Pelangi Arka dan Rain (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara letupan. Ray menutup mata karena terkejut. Namun, ketika ia membuka mata, ia telah di hujani kertas warna warni dari konveti. Ketika ia melihat kedalam rumahnya, ternyata dua abangya sedang berjongkok di tengah pintu, menembakkan konveti untuk Ray. Ray berusaha mencerna apa yang terjadi. Ia mulai memandang ke sekeliling rumahnya. Tidak butuh waktu lama, Ray mendapati rumahnya dipenuhi balon warna warni berbentuk hati. Dindingnya dihiasi balon berbentuk angka 17 berwarna silver dan tulisan happy birthday. Di dalam, teman dekat Ray sudah berkumpul termasuk kakek dan ayah seangkatannya. Ray dibimbing masuk ke dalam rumah oleh kedua abangnya. Dari dalam, ada seseorang yang berjalan kearah Ray. Membawa kue tar bulat dengan lilin angka 17 di atasnya. Setelah lampu dinyalakan. ternyata itu adalah Arka. Ray menutup mulutnya. Ia terharu. Sebutir air mata bahagia mengalir di pipinya.

“Arka, loe jahat. Loe gak balas chat gua.” Ucap Ray sambil tersedu memukuli Arka.
“Hey.. Surprise Ray. Happy Birthday.” Arka tersenyum. Sebelah tangan Arka yang tidak memegang kue, mengusap air mata Ray. Sebelum Ray meniup lilin ultahnya, ia berdoa terlebih dahulu.
Tuhan. Di hari ultahku ini, aku tidak meminta banyak. Karena, Kau dengan segala kasih Mu mengumpulkan semua kebahagiaanku di sini. Aku hanya ingin kebahagiaan ini menjadi kekal. Amin.
Ray meniup lilin yang diikuti suara tepuk tangan. Ray mulai memotong kue ultahnya dan meletakkan potongan kue itu di atas piring. Arka mengambil piring itu, memotong kecil kue dan menyuapkannya untuk Ray. Ray tersenyum sambil mengunyah kue yang disuapkan Arka. Kemudian, Arka meletakkan piring kue ke atas meja. Ray bingung melihat Arka mencari sesuatu di samping meja kaca yang ada dirumah Ray. Tak lama, Arka sudah berada tepat di hadapan Ray memegang sebuah gitar. Arka tersenyum.

“Dengarkan lagu ini, ini untuk loe Ray. gua bakal tepati janji gua. gua bakal jadiin loe satu-satunya yang berarti hari ini.” Arka mengucapkannya sungguh-sungguh pada Ray.
Arka mulai menempatkan jari-jarinya di atas gitar. Memetik lembut senar-senarnya. Ray tersenyum ketika menyadari lagu itu berjudul ‘True colors’ yang dinyanyikan oleh Anna Kendrick dan Justin Timberlake. Suara Arka yang berat namun lembut itu mendayu dengan manis di telinga setiap orang termasuk Ray. Suara yang selalu menghangatkan hati pendengarnya. Semua terharu ketika mendengar lagu yang dinyanyikan Arka. Air mata Ray menetes, tersentuh mendengar lirik lagunya.

I see your true colors and that’s why I love you. So don’t be afraid to let them show your true colours. Your true colors are beautiful.
Aku melihat warna aslimu. Dan itulah mengapa aku mencintaimu. Jadi jangan takut tuk tunjukkan ke mereka warna aslimu. Warna aslimu begitu indah

Ketika Arka telah menyelesaikan lagunya, ia maju selangkah, menyandarkan gitarnya di dinding, kemudian mengusap air mata Ray kembali.
“Kenapa loe nangis? Suara gua jelek ya? gua gak bakal nyanyi lagi kalau loe gak suka.” Tanya Arka sambil menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Ray.
Ray hanya menunduk dan menggeleng-geleng sambil menangis tersedu-sedu Arka menarik Ray dan memeluknya. Kemudian membisikkan,
“Selamat ulang tahun Ray. Maafin gua karena gua sempat buat loe gelisah dan sedih siang ini.”
Ray merapatkan pelukannya, sembari menjawab, “terima kasih Ka. Loe adalah hadiah ulang tahun gua yang paling istimewa.”
“Eh udah dong pacarannya. Kita ni kita. Gak dianggep dah.” Celetuk Kayla
“Maaf dong Kak Kay kalau aku lebih menawan dari kakak.” Jawab Arka sambil tersenyum lebar.
“Uh maunya. Untung cakep. Kalau nggak. gua suruh pulang.” Canda Ray
“Yuk foto bareng. Masa dah ribet-ribet nyiapin gak ada kenangannya.” Ajak Kayla.

Semua berkumpul dan foto bersama. Bisa dilihat dari hasil foto, kalau semua orang berbahagia. Sebab, mereka semua tersenyum lebar bagai duta pasta gigi. Kemudian acara dilanjutkan dengan makan-makan. Arka menyuapi Ray karena Ray sempat menolak makan karena terlalu bahagia.

“Bah. Modusnya Ray kaga mau makan. Kapan sejarahnya, Ray gak mau makan?” Celetuk Kayla lagi.
“Bah mercon lebaran nyamber.” Jawab Ray sambil memutar bola mata.
“Ini namanya simbiosis mutualisme kak Kay. Sama –sama menguntungkan.” Jawab Arka
“Jiah terserah lu pada.” Jawab Kayla kesal namun tidak bisa menahan senyum melihat sahabatnya yang berbahagia itu.
Semua orang berbahagia malam itu. Tapi, siapa sangka kalau kebahagiaan itu tidak berlanjut lama.

Tiba-tiba, muncul gadis bertubuh mungil, berambut panjang berdiri di tengah pintu masuk dengan wajah merah padam.
“Arka! Apa-apaan loe di sini? Ini yang namanya acara ulang tahun?”
“Catrine!” Bentak Arka untuk menghentikan rentetan kata-kata pacarnya itu.
Ray hanya bisa terdiam. Tubuhnya gemetar. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, entah kenapa, hatinya terasa sakit bagai teriri-iris. Kepalanya berdenyut. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
“Heh! Loe! cewek murahan !” Bentak Catrine sambil menunjuk Ray. “Gak tau malu ya loe! Dah kakak kelas! Rebut pacar orang lagi! Gak laku loe?!” maki Catrine.
Albert, Calvin, Erick dan Edward melangkah maju melindungi Ray.
“Mau apa loe?! Bisa gak sih kalau ada masalah diomongin baik-baik? Loe tuh gak sopan tau gak sama kakak kelas.” Bentak Edward.
“Mending loe kelarin masalah loe deh Kak sama Catrine.” Timpal Erick.
“Tapi, gua gak ada masalah apa-apa lagi sama dia. Dia selama ni yang gak peduli gua deket sama siapa aja, kenapa mendadak datang dan peduli dengan semua ini?” Arka menjawab dengan wajah sedih dan tak berdaya.

Mendadak malam yang hangat berubah menjadi dingin dan menegangkan. Langit sepertinya berpihak pada perasaan Ray. Kilat menyambar. Angin bertiup kencang. Meniup gorden-gorden rumah Ray. Ray tak kuat melihat semua ini. Sungguh, ia tak sanggup berdiri lebih lama di situ. Ray berlari keluar rumah. Ray tidak tau mau lari kemana. Tapi, satu hal yang ia tau, ia hanya perlu terus berlari menjauh dari mereka semua. Ia tidak ingin melihat itu semua lagi. Lubang di hati yang ia kira sudah tertutup, kini menganga menyakitkan. Ray berlari di tengah derasnya hujan malam.

“Denger ya Cat. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Ray, gua bersumpah gak mau ngenal loe lagi. Dan loe satu-satunya yang harus bertanggung jawab atas ini semua.” Gertak Arka penuh amarah dan kemudian berlari menyusuli Ray.
“Arka! Arka! gua cinta sama loe Ka! Argghh!! Sial!” Teriak Catrine. Catrine menoleh ke arah teman-teman Ray dan menatap mereka dengan kesal. Tidak ada satu pun yang berpihak padanya malahan menertawakannya karena ditinggal pergi Arka.

Tak lama berlari, Arka menemukan Ray. Ray yang duduk dibawah pohon pinus sambil memeluk kakinya yang ditekuk. Entah kenapa hati Arka terasa sakit melihat Ray seperti ini. Melihat Ray yang tidak berdaya dan.. putus asa
“Ray..” panggil Arka hati-hati.
Ray tidak bergeming. Ia masih menunduk.
“Ray maafin gua. gua gak bermaksud ngelukai hati loe. gua gak bermasuk ngerusak hari ultah loe.” Arka menahan nafas. Hatinya teriris melihat Ray yang duduk diam berpura-pura tidak mendengarnya. Kalau boleh jujur, Arka lebih memilih dipukuli dan di maki-maki Ray habis-habisan daripada tidak dinggap seperti ini. Namun Arka sadar, ini lah kesalahan dia. Ray berhak memutuskan hukuman apa yang pantas untuk Arka. Ia begitu menyesal membuat gadis di hadapannya ini bersedih dihari ulangtahunnya.

Arka memutar tubuh Ray agar Ray menatapnya. Memang benar Ray menatapnya. Menatap mata Arka lurus-lurus. Bola matanya yang hitam dan bulat memancarkan kesedihan yang amat dalam. Namun bibirnya menyunggingkan seulas senyum.
“gua gak apa-apa Ka. gua cuma rindu hujan. Pulang lah, tar loe sakit. Loe gak terbiasa.” Ucap Ray dengan suara serak.
“Maafin gua Ray.. Loe nangis?”
“Nggak Arka. Ini air hujan. Bagaimana bisa loe liat airmata di tengah aliran hujan? Sungguh ini bukan air mata. gua udah bahagia banget malam ini. Tak ada yang bisa gua tangisi Ka” Jawab Ray sambil tersenyum.
Hati Arka semakin sakit. Perih melihat gadis di hadapannya yang sudah jelas begitu menyedihkan tapi masih berpura-pura tegar.
“gua bisa liat kesedihan di mata loe. Loe gak usah berpura-pura tegar.”
Arka meraih tangan Ray dan Ray menarik kembali tangannya dengan gerakan cepat.
“Jangan sentuh gua Ka. Kenapa? Kenapa loe minta gua untuk tidak perlu berpura-pura tegar? Memangnya kepada siapa lagi gua bisa bersandar?” Teriak Ray. Tangis nya pecah.“gua egois. gua gak tau diri. Seharusnya gua gak jatuh cinta sama loe. Seharusnya gua sadar gua itu Rain. Dan loe itu Arka. Rain dan Arka selamanya tidak akan pernah bersatu. gua hanya terlalu banyak bermimpi untuk memiliki loe. gua cuma terlena dengan keindahan yang loe pancarkan. Seharusnya sejak hari pertama kita bertemu, gua gak menatap loe seperti ini. Seharusnya gua gak tenggelam dalam samudra cinta loe yang terlalu dalam. Dan sekrang.. gua harus gimana Ka? gua gak tau lagi gimana caranya berenang ke tepian.” Ray menatap Arka dengan matanya yang sayu.
“Ray dengerin gua..”
“Nggak Arka. Apa lagi yang harus gua dengar? Asal loe tau, semakin banyak gua bicara sama loe, maka semakin banyak juga rasa sakit yang terpendam. gua pingin bahagia Ka. Kalau loe terus-terusan egois begini, gua gak kan pernah bahagia.”

Arka terdiam. Ia tidak tau, kalau sumber kesedihan dari Ray adalah dirinya sendiri. Mata Arka menatap sayu wajah Ray yang diguyur hujan. Dari tatapan Arka, Ray bisa melihat kalau Arka dengan tulus menatapnya. Ray melihat ada seberkas luka dimata Arka setelah Ray mengucapkan kalimat terkutuk itu. Ray mulai menyesali apa yang ia katakan. Ia berharap ia bisa menarik kembali kata-katanya yang sempat melukai hati Arka.

“Maafin gua Ray. gua Cuma pingin loe bahagia. Tapi kalau dengan keberadaan gua, hanya menambah kesedihan loe, gua pergi. Sampai kapanpun Ray. Loe akan tetap menjadi Rain dihati gua. Bukan Rain yang dingin. Tapi Rain yang dengan caranya bisa menghangatkan hati setiap orang, yang bahkan Arka sendiri tidak bisa.
“Satu hal yang pingin gua sampaikan. Langit tidak akan bisa bersinar cerah setelah hujan (Rain) jika tidak ada matahari (Arka). Tidak ada Rain yang bisa membawa langit cerah dan kehangatan. Semua butuh Arka yang satu-satunya bisa membawa senyum cerah dan kehangatan di hati pemiliknya.” Ray tersenyum menatap Arka. “Selamat tinggal Arka. Tetaplah pada tugas loe mencerahkan dan menghangatkan sekeliling loe. Dan gua akan tetap menjadi rain dingin dimalam hari yang tak pernah bisa menjanjikan pelangi.”
Arka menarik nafas, “Dan gua juga pingin loe tau Ray, loe salah kalau bilang Rain dan Arka tidak bisa bersatu. Seperti malam ini. Hujan melambangkan kesedihan. Dan seperti katamu, matahari melambangkan tawa. Tanpa keduanya, pelangi tak kan pernah ada, itulah sebabnya loe selalu menjadi hujan malam yang tidak pernah bisa menampilkan pelangi. gua gak ada hak untuk hentiin loe ngejauin gua yang gak bisa membahagiakan loe. Tapi, gua berharap, loe gak menyesali pertemuan kita Ray.”
“Sampai kapanpun, gua gak menyesali hari dimana gua mengenal loe. gua mau loe tau, gua mensyukuri hari dimana gua mengenal loe. Tapi mungkin takdir berkata lain. Mungkin menjauh adalah pilihan yang terbaik. gua cuma pingin menjaga perasaan loe semua. Karena, asal loe tau, gua gak kan pernah sanggup liat loe terluka.”
Ray membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Arka tanpa menoleh. Ray tau, kalau ia berbalik, ia tidak akan pernah bisa menahan diri untuk tidak memeluk Arka dan ia juga tau setelah itu ia pasti tidak akan bisa melangkahkan kakinya meninggalkan Arka. Itulah sebabnya, ia tidak berani melihat ke belakang sedikitpun.

“Ray, gua gak pernah menyangka kalau arah jalan kita akan berbeda seperti ini.” Ucap Arka pelan sambil memandangi punggung Ray yang menghilang di antara pepohonan pinus.

Ray duduk di samping kaca jendela besar kamarnya memandangi derasnya hujan. Gemericik hujan tidak lagi mengalun merdu. Sama seperti daun yang basah karena hujan, pipi Ray juga basah karena air mata. Lagu ‘True Colors’ menemani dinginnya malam Ray. Alunan lagu itu membuat hati Ray begitu pedih. Dadanya terasa sesak. Hanya dengan lagu itu, Ray bisa mengenang Arka. Meski, kenangan indah itu hanya akan menyesakkan Ray.

“Ray, gua harap loe gak terus terusan sedih seperti ini. gua tau Arka berarti buat loe. Tapi, ini kan jalan yang sudah kalian berdua sepakati. Pliss Ray, jadi Ray yang ceria. Loe tau kan, hujan itu selalu jatuh berkali-kali. Tapi, hujan juga selalu kembali meski tau rasanya jatuh berkali. Seperti Rain disamping gua yang mau kembali tersenyum meski tau bagaimana rasanya jatuh berkali-kali.” Hibur Kayla sambil memeluk Ray.

Hujan dan matahari sama-sama menarik orang menikmati keindahan pelanginya saat mereka bersatu.
Hujan dan matahari juga sama-sama memaksa orang berlindung dibalik tempat-tempat teduh. Kecuali mereka yang berani menghadapi dingin dan terik.

Can’t remember when I last saw you laughing. This world makes you crazy and you’ve taken all you can bear. Just call me up. ‘cause I will always be there. And I see your true colors shining through. I see your true colors and that’s why I love you. So don’t be afraid to let them show your true colours. Your true colors are beautiful.

Tidak bisa mengingat kapan aku terakhir melihatmu tertawa. Dunia ini membuatmu gila. Dan kau telah terima semuanya, kau bisa menanggungnya. Hanya, panggil aku karena aku kan selalu ada, dan aku melihat warna aslimu bersinar. Aku melihat warna aslimu dan itulah mengapa aku mencintaimu. Jadi jangan takut tuk tunjukkan ke mereka warna aslimu. Warna aslimu begitu indah

Cerpen Karangan: Chee

Cerpen Pelangi Arka dan Rain (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Destiny

Oleh:
Namaku Amala, aku adalah anak kelas 3 di SMA. Semua teman-temanku memanggilku “Si Macan Jones” Hei!!! Siapa yang mirip macan?!!! Walaupun aku tidak suka sebutan itu, tapi aku harus

Ku Tak Menyangka

Oleh:
Kenalkan nama ku Mei, Aku memiliki sahabat yang bernama Syifa dan Aryanda. Aku adalah anak orang miskin, Ibu ku adalah pembantu di rumah Sahabat ku Syifa, walaupun begitu Syifa

Pelangi

Oleh:
“Rifa bangun, hari ini hari pertama kamu sekolah kan ayo jangan tidur terus ntar telat lagi..” Suara mama membangunkan ku dari tidur ku “Iya mah” Oh iya kenalkan nama

Purnama

Oleh:
Ini adalah kisahku, yang mungkin tak begitu penting tetapi ingin kutuangkan dalam sebuah cerita. Namaku adalah budi (bukan nama asli) hehehe. Aku tinggal di kota antah berantah di sebuah

Upsss!

Oleh:
Aku benci banget sama hari ini. Nggak tahu kenapa dari pagi tadi sampai siang ini, aku sial melulu. Kenapa ini? Pagi tadi bangun kesiangan, nggak sempat sarapan, telat ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *