Pelangi terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 February 2016

“Ariiiinnn!” teriak mamah membangunkanku, “Ayo, bangun nanti kamu terlambat,” dengan malas ku angkat tubuhku dan berjalan menuju kamar mandi.

Aku putri kedua dari tiga bersaudara, kakak pertamaku bernama Indra, dia sudah menikah dan tinggal di Bogor, sedangkan kakak keduaku bernama Candra dia usil sekali, tak jarang aku dan dia bertengkar karena keusilannya. Setelah semuanya selesai, aku turun ke bawah untuk bergabung dengan keluargaku di ruang makan, “Pagi Mah, pagi Pah,” sapaku pada mereka yang dibalas dengan senyuman kasih sayang, hatiku mulai gelisah karena Kak Candra tidak ikut sarapan, aku curiga dia sedang merencanakan sesuatu.

Dan benar saja, ketika aku hendak duduk ada yang menarik kursiku, aku pun terjatuh sakit sekali rasanya.
“Aduh, Mamah, lihat Kak Candra!” rengekku.
“Candra, kamu ini,” puas sekali lihat Kak Candra dijewer mamah (hihi).

Aku terlahir di tengah-tengah keluarga yang penuh akan kasih sayang, namun akhir-akhir ini kasih sayang dan kebahagiaan itu berkurang. Aku tidak tahu ke mana Mamahku pergi, sudah dua bulan mamah meninggalkan rumah dan sulit dihubungi. Untuk yang kesekian kalinya aku bertanya kepada papah, “Pah, sebenarnya Mamah ke mana sih?” Papah tak menjawab, dia hanya mengecup keningku dan pergi karena rasa penasaranku sudah di ubun-ubun, aku pun pergi ke kamarnya Kak Candra.

“Kak?”
“Apa Dek?”
“Mamah ke mana?”

Kak Candra pun sama tidak menjawab, ada apa sih sebenarnya kenapa semua orang bertindak aneh. Hingga pada malam hari, ku rasakan ada tetesan air jatuh ke wajahku, aku pun terbangun dan… apa aku salah lihat? atau ini hanya mimpi?

“Mamah?”
“Iyah, ini Mamah,”
“Mamah ke mana aja? Mamah kok nangis?”
Mamah memelukku, dan berkata, “Mamah dan Papah sudah bercerai, kamu ingin ikut siapa?”
“Mamah bohong kan?” mamah hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Mah?” tanyaku.
“Mamah gak bisa cerita,” ku peluk erat tubuh mamah.

Keesokan harinya aku tak banyak bermain dengan teman-temanku di sekolah. Aku duduk di sudut kelas dan mengarahkan pisau kecil ke tanganku, aku tak menghiraukan lagi teriakan teman-temanku yang berusaha mencegahku ketika pisau kecil ini siap melakukan tugasnya seseorang menarik tanganku dan menjatuhkan pisaunya. “Apa yang kamu lakukan?!” bentak Rendi. “Aku ingin mati, buat apa aku hidup sebagai korban perceraian,” air mata yang sudah mengalir kian menderas. “Jangan kayak gini, kalau kamu mati terus aku sama siapa? aku mohon jangan lakukan ini,” Rendi menghapus air mataku.

Kelulusan pun tiba, aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Bogor.
“Aku akan bersamamu, aku akan nge-kos di kos-an Kakakmu,” ucap Rendi, yang tak ingin jauh dariku.
Sudah satu bulan lebih aku tinggal di Bogor, hari ini aku dan Rendi pergi ke Taman, pandanganku terpaku pada keluarga kecil di seberang sana, tak terasa air mata ini mengalir lagi, mengingat kebahagiaan keluargaku yang tak ku dapat lagi. Rendi yang mengetahui hal itu, menghapus kembali air mataku.

“Kamu kangen keluarga ya?” aku hanya menganggukkan kepalaku, Rendi membawaku ke pelukannya.
“Jangan nangis, masih ada aku di sini, aku gak akan pernah ninggalin kamu, senyumanmu berarti bagiku, jangan nangis ya sayang,” Tuhan, hidupku belum habis semua, jangan biarkan dia jauh dariku, aku bahagia bersamanya, dia pelangi terakhirku.

Cerpen Karangan: Yuli Agustina
Facebook: Yuna Kitty Assadani Poetrie

Cerpen Pelangi terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rintihan Senja

Oleh:
Hujan yang turun membasahi bumi tak mampu menyirami hati ku, sejenak aku berfikir tentang rasa sakit dimana kekasihku pergi dan tak pernah melihat kembali pada kekasih yang dulu dia

Surat Merah Muda

Oleh:
Seperti biasa. Surat itu selalu datang di dalam lokerku setiap jam istirahat. Bukan hanya aku, semua teman-temanku merasakan hal yang sama. Isi surat bermacam-macam dan selalu bersifat misterius, ia

Hadiah Istimewa Dari Ibu

Oleh:
23 Januari 2010 Hari ini hari ulang tahunku yang ke 8 tahun.. yeyy! aku gak sabar untuk membuka kado dari ibu dan bapak.. “papa, mama.. mana kadoku?” tanyaku, tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *