Pelangi


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 6 February 2013

“alama…” Hening sejenak. Menyebalkan banget sih adik kelas ini. Emangnya dia nggak punya mata apa? bisa – bisanya bola yang dia tendang mengenai mukaku. huh… mukaku bonyok dehh ditambah hidungku yang pesek tambah pesek (*_*)! tapi jangan dulu. Rasa – rasanya aku tadi lagi duduk di taman dehh kenapa malah ada di tengah – tengah lapangan ( ^>^)?
“aduh…! siapa yang berani melakukan. Ayo, ngaku?” teriakku keras dengan tatapan tajam kepada semua adik kelas yang berada di lapangan sambil memegang mukaku yang bengkah.
“aku kak! Emangnya kenapa?” jawabnya dan jalan menujuku dengan sok nggak bersalah.
“hei dek! Punya mata nggak sih kamu, emang matamu dimana? dasar adik kelas sinting” ucapku dengan lancar dan suara yang keras karena sebelku sama adik kelas ini yang sudah berada di hadapanku. Emangnya aku tembok apa? Gaduh dan semua orang yang berada di lapangan maupun sekitar lapangan menuju ke kami berdua karena penasaran apa yang terjadi.
“salah kakak sendiri tuh! Dasar kakak kelas gila. Siapa suruh kakak disini. Nggak lihat! Kami semua ini lagi main bola dan entah kenapa kakak langsung saja berada di tengah lapangan” gumamnya kesal dengan kaki yang dihentakkan.

Bisa kulihat semua orang memperhatikanku dengan tatapan keanehan dan menertawaiku. Dan saat itu mataku menangkap sosok sahabatku yang berada di kerumunan orang-orang yang memperhatikanku dan dia memberi kode padaku agar aku menghentikan semuanya. Tapi aku sangat kesal banget sama nih anak jadi aku tak mengikuti apa yang dikatakannya.
Rasanya ku malu banget dehh, Tapi apa dia mines nggak lihat aku disini. Gila nih anak. Mau mati apa? Rasanya ingin ku pukul anak ini! Beruntunglah karena dia ada di sekolah sekarang. Aku tak maulah masuk BK? terlalu memalukan bagi cewek yang imut sepertiku masuk BK (hihihi… emangnya aku imut apa)

“huh…! walau gitu apa kamu nggak punya mata apa? Baru anak baru lagaknya bagaikan anak yang sudah lama sekolah disini!” ucapku dan itu memang benar dia adalah anak baru yang baru sekolah di selama 1 minggu walau gitu aku tidak tahu namanya.
“hei kak! Kakak sendiri yang salah. Dasar kakak kelas aneh. Tubuhnya ada disini tapi rohnya hilang entah kemana” tertawa dia sambil mengejekku
“what?” Ku sangat kesal sampai ubun–ubun. Huh… aku sudah tidak tahan dengan anak ini. Saat hendak ingin kutendang kakinya..! malah ada pak Abdul dibelakang kerumunan orang-orang yang memperhatikan kami berdua.
“ada apa ini? Semuanya kembali ke kelas” ucap pak Abdul dan sigap semuanya yang mendengar itu berbalik kebelakang.
“ada apa? Cepat kembali ke kelas dan kalian berdua tetap disitu” ucapnya, maka semuanya berhamburan kembali ke kelas dan aku sama adik kelasku itu tetap disini.
“hei..! ini semuanya karena kamu. Sungguh menyebalkan” ucapku geram padanya.
“aishh! Kakak tuh”
“kamu..” kataku
“kakak tuh”
“ada apa dengan kalian berdua” nyerumbuk pak Abdul ikut dalam debakku bersama dia
“dia tuh pak. Lihat nih pak?” ucapku sambil menunjuk – nunjuk mukaku dan lanjut berkata “mukaku bengkak karena bola yang dia tendang mengenai mukaku! Sakit banget tau pak”
“benarkah itu Dino Anugrah Armansyah?” tanyanya pada Dino. Ohwww jadi namanya Dino *_* astaga, Saat itu aku beradu pandang dengannya. Aku merasa tidak asing dengan Dino. Aku kayak pernah bertemu dengannya tapi aku tidak tahu kapan. Apa mungkin hanya perasaanku ajah yah! Entahlah (%_%) dan aku baru sadar mukanya di atas rata–rata dengan kulit yang putih, bibir seksi, hidung yang mancung lalu manis lagi… aduhh keren banget nih Dino tapi itu tak dapat mengalahkan kekesalanku sama Risal

“iy, itu benar pak. Tapi akukan tidak sengaja dan juga itukan salahnya sendiri berdiri di tengah–tengah lapangan dan waktu itu aku bersama teman–temanku sedang main bola” jelasnya kepada pak Abdul dan balik ke aku dengan tatapan kesal.
“Lias..! Dino kan nggak sengaja. Jadi maafin ajah yah nak” dengan senyumnya yang selalu membuatku terhunyut. Entah kenapa setiap pak Abdul tersenyum aku sangat senang sekali.
“tapi pak..!”
“maafkan saja nak. Diakan nggak sengaja. Sekarang kalian berdua bersalaman” mintanya pada aku dan Dino.
“maaf pak. Bukannya aku nggak mau tapi dia bukan muhrimku! tapi aku maafin kok pak” tolakku dengan halus dan Saat ku katakan itu alis kanan Dino naik dan menatapku dengan keanehan.
“o iya yah nak. Jadi kalian sudah baikan kan. Sekarang kalian pergi ke kelas masing–masing” suruh pak Abdul pada kami berdua maka kamipun kembali ke kelas masing–masing.

Aku menuju ke kelasku dan ku lihat Dino mengekor di belakang. aku sadar itu karena kelasnya berada di belakang kelasku.
“Dino, maafkan aku yah soal tadi!” ku hentikan langka kakiku dan berbalik ke belakang.
“nggak apa–apa kak. Itu juga salahku. Aku juga minta maaf yah kak!”
“iya..!”

Semenjak itu, aku sama Dino jadi agak dekat sampe – sampe banyak teman – temanku bilang bahwa aku punya hubungan istemewa dengan Risal. Tapi aku tidak menggubris itu karena aku sadar siapa aku. Aku mempunyai wajah yang tidak begitu begitu cantik, tapi aku masih bersyukur dengan wajah yang kumiliki. aku sadar kalo nggak mungkin Dino menyukaiku dan juga aku nggak menyukainya karena aku hanya mencintai Doni.

Sekarang, ku bersama Dino lagi menuju ke perpustakaan untuk meminjam buku. Sebenarnya sih aku hanya sendiri ke sana tapi, Dino mau menemaniku jadi fine ajahlah.
“emangnya kak Rias mau pinjam buku apa?” tanyanya sambil jalan
“aku mau pinjam buku bertema agama” jawabku sambil mengaduk–aduk kantong rokku. Dino yang melihatku sibuk mengotak–atik kantong rokku bertanya lagi padaku
“ada apa kak?” tanyanya padaku
“kalungku hilang. Ehkkk..! gimana ini” aku menitikkan air mata.
entah kenapa mungkin karena kalung itu mempunyai bekas kenangan indah jadi aku menitikkan air mata dan juga kalung itu permberian kado sahabat kecilku.

“kakak! Apa karena kalung itu?”
“Iya.. benda dari sahabat kecilku!”
“ini kak!” mengambil tissu dari celananya dan memberikanku sebuah tissu! ku kasih keluar ingusuku dengan suara nyrot… nyrot…! bisa ku rasa bahwa Dino cekikan menahan tawa melihatku.
“jangan tertawain aku! Huh…!” geramku pada Risal dengan tangan dipinggang. Hihihi… apakah aku ketahuan yah kalo aku lagi bercanda (^<^) “hihihi…! kakak lucu banget deh. Ekting kakak kurang bagus tuhh” ucapnya sambil tertawa “kau itu. Udahlah! Temani aku cari kalungku itu” mintaku sambil berjalan aku menceritakan tentang sahabat kecilku. “Doni itu sahabat kecilku. Saat aku berumur 5 tahun, aku sangat dekat sekali dengan Doni. Aku bertemu dengannya tanpa sengaja di sungai yang tidak jauh dari rumahku. Aku dengan dia sama–sama suka melihat pelangi dan disitulah mulai pertemanan kami. Tetapi pertemanan ku bersama dia hanya selama 2 tahun karena dia mau pindah bersama orang tuanya ke Jakarta dan saat kepergiannya dia memberiku kalung untuk ku jaga dan sebagai kenangan. Saat dia mengatakan itu padaku, aku tak henti–hentinya menangis karena dia akan meninggalkanku. Pernah Doni meberitahuku bahwa dia mempunyai saudara kembar, tapi aku tidak pernah melihatnya. ” Ceritaku padanya. “kak! Siapa nama panjang Doni?” tanyanya padaku “hm.. Doni Anugrah Armansyah” ucapku enteng tetapi ku rasa nama itu tidak asing bagiku “ohwww…!” ucapnya dan meminta maaf padaku karena dia tidak bisa menemani mencari kalungnya karena katanya dia baru ingat bahwa dia lagi ada remedial B. Indonesia. Aku merasa ada yang aneh dari Doni. Apa sebenarnya yang terjadi! sambil berjalan kak Aris menceritakan tentang sahabat kecilnya. “Dino itu sahabat kecilku. Saat aku berumur 5 tahun, aku sangat dekat sekali dengan Dino. Aku bertemu dengannya tanpa sengaja di sungai yang tidak jauh dari rumahku. Aku dengan dia sama–sama suka melihat pelangi dan disitulah mulai pertemanan kami. Tetapi pertemanan ku bersama dia hanya selama 2 tahun karena dia mau pindah bersama orang tuanya ke Jakarta dan saat kepergiannya dia memberiku kalung untuk ku jaga dan sebagai kenangan. Saat dia mengatakan itu padaku, aku tak henti–hentinya menangis karena dia akan meninggalkanku. Pernah Dino memberitahuku bahwa dia mempunyai saudara kembar, tapi aku tidak pernah melihatnya. ” Ceritanya padaku. “kak! Siapa nama panjang Doni?” tanyaku “hm.. Doni Anugrah Armansyah” ucapnya enteng. “ohwww…!” ucapku dan meminta maaf padanya karena aku tidak bisa menemani mencari kalungnya bahwa aku lupa hari ini ku lagi ada remedial B. Indonesia maka akupun meninggalkannya (kataku berbohong pada kak Rias) Aku tak tega melihat kak Rias begitu. Ingin ku ceritakan pada kak Rias kalo aku itu saudara kembar Doni. Tapi aku tak tega melihatnya. Aku tak mau melihatnya menangis! Aku sungguh sangat menyanyanginya. Sebenarnya itulah penyebab aku pindah sekolah ke sini untuk mencari cinta pertama kak Doni. Saat pertemuan pertama kali ku sama kak Rias aku sudah tahu kalau dia Cinta pertama kakakku tapi aku bepura–pura nggak kenal. Kak Doni lebih duluan pulang karena penyakit gagar otak sejak bayi dan itulah sebenarnya penyebab kami pindah ke Jakarta untuk mencari rumah sakit besar di sana untuk perawatan kakak tetapi kak Doni sudah duluan di ambil oleh Allah SWt. Waktu detik–detik hembusan nafas terakhir kak Doni menyuruhku untuk memberi surat ini kepada Rias yang sudah kusimpan lebih 5 tahun. Tapi, gimana ini! aku malah menyukai kak Rias? Apa kakak nggak marah sama aku yah! Kak maafin aku yah, karena aku malah menyukainya. Mungkin lebih baik aku harus memberitahu Kak Rias. Aku tak mau kak Rias lebih tahu duluan… Keesokan harinya, saat aku kelur main aku menuju ke kelas 8E dimana Dino berada dan untuk memberitahukannya bahwa aku sudah menemukan kalungku itu. Aku sangat senang sekali, karena aku bisa menemukannya. “Dinonya mana?” tanyaku pada temannya yang lagi memegang beberapa kertas di depan pintu. Mungkin itu kumpulan kertas akta keluarga teman–teman Dino. “Dinonya lagi ke kantin kak” ucapnya dan tak sengaja dia menjatuhkan beberapa kertas itu dan akupun membantunya mengambil beberapa kertas di atas lantai. Saat ku membantunya mengambil itu, aku menemukan akta keluarga Dino maka akupun membacanya karena sudah lama aku penasaran siapa dirinya sebenarnya! Dan tak ku sangka, aku menemukan nama Doni Armanda Armansyah. Dugg… jantungku berdetak tak menentu. Dino ternyata saudara kembar Doni, pantasan saat pertama kali ku melihatnya aku merasa tidak asing dengan dia tetapi kenapa dia tidak memberitahu sebelumnya yah dan saat kejadian itu aku baru sadar bahwa Dino sudah lama memperhatikanku. “Dino..! kamu saudara kembarnya Doni yah? Kenapa kamu tidak bilang sama aku sebelumnya?” ucapku terbata – terbata “iya kak. maaf aku belum mengatakan sebelumnya. Aku tak mau membuat kakak menangis” gumamnya “apa maksud Dino? Dimana sekarang Doni?” tanyaku “Donnnii sudah tiada kak.!” katanya dan air mataku berjatuhan terus menerus. “apa yang kamu katakan? Kamu bohong kan” ucapku tak percaya “kak itu benar. Doni sudah tiada. Dia meninggal karena penyakit gagar otak sejak lahir.” Sambil memegang pundakku Aku menitikkan air mata . Rasanya ini bagaikan mimpi buruk bagiku, kenapa ini bisa terjadi. Aku selalu berharap sampai sekarang bahwa dia akan datang tapi itu hanya ilusi semata. “Kak.! ini surat dari kak Doni untuk kakak. Dia menyuruhku memberikan pada kakak” katanya dan melepaskan tangannya dari pundakku dan memberikan surat itu. Untuk Rias, Pelangiku. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu. Kamu tahu? Dari semua bintang langit hanya kamu satu–satunya bintangku yang paling ku sayang. Aku sangat mencintaimu Rias!kamu adalah pelangi bagiku. Tetapi takdir tetaplah takdir, Allah sudah memanggilku maka aku harus meninggalkanmu. Rias ! maafkan aku, aku yakin kamu bisa dapatkan orang yang lebih baik dari aku? Pelangiku tersayang…! good bye… Aku rasanya mati hampa, aku tidak apa lagi yang harus ku katakan. Tanganku gemetaran setelah membaca itu. Aku rasa tidak siap dengan ini. Air mataku berjatuhan terus menerus, Doni coba menghiburku tapi itu tidak membuahkan apa – apa, tetap saja ku menangis. “kak Rias, berhentilah menangis. Nanti kak Dino ikut menangis juga lagi!” ucapnya menghibur tetapi aku tetap saja menangis dan lebih deras lagi. Aku pun berlari entah kemana dan meninggalkan Doni. Dari belakang ku lihat Doni tidak mengejarku, mungkin dia mengerti bahwa aku perlu berpikir. 1 bulan kemudian akupun mulai bisa melupakannya sedikit demi sedikit karena Dino yang sering menghiburku dan makin lama ada tumbuh rasa suka aku sama Doni. Dan kukira cintakku itu bertepuk sebelah tangan malah ternyata Doni sudah lama menyukaiku. SELESAI Cerpen Karangan: Nur Faida Facebook: faida idha namaku faida. anak kelas IX B dI SMP NEG.2 MAROS

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Pelangi”

  1. Secret* says:

    bingunin crpennya .-. namanya gonta ganti .. masa yg cewe pertama namanya LIAS yg kedua RIAS ‘-’
    terus yg laki yg main bola nama pertama Dino terus yg kedua doni. Juga yg meninggal nama pertama Doni terus yg kedua Dino ’3′ bingung ..
    ok thx cerpennya .. ganbatte!!

Leave a Reply