandingan yang luar biasa

Secangkir Kopi in Story

Oleh:
Ketika pagi datang mempertemukan pada sosok lelaki yang dulu sempat berencana merajut masa depan. Kita berada di sebuh cafetaria di pinggiran kota kecil menikmati secangkir kopi, menunggu senja. “Kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *