Pelangi yang Tenggelam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 January 2018

Malam mulai menjajaki bumi, kini saatnya kehidupan malam dimulai. Di salah satu sudut kota, banyak wanita yang berlalu lalang di tepi jalan hanya demi sesuap nasi. Tak jauh dari sana ada sebuah arena balapan liar yang kini semakin ramai dengan anak-anak muda yang akan melancarkan aksi mereka. Jalanan yang sepi mereka manfaatkan sebagai markas.

Seorang gadis berdiri di sebelah motor balap yang ada di tengah area, di sampingnya seorang lelaki duduk di atas motornya. Suara keramaian anak muda itu membuat suasana semakin ramai.

“Rendy, apa kamu yakin dia akan datang malam ini?” tanya gadis itu.
“Cellin, percaya deh sama aku. Kalau dia mengaku cowok, dia akan datang kok,” jawab lelaki itu dengan senyum sinisnya.

Suara deru motor yang semakin mendekat membuat Rendy, Cellin, dan semua yang ada di sana menolehkan pandangan. Orang yang ditunggu datang. Motor sport berwarna merah itu berhenti tepat di samping motor sport kuning milik Rendy.
Pengemudi itu kemudian melepas helmnya.

“Berani juga lo terima tantangan gue. Sudah siap kalah?” tanya Rendy.
“Nggak usah banyak ngomong deh lo,” desis Vano dengan tatapan tajamnya. Pandangannya sesaat tertuju ke arah Cellin, demi gadis itu ia harus menang.

“Oke, kalau sudah siap aku hitung mundur ya.” Cellin kini berdiri di antara kedua motor sport itu yang sudah saling menggas. “Tiga… Dua… Satu…”
Kedua motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, suara sorakan dari penonton menggema. Keduanya merupakan lawan yang kuat. Kini motor keduanya saling menyalip, terkadang motor Rendy yang di depan, namun Vano yang berhasil memimpin balapan. Namun saat di belokan ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi, hal ini membuat keseimbangan Vano goyah. Ia membelokkan motornya sehingga kecelakaan itu pun terjadi.

Suara sirine ambulan menyala, menandakan adanya pasien yang membutuhkan penanganan khusus. Vano segera dilarikan ke ruang UGD. Kemudian disusul oleh kedua orangtuanya.
“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” tanya wanita paruh baya yang tak lain mama Vano.
“Anak Anda mengalami keretakan tulang di kakinya yang cukup parah, kita akan melakukan operasi untuk menyambungkannya kembali. Dan syukur tidak ada luka serius di kepalanya,” ujar dokter itu menjelaskan.
“Lakukan yang terbaik untuk anak saya, dok. Berapapun biayanya akan saya bayar asalkan anak saya bisa sembuh.”
“Kami akan melakukan semampu kami. Tetapi Anda juga mengiringinya dengan doa untuk kesembuhan Vano. Permisi, pak, bu.” Dokter tadi pun berlalu.

Esok harinya Vano sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Beberapa sahabat dekatnya datang dan juga Cellin kekasihnya. David sahabat terdekatnya merasa bersalah karena telah menghasut Vano untuk menerima tawaran dari Rendy hanya karena seorang perempuan. Padahal ia sendiri tahu, kalau Papa Vano yang terkenal keras itu sudah melarang anaknya untuk mengikuti balapan liar. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Ketika Vano sudah siuman, ia tidak terima dengan keadaan kakinya yang tidak dapat digerakkan. Kata dokter kakinya mengalami lumpuh tapi tidak permanen, artinya masih dapat disembuhkan melalui terapi yang teratur. Semua suster yang menanganinya sudah tidak sanggup untuk menghadapi cowok itu. Hal ini membuat mamanya kelimpungan.

Satu minggu telah berlalu, kini Vano telah diijinkan pulang oleh dokter. Mama Vano meminta dokter untuk mengirimkan perawat juga. Vano sendiri bingung dengan keberadaan Cellin yang notabennya adalah kekasihnya itu tidak muncul kembali setelah hari dimana ia sudah siuman. Membuat emosinya terkadang labil.

Dira membuka pintu kamar Vano perlahan menggunakan tangan kiri, sedangkan tangankanannya ia gunakan untuk membawa nampan yang berisi makanan dan obat Vano. Sebelumnya ia menghela napas dan menyemangati dirinya sendiri.
“Vano, kita makan yuk,” panggilnya seperti anak kecil.
Namun yang diajak ngomong hanya diam, pandangannya masih tertuju ke jendela kamar yang menghadap taman.
“Habis itu minum obatnya biar cepat sembuh,” lanjutnya lagi.
“Aku tidak lapar.”
“Tapi kamu dari tadi belum makan.” Dira mengambil tempat di samping kursi roda Vano dengan piring makanan yang ada di tangannya.
‘prang’
Suara pecahan piring menggema. Cowok itu menepis piring yang disodorkan oleh Dira.
“Kamu budek ya? Aku sudah bilang nggak lapar! Kamu pergi dari sini sekarang!” bentak Vano tak terbantahkan.
Dira yang shock hanya menunduk dan ia segera keluar dari kamar Vano sebelum pertahanannya runtuh.

Saat melewati ruang keluarga, ia berpapasan dengan Bu Ida, mama Vano menghentikan gerakan Dira.
“Nak, kamu kenapa? Apa yang sudah Vano lakukan sama kamu. Ayo cerita sama ibu.”
Namun, Dira tetap diam.
“Ini yang ibu khawatirkan, selama ini suster-suster yang merawat Vano mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikapnya yang kasar. Bahkan ada yang baru masuk, lalu beberapa jam kemudian mengundurkan diri. Hanya kamu Dira yang saat ini Ibu harapkan dan percayai untuk merawat Vano. Hanya kamu yang mampu bertahan selama ini. Ibu yakin sama kamu, hanya saja kamu harus ekstra sabar dengan semua yang ia lakukan dan katakan. Tidak usah dimasukkan ke hati. Anggap saja seperti angin berlalu. Ibu sangat berharap sama kamu Dira.”
Dira yang mendengar cerita Bu Ida merasa iba, ia kasihan dengan beliau yang kebingungan mencari perawat untuk anaknya. Bukankah ini yang ia inginkan, yaitu memiliki pkerjaan dengan gaji yang menggiurkan. Bisa untuk tambah-tambah keperluannya dan panti.

Wanita paruh baya itu menepuk bahu Dira. “Hari ini saya mau ke kantor papa Vano, nanti kalau terjadi apa-apa segera hubungi saya.” Wanita paruh baya itu beranjak mengambil tas tangannya lalu berlalu meninggalkan Dira yang masih berkutat dengan pikirannya.

Dira kembali ke kamar Vano dengan sepiring nasi yang baru dia ambil. Ia membuka pintu cukup keras membuat Vano menoleh.
“Sudah aku bilang kan lebih baik kamu keluar, aku nggak butuh makan. Mau kamu aku pec..”
“Kamu mau pecat aku? Terserah, aku nggak peduli. Aku dibayar untuk merawat kamu, jadi kalau kamu kenapa-napa aku juga yang salah. Lebih baik kamu diam, cepat habiskan makanannya lalu minum obat. Aku cuman kasihan sama mama kamu. Beliau kebingungan karena semua suster yang merawat kamu nggak ada yang betah. Jangan pernah berfikir kalau aku kasihan sama kamu. Orang sakit yang lebih parah dari kamu itu banyak. Tapi mereka nggak pernah mengeluh, mereka tetap berjuang untuk bisa sembuh walaupun harapannya itu sedikit. Jadi, kamu yang hanya sakit seperti ini nggak usah lebay. Cari uang juga susah jadi jangan buang-buang makanan,” cerca Dira panjang lebar yang membuat Vano hanya bisa bengong.
Tanpa mempedulikan tatapan Vano, ia membereskan pecahan beling dan juga makanan yang berserakan di lantai. Mau tidak mau cowok itu memakan nasi yang ada di piringnya. Setelah minum obat, Dira membantu Vano untuk istirahat siang.

Hari ini matahari menampakkan cahayanya cukup cerah. Dira kembali mengantar Vano untuk check up. Mereka ke rumah sakit diantar oleh sopir pribadi mama Vano. Saat proses pemeriksaan, dokter Fadli mengatakan untuk pertemuan selanjutnya Vano sudah mulai melakukan terapi. Hal ini membuat senyum di wajah Dira merekah.
Dira mendorong kursi roda Vano keluar dari ruang pemeriksaan. Di sepanjang koridor Rumah Sakit, beberapa suster menyapanya. Sesampainya di depan pintu utama, mobil Vano sudah menunggu di depan. Dira membantu cowok itu memasuki mobilnya.
“Pak, kita ke Panti Mutiara Hati dulu.”
“Mau apa kita ke sana, Dira?” tanya Vano penasaran.
“Kita lihat saja nanti,” ujar Dira.

Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang Dira tumpangi sudah sampai di tempat yang ia maksud. Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan taman yang cukup luas. Di depan rumah terdapat papan bertuliskan ‘Panti Mutiara Hati’.
“Ayo turun,” ujar Dira membuyarkan lamunan Vano. Akhirnya Vano turun dibantu oleh Dira.
Beberapa anak yang tadi sedang bermain menghampiri Dira dan Vano. Ada juga yang masuk ke dalam rumah itu untuk memangil Ibu panti.
“Kak Dira!” teriak mereka senang akan kedatangan Dira. Anak-anak tadi memeluk tubuh Dira.
“Hai sayang, apa kabar?” tanya Dira mengelus puncak kepala mereka satu per satu.
“Alhamdulillah baik, kak.” Doni, seorang anak laki-laki berambut keriting mendongak. “Kakak ke mana saja? Kami semua kangen Kak Dira,” tambahnya yang dibalas sebuah anggukan oleh teman-temannya.
“Kakak kan kerja untuk cari uang. Nanti uangnya juga buat beli makan sama mainan kalian,” tutur Dira penuh pengertian. “Kakak jadi lupa, kenalin ini teman Kak Dira. Namanya Kak Vano.”

Vano baru tahu saat tadi diceritakan oleh Dira. Informasi yang ia dapat ternyata panti asuhan ini bukan hanya sekadar panti untuk anak-anak yang sudah tidak memiliki orangtua, namun juga bagi penderita kanker dan kelainan jantung. Walaupun mereka sedang sakit keras, namun tidak ada kekhawatiran atau kesakitan yang mereka perlihatkan di wajah mereka. Ibu panti dan beberapa pengurus lain seperti Dira mendidik mereka untuk tidak bersedih atau pun berkecil hati. Hal ini membuat hati Vano terenyuh dan ciut. Ia kalah dengan anak-anak panti itu.

Hari ini Dira pulang malam sekitar jam 8 dari rumah Vano. Karena jarak rumah Vano dan panti cukup dekat, gadis itu memutuskan untuk berjalan kaki. Ia melewati sebuah tokoh baju bermerk saat tatapannya tertuju ke seorang wanita yang sangat familiar untuknya berdiri di depan toko tersebut. Dira menghampirinya.
“Ibu.” Paggil Dira membuat wanita itu menoleh. “Ibu sedang apa di sini?”
“Kamu lihat, gaun malam itu indah ya.” Wanita itu menunjuk ke arah gaun warna biru tua tertutupi kaca tebal. “Pasti harganya mahal, kalau menggunakan gajimu mungkin tidak ada apa-apanya.”
“Kapan Ibu mau pulang?” tanya gadis itu.
“Aku sudah cukup senang dengan kehidupanku, Dira. Jadi, buat apa aku pulang?”
“Tapi masih ada aku, anakmu.”
Suara deru mobil mendekat membuat wanita itu menoleh dan menampilkan senyum yang tadi sempat surut.
“Nah, lihatlah aku sudah dijemput. Take care gadis muda.” Wanita itu berjalan ke arah mobil yang berhenti membuat setetes air jatuh di kedua mata Dira. Gadis itu segera menyeka air matanya saat melihat wanita yang ia panggil Ibu itu berbalik.
“Aku akan pulang setelah kamu mempunyai uang banyak.”
Kata-kata wanita itu membuat Dira mendongakkan kepala.

Tiga bulan telah berlalu. Kini Vano sudah dapat berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda atau kruk. Ini berkat usaha kerasnya, tak lupa terapi rutin yang ia lakukan bersama Dira. Usaha mereka tidak sia-sia.
Pernah suatu hari saat Vano sedang latihan berjalan, Cellin datang ke rumah. Gadis itu menangis dan memohon maaf atas perlakuannya terhadap Vano selama ini. Gadis itu mengatakan kalau saat itu dia sedang kalut, lalu menghindar dari Vano untuk menenangkan diri. Namun semua argumen gadis itu disangkal oleh Vano. Akhirnya dengan tegas Vano memutuskan Cellin. Memang seharusnya begitu. Bukankah suatu hubungan selalu ada timbal baliknya.
Cinta itu bukan hanya di saat mereka senang, namun juga saat duka. Vano kecewa dengan sikap Cellin saat itu. Seharusnya Cellin yang ada di sampingnya saat Vano melewati hari-hari tersulitnya, bukan Dira.

Vano memutuskan untuk bergabung di perusahaan papanya. Dalam hal ini, Dira juga ikut andil di dalamnya. Karena Dira selalu mendorong Vano untuk memikirkannya kembali ketika cowok itu bercerita tentang kehidupannya. Selama ini ia selalu menolak jika papanya meminta untuk bergabung. Karena Vano merasa selama ini sudah cukup banyak uang yang ia gunakan untuk berhura-hura bersama teman-temannya. Cowok itu merasa bersalah, mungkin keputusan ini memang yang terbaik. Pak Ferdy sebagai papa Vano merasa gembira mendengar kabar ini.
Namun akhir-akhir ini Vano kepikiran soal keberadaan gadis itu, mengingat Dira yang tidak berkunjung lagi ke rumahnya setelah Vano dinyatakan benar-benar sembuh oleh dokter. Perbedaan umur mereka yang tidak jauh membuat Vano tidak segan untuk mengobrol masalah pribadinya ke gadis itu. Dira selalu memperhatikannya saat ia bercerita, membuat Vano merasa dihargai. Sering juga gadis itu memberi pendapat atau nasehat untuknya.

Di tempat yang berbeda. Dira sedang menghitung uang tabungannya dan gaji yang ia dapatkan selama bekerja di rumah Vano. Memang tidak sebanyak yang diminta oleh ibunya, tapi setidaknya cukup untuk keperluan ia, ibunya, dan alat tulis untuk anak-anak di panti. Hidup itu harus disyukuri, walaupun pahit adanya. Gadis itu bersyukur masih mempunyai ibu, setidaknya hal ini yang sedikit membedakannya dengan anak-anak panti. Kalau mereka bisa terus tersenyum sepanjang hari, kenapa ia tidak? Penyakit yang ia derita bukan satu alasan untuk membuatnya lemah, karena masih ada seribu alasan lain yang bisa membuatnya semangat.

Siang ini ia berkunjung ke panti sebelum ke rumah sakit. Seperti biasa, ia disambut hangat oleh ibu panti dan teman-teman kecilnya.
“Assalamualaikum, Bunda.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Bunda, ini aku bawa alat tulis untuk anak-anak. Maaf, kemarin-kemarin Dira jarang ke sini.”
“Kamu tidak perlu khawatir dengan kami, Dira. Yang bunda khawatirkan itu justru keadaan kamu. Bunda harap kamu tidak terlalu terforsir dengan pekerjaanmu.” Bunda Rahmi memandang Dira penuh khawatir.
“Bunda percaya Dira, Dira nggak apa-apa. Dira bisa beratahan dengan jantung ini,” Dira mengembangkan senyumnya menenangkan wanita paruh baya itu.

Tidak terasa, malam tahun baru pun tiba. Dira memutuskan untuk menginap di panti. Tidak lupa ia juga mengundang Vano ketika mereka tidak sengaja bertemu di minimarket dekat rumah sakit. Malam itu mereka bersenang-senang dengan kembang api yang tadi mereka beli. Namun saat ia mau mengambil minum, tiba-tiba saja dada kirinya terasa sakit. ini kedua kalinya ia merasakan sakit itu dalam satu hari. Pertama, tadi pagi ketika ibunya kembali pergi dari rumah. Gelas yang ada di tangannya terjatuh, menimbulkan suara pecahan beling.

“Dira! Nadira bangun, nak!” Suara teriakan bunda Rahmi menghentikan keramaian yang ada di halaman depan. Semua orang berlari ke dalam dengan panik.
Vano berada tepat di hadapan bunda Rahmi yang sedang memangku kepala Dira dengan air mata yang sudah menganak sungai di kedua pipinya.
“Bunda, Dira kenapa?” tanya Vano khawatir. Karena tidak juga ada jawaban, akhirnya dengan segera ia menggendong Dira. “Kita ke rumah sakit sekarang.” Untungnya tadi ia memutuskan untuk membawa mobil.
Sedangkan bunda Rahmi menenangkan anak-anak asuhnya, menitipkannya ke pengurus yang lain. “Ayu, bunda titip mereka ya. Bunda mau ke rumah sakit.” Ayu hanya mengiyakan, lalu menyurh anak-anak untuk mendoakan kesembuhan Dira.

Suara derap langkah memecah keheningan di sepanjang koridor RS Setia Budi. Suara langkah itu semakin mendekat, Vano dan bunda Rahmi menoleh. Dengan nafas yang masih tersengal, wanita paruh baya itu menghampiri keduanya yang masih terduduk di ruang tunggu.
“Rahmi, bagaimana keadaan Dira?” tanyanya sedikit terburu.
“Kata Dokter, Dira membutuhkan donor jantung segera. Karena jantungnya sudah mengalami kerusakan parah.” Bunda Rahmi menjelaskannya dengan suara paraunya.
Seketika tubuh Rena -Ibu Dira- lemas, ia terduduk di kursi. Walaupun ia tahu bahwa anaknya menderita sakit jantung sejak lima tahun yang lalu, ia tidak mengira kalau sakit yang diderita anaknya itu sudah separah ini.
“Bunda sama tante tidak usah khawatir, barusan saya sudah menghubungi beberapa kenalan untuk mencari tahu jantung yang tepat buat Dira.” Vano menenangkan kedua wanita itu, walaupun dia sendiri juga khawatir dengan keadaan Dira. Keduanya merasa tidak mampu mengucapkan apa-apa selain kata terima kasih. Untungnya ada Vano yang bisa menolong mereka.

Keesokan harinya, Vano membawa kabar gembira, papanya bersedia membantu biaya operasi transplantasi jantung Dira. Pak Ferdy menyarankan Dira untuk dibawa ke Singapura. Karena penjualan organ dalam di Indonesia sudah dilarang keras oleh pemerintah.
Bunda Rahmi dan Bu Rena sangat gembira mendengar kabar ini. Akhirnya malam ini juga Dira dibawa ke Singapura bersama dengan bu Rena dan Vano.

Dua tahun kemudian. Dira yang berhasil menjalani transplantasi jantungnya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Terlebih kembalinya ibu Dira ke rumah. Seperti tidak ada hal lain yang mampu membuatnya merasa senang dan bahagia. Dengan uang tabungan dan juga bantuan dari Vano, ibu Dira bisa membuka usaha catering. Saat ibunya meminta maaf soal kelakuannya, Dira meyakinkan kalau itu hanyalah masa lalu. Ia sudah memaafkannya dari jauh hari. Kini saatnya mereka untuk menatap masa depan yang cerah. Tapi bukan untuk menghapus masa lalu, karena masa lalu tidak dapat dihapus melainkan menjadikannya sebagai sebuah pelajaran dan tidak mengulanginya.

Usaha catering ibu Dira kini sudah berkembang cukup pesat. Beliau sudah mempunyai rewangterkadang bunda Rahmi juga anak-anak panti membantu Bu Rena. Hubungan Dira dan Vano juga sudah mulai memasuki jenjang yang lebih tinggi. Beberapa minggu yang lalu, Vano dan kedua orangtuanya berkunjung ke kediaman Dira. Kedatangan mereka bermaksud untuk meminang Dira menjadi istri Vano. Lamaran tersebut diterima oleh ibu Dira, karena sejak awal pertemuan Dira menjadi pendiam. Berbeda dengan Dira sebelumnya yang cenderung banyak ngomong.

Sore itu hujan baru saja berhenti, meninggalkan rintik-rintik air yang jatuh dari atas genting dan daun pepohonan. Jalanan sepi tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Di sebuah bukit yang terdapat pepohonan rindang, duduklah dua anak manusia yang sedang menikmati pemandangan sore itu. Keduanya memandang ke arah langit, samar-samar terlihat sebuah pelangi yang terbentang di sana.

“Nadira, kamu lihat pelangi itu kan?” tunjuk Vano menunjuk ke langit.
“Iya, Van. Pelanginya indah ya,” gadis itu tersenyum.
“Sekarang aku percaya, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Begitu juga dengan masalah yang kita hadapi selama ini. Kita tidak akan pernah tahu rahasia di balik kekuasaan Allah SWT. Tapi seberat apa pun masalah kita, kita pasti bisa melewatinya.” Jelas Vano.
“Dan itu seperti pelangi yang muncul setelah hujan reda, indah pada akhirnya.” Lanjut Dira menoleh ke arah Vano.
Vano mendekatkan tubuhnya ke arah Dira, ia mngecup kening Dira. “Terima kasih istriku, karena kamu, sekarang aku bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda.”

Tuhan menciptakan makhluk-Nya selalu berpasangan, seperti pagi dan malam, laki-laki dan perempuan. Tuhan memberikan cobaan untuk semua makhluknya terutama manusia dengan penyelesaiannya juga. Masalah yang dihadapi sebagai wujud pendewasaan diri.

TAMAT

Cerpen Karangan: Hikmah Resti U.
Blog: restimaginstory.blogspot.com

Cerpen Pelangi yang Tenggelam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Canda Dalam Tangis

Oleh:
Perlahan kubuka lembar buku usang, dengan hiasan debu dan sedikit ukiran dari hewan yang sedikit menggerogoti halaman sampul buku itu. Dalam kenangan masa lalu, ingatan serasa terbuka kembali dikala

Hantu

Oleh:
Hari itu, ku pacu kuda besiku. Hingar bingar kemacetan mengguyur deras, bersama hujan. Sukabumi menuju Bogor, tak ku surutkan langkah ini. Walau mesti aku tempuh dalam hitungan jam yang

Siti Nurbaya Metropolitan

Oleh:
“Plis, Ma, Pa,” rengek perempuan itu sambil melirik kedua orangtuanya secara bergantian, “Kalila bukan hidup di zaman Siti Nurbaya!” katanya sambil bangkit dari meja makan, meninggalkan kedua orangtuanya yang

Siapa Yang Salah

Oleh:
Alexandrio Pareda. Cowok bermarga pareda dan merupakan murid pindahan dari Manado. Tak banyak yang kutau awalnya. Awalnya yang kuketahui dia merupakan penghuni kelas IPA di sebelah kelas sedangkan aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *