Penantian Kala Cahaya Menjingga (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 31 January 2016

Kebanyakan dari naluri perempuan, mereka berdandan secantik mungkin semata-mata hanya ingin selalu diperhatikan laki-laki. Mereka memakai make up ketika berkencan. Pun, sekolah juga selalu merah merona di pipinya. Namun, tidak untukku! Aku lebih nyaman dengan penampilan natural, apa adanya, dan tidak neko-neko. Caraku mengepang rambut pun cuma dengan kepang satu pocong menjulur ke belakang. Yah.. itulah gayaku.

Ting.. ting.. ting! Bel masuk berbunyi, aku yang baru berangkat dan sedang berjalan, bergegas masuk ke kelas. Di kelas aku hanya sendirian, semua siswa-siswi di sekolahku tidak ada yang cocok denganku. Sesampainya di kelas, ternyata Pak Tomo sudah ada di kelas. Aku pun terpaksa masuk, walaupun pada akhirnya dihukum. “Rey!” Pak Tomo memandangku dengan tatapan setajam silet.

Reyanti itulah namaku. Nama yang diberikan dari ayahku tercinta, dan kebanyakan orang memanggilku dengan sebutan Rey, Itulah panggilanku. Aku ABD (Anak Baru Dewasa) yang baru masuk sekolah menengah pertama duduk di bangku kelas sepuluh. Dan aku anak tunggal, yang artinya tidak mempunyai kakak dan adik. Tetapi aku masih bersyukur masih punya ibu dan ayah yang selalu ada untukku, yang selalu mengisi kesendirianku.

“Iya Pak!” sahutku seraya menundukkan kepala.
“Kamu tahu sekarang sudah jam berapa?” tanya Pak Tomo menggetarkan jantungku.
“Jam 7 lebih 10 menit Pak,” jawabku datar.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?”
“Tau Pak, aku harus duduk,” jawabku datar.

“Bukan itu, kamu harus mengerjakan soal dari Bapak,” tegasnya sembari menggebrakkan penggaris kayu di meja.
Sudah ku duga, Pak Tomo memang orangnya seperti itu. Kalau ada muridnya yang terlambat pasti harus mengerjakan soal. Pak Tomo memberikan soal matematika tentang Al-Jabar, untung semalaman aku belajar materi Al-Jabar. Jadi, tanpa ragu aku mengerjakan soalnya. “Jawabanmu sempurna,” Pak Tomo tersenyum.

Aku mengangguk kepala dan duduk di sudut bangku paling belakang. Aku duduk sendirian, entah kenapa aku merasa benar-benar tidak cocok bersama teman-teman di kelasku. Selepas mengerjakan soal tadi pun, mereka hanya melihatku saja. Tidak ada penghargaan apa-apa, sekali pun tepuk tangan. Walaupun begitu, aku selalu menikmati kesendirianku. Tapi di setiap kesendirianku, aku berharap suatu saat nanti ada seseorang yang cocok denganku dan bisa bersahabat denganku.

Bel istirahat berbunyi, aku ke luar dan membeli es krim untuk cemilan sekaligus menemani kesendirianku. Namun, ketika aku ingin istirahat duduk di bawah pohon beringin. Seorang laki-laki menabrakku dan menumpahkan es krim yang ku pegang dan mengguyur seragamku. Laki-laki itu hanya menatapku, dia hanya memancarkan kekosongan di matanya. Setelah itu dia pergi dan bergabung dengan teman-temannya. Aku sangat kesal sekali, harusnya dia minta maaf. Tapi berhubung aku anaknya tidak begitu tertarik dengan permasalahan. Jadi, aku pun acuh tak acuh dan pergi ke toilet untuk membersihkan seragamku. Usai membersihkan seragamku, aku masuk kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya sampai selesai.

Pulang sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah. Sejenak aku berkunjung di pantai yang terletak di kotaku dan tidak jauh dengan rumahku. Cahaya mentari mulai terbenam, aku yang duduk di pinggir suara ombak yang naik turun, masih menikmati sinar itu yang kian mulai tenggelam, kebanyakan ABD sekarang menyebutnya “SUNSET” Aku sangat menyukai fenomena itu, sungguh maha besar Allah yang menciptakan fenomena seindah ini. Namun, di saat mataku terpaku sinar jingga itu, seseorang duduk di sampingku dengan spontan. Iya, dia adalah laki-laki yang menabrakku waktu aku mau istirahat. Aku pun cuek dan fokus memandang sinar jingga itu, dia pun mengikutiku menikmati sinar itu. Tiba-tiba dia membuka suara.

“Hei.. kamu suka sinar itu?” tanya laki-laki itu menggugah lamunanku.
“Eh iya, aku sangat menyukainya!” jawabku singkat sembari tersenyum.
“Namaku Damar, kamu siapa?” Damar menyodorkan tangannya.
“Aku Reyanti, panggil saja Rey,” aku menyambut tangannya sambil tersenyum.
“Oh. Oiyah Rey, soal waktu siang maaf yaa, aku tidak sengaja,” dia menatapku dengan sapaan senyumnya.
“Iya nggak apa-apa,”

Entah ada setan apa yang merasuki aku, sehingga aku merasa nyaman di dekat Damar. Damar dengan gaya rambut cepak dan tahi lalat di pinggir bibirnya terkadang membuatku deg-degan di dekatnya. Tapi aku senang di sampingnya, akibat efek dari perbincangan sore itu. Setiap hari aku dan Damar selalu bersama dan bercanda tawa. Ketika istirahat, aku pun tidak merasa kesepian lagi, walaupun aku dan Damar tidak sekelas. Tapi kita selalu bersama-sama ketika istirahat maupun pulang sekolah. Setiap sore aku dan Damar juga selalu menikmati indahnya sunset di pantai itu.

“Rey, apakah kamu ingin menjadi matahari?” Tanya Damar yang duduk di sampingku sambil menatap sunset.
“Kenapa kamu tanya seperti itu? Bukankah ketika kita hidup itu seperti matahari? Adakalanya matahari bersinar terang, adakalanya matahari redup seperti yang sekarang kamu tatap.
Begitu pun dengan hidup. Adakalanya kita suka, dan adakalanya kita berduka. Itulah kehidupan, selalu banyak rasa dan berwarna,” jelasku dengan tersenyum.

“Ternyata di balik kamu yang pendiam bisa berkata-kata juga yah. Seperti Mario Teguh,” Gurau Damar menyenggol pundakku. “Apaan sih,” Aku memukul pelan pundaknya.
“Rey, kamu beda dengan cewek-cewek lain. Kamu itu sederhana, tapi cara berpikir kamu sungguh mewah,”
“Aku nggak mempan digombal,” ledekku menjulurkan lidahnya.
“Aku serius Rey,”

Hari demi hari, aku semakin dekat dengan Damar, dia adalah orang pertama yang buat aku nyaman. Dia adalah orang pertama yang bisa bercanda tawa denganku. Setiap malam aku dan Damar selalu SMS-an, telponan, sampai calling video. Dia itu kocak banget, walaupun kadang dibalik tatapannya memancarkan kekosongan. Entah itu kekosongan hati ataupun jiwa? Aku tak tahu. Malam pun tiba, ketika aku sedang teleponan dengan Damar. Tiba-tiba dia mengajakku agar datang di pantai seperti biasanya jam 3 sore, karena besok libur sekolah. Dia berkata ada sesuatu yang ingin diomongin dan aku harus berjanji agar datang. Aku pun menerima ajakan Damar dengan senang hati. Keesokkan harinya aku menikmati pagi dan siangnya di rumah bersama keluargaku. Menjelang sore, aku bergegas mandi agar siap-siap.

Setelah semuanya sudah siap, parfum pun sudah agak menyengat. Aku ke luar jalan kaki menuju ke pantai menepati ajakan Damar sekaligus janjinya. Sesampainya di pantai aku duduk manis menikmati angin sepoi-sepoi dengan desiran pasir yang begitu lembut. Tapi sudah setengah jam Damar belum muncul-muncul juga, aku mencoba bersabar menunggu dia. Tapi dia belum datang-datang juga, aku mencoba SMS tapi enggak dibales, ditelepon enggak diangkat-angkat, mungkin lebih baik aku menunggu.

Arrgh! Sungguh jenuh sekali menunggu seseorang, yang tak tahu apakah dia datang atau tidak? Tapi aku selalu mencoba bersabar menunggu dan menunggu. Tapi sudah satu jam lebih Damar belum datang juga, sampai matahari mulai terbenam dengan sinar yang menjingga, dia belum menampakkan wajahnya. Aku pun merasa kesal, kenapa dia yang mengajakku, dia yang membuat janji bersama, tapi kenapa dia tidak datang? Apakah ada yang salah denganku? Sehingga dia tidak datang.

Ahh.. hari sudah mulai petang, lebih baik aku pulang. Aku pun pulang dengan langkah gontai penuh kekesalan. Entah kenapa aku merasa sangat sakit hati? Harusnya aku tak perlu terlalu memikirkannya. Biarkan rasa itu menghilang dengan sendirinya. Sampai di rumah, malam tiba menjelma dengan bintang-bintang yang benderang menemani kesepianku dengan rasa hati yang merana. Dan untuk dia yang sudah mengecewakanku, aku tidak tahu harus bagaimana menanggapi perasaanku? Dia itu abu-abu, tidak jelas dimana putihnya dan dimana hitamnya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Muhamad Saepudin
Blog: http://penahistory.blogspot.co.id
Nama Lengkap: Muhamad Saepudin
Sekolah: SMAN 1 Waled
Jabatan: Wartawan Sekolah
Motto: Hidup adalah perjuangan
Organisasi: Crew Diva Pelajar

Cerpen Penantian Kala Cahaya Menjingga (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Raden Jakawantoro

Oleh:
Pada suatu hari lahir bayi tampan, putra dari pasangan jaya wantoro dan sri yantuniyalara. Kedua orangtua itu sangat bahagia dengan kehadiran bayi di tengah-tengah mereka. Sangat banyak calon-calon nama

Viko!, Come Back Please

Oleh:
Pagi ini pagi yang kutunggu tunggu setelah berlibur selama 2 minggu, akhirnya aku pun kembali ke sekolah. Ingin sekali aku bertemu dengan sahabatku di sekolah Viko. Dia murid pindahan

Gue Sayang Loe Lebih Dari Sahabat

Oleh:
“CHICI! CHICI! BERANGKAT YUK~!” teriak Rio ketika di depan rumah Chici. Chici yang sudah siap-siap dari tadi langsung keluar dari dalam rumahnya. Ia menghampiri Rio lalu menoyor Rio. “Lama

Pelangi Hatiku

Oleh:
Kisah cintaku tak seindah yang kubayangkan. Beberapa kali aku memilih lelaki yang salah tapi untungnya belum sampai menikah. Kalau dikenang sakit bukan main rasanya. Cinta pertamaku ku labuhkan pada

Love And War

Oleh:
Aku mulai pusing dengan setumpuk barang elektronik di sudut kamarku yang tidak terpakai, membuat satu robot saja susahnya minta ampun padahal aku harus membawanya besok, aku mencoba kembali memikirkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *