Penantian Cinta Yang Panjang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 November 2015

Pertemuan itu terjadi sewaktu aku pergi bersama ayahku melihat-lihat pameran lukisan yang terletak di Jalan Gatot Subroto. Cowok itu bernama Kani Prayudha. Badannya tinggi menjulang sekitar 182 cm, dadanya bidang dan mempunyai bahu lebar. Matanya tajam berwarna hitam, hidungnya lebar dipadukan dengan kulitnya yang putih bersih terawat. Dia semakin tampan dengan memakai kaos hijau bergambar menara Eiffel dipadukan dengan celana ketat berwarna cokelat tua. Di pundaknya bertengger tas ransel biru kesayangannya.

Aku mengenalinya sewaktu tidak sengaja menabraknya dan membasahi bajunya dengan air minuman soda jeruk yang ku beli di sana. Namun, sayang dia tidak mengenaliku. Setelah itu, dia pergi ke toilet untuk membersihkan bajunya. Aku hanya menatap punggungnya yang menghilang di kejauhan. Kani Prayudha adalah cinta pertamaku waktu aku SMP. Kami berdua memang tidak pernah dekat. Bicara dengannya pun tidak. Aku memang menyukainya secara diam-diam, tanpa pernah bermaksud menyatakan perasaanku padanya. Setelah melihat-lihat lukisan, aku pulang ke rumah bersama ayahku.

“Sandra, cepat turun! Makan dulu, Nduk!” Panggil Ibuku.
“Iya ma, bentar lagi. Tanggung nih, bentar lagi tugasku selesai.” Jawabku sedikit teriak. Aku sedang mengerjakan tugas kuliahku. Proyek animasi 3D film kartun berdurasi 90 menit itu sebentar lagi selesai.

Namaku lengkapku Cassandra Aurora Putri Hardiningrat. Biasa dipanggil Sandra. Hanya saja teman-temanku sering meledekku dengan panggilan Putri Aurora, Putri Tidur atau Sleeping Beauty. Aku tidak tahu kenapa orangtuaku memberiku nama yang menurutku kekanak-kanakkan. Aku biasa ditertawakan dari SD hingga SMU karena namaku yang imut dan lumayan panjang. Mungkin orangtuaku terlalu menyukai cerita dongeng atau Disney. Dan karena nama juga, aku mengambil jurusan Sutradara film Animasi di Universitas Kesenian Jakarta. Aku ingin menjadi Sutradara yang terkenal seperti Hanung Bramantyo. Dia adalah inspirasiku. Karya-karya yang dibuatnya pun selalu laris dinikmati banyak orang, seperti Film 5 cm, Mihrab cinta, Soekarno Indonesia Merdeka, Sang Pencerah, Perempuan Berkalung Sorban, dan masih banyak lagi.

Aku juga tertarik belajar dunia Fotografi. Maklum dari kecil aku sudah mendalami bidang ini. Ayahku yang bekerja sebagai Fotografer dan Ibuku yang berprofesi sebagai model dan aktris semakin memudahkan sayapku untuk terjun di bidang ini, menuangkan segala bakatku untuk berkarya. Ayahku memiliki studio sendiri untuk melakukan pekerjaannya di mana studio itu akan diwariskan padaku suatu saat nanti.

Setelah selesai menyantap makan malam, aku segera naik ke atas, membereskan kamarku yang berantakan dan kemudian pergi tidur lebih awal. Aku memikirkan kejadian tadi. Dia tidak banyak berubah. Aku bertanya-tanya dalam hati, akankah kita bertemu lagi? Di mana dia tinggal? Apa dia sudah memiliki pacar? Bagaimana kabarnya? Kemudian aku mengantuk dan jatuh tertidur.

Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat pergi kuliah. Dengan motor honda scoopy berwarna pink, aku menerobos jalanan yang macet agar tidak terlambat. Sesampainya di kampus, aku segera mencari dua sahabatku, Ziva dan Madina. Keduanya mahasiswa yang berasal dari Palembang.
“Ziva, Madina, kalian sudah selesai mengerjakan proyek animasi 3D?” Tanyaku.
“Sudah dong. Di mana sih kita latihan memutar dan memproyeksikan film animasi kartunnya? Tempat biasakah?” Jawab mereka.
“Ya, ruang LCD Proyektor sebelah barat lantai 4. Kapan kita ujian proyek ini, kayaknya aku sudah siap kali ini. Semoga saja proyek film animasi kita berjalan sukses.” Jawabku yakin.
“Amin.” Jawab mereka berbarengan.

Tak lama kemudian, aku telah selesai mempresentasikan proyek film animasi kartun 3D yang kubuat bersama mereka berdua. Tepuk tangan pun mengalir deras. Tak lupa juga dosenku memberi pujian untuk hasil kerja keras kita bertiga. Aku puas. Sesudahnya aku mendapatkan proyek tawaran film lagi dari dosen pembimbing akademikku. Aku dinilai kreatif. Daya imajinasiku tinggi sehingga aku diangkat menjadi asisten pembantu sutradara dari proyek yang ditawarkan itu. Istilahnya kerja magang sampai film yang dibuat itu selesai digarap. Aku disuruh membantu mengarahkan adegan ke pemainnya dan mengambil beberapa foto mereka.

“Skenario serta naskahnya sudah selesai.” kata dosenku. “Kamu hanya mengarahkan mereka dan mengambil beberapa foto. Kalau ceritanya kurang pas, kamu boleh mengembangkan jalan ceritanya menurut pandangan kamu sendiri. Asalkan jangan mengubah isi pokok dari tema cerita.” Jawab dosenku panjang lebar.
“Baik, Pak. Akan saya lakukan yang terbaik.” Jawabku sumringah.

Aku benar-benar senang mendengarnya. Begitu pun juga dengan kedua sahabatku. Mereka juga membantuku dalam proyek itu. Uang honornya lumayan. Akhirnya aku berhasil mendapatkan uang sendiri. Mengarahkan beberapa adegan agar sesuai jalan suatu cerita yang terdapat di naskah adalah pekerjaan mudah bagiku. Ditambah lagi memotret foto-foto pemain yang akan main di drama panjang 50 episode ini. Aku bertemu beberapa artis idolaku yang juga temen Ibuku. Beberapa artis baru pun ikut bergabung di drama ini. Drama ini adalah sinetron kejar tayang. Akan ditayangkan setiap hari sabtu dan minggu jam tujuh malam di Indosiar. Judulnya adalah Keluarga Dandelion.

Hari Sabtu jam 09.00 pagi, aku berangkat menuju televisi swasta di daerah Jakarta Utara. Ku parkir motorku di tempat parkir sebelah barat gedung ini. Aku segera masuk dan mengatakan pada seorang wanita yang memakai baju merah putih bertuliskan tv swasta di belakangnya. Aku disuruh menunggu. Bapak Teddy Hanura akan menemuiku sebentar lagi. Kemudian dari arah depan, orang itu menyalamiku.
“Cassandra, senang berjumpa dengan Anda. Mahasiswa dari Dosen Hilman Wijaya di UKJ, ya?” Tanyanya.
“Iya pak, saya diminta untuk membantu mengarahkan adegan dan mengambil beberapa foto pemain di sini.” Jawabku ramah.
“Mari, ikut saya.”

“Sebenarnya tidak hanya sekedar mengarahkan adegan dan mengambil foto, anda juga harus melihat, mengawasi perlengkapan dan jalannya proses syuting.” Jelasnya. “Nanti akan saya kenalkan pada asisten pribadi saya.” Orang itu pun memanggil asisten pribadinya. Alangkah terkejutnya aku sewaktu diperkenalkan padanya. Cowok itu adalah Kani Prayudha. Hal ini adalah keajaiban luar biasa dari Tuhan. Mimpi apa aku semalam tadi, sehingga mukjizat ini bisa ku dapatkan bersamaan, pekerjaan dan calon pacar, ngarep! Kani, masuk ke ruangan di lantai 3 itu. Tempat aku dan Bapak Teddy Hanura berada.
“Loh, ternyata kamu toh, yang ngebantuin aku dalam proyek drama ini. Kamu kan yang basahin bajuku waktu di galeri pameran lukisan?” Jawabnya.
“Ah, iya. Rupanya kita ketemu lagi di sini. Tidak ku sangka ternyata kamu kerja di sini juga. Aku minta maaf ya atas kejadian waktu itu.” Jawabku sopan.

Rupanya dia ingat tentang pertemuan kami dulu di Gedung Smesco. Kemudian dia mengajariku banyak hal tentang dunia film dan fotografi. Kami mengobrol tentang banyak hal. Dia cerita, dia kuliah di UI mengambil jurusan Kedokteran Gigi. Hanya saja karena keasyikan kerja di sini dan gajinya lumayan, akhirnya dia meninggalkan bangku kuliahnya, kemudian pindah ke Universitas swasta mengambil jurusan teater dan film sekaligus mengambil kursus selama satu tahun untuk bidang fotografinya di bussiness school fotografi di daerah Mampang. Kemudian malam harinya kerja di tv swasta. Cukup jauh memang. Namun itu dikerjakannya dengan senang hati, karena itu adalah passionnya dan dia pun menyukai dunia pekerjaan itu.

Dia bilang suatu saat nanti, dia akan membeli sebuah ruangan untuk dijadikan studio foto, dimana dia bisa menuangkan hobinya dan menjadi seorang fotografer terkenal. Sama seperti Ayahku. Baru pertama kali mengenalnya, kami sudah nyambung satu sama lain. Dia orangnya asyik untuk diajak ngobrol. Lama-kelamaan aku menjadi dekat dengannya. Aku bahagia karena bisa menjadi bagian hidupnya, meskipun kami cuma sebatas teman dekat. Kadang-kadang dia menjemputku kuliah, kemudian makan siang bersama, lalu mengantarkanku pulang. Dia juga dekat dengan kedua sahabatku, Ziva dan Madina. Jadilah kita hang-out berempat.

Bulan Oktober 2009, seperti biasa aku bertandang ke kosnya. Kemudian kita pergi ke kampusnya di daerah Jakarta Pusat untuk menemaninya mengambil materi kuliah dan mendaftar untuk tugas akhirnya. Setelah itu, kami berdua makan di kantin yang terletak di sana. Tiba-tiba dia ingin mengenalkan seseorang padaku. Ternyata selama ini dia telah mempunyai pacar. Gadis itu bernama Pevita Maharani. Vita, nama sapaannya segera menyalami tanganku. Aku pun meraih tangannya, walaupun hatiku campur aduk tak karuan. Hatiku hancur berkeping-keping, karena dia tak pernah memberitahuku bahwa dia sudah punya pacar.

Aku pun juga tak pernah menanyakannya. Gadis itu cantik dengan tubuh langsing, tinggi 175 cm, rambut tergerai panjang diikuti dengan hidung mancung dan mata berwarna hitam, bak seorang model. Mereka sangat serasi, pikirku saat itu. Aku patah hati. Cinta bertepuk sebelah tangan dan judul lagu “Apalah Arti Menunggu” milik penyanyi cantik bernama Raisa itu kayaknya tepat untuk menerangkan perasaanku ini. Meskipun demikian, aku mencoba tetap berteman baik dengannya. Mencoba bersikap biasa, seolah-olah tak terjadi apapun. Aku bertahan kuat menekan perasaanku padanya tanpa menjauhinya.

Pada Bulan April 2010, proyek drama film keluarga dandelion sudah selesai ku kerjakan. Drama film ini selesai selama 6 bulan. Namun, ternyata ada perubahan jadwal. Semula drama yang memiliki episode 50 ini diperpanjang menjadi 62 episode, karena ratingnya tinggi. Drama ini ternyata diminati banyak masyarakat Indonesia. Mungkin karena jalan ceritanya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Makanya aku bersama kedua sahabatku harus bekerja keras lagi untuk 12 episode ke depannya serta harus pandai pula membagi waktu antara tugas akhirku dengan proyek drama ini. Apalagi aku akan ujian dalam waktu ini. Tahun ini aku harus lulus, karena telah memasuki tahun kelima. Aku berjanji pada orangtuaku untuk lulus di tahun ini, jika tidak mereka tidak akan mengizinkanku untuk magang di sini.

Dengan demikian aku masih mengerjakan drama ini bersama Kani. Kami berdua masih tetap sama, namun tak mengobrol lebih banyak. Karena kesibukanku kuliah dan magang. Aku jadi bisa bernapas lega karena tidak sering-sering melihat Kani berdua sama pacarnya. Namun, sore menjelang maghrib akhir bulan april itu terasa berbeda. Sejak tadi tak ku lihat senyum dan canda tawanya yang sering mengerjaiku. Dari awal perpanjangan episode baru, dia tampak murung. Kesedihannya tampak dari mukanya. Aku baru mendengar dari beberapa kru film lainnya, bahwa dia lagi berselisih dengan pacarnya. Pantas saja, dia murung dan sedih. Aku menghiburnya. Mendoakannya agar dia berbaikan lagi dengan pacarnya.

Tiba-tiba saja datang pacarnya. Vita mencoba meminta maaf atas kesalahannya dan mencoba untuk menjelaskan perihal kejadian itu. Mereka bertengkar hebat, tanpa menyadari aku ada di sana, menyaksikan keduanya. Aku tidak tahu apa yang dipertengkarkan. Tidak mau dikira ikut campur, aku pergi dari situ. Tak berapa detik, aku mendengar bunyi plak, bunyi tamparan. Aku berbalik, sontak kaget dengan apa yang ku lihat. Betapa tidak, Kani menampar wajah Vita secara tak ku duga. Cowok yang lembut tanpa pernah menunjukkan emosinya itu, tiba-tiba saja mendaratkan pukulannya di wajah seorang gadis.

“Ya, Tuhan. Apa yang terjadi padanya?” Jeritku pilu. Kasihan gadis itu.
Yang terkejut bukan aku seorang, namun beberapa pasang mata juga melihat kejadian itu. Mereka semua terdiam. Gadis itu menangis berlalu pergi begitu saja. Sakit hati rasanya mendapatkan pukulan seperti itu. Sedangkan Kani diam membisu di tempatnya. Dia pun kesal dan marah.

Sejak kejadian itu aku tak pernah melihat Vita lagi. Kani pun menjadi orang yang berbeda, tak lagi ramah dan tersenyum seperti dulu. Wajah cerianya diganti dengan wajah yang murung. Semua orang yang kerja di sana jadi takut untuk mendekatinya. Dia menjadi orang pendiam. Aku berusaha untuk mencairkan suasana yang menyenangkan semenjak kejadian itu. Dari cerita yang ku dengar ternyata Vita masih sayang sama mantan pacarnya. Dia masih sering menghubungi mantannya. Mereka berdua masih jalan bareng. Tiba-tiba Kani memergokinya sedang jalan berdua bergandengan tangan dengan mesranya di Senayan City.

Kani cemburu, langsung saja berbalik meninggalkannya pergi. Gadis itu kaget, namun mengejarnya, tapi kehilangan jejaknya. Aku bersimpati padanya. Namun tetap saja menampar seorang gadis di depan umum adalah hal yang salah. Tidak berjiwa ksatria, namun menurutku keduanya juga salah. Tapi tak satupun dari mereka ingin meminta maaf. Masing-masing saling menyalahkan satu sama lain ibarat anjing ketemu dengan kucing. Tidak ada yang mau mengalah. Memang sih bukan urusanku, tapi aku merasa kasihan padanya.

Sebulan kemudian setelah kejadian yang memalukan itu, Vita putus dari Kani. Dia duluan yang memutuskan percintaan mereka. Beberapa hari setelahnya, Kani mulai bergonta-ganti pacar untuk melupakannya. Dia menjadi seorang play boy. Kani menjadi tidak fokus dalam pekerjaannya. Ranting drama ini mengalami penurunan sedikit, jika tidak mau dikatakan gagal dibandingkan 50 episode dulu. Dia sering mendapat badai amukan dari atasannya sekaligus produser film, Raam Poonjabi. Akibatnya dia mengalami depresi. Jika sudah menjadi begini, biasanya aku menjadi pelipur lara bagi kesedihannya. Setiap ia minta, aku akan selalu menemaninya.

Seperti biasa, aku menemaninya makan malam. Drama itu tinggal dua episode lagi dan tidak akan diperpanjang lagi. Kami bersantap di sebuah restoran rice bowl di mall. Kemudian seperti biasanya aku mendengarkannya curhat lagi tentang pacarnya kali ini. Teman kencannya yang baru bernama Mariska. Asalnya dari sunda. Hanya saja dia tidak terlalu tertarik dan bersemangat seperti pada waktu dulu.
“Anaknya baik, cantik dan modis. Keluarganya kaya.” lanjutnya.

Aku mendengarkannya penuh perhatian. Kami larut dalam obrolan hingga malam tiba. Dia juga bercerita sewaktu masih kecil dulu. Aku menyambung obrolannya dan mengingatkannya, jika kita pernah bersekolah sewaktu SMP dulu. Dia tidak ingat padaku. Padahal aku termasuk siwa yang populer karena aku pintar dan tergabung dalam OSIS. Dari SMP sampai SMU, aku termasuk siswa berprestasi. Aku cukup gaul juga sebenarnya. Namun, entah kenapa dia tidak ingat padaku. Mungkin karena aku memakai lensa kontak dan rambutku dipotong pendek. Dulu, rambutku memang panjang hitam selutut dan memakai kacamata.

Aku tertawa mendengarnya. Setelah puas, dia mengantarku pulang dengan mobil honda jazz berwarna abu-abu kesayangannya. Sebelum aku ke luar dari mobilnya, dia spontan secara reflek menciumku. Karuan saja aku kaget. Diam seper sekian detik. Pasrah dalam menerima keadaan. Aku tidak melepaskan ciumannya. Hal ini menandakan bahwa aku masih sayang padanya. Kami berciuman dua jam lamanya. Aku menariknya ke samping tubuhku. Melingkarkan tanganku di lehernya. Setelah itu, aku terlepas dari pelukannya dan pamit untuk masuk ke dalam rumahku yang terletak tepat di depan mobilnya. Sesampainya aku di kamar, aku mencerna apa yang terjadi di mobil tadi. Aku malu rasanya untuk bertemu dengannya lagi. Menjelang pagi, aku pergi ke kampus untuk menyerahkan tugas akhirku. Dan kemudian mendaftarkan ujian skripsiku.

Bulan Agustus 2010, aku bertekad untuk wisuda. Ke luar dari kampusku, aku melihat Kani di sana. Kemudian dia menghampiriku dan ingin mengajakku bicara. Aku mengikutinya. Kita mengunjungi sebuah restoran nasi uduk kebon kacang di dekat kampusku. Dia memulai percakapan. Dia meminta maaf atas kejadian di mobil kemarin. Itu reflek dilakukannya tanpa disengaja. Aku bilang tidak apa-apa. Kemudian dia mengatakan padaku, sejak kapan aku menyukainya. Sontak wajahku merona merah. Aku malu melihat ke dalam kedua bola matanya. Kemudian aku mulai jujur padanya. Aku menyatakan perasaan cintaku padanya yang selama ini kupendam sendirian sejak aku masih SMP. Dia tersenyum manis mendengarnya. Kami berdua terdiam cukup lama beberapa saat.

Kemudian dia mengantarkanku pulang. Ku pasrahkan hatiku. Kecewa memang, walaupun aku sudah mengetahui kata-kata apa yang ke luar dari bibirnya. Namun tetap saja aku menangis. Untuk melupakannya, aku konsentrasi pada ujianku skripsiku. Film bergenre keluarga yang ku kerjakan itu telah selesai sampai 62 episode. Alhasil aku bernapas lega dan bahagia. Aku mendapat honor yang lumayan yakni, sekitar lima juta rupiah. Aku jadi fokus untuk studi belajarku dan memulai cinta yang baru.

Sehabis aku menempuh ujian, aku dinyatakan lulus oleh dosen pengujiku. Aku segera mendaftarkan diri untuk mengikuti program wisuda bulan Agustus 2010. Begitu pun dengan kedua sahabatku, Ziva dan Madina. Kami bertiga mengucapkan syukur dan mengambil foto bareng yang diambil oleh Ayahku. Tak berapa lama berselang, kami berpisah. Kedua sahabatku pulang ke palembang dan meneruskan bisnis keluarganya di sana. Lima tahun lamanya kami kuliah di UKJ.

Sehabis wisuda, aku merayakannya bersama keluarga besarku di restoran duckin, sebuah restoran favorit keluargaku. Kemudian tiba-tiba Kani datang membawakan bunga kesayanganku, bunga tulip berwarna kuning sambil mengucapkan selamat atas kelulusanku. Aku surprise dan senang mendengarnya. Belum puas rasa keterkejutanku, dia datang ingin melamarku di depan keluargaku. Alhasil aku melongo. Keluargaku pun juga kaget bercampur senang. Sebelumnya keluargaku telah mengenalnya sewaktu aku magang di Indosiar. Akhirnya aku mendapatkan kado terindah, yakni lulus dengan nilai IP cumlaude 3,5 dan calon suami. Aku langsung menerimanya dengan tangan terbuka. Seminggu kemudian aku bertunangan dengannya dan kita merayakannya dengan suka cita. Kami berdua bahagia selamanya.

Namaku seperti dongeng Putri Tidur Aurora yang terkenal dari Disney, yakni Cassandra Aurora Putri Hardiningrat dan kisah percintaanku pun juga sama seperti dongeng. Pangeran yang ku impi-impikan dari kecil akhirnya menjadi suami tercintaku. Kisah hidupku berakhir sama dengan cerita dongeng Putri tersebut. Hasilnya aku jadi mengucapkan syukur pada orangtuaku yang telah memberiku nama itu. Nama yang sangat indah. Banyak orang berkata nama adalah doa dan harapan. Maka dari itu berilah nama yang baik untuk anak-anakmu kelak, jika kamu sudah memilikinya.

The End

Cerpen Karangan: Rezky Gustri Febriani
Nama: Rezky Gustri Febriani
Alamat: Komplek Jatipadang Baru Blok D No 1C, Pasar Minggu Jak-Sel.
E-mail: rezkygustri89[-at-]gmail.com

Cerpen Penantian Cinta Yang Panjang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Khitbahlah Aku!

Oleh:
Brukk…!!! Tubuhku terpental jauh kepinggiran jalan dan serasa tubuhku kesakitan karena tubrukan tubuhnya. namun lelaki di depanku ini hanya mengulum senyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. “kamu siapa sih?” tanyaku padanya

Senyum Seindah Pelangi

Oleh:
Semuanya seperti deja vu. Masih terukir dengan jelas di benakku, tentang hari itu. Di saat butiran-butiran air berjatuhan dari langit. Petir pun seolah tak mau kalah meramaikan suasana dengan

Hujan

Oleh:
Aku termenung menatap jauh ke luar jendela yang basah dikarenakan hinggapnya percikan air yang turun dari langit. Tidak ada satu orang pun yang berada di luar saat ini. “Aini”

Dokumen Mimpi

Oleh:
Ini cerita yang bermulai dari mimpiku yah, benar-benar mimpi saat kau tidur dan di dalam otakmu terlihat jelas gambaran-gambaran seseorang yang berjuang dengan gigihnya untuk hidup lebih baik dimasa

Pertemuan yang Tak Bisa Kuhindari

Oleh:
“Aku tertegun melihatnya kembali, seseorang yang sudah lama kuhindari. Aku memang masih punya janji kepadanya, tapi aku memang tak bisa menepati. Perpisahan karena emosi terjadi karena pemikiran kilatku, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *