Pemilik Tatapan Teduh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 30 March 2014

Belaian mentari sopan menyentuh pagiku hari ini, di balik sejuknya embun pagi jiwa ini terasa enggan meninggalkan sayup pilu angin yang menghalau pori-pori nafasku. Sontak aku ingat pagi ini aku harus menghadiri suatu acara di kampus yang kelak menjadi tempatku menggali ilmu selama tiga tahun lamanya. Acara yang digelar untuk para mahasiswa baru seperti aku, bisa aku bayangkan seperti apa acara tersebut pastinya akan banyak wajah-wajah baru yang akan ku temui di sana.

Jarum waktu telah beralih ke angka 08.00 wib tepat, dan benar saja wajah-wajah baru itu semua berkumpul dalam satu ruangan. Aku benar-benar merasa asing disini meski ada beberapa orang yang aku kenal sebelumnya karena pernah satu sekolah tapi tetap saja rasa malu dan canggung ku tak lantas membuatku merasa nyaman.

Tiba saatnya para senior yang menghandle acara memainkan perannya membuat suasana menjadi lebih hidup. Hingga salah satu dari para senior tersebut memberi sambutannya dengan rapi ku perhatikan detik-detik saat ia mengurai kalimat demi kalimat pidatonya. Sesosok makhluk berwajah sendu telah mencuri perhatianku, siapakah dia?

Sesaat aku tertegun
Melihat anggun bayang mu
Memaku jiwa laraku
Yang kaku dan beku
Secuil rindu merayu
Membungkam sudut kalbu
Duhai…
Engganlah ku berlalu
Terjerat teduh pandangan mu

Detik-detik waktu menyulam rindu, membawaku dalam buaian mimpi tentang mu. Ah.. ilusi! sosok itu, mulai merampas pilu yang selama ini bersarang dalam jiwaku. Ku luapkan segala jerat pilu yang merajam jiwa dan ragaku, aku mampu ya aku mampu untuk berlalu dari gusaran waktu yang membelenggu. Karena kebahagian adalah HAK ku!

Satu demi satu ku rangkai asa yang beku, agar kau tau betapa dalamnya HARAPAN ku yang mungkin akan menjadi abu tak tersentuh oleh mu RINDU. Gusaran waktu telah berputar dengan merdu, tiba saatnya hari yang ku tunggu. Terik matahari angkuh menghujam ku, begitu lelah dan panasss hari itu. Seambrek aktivitas menyambut ku, wajar saja karena itu adalah syarat agar aku dan para mahasiswa lain diterima di perguruan ini. Dimulai saat sang surya bangun dari perduannya hingga senja menutup malam kagiatan demi kegiatan baru berakhir, lelah sangat jangan ditanya aku malas menjawabnya.

Di hari-hari selanjutnya tak jauh berbeda, aku harus berhadapan dengan angkuhnya matahari di siang bolong, bisa dibayangkan betapa gosongnya aku hikz hikz… derai keringat dan letih menjadi satu. Di tengah keletihan dan kehausan yang mencekik ku, ada satu moment yang selalu aku tunggu. Saat aku melihat sosok itu berdiri tak jauh dari pandanganku, dan sesekali berlalu lalang di antara barisan Mahasiswa baru. Aku menikmati saat-saat itu!

Hari ini adalah hari yang istimewa bagiku, melelehnya hati yang bernafaskan cinta menghambakan ku pada satu rasa yang ku tak tau apa itu. Bila saja Tuhan mengijinkan, aku ingin menorehkan setitik warna pelangi di hati insan yang di ridhoi-Nya. Tapi apakah ini akan nyata atau hanya khayalan ku belaka? Sesaat aku BAHAGIA seperti bahagianya senja menutup malam. Indah bukan..? Sesosok makhluk dari jenis Adam tlah merampas kesedihan yang mendekapku selama ini, siapakah dia…?

Aku melihat Oase
Di tengah kejamnya
Sinar matahari
SubhanAllah..
Maha suci Allah
Melimpahkan segala karunia-Nya

Dialah Oase bagiku yang haus akan ketulusan yang ikhlas, hanya rasa bahagia, bahagia dan bahagia yang ku kenal sejak mata ini bertemu dengan tatapan yang meneduhkan itu.

Hati ini berdesir
Dengan nada yang syahdu
Seluruh darahku
Meluncur dengan bahagia
Melalui pembulu darah di sekujur tubuhku
Irama nafasku
Mengalun bersama guratan senyum
Yang kau urai
Dan mata ini seakan enggan berkedip
Untuk keindahan yang tak ingin aku lewati
Berlalu dan pergi

Aah.. debaran ini nakal menggelitik kalbu hingga aku malu pada dahan yang bergoyang dikala hembusan angin datang. Bilamana aku telah terpedaya oleh indahnya dunia, maafkanlah Tuhan aku yakin Kau lebih tau dari kebodohanku.

Lembar berikutnya, di hari yang berbeda itulah dia yang ku nanti saat matahari bangun hingga senja merona di atap langit cinta. Ada secerca semangat yang tumbuh dengan subur di jiwaku bila ku temukan sosok yang tenang dan acuh itu. Semangat baru..!!

Untuk sekejap
Jiwa ini bernyanyi
Seperti tetesan hujan
Menyentuh bumi

Setelah beberapa hari berlalu inilah ujung dari segala aktivatas ku sebagai Mahasiswa baru, semua bersorak gembira saat panitia mengumumkan berakhirnya seluruh kagiatan itu. Di antara riuh sorak gembira para maba ku alihkan pandangan ini kepada objek yang enggan aku melewatinya, objek yang membuatku betah berlama-lama tersengat matahari saat kagiatan baris berbaris di tengah lapangan. Objek yang menggelayuti simpul hati ini.

Kedipan rasa ku berdesir
Berlayar mengarungi samudera cintaku
Aku ingin tenggelam di dalamnya
Meski semu dan ragu
Aku tak ingin berlalu
Bilakah cinta mau menyentuhku
Inilah kesungguhan hati ku
Untuk mu, selalu..

Satu persatu wajah-wajah asing itu berlalu meninggalkan kampus, dengan menenteng tas dan segala aksesoris selama ospek jelas tergambar perasaan lega bertabur gembira akhirnya ospek itu pun berujung. Kemudian Langkah ku terhenti, sosok itu berdiri tak jauh dari ku merasa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan aku pun membujuk sahabatku untuk mau mengambil gambar ku bersama dia. Dengan perasaan canggung bercampur malu, ku beranikan diri ini mendekatinya.
“Maaf kak.. boleh saya minta fotonya?” ucapku kepadanya.
Tanpa basa basi ia pun mengiyakan permintaanku itu “Oow.. iya” gumamnya.
“Terimakasih kak,” lirihku.
“Iyaaa..” sahutnya.

Aku pun berlalu darinya, dengan gumpalan rasa yang menyeruak ke permukaan hati ku. Aku bahagia Tuhan, aku tak percaya aku bisa sedekat ini dengannya, bahkan foto bersama sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Ku pandangi foto itu lekat-lekat seraya bergumam “aku menyukai mu kak” namun lantas aku sadar ini hanya hayalanku semata, maafkan aku Tuhan!

Mahabbah…
Kini menjelma dalam tinta rasaku
Menjamah sudut hatiku
Meluruhkan seluruh butiran asa yang keluh..

Sejak saat itu, aku selalu menyempatkan waktu untuk sekedar melihat fotonya. Entah apa yang ada dipikiranku yang aku tau aku bahagia layaknya pelangi di ujung senja berhias mega jingga. Malam merangkai kisahnya bersama bintang-bintang dan menuangkannya ke dalam pagi berteman mentari.

Hari bergulir merangkum detak waktu, pagi ini adalah hari pertamaku sebagai mahasiswi predikat yang kini ku sanding. Selalu ada semangat tiap pagi yang ku urai dalam bait-bait puisi cintaku tentunya tak lain dan tak bukan karena dia, si pemilik tatapan teduh itu. Tak jarang aku bertemu dengannya di sela-sela jam kuliahku, bahkan saat berada di rumah Allah pun mata ini tak sengaja terarah kepadanya. Butir-butir air wudlu yang mengalir dengan ramah di cela pori-pori wajahnya melukiskan kesejukkan dalam ketenangan jiwanya, sujud demi sujud yang ia bangun merautkan keimanannya yang rindang di hidupnya. Sungguh tak mampu aku menahan pandanganku, karena aku selalu menikmati tiap detik saat sosok itu tertangkap oleh mata ini.

Debaran rasa..
Menyudutkan ku pada satu raga
Yang indah bak langit senja merona
Sedetik..
Dua detik..
Aku tak mampu berkutik
Terpaku pada satu titik
Hingga rindu menggelitik

Hari ini aku tak menemukan mu, Sepekan kau menghilang tanpa sekilas bayangan pun tak pernah tertangkap mataku, dimanakah dirimu? Ku nanti hingga hari ke tujuh akhirnya aku pun berlalu dengan pilu yang menggelayuti hatiku. Sekejap saja tak lama atau sedetik saja biar semangat ini tak gugur lagi.

Bila takdir enggan merengkuh mu di sisiku
Maka ijinkanlah aku yang merengkuh mu
dalam mimipi ku
Aku tak meminta juga tak memaksa
Karena aku rasa ini bukan nyata, hayalan ku semata

Semangat itu mulai berguguran satu persatu, mungkin aku akan kembali ke masa gelap ku. Dengan tinta rindu yang ku torehkan di dahan yang kering dan akhirnya membusuk terurai oleh bakteri cinta.

Satu hari aku menunggu
Dua hari masih menunggu
Tiga hari aku masih mampu
Hari sterusnya aku berlalu
Mungkin hitam tak akan menjadi kelabu
Malam pun enggan berganti pagi
Tapi aku, aku harus mampu karena mu!

Semakin lama rasa ini menenggelamkan aku semakin dalam, pusaran cinta begitu kuat menarik jiwaku. Aku tak bisa menepi. Ku relakan hati ini tergulung bersama ombak cintamu yang landai, kembali ku rasakan hangatnya hidup kala ku mengenalmu. Hari-hari ku terasa ada yang berarti, selalu ada penantian yang tak terlewatkan. Sayup merdu angin yang datang lembut membelai angan ku tentang mu, tentang senyum mu, tentang tatapan mu, tentang kamu yang selalu ku rindu. Ku acuhkan rasa ini, biarlah menguap dengan sempurna terlampau tinggi gumpalan mimpi yang ku genggam. Biar menghilang aku relakan. Telah ku hembuskan rasa itu agar berbaur bersama mimpi yang menguap dan menggumpal di mega senja sana, semakin ku berusaha mengacuhkannya keteduhan itu mulai menghampiri serambi hatiku.

“Bila seseorang menyembunyikan sesuatu di hatinya, hal itu akan terungkap melalui kata-kata yang tak sengaja dari lidahnya dan pada rona wjahnya” itulah yang terjadi padaku saat ini.
Aku tak bisa terus seperti ini, aku tak mampu meredam bisikan cinta yang selalu datang menyiksaku. Kau harus tau, yah.. kau harus tau!

Terbungkam hati menahan setitik kasih
Deretan waktu membisu dalam kalbu
Biarkan rindu membunuh ku
Dalam angan tentang mu

Malam pun tak akan tersenyum bila pagi tak menantinya, begitu setianya mereka meski tak bisa bersama dalam satu detik namun bersama menyusun waktu. Menggulung hari bersama bulan dan matahari. Hingga pada suatu hari aku berniat meluapkan seluruh rasa yang telah berkembang biak di hati ini kepada mu, namun aku bingung bagaimana caranya? Haruskah aku menemui mu lalu ku curahkan rasa ini kepada mu? Oh.. itu tidak mungkin. Aku tak ingin engkau tahu siapa aku, malulah diri ini andainya engkau tahu siapa aku. Sampai suatu hari akhirnya aku mendapatkan nomor handphone mu, sungguh tak mudah untuk memiliki nomor mu karena aku bukan dari kalangan terdekatmu.

Pesan demi pesan terkirim, begitu pun puisi ku terkirim bersama gumpalan rasa yang tersirat dalam bait-baitnya. Dengan perasaan resah ku menungguh balasan dari sms yang ku kirimkan kepada mu, huuuuft… debaran jantungku berlari kencang saat melihat satu pesan dari mu. Begitu seterusnya, meski jarang terbalas tapi aku merasa senang setidaknya ia tahu bahwa ada seseorang yang mencintainya. Terabaikan, aku selalu menunggu balasan mu meski terkesan cuek dan dingin aku seakan tak bosan untuk mengirim pesan lagi dan lagi. Pernah terlintas dalam benak ku untuk mengakhiri semuanya, aku merasa dia sama sekali tak menghiraukan ku namun tiap kali aku akan melangkah jauh darinya aku tak bisa, aku tak bisa! Detik, menit, hingga jam merangkai hari, membuat ku rindu akan mu yang tak setiap waktu dapat ku jumpai. Sampai pada suatu moment dimana hari itu aku melihat mu, tak ada kata yang terlintas dalam benak ku kecuali debaran jantung yang mengalun bak lonceng jam yang berlari mengejar waktu.

Bisikan angin lembut menyentuh ku
Saat itu aku tau kau datang
Debaran jantung mulai berlari
Mengikuti kemana langkah mu

Aku hanya terdiam, melihat mu, mendengar swara mu dan sesekali ku alihkan pandangan ini dari mu. Agar tak ada yang tau bahwa sesungguhnya aku sedang memperhatikan mu. Ku nikmati tiap menit yang berlalu seraya melukis senyum mu dalam kalbu.

Aku adalah awan
Yang selalu melihat mu dari arah
yang tak pernah kau tau
Aku adalah angin
Yang selalu menghembuskan cinta
Dari sisi yang tak pernah kau mengerti
Aku adalah gerimis
Yang selalu membasahi tiap cela hatimu
Dari sudut yang tak pernah kau pahami

Kau tak pernah tau, yah tentu saja karena ku melipatnya dengan rapi agar tak ada cela yang terlihat oleh mu. Aku selalu merasa bahagia, entahlah harus seperti apa aku menjelaskannya karena begitu indah hingga aku tak mampu mengibaratkanya. Mungkinkah perasaan ini telah berkembang biak sampai semua sudut hatiku tercemar oleh mu.

Bagaimana bila tiap rajut kasihku
Terdiri dari unsur-unsur mu
Ada nama mu
Ada senyum mu
Ada tatapan mu
Ada suara mu
Dan ada bayangan mu
Lalu ku sulam menjadi mahabbah yang hakiki
di atas bumi Ilahi

Pelangi sediakah kau berikan satu saja dari warna mu? Ingin ku tuang engkau dalam goresan cinta di atas kanvas yang berlukiskan bayang mu. Satu warna yang memberikan kehidupan, karena tiap helai pelangi ialah keindahan yang nyata hidup dalam diri mu. Waktu semakin menjepit ku, ia tau bahwa aku tak mungkin meraih mu meski sembilu rindu selalu merengkuh ku. Terdesak aku atas perasaan yang enggan ia menghilang, semakin hidup dan memenuhi di ruang-ruang hati ku.
Cinta yang tulus maka ia akan hidup selamanya, benarkah itu? Aku kutip dari kisah cinta yang berakhir bahagia, tapi apakah kisah cinta ku akan berakhir sama? Tidak!! aku terlalu tinggi dalam bermimpi, mana mungkin kerikil bersanding dengan mutiara. Seharusnya aku tau itu, cinta ini terkadang membuat ku lupa diri. Siapa diri ku? Tentulah engkau akan enggan menyambut ku bila kau tau siapa aku.

Ku biarkan satu persatu lembar waktu terbuka, di halaman berapakah kiranya aku akan mampu bertahan? Dari semua rajutan takdir yang Engkau susun menjadi album kehidupan. Tolong beri aku jawaban Tuhan, agar aku tak selalu berharap kepada ia pemilik tatapan teduh. Mungkin aku tak mampu meraihnya, namun setidaknya air mata ini bukti adanya cinta di hatiku. Dan tergelincirlah semua anganku bersama pelangi di ujung senja.

Aku ingin menjadi gubuk kecil bagi mu
Gubuk kecil yang beratapkan ketulusan
Yang berdindingkan kesetiaan
Dan berlantaikan kepercayaan
Gubuk kecil yang bercahayakan kehangatan
cinta di dalamnya
Gubuk kecil yang menampung seribu derita mu
Gubuk kecil yang menyimpan sejuta keluh kesah mu
Gubuk kecil yang menjadi tempat mu mengadu
Saat semuanya pergi menjauhi mu
Gubuk kecil yang hanya menerima mu
Sebagai penghuninya..

Gubuk kecil, ialah diriku wanita yang biasa terlampau sederhana. Yang ingin menjadi bagian dari hidup mu meski dalam dunia maya, maya yang semu. Dari semua puisi yang ku tulis, puisi inilah yang menguras air mata ku. Ada sesuatu yang membuatku rapuh, saat mengetik kata demi kata dalam baitnya. Aku merasa inilah ujung kekuatan ku.

End

Cerpen Karangan: Ariana
Facebook: edelweis no hana

Cerpen Pemilik Tatapan Teduh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaafkan Aku

Oleh:
Hujan di luar belum juga reda, justru semakin deras dan mulai diiringi dengan suara petir dan kilat. Kuseduh kopi yang baru kubuat tadi. Sepertinya hujan ini akan berlangsung lama

Retak Yang Utuh

Oleh:
Hari ini aku terlalu lelah menghadapi hiruk pikuknya kegiatan sekolah hingga akhirnya aku tertidur dari pulang sekolah sampai jam 20.00 malam. Aku lelah karena semua apa yang aku inginkan

Bukan Dia Tapi Aku

Oleh:
Hari sudah menunjukkan pukul 22.15 wib , waktunya aku pulang kerja .. namaku via .. aku merantau di kota ini , tinggal di kost-kost’an kecil yang tergolong murah ..

I Love Him (Part 3)

Oleh:
Aku menjalani hari-hariku dengan bahagia hingga tak terasa hubungan kami sudah lebih dari setahun. Kak Septiyan sekarang sudah jadi mahasiswa. Meskipun sudah tidak satu tempat menuntut ilmu yang sama

Untuk Mu Cinta

Oleh:
Pagi memang selalu menyuguhkan kehangatan di tengah embun meski matahari masih bersembunyi di peraduannya. Di sebuah ruangan bercat kuning dan hijau itu tubuh malasnya tampak enggan untuk bergerak. Bahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pemilik Tatapan Teduh”

  1. Unique says:

    Keren kak cerpennya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *