Pelangi Arka dan Rain (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

Tak lama, karena Ray tak juga membuka mulut, Kayla menambahkan.
“Tapi Ray. Perlu loe ketahui satu hal. Arka udah punya Catrine. gua mau loe jangan jatuh terlalu dalam. gua gak mau kalau loe harus bersedih kalau pada akhirnya loe gak bisa memiliki Arka. gua gak nyalahin loe karena mencintai pacar orang ataupun adik kelas. gua tau cinta datang tiba-tiba. Tak mengenal siapa yang mencintai dan dicintai. gua cuma mau cinta loe gak membutakan hati loe dengan merusak hubungan mereka suatu hari. Dan gua percaya loe gak kan lakuin itu.”
Ray tetap diam. Sebelah tangannya memegang kening kepalanya. Kepalanya terasa berdeyut. Ia menyandarkan kepalanya ke meja. Hati nya terasa ngilu. Setengah tidak percaya, ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia telah menaruh hati pada orang yang salah. Memang tak seharusnya ia menyukai pacar orang. Tapi dia bisa berkata apa kalau ia memang ditakdirkan untuk mencintai Arka. Sekali lagi ia mengerti, memang benar matahari dan hujan tidak akan pernah bersatu. Bagaimana bisa matahari yang selalu bersinar cerah dan menghangatkan, bersatu dengan hujan yang membawa langit mendung dan hawa dingin.

Sejak Ray mengetahui bahwa Arka punya pacar, Ray menjauhinya. Dua bulan berlalu tanpa ada komunikasi di antara keduanya. Ray selalu bersembunyi setiap kali Arka lewat depan kelasnya. Namun, cinta mana yang tidak memberikan rasa rindu kepada lawan jenisnya. Ray masih sering diam-diam mengamati Arka yang sedang latihan paskibra. Terkadang, Ray iri dengan mereka yang ditakdirkan bisa berada didekat Arka. Ia juga ingin bisa melihat senyum Arka dari dekat. Namun, ia juga sudah sangat bersyukur menyadari bahwa ia dan Arka berada dibawah langit yang sama. Bahwa dia masih bisa menikmati indah ciptaan Tuhannya, meskipun dari jauh.

Sementara, Arka masih sibuk mencari-cari Ray yang tak pernah terlihat. Dia memang bukan tidak bertemu sama sekali dengan Ray. Dia masih sering melihatnya ke kantin bersama Kayla. Tapi Arka ingin berbicara dengannya. Melihat senyumnya. Menatapnya langsung. Sedikit banyak, Arka merasa bahwa Ray telah menjauhinya. Tapi ia tidak ingin mengambil pusing mendengar kata hatinya yang tidak penting itu. Dia hanya percaya jika mendengarnya langsung dari Ray.

Di kantin, Ray, Kayla dan Abigail duduk dimeja yang sama untuk makan bersama.
“Eh guys. Tau gak sih?”
“enggak.” Jawab Kayla datar.
Sementara Ray hanya tersenyum sambil mengaduk-aduk es tehnya.
“gua tuh kasian tau gak sih sama Arka.”
Gerakan Ray mengaduk-aduk teh terhenti.
“Dia tuh sering cerita, kalau pacarnya itu gak peduli sama dia. Masa, kalau Arka nge-chat dia, dia cuma baca. Emangnya Arka tukang Koran apa. Terus, masa pacarnya gak pernah cemburu sama Arka kalau Arka deket cewek lain. Terus lucunya, kalau punya mau tuh gak bisa di tunda. Masa lagi jalan sama Arka, mentang-mentang Arka gak bisa nurutin maunya dia ketempat lain, dia ngeluyur pergi sendiri tanpa ngasi tau Arka. Terus Arka harus nyari sampe setengah jam. Menurut loe semua gimana?” Abigail menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya di ujung ceritanya. Kemudian meminum es tehnya. Lalu Kayla dengan semangat menanggapi,
“Kalau menurut gua ya.. Bayangin deh, cewek mana yang gak pernah cemburu kalau udah sayang sama cowok. Ya kan? cewek kan paling sensitif kalau cowoknya deket cewek lain. Terus kalau egois begitu ya kasian Arka. Intinya cewek kalau sayang itu pasti cemburuan dan gak mau nyusahin pacarnya. Di luar itu di pertanyakan.”
Abigail kemudian mengangguk setuju. “gua juga ngerasa begitu sebenarnya Kay. Entahlah. gua cuma berharap Arka bisa selesaikan ni semua. By the way guys, gua ke kelas duluan ya. gua masi belum kelarin catatan bahasa nih. Duluan ya.. bye.”

Sesaat setelah Abigail pergi, Kayla mencondongkan badannya sambil berbisik pada Ray,
“Ray, loe denger kan yang Abigail bilang? Pacar Arka gak sayang sama Arka. Sekarang adalah kesempatan loe buat jadi yang lebih baik untuk Arka.”
Ray mengerutkan keningnya tidak mengerti dan menjawab,
“Maksud loe apa Kay? Kita kan gak tau hati Catrine gimana. Ini kan Cuma pandangan kita. Lagipun, usaha gua juga tetap bakal sia-sia kalau Arka memang serius cinta sama Catrine, tak peduli apa yang Catrine lakuin. Tapi Kay..” Tenggorokan Ray tercekat. Ia mulai mengatur nafasnya karena suaranya mulai bergetar. “gua jujur, gak terima dengan perlakuan Catrine. Disini gua cuma bisa cintai Arka dalam diam. gua Cuma bisa merhatiin dia dari jauh tanpa bisa menyentuhnya atau merasakan perhatiannya secara langsung. gua gak terima kalau Arka pacaran dengan cewek yang gak serius sayang sama dia. gua takut Arka tersakiti. gua gak mau dia terluka. gua sayang sama dia.” Air mata Ray bergulir turun.
Kayla terkejut. Tak biasanya Ray berani menangis di tengah tempat ramai. Setau Kayla, Ray selalu berusaha nyembunyiin rasa sedihnya. Apa kali ini berbeda? Apa mungkin cinta Ray terlalu besar untuk Arka? Mungkin temannya memang sudah tak sanggup menyimpan perasaannya yang terpendam selama dua bulan terakhir ini.
“Loe yang sabar ya Ray. gua tau loe bisa hadapin ini semua. Saran gua, loe jangan jauhin Arka. gua yakin Arka juga butuh loe untuk nemanin dia. Loe tau sendiri, Arka tak mungkin bahagia dengan sikap pacarnya yang seperti itu. Loe harus bisa buat Arka bahagia dengan cara loe Ray.” Ucap Kayla setelah membiarkan Ray membenamkan diri dalam tangisnya.
Ray hanyak menunduk dan mengangguk setelah Kayla menghentikan kata-katanya. Tubuh Ray menegang. Ia masih menangis dengan tersedu-sedu. Kayla membiarkannya seperti itu. Karena memang tak ada gunanya menyimpan rasa sedih. Setelah beberapa menit, Ray merasa lebih tenang. Ia mulai mengangkat wajahnya.
“Ray, besok Jumat kan? Berenang yok. Ilangin stress.”
“Boleh.” Jawab Ray sambil tersenyum.

“Ya ampun Ray. Air kolamnya dingin banget yak. Padahal gak hujan.” Ucap Kayla sambil menggigil kedinginan.
“Mungkin karena tempatnya tertutup. Jadi airnya gak kena panas matahari, jadi dingin deh. Untung juga sepi. Jadi gak ada yang liat loe menggigil kayak tikus.” Ejek Ray sambil tertawa lebar.
“Naik dulu yok.. dingin kali pun. Makan dulu kita. Yok. Kekantinnya. Beli opak kita.”

Mereka berdua pun berjalan ke arah kantin yang terletak didekat pintu masuk. Tak lama berjalan, Ray dan Kayla memperlambat langkah mereka. Dari pintu masuk terlihat sosok yang tidak asing. Laki-laki yang tinggi. Semakin lama semakin jelas. Arka? Tubuh Ray menegang. Jantungnya berdebar. Baik Ray maupun Kayla menghentikan langkahnya. Terlihat Arka yang berjalan kearah mereka dengan senyum lebar. Lebih tepatnya senyum itu ditujukan untuk Ray. Setelah Arka berhenti tepat didepan Ray, Kayla menyapa sambil lalu dan melanjutkan berjalan ke kantin. Sementara Ray hanya bisa berdiri diam. Menatap senyum Arka.

“Hai ka Ray. Kebetulan yak ketemu. Dah lama gak keliatan.”
“Iya Arka. Lagi sibuk disekolah.”
“Ooo kakak sama Kak Kayla berenang?”
“Nggak Ka.. Mancing.” Jawab Ray becanda
“Apa sih Ka Ray..”
“Mau opak gak. Yuk ku traktir..”
“Bener ya..”

Mereka berdua berjalan menyusuli Kayla yang sudah di kantin. Di kantin, mereka bukannya langsung membeli apa yang mereka mau. Mereka malahan saling ejek mengejek dan becanda di situ. Membuat Kayla tidak sabar menunggu mereka yang memakan waktu cukup lama hanya untuk membeli opak.

“Hey, pengantin baru. Berantemnya nanti. Kelaperan gua.” Sela Kayla di tengah adu mulut Ray dan Arka.
“Ini kak Kay. Kak Ray degil.”
“Kok gua sih Ka?” Jawab Ray sambil melotot.
“Ih matanya kaya tatapan burung elang ngamuk.”
“Apah?! gua tusuk pake opak, mati lu ya.” Ray berpura-pura marah sambil memegang opak yang seolah pedang bagi Ray, yang siap untuk ditusukkan ke lawannya. Kayla mengelus dada melihat tingkah keduanya. Sambil mengumpat.
“Lihatlah siapa yang sedang bermain permainan ‘siapa yang lebih bego’.”
Ray dan Arka keluar dari kantin kejar-kejaran berebut opak sampai ke tempat duduk di samping kolam. Sementara Kayla merasa dirinya seperti obat nyamuk.

“Ka Ray. Selfie yok.” Ajak Arka.
“Lagi jelek nih. Jerawatan.” Jawab Ray sambil menutupi sebelah pipinya yang baru ditumbuhin sebuah jerawat.
“Masih cantik kok.” Jawab Arka sambil tersenyum manis kearah Ray. Ray berbalik badan yang menutupi wajahnya.
“Coba liat. Pipi siapa yang memerah..” Jawab Kayla sambil memutar bola mata.
“Wah iya. Merah. Cie melambung ke awang-awang yak.” Ejek Arka.
Ray menatap tajam ke arah Arka.
“Ih matanya. Maaf lah. Jangan marah.” Arka memelas tapi tetap tidak bisa berhenti tertawa.
“Kalau minta maaf, Minggu tanggal 23 nanti mau kasih apa.” Jawab Ray sambil tersenyum penuh arti.
“Minggu, 23? Ada yang special ya? Di kalenderku gak ada tanggal 23 lah..” jawab Arka sambil memasang wajah mengira-ngira.
“Jahat!” Jawab Ray pura-pura kesal.
“Ahahah. Iya tar Minggu, aku jadiin kamu satu-satunya yang berarti. Kamu kan kesayanganku.” Jawab Arka lagi dengan senyum seribu watt nya.
“Oh jantungku.” Jawab Ray sambil memegang dadanya dan terduduk, seolah tak kuat mendengar rayuan Arka.

Hari itu, Ray bahagia sekali. Ray duduk di samping jendela kaca besar di kamarnya sambil menatap langit gelap, diiringi gemericik derasnya hujan. Ray tersenyum mengingat kejadian siang itu. Pipinya merona merah di cuaca yang dingin. Semua memori tentang bagaimana mereka kejar-kejaran, merayu satu sama lain, tersenyum manis dan saling menatap, tergambar lagi di benak Ray. Ray tertunduk malu. Dan kemudian mendongak lagi melihat langit hitam gelap.
“Langit. Kapan kita bisa berbahagia bersama? Tak bisa kah kau cerah di saat aku bahagia seperti ini. Kenapa suasana hatiku dan warna langit tidak pernah sejalan?”

Tiga hari lagi adalah ulang tahun Ray yang ke tujuh belas. Ray tidak sabar menunggu hari spesial itu. Sebenarnya yang menjadi spesial adalah Arka. Ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Arka. Arka yang bilang, dia ingin menjadikan Ray satu-satunya yang paling berarti. Ray dengan semangat menjalani hari-hari itu. Ia dengan sabar menunggu hari Minggu.

Hingga pada hari Sabtu malam, tepat jam 12, hanya ibu Ray yang mengucapkan selamat ulang tahun. Ray berharap ada Arka atau Kayla yang bakal ngucapin selamat ulang tahun. Pada kenyataanya tidak ada. Kakak laki-laki Ray, Albert, Calvin, kakek Ray, Erick, ayah Ray Edward juga tidak memberi selamat. Sebenarnya itu semua tidak termasuk dalam keluarga besar Alexis. Mereka adalah teman seangkatan Ray yang mendapat julukan ayah, kakek dan kakak laki-laki Ray karena Ray adalah satu-satunya yang dimanjakan oleh mereka. Kadang Ray sangat bangga dengan situasi ini. Mereka sangat memperhatikan dan melindungi Ray. Tapi pada kenyataanya, pada jam 12 ini, kenapa tidak ada yang mengucapkan selamat untuknya.

Mungkin semua orang sudah tidur. Mungkin besok pagi mereka akan mengucapkan selamat untuk Ray. Ray mencoba berpikir positif. Namun, pagi-pagi Ray bangun, ketika ia memeriksa ponselnya, sama sekali tidak ada pesan untuknya. Artinya tidak ada yang memberinya selamat. Ray mencoba tidur lagi menunggu siang datang. Ketika ia bangun di siang hari, tetap tidak ada yang mengucapkan. Ray sedih. Ultah yang diitunggu-tunggunya berakhir memilukan. Ray berjalan terseok-seok ke dapur. Ia bingung dengan ibunya yang memasak makanan begitu banyak, padahal hanya ada Ray dan ibunya dirumah. Ayah Ray sudah 4 tahun lebih meninggalkan keluarga itu. Maka, tinggal Ray dan ibunya. Namun, Ray masih tidak punya semangat untuk mencari tau mengapa ada begitu banyak makanan.

Ray yang kembali lagi ke kamarnya begitu bahagia setelah melihat ada pesan selamat ulang tahun dari Kayla untuk Ray.
Happy Birthday Rain Ava Alexis. Moga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan taat kepada Tuhannya. Moga semua cita-citanya tercapai. Berhubung ini ultah loe, jam 4.30 kita jalan. Bersiaplah.

Ray melirik kearah jam dinding berbentuk Mickey Mouse di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 4 tepat. Masih ada 30 menit untuk bersiap. Ray akhirnya lega. Setidaknya ultahnya tidak sesuram yang ia bayangkan. Ray dengan semangat bersiap untuk jalan-jalan bersama Kayla. Ray berdandan seadanya karena menurutnya tidak ada yang spesial hari itu. Hanya jalan-jalan dengan Kayla. Jadi, ia tidak membutuhkan gaun seperti yang ia rencanakan beberapa hari yang lalu bila ulang tahunnya itu dirayakan. Ray memakai blus merah yang dipadukan dengan jaket kain berwarna biru dongker dan celana jeans juga sepatu putih.

“Mii.. Ray jalan-jalan sama Kayla dulu ya..” teriak Ray ketika Kayla sampai didepan rumahnya.
“Yok Ray. Buruan.”
“Iya. Yang sabar napa.” Jawab Ray ketika melihat sahabatnya yang tidak sabaran itu.
Kayla dan Ray memilih untuk bersantai ditepi laut sambil menikmati es krim coklat.

“Kay, gua kangen deh sama Arka. Masa dia sama sekali gak ngucapin happy birthday buat gua.” Curhat Ray sambil melahap eskrim coklatnya.
“Yang bener gak ada Ray? Ya ampun. gua kira udah dari semalam. Dasar cowok. Memang kaya gitu dah. Gak perhatian dan gak peduli.” Jawab Kayla sambil bersungut-sungut.
Ray mengeluarkan ponselnya dan bertanya pada Kayla, “apa gua chat Arka aja ya. Dia sibuk gak sih? “
“Gatau Ray. Coba aja chat dia Ray.” Jawab Kayla sambil mengangkat bahunya.
Ray mulai mengetikkan beberapa kata yang tidak bisa dilihat oleh Kayla. Kemudian Ray menatap ponselnya untuk beberapa saat, kemudian memandang lurus kearah laut.
“Kay, chatnya masuk. Tapi gak dibaca.” Ray membuka suara.
“Parah banget. Dia sibuk mungkin?”
“Entahlah lah Kay. gua gak pingin apa-apa di ultah gua. gua cuma mau dia. gua cuma mau liat dia Kay. Hanya dengan liat dia, gua pasti udah bahagia banget Kay. ”
“Yang sabar ya Ray. Abang-abang loe udah pada ngucapin?”
“Belum Ray. Gak ada satupun dari mereka yang ngucapin.”
“Yang tegar ya Ray. Jangan sedih di hari ultah loe seniri. Yuk balik. Dah malam loh. Dah gelap.”
“Iya, ayo Kay.”

Ray dan Kayla pun pulang ke rumah karena langit mulai gelap. Dalam perjalanan ke rumah, perasaan Ray campur aduk. Angin malam yang sejuk menerpa wajahnya. Ia berjanji di kedinginan malam, bahwa ia tidak mau bertemu Arka dan tidak mau berbicara lagi dengannya. Bagaimana tidak, Arka dengan segala janji manisnya, kini menghilang entah kemana.
Ketika sampai didepan rumah, Ray kebingungan. Pintu rumahnya terkunci rapat. Keadaan di dalamnya juga gelap. Ray panik karena tidak membawa kunci. Ia berpikir apa ibunya pergi ke suatu tempat. Tapi, tak biasanya ibunya pergi tanpa memberitahunya. Ray mencoba mengetuk pintu. Berharap ibunya ada di dalam.

Cerpen Karangan: Chee

Cerpen Pelangi Arka dan Rain (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ingin Jadi Pemain Timnas

Oleh:
Putera berlari dengan kencangnya sambil menggiring si kulit bundar. Dengan mengenakan sepatu bola pemberian almarhum ayahnya. “Gooooool!!!” teriak teman-teman setim Putera. “Kau memang hebat Putera.” kata Rizky dengan bangganya.

Kembali dan Hilang

Oleh:
Hampir seminggu sudah aku berada di pedesaan yang asri ini. Desa yang sudah sepuluh tahun kutinggalkan demi mengejar impian di kota seberang itu, rupanya sudah berubah banyak termasuk sungai

Sabtu Malam Nila

Oleh:
Setiap tetesnya membasahi hati yang mengering, gersang, tapi sayangnya aku kehilangan senja kali ini. Secangkir capucino dan salah satu buku karangan idolaku menemani malam mingguku ditengah rintik hujan yang

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
“…Terkadang aku memikirkan apa yang tidak kupahami. Sebuah penantian yang kurindukan kepastiannya. Aku sendiri menunggumu Ardi.” Purnama saat itu sangat memamerkan cahaya emasnya. Dengan lamunan hunting, menambah sensasi yang

My Soulmate

Oleh:
Hari itu hujan rintik-rintik, aku senang berjalan kaki di saat hujan. Aku ingin minum cappuccino di cafe yang sering ku singgahi. Sampai di depan cafe aku tercengang melihat laki-laki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *