Penantian Bersama Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 October 2017

Senja sore ini tampak begitu indah, ditemani nyiuran kelapa yang tengah melambai-lambai di tanah pertiwi, hembusan angin menyejukkan hati, segenap alam ini sungguh tak tertandingi.
Deburan ombak itu menyerbu bebatuan karang di pinggiran, di tempat itu, di atas batu karang, di bawah langit siang, sungguh banyak kenangan. Di sana, pernah kita tertawa, pernah kita bersama, pernah kita berbicara dan pernah kita berpisah. Sungguh, pertemuan lalu perpisahan itu adalah hal konyol.

“Nella,” panggilan itu, suara lembut itu, tatapan yang menenangkan itu sekarang hanya sebuah video kenangan yang sungguh takkan terulang.

Namun, ketahuilah bahwa hidup tidak hanya tentang kenangan, tentang masa lalu dan tentang cinta.

Jika takdirku hanya untuk menanti, maka Tuhan tolong beri aku pangeran yang pantas buat dinantikan.

Sekali lagi sang angin menyerbu gadis yang ada di tepi pantai itu, membuat kibaran jilbab syar’i nya bergerai mengikuti arah angin. Di wajahnya terukir senyuman, namun siapapun yang melihat matanya pasti akan tau bahwa hatinya tak sepenuhnya tersenyum. Wajahnya menatap bebas ke arah langit yang mulai senja, sama sekali tak ada keinginannya tuk melangkah meninggalkan tempat ini. Pikirannya jauh melayang, melayang mengagumi kebesaran Tuhan, mengucap ribuan syukur di dada, dan mengulas senyuman manis di bibir mungilnya sebelum matahari mulai tenggelam.
Disaat itu pula, suara adzan menggantikan, adzan mulai berkumandang ke seluruh jagad raya, pertanda panggilan Tuhan untuk seluruh umat Islam. Ia memejamkan mata tuk yang terakhir sebelum ia melangkah jauh meninggalkan tempat ini, tempat dimana ia pernah menemukan kebahagiaan, tempat ia mulai tersadar, tempat hatinya mulai terbuka lebar, dan tempat ia bernafas hanya untuk Tuhan.

Tiga bulan yang lalu,
Gadis berusia sekitar sembilan belas tahun ini masih berada di lapangan basket indoor SMA 5 Kuta, Bali, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka lima. Dering telepon yang berada di tasnya sama sekali tak membuat ia melihat atau sekadar melangkah mendekati tas yang ada di kubu penonton, tentu saja deringnya terdengar karena ia di sini sendirian, iya sungguh sendiri.

“Anella Jenny.”
Gadis berseragam olahraga itu pun menoleh ke arah guru muda nan tampan yang tengah berdiri di depan pintu lapangan basket indoor.
“Ini sudah ketiga kalinya kamu melanggar peraturan.” Ucap Pak Anderson, lelaki dua puluh lima tahunan yang masih terlihat gagah itu.
“Hufft…” Nella memutar bola matanya malas sembari mengambil ranselnya lalu berjalan ke arah pintu, ia menatap Pak Anderson sebentar sebelum akhirnya ia melenggang pergi begitu.
Tentu saja, Anderson, lelaki itu benar-benar bingung dibuatnya, semua murid di sini sangat menghormati dan segan kepadanya, apalagi jika ia memiliki perhatian lebih pada siswanya maka ia akan sangat dihargai, sedangkan hanya bersama gadis itulah Anderson seolah tidak ada.

“Brak…”
Anderson berlari ke arah kaca jendela yang berada di dalam lapangan indoor, kaca jendela yang menampakkan pemandangan jalan raya dari arah lantai dua gedung SMANSA Kuta. Betapa terkejutnya dia ketika melihat gadis yang baru saja ia ingatkan itu kini tengah berlumuran darah tertidur di atas trotoar. Mata berlensa biru khas Amerika ini membulat tak percaya, ia segera berlari menuruni anak tangga, Anderson berharap segera melihat dan menyelamatkan gadis muridnya yang nyawanya tengah di ambang batas.

Sudah seminggu lamanya Anella koma, Anderson yang statusnya masih lajang dengan mudah membawanya pindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit yang lain. Apalagi dua hari lalu Dokter menyarankan agar Anella dibawa ke rumah sakit Singapura, karena sebelum kecelakaan, gadis itu telah mengidap penyakit. Namun, apalah daya Nella bukanlah bagian dari keluarganya, ia tak berhak membawanya ke mana pun, kecuali jika ia menikahinya dan itu adalah sesuatu yang mustahil -pikir Anderson.

“Pak Andre. Bagaimana kabar Nella?” Tanya Shirei, teman baik Nella.
“Masih sama,” ucap Anderson.
“Sudah kubilang, hubungi saja keluarganya. Mereka tahu yang terbaik buat Anella,” lanjutnya.
“Yang terbaik? Yang ada bapak akan mendengar berita duka Nella secepatnya,” Shirei duduk lemas di kursi tunggu depan kamar inap Nella.
“Stop, aku tak mengerti, Shirei. Cukup bermain teka-tekinya. Ceritakan semuanya padaku, dengan begitu aku akan tau apa yang harus kuputuskan,” kata Anderson, Shirei terlihat berpikir. Memang gila, gadis ini tak jauh beda dengan sahabatnya, si Nella yang sama-sama tak tergoda dengan ketampanan guru lajangnya ini.
“Dengar Pak Andre! Papa Nella memiliki tiga istri, istri pertama adalah istri sah yang memiliki satu anak lelaki yang berada di Indonesia, ibunya asli Amerika dan menikah dengan Om Fero. Istri kedua adalah istri tidak sah, dan memiliki satu anak lelaki seumuran Nella, dulu dia tinggal di sini, tapi sekarang ia diasingkan ke Bandung. Dan istri ketiga yaitu istri tidak sahnya dan telah meninggal memiliki satu anak perempuan yaitu Nella. Awalnya Nella dan Mario pernah menjalin hubungan, namun setelah papanya tau Mario langsung diasingkan ke Bandung, sejak saat itu Nella tau kalau papanya memiliki tiga istri.”

“Mario pacar Nella sejak SMP?” Shirei mengangguk.
“Iya, ternyata mereka saudara tiri.”

“Sekarang, istri keduanya tau tentang Nella dan ingin menyingkirkan gadis itu, mama Mario yang telah membunuh mama Nella dan sekarang ia tengah melancarkan aksinya untuk menyingkirkan Nella.” Jelas Shirei, Anderson menggeleng-geleng, sungguh kisah yang diluar nalar.

“Aku akan membawa Nella ke luar negeri untuk berobat.”
“Itu jauh lebih baik, Pak.”
“Pantau kondisi keluarganya terus Shirei, selalu kirimi email padaku ya!”
“Tentu, Pak”

Bali sebulan yang lalu,
“Anderson, cepat!” Nella sudah tak tahan menunggu Anderson yang tengah membawa dua cup es krim, untuknya dan untuk dirinya sendiri. Anderson segera mempercepat kakinya ke arah Nella yang tengah duduk di tepi pantai.

Dua bulan yang lalu Nelala kembali ke Indonesia dengan keadaan lebih baik, namun ada beberapa gangguan pada otaknya sehingga ia mengalami amnesia, dari pertama kali sadar setelah koma berhari-hari, orang yang pertama dilihat adalah Anderson, ia berpikir bahwa ia tak memiliki siapapun selain Anderson, apalagi Nella divonis mengidap penyakit …
Selama itu pula Anderson merasa bahwa gadis ini istimewa, Nella adalah sosok polos yang baik hati, mereka saling bercanda tawa di bawah langit senja di tepi pantai Pulau Dewata yang indah, seolah lupa akan segenap permasalahan dan penyakit Nella.

Bali, tiga hari yang lalu.
“Anella. Bangun! Ayo bangun! Ayo berjuang!” Anderson mengusap lembut tangan Anella, setelah menjalani perawatan di sehat selama dua bulan, Nella kini kembali ngedrop belum lagi kemarin keluarga Nella akhirnya tau kalau anaknya dibawa Anderson, Anderson telah berjanji pada tuan Fero akan membawa anaknya ke rumah sakit di Bali pagi ini.
“Kalau misalnya aku gak bisa nemenin kamu lagi. Kamu gak boleh sedih ya! Ada keluargamu, ada papamu yang bakal jagain kamu.”
Setelah sampai di kamar rawat Anderson dilarang masuk, Anderson pun pasrah dan duduk di luar kamar.

“Tuan Anderson.” Seketika Anderson mengangkat wajahnya, tak asing suara itu baginya. Betapa ia tak percata, mata membulat seketika, Tuan Fero? Ayahnya, papanya, daddynya.
“Anderson.” Kata Tuan Fero tak percaya.
“Daddy.”
“Sejak kapan kamu di Indonesia?”
“Oh ini tuan Fero, pemilik lima perusahaan di Bali dan pemilik tiga istri.” Kata Anderson menekankan kata ‘istri’.
“Sayang, ini gak seperti sama apa yang kamu pikirkan.”
“Jadi selama ini saya telah menolong anak anda? Hmm… saudara tiri saya maksudnya, oh saya lupa saya tidak mengenal anda-”
“Sayang-”
“Tuan Fero, perlu anda ketahui ya! Gadis sebaik dan sepolos Nella tidak pantas hadir dalam kehidupan anda. Terima kasih, sampaikan salam saya pada Nella nanti.” Anderson segera berdiri lalu pergi, ia sama sekali tak ingin mendengar penjelasan ayahnya sama sekali, sungguh diluar dugaan, Nella adik tirinya, ini membuatnya gila.

Nella kembali memutar otaknya, seolah bayangan bersama Anderson lebih memenuhi otaknya dibanding bersama keluarganya, Nella yang sekarang adalah Nella yang pendiam, bukan gadis tomboy yang suka basket. Papanya sungguh khawatir dengan keadaan Nella apalagi sekarang Nella seolah olah tak mengenalnya, Nella hanya suka melamun sepanjang waktu.

“Kenapa papa melarangku bersama Anderson?” Tanya Nella suatu saat.
“Anderson kakak tirimu,” Nella sama sekali tak kaget mendengarnya, Nella yakin ini pernah terjadi padanya namun ia lupa kapan dan di mana, slide dalam otaknya kembali berputar.

“Nggak bisa, Nella adikmu, pergi kamu Mario! Jeh, cinta, cinta gila, persetan dengan cinta, gak sekali tidak tidak Mario, pergi dari Bali, papa akan menyiapkan pesawat besok.”
“Maafin aku Nel, takdir tak membolehkan kita bersama, semoga ada penggantiku yang lebih baik.”
“Mario, selamat tinggal.”

Nella ingat, iya ingat semuanya, perpisahannya bersama Anderson, pernah terjadi bersama Mario, kenapa kejadian ini terulang? Kenapa sekarang sama malah kakak sulung tirinya, apakah dunia sesempit ini -pikir Nella.
“Ini semua karena papa, kesalahan papa, lihat banyak orang yang terluka, Nella terluka kedua kalinya, Pa. Papa bukan ayah.yang hebat.” Bisik Mario yang berada di samping papanya, Mario ke bali karena khawatir akan keadaan adik tirinya. Papanya seolah menyesal, karena perbuatannya banyak yang kena dampaknya termasuk anak anaknya.
“Maafin papa Nella,” Nella akhirnya memeluk papanya,
“Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain papa, papa adalah segalanya, meskipun papa punya seribu kesalahan, tapi Nella bangga punya papa, Nella tau semuanya, apapun alasan papa menikahi mama Nella dan mama Mario, papa hebat, papa bisa mengambil keputusan yang sangat sulit. Nella sayang papa.” Papa berkaca kaca, sebelum akhirnya pelukan itu semakin renggang dan renggang, papa melihat wajah pucat Nella dengan linangan darah dari hidungnya.
“Nella, Nella, Nella papa janji mulai sekarang papa akan menyayangimu, papa akan peduli padamu tapi kamu bangun sayang bangun.” Namun, penyesalan telah berakhir, tak selamanya apa yang kita inginkan bisa selalu kita dapatkan. Pengertian dari Nella, permintaan maaf yang diterima dan segalanya telah ia dapatkan, tapi bagaimanapun tak selamanya ia bisa mendapatkan apa yang ia mau, karena Tuhan memiliki rencana lain, mungkin akan ada konflik dengan Anderson atau Mario yang akan memperebutkan hartanya di hari tuanya nanti. Yang ada, semua perbuatan di masa mudanya akan dibalas di hari tua nanti.

Bersambung

Cerpen Karangan: Aulia Taureza
Facebook: Ataureza Aulia
Ini bakal dibikin seri kayaknya, tapi beda konflik entar, tapi untuk waktu dekat tidak memungkinkan, xoxo.

Cerpen Penantian Bersama Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abah (Ngeles Versi Abah)

Oleh:
Abah adalah seorang pria yang masih berumur 30 tahun. Tubuhnya semakin lama semakin kurus dan mengecil setiap tahunnya bersamaan dengan bertambahnya usia. Kini ia terlihat seperti berumur 40 tahunan

Palsu

Oleh:
Aku membencimu dibalik semua rasa sayangku, aku membencimu yang meninggalkan ku tanpa kepastian, mengombang-ambingkakan perasaan. Tetapi aku juga merindumu melalui perhatian kecilmu, suara serakmu yang dulu sering menemani malamku,

When You’re Lost

Oleh:
Alvino Offyan Nugraha, sosok setengah ganteng, tinggi, sawo mentah menuju mateng, kalo dilihat di fotonya (gue belum pernah ketemu orangnya langsung sih) sosok yang gue kenal lewat aplikasi bernama

Hanya Kamu

Oleh:
Saat kulangkahkan kakiku menuju ke mobil yang sudah disiapkan buat aku, tiba-tiba terdengar orang yang memanggil aku. Sontak aku mencari asal suara tersebut. Ternyata Alva. “oh, hei va. Ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *