Pelesiran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 July 2014

Tak ada yang membahagiakan Asih selain terus bersama dengan Arifin. Lelaki yang ia idam-idamkan. Hatinya berbunga, melambung, seakan semua kayalannya sempurna nyata. Ketika Asih merajuk manja, memohon tanpa berniat Arifin memenuhi. Bahkan hanya gurauan belaka. Tetapi leleki itu mengajaknya berplesiran ke Telaga Sarangan. Meskipun hati kecil Arifin sendiri juga tidak menentu.

Jalan meliuk, menanjak lalu turun samping kiri dan kanannya tebing terjal. Arifin memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang, licin, berkabut, hujan gerimis tiba-tiba. Motor keluaran Jepang yang dikendarai menepi, mengambil jas hujan dan mengenakan. Tanpa menghiraukan titik-titik air turun, Asih berpegangan erat di pinggang lelaki itu. Tiba-tiba konvoi sepeda motor dengan memakai jaket yang sama menyalipnya. Mungkin perkumpulan bikers sedang beraksi di jalanan.

Hampir dua jam lebih mengendari motor. Girang hati Asih Telaga Sarangan mulai terlihat. Lelaki itu tak mempedulikan Asih. Ia masih konsentrasi dengan jalanan, meskipun hatinya sedikit lega. Arifin memarkir kendaraanya sebelum memasuki area tempat wisata. Kabut menyelimuti. Jarak pandang terbatas. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Matahari masih samar dan enggan menyapa.

Pemuda-pemudia itu menyusuri jalan setapak, setelah sebelumnya membeli tiket masuk. Sepanjang jalan bergandengan mesra. Tanpa ada kata terucap. Orang yang melihat bisa menebak keduanya pasti sedang kasmaran. Bau sate kelinci menyeruak. Tak tahan lagi Asih mengajak berhenti sejenak. Arifin hanya menuruti kemauannya. Entah, lelaki itu banyak terdiam. Tak banyak bicara seperti biasanya. Memikirkan apa, Asih tidak mengetahui. Bahkan, dengan sengaja gadis berrambut sebahu itu merayu dan meminta perhatiannya. Tetapi, tetap saja tak ia hiraukan. Seakan Arifin berjalan tanpa kehendaknya sendiri. banyak melamun dan galau.

Ia duduk di bawah pohon besar, pedagang sate menyediakan tikar-tikar menghadap telaga. Nampaknya pedagang itu tahu betul akan kebutuhan pelangan, memfasilitasi tanpa meminta bayaran lebih. Bapak separuh baya membawa pesanan. Sate kelinci yang masih mengepul, ditambah bumbu kacang tanah, sedikit kecap manis, keduanya menyantap.
“Mas, kenapa dari tadi diam saja?” Asih menatap lelaki yang duduk di sampingnya sambil menatap tanpa berkedip ke arah telaga.
“Aku ingin bersama terus seperti ini,” Arifin merajuk manja sambil mengerlingkan matanya, menatap lembut Afika.
Afika hanya melirik tanpa mengucapkan sepatah kata. Berjalan mendahuluinya. Berlagak tak mengenalnya. Sambil pura-pura menjajakan minuman. Arifin berlaku seperti pembeli, melakukan tawar menawar harga. Keduanya lalu tertawa. Wanita itu berlari dan lelaki itu mengejarnya. Setelah berhasil menangkapnya, memegang erat tangannya.
“Awas jangan lari, akan merepotkan aku kalau kamu berulah.”
Afika merona, ingin melepaskan gengaman tangannya. Namun tetap saja Arifin memeganya tanpa sedikitpun memberi kesempatan untuk lepas.
“Mas, kenapa melamun? Masih memikirkan wanita itu!”
Arifin kaget. Ketika tiba-tiba pertanyaan Asih mengaburkan kenangan bersama Afika, “Enggak, aku hanya capek saja, ada apa?”
Pintarnya lelaki itu menutupi kegalauan. Meskipun hatinya bersama Asih namun hati dan perasaan masih dibayangi Afika. Ia teringat ketika Arifin mempunyai motor baru, dia lah yang diajak menjajal kemampuannya berkendaraan.
“Ada apa, mau nambah lagi satenya, kalau udah kita memutari telaga dan naik motorboat itu?” tanya Arifin pada gadis itu untuk mencairkan suasana dan menutupi kegalauan. Serta sejenak mengalihakan pikiran yang mengembara ke masa lalunya.
Asih nampak girang, memilih mengitari telaga sambil berceloteh panjang lebar. Sambil menikmati sejuknya udara telaga. Tepat siang hari, matahari sepenggal kepala. Hawa dingin sedikit mulai menghangat.

Lalu lalang penikmat wisata alam mulai berdatangan. Hari itu kebetulan libur sekolah. Pemuda-pemudi bergerombol menikmati pemandangan alam. Sesekali mengabadikan dengan kamera saku atau ponsel dengan bergaya seperti artis sinetron.

Dua jam tak terasa. Setelah puas menikmati udara alam terbuka, Arifin beranjak menuju parkiran motor, kembali melaju ke desanya. Lagi-lagi tak banyak pembicaraan selanjutnya. Keduanya berkelana dalam alam pikirannya masing-masing.
Namun, bagi Asih mempunyai kegalauan akan sikap Arifin. Sehingga ia mempunyai pemikiran tersendiri. Kebencian pada Afika semakin menjadi. Ia cemburu.
“Tak mudah aku menarik simpati lelaki yang bersamaku ini mencintaiku sepenuh hati. Tetapi lihatlah aku akan memenangkan ini.” Desah Asih.
“Mas, mampir beli sayuran untuk oleh-oleh simbok di rumah, ya.”

Arifin menghentikan sepeda motornya di tepi jalan. Ketika melihat penduduk memanen brokoli, kubis juga lobak. Asih berjalan mendekati petani itu. Arifin hanya melihat dari kejauhan. Setelah selesai gadis itu menenteng tas pastik warna hitam dengan senyum mengembang. Lelaki itu mengaitkan dengan tali rapi agar tak lepas ketika motornya melaju dengan kecepatan tertentu.

Adzan magrib keduanya sampai. Ketika tetangga beranjak menuju mushola. Saling pandang dan berbisik saat melihat keduanya berboncengan dengan jaket tebal. Sepintas Arifin memperhatikan dari balik kaca spion. Lelaki itu mulai tak menghiraukan kasak kusuk tetangga saat berjalan seharian bersama seorang gadis.

Cerpen Karangan: Tee tee
Blog: http://etnikk.blogspot.com

Cerpen Pelesiran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku dan Kamu Satu

Oleh:
Aku membuka pintu rumah kontrakanku yang diketuk dari luar. “Selamat ulang tahun, maaf terlambat.” Kata seseorang yang berada di hadapanku seraya menyerahkan kado yang dibawanya. Aku terkejut, mematung sesaat,

Hmm…

Oleh:
Terpaku membisu dalam keheningan malam, ingin rasanya ku menjerit dalam kesunyian, namun apa daya. Untuk apa ku menjerit dalam kesunyian, tak akan ada pula yang dapat mendengar jeritanku meski

Separuh Jiwaku Kembali

Oleh:
Harum semerbak bunga-bunga yang bermekaran di taman depan kamarku membangunkanku dari mimpi, entah mimpi indah ataukah mimpi buruk, yang jelas aku sudah lupa dengan semua itu. Kulangkahkan kaki mendekati

PSPH (Part 2)

Oleh:
“Bos!” “Napa Ga?” “Lu belum denger ya?” “Belum, apaan?” “Si Reza, katanya dia malming kemaren jalan bareng sama Tiara.” “Tiara kelas 11 IPS-3?” sahut Acuy yang baru saja tiba

Aku Merindukannya

Oleh:
Silih berganti, datang dan pergi. Hari demi hari, ada saja yang datang dan pergi. Namun mereka tak berarti apapun, semuanya tetap sama walau ada yang datang dan pergi. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *