Penantian Kala Cahaya Menjingga (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 31 January 2016

Setelah kejadian kemarin yang sangat membuatku kesal, Damar tidak muncul lagi di sekolah. Dia menghilang begitu saja. Aku tidak tahu, kenapa dia tidak berangkat-berangkat ke sekolah? Ada apakah gerangan? Apa mungkin dia sakit? Aku benar-benar tidak tahu kenapa Damar tidak berangkat. Aku bertanya-tanya pada teman sekolahnya. Tapi mereka juga tidak tahu, dan sejak itu Damar tidak ada kabar. Nomor kontaknya juga sudah tidak aktif, dia seperti ninja yang menghilang tanpa jejak.

Sudah hampir satu tahun Damar tidak juga muncul-muncul. Tapi kenapa aku begitu antusias menantikan dia? Sungguh semenjak Damar tidak ada aku merasa kesepian lagi, dan sekarang aku menyendiri lagi seperti waktu pertama kali aku masuk SMA. Kenapa dia harus mengisi hari-hariku kalau pada akhirnya dia yang mengkosongkannya kembali? Aku benar-benar kesal, bimbang, merana, pokoknya perasaanku campur aduk. Pernah aku mencoba untuk melupakan dia. Tapi aku tidak bisa, dia terlalu padat untuk dilupakan. Sekarang aku sendiri lagi, istirahat sendiri dan menikmati sunset sendiri.

Hari demi hari ku jalani. Enggak terasa sekarang aku sudah kelas 12, dan di bangku kelas 12 ini dia yang ku tunggu-tunggu muncul begitu saja dengan sikap yang agak berbeda. Dia yang dulu matanya memancarkan kekosongan, sekarang jelas sekali pancaran itu dengan tatapan sayu. Gaya rambutnya pun berbeda, dia yang dulu cepak, sekarang berubah menjadi berponi ke depan yang lurus helai demi helai. Dan yang tidak ku sangka-sangka, sekarang dia sekelas denganku.

Ting.. ting.. ting! Guru masuk ke kelas. Di sela jam pelajaran, aku selalu mencuri pandangan ke Damar. Ketika dia sadar sedang diperhatikan, aku langsung berpaling pandangan ke depan memperhatikan guru yang sedang mengulas materi. Sekali aku melirik ke Damar, akhirnya berkali-kali aku meiriknya. Tapi dia seperti orang asing yang baru aku kenal. Sama sekali tidak ada sapaannya. Bel istirahat pun berbunyi. Aku ke luar dan masih sendirian menikmati es krim di bawah pohon beringin. Tiba-tiba Damar menghampirinya. Dia hanya duduk diam di sampingku dan fokus memandang ke depan.

“Hey.. kamu Damar kan?” tanyaku keheranan.
“Iya. Kamu amesia yaa, sudah tahu malah nanya!” jawabnya cuek.
“Tahun kemarin kamu ke mana aja? Kok kamu ngilang begitu aja?” tanyaku kembali dengan mimik penasaran.
“Itu tidak penting untukmu!”
“Itu penting,” kejarku dengan tegas menatap Damar yang masih cuek.
“Tidak berguna!” tandasnya lalu mengangkat sekujur tubuhnya.

“Kamu gila yaa. Kamu nggak ingat janji kamu sendiri? Waktu itu aku nunggu kamu sampai sore, tapi kamu tidak datang-datang juga. Sampai petang pun aku masih menanti. Tapi kenapa kamu tidak datang juga? Harusnya dulu aku tidak perlu menerima ajakan kamu!” Jelasku dengan air mata yang menetes sebutir demi sebutir.
“Apakah kamu menyesal menungguku?” tanya Damar memotong penjelasanku sembari menatapku dengan sinis.
“Aku sangat menyesal! Puas!” aku pergi menabrak seiring pundaknya Damar.

Dia sangat berbeda sekali. Kenapa dia muncul dengan sikap yang sangat dingin? Harusnya tadi aku tidak membuka obrolannya. Tapi kenapa aku sangat penasaran dengan apa sebab-akibat dari perubahan Damar yang sangat drastis. Aku pun mencoba mengintai Damar ketika pulang sekolah. kebetulan dia pulangnya jalan, jadi aku tinggal mengikutinya saja. Sampai di pertengahan jalan, dia berhenti sejenak dan membeli minuman aqua. Tapi kenapa dia beli minuman aquanya dua? Tiba-tiba setelah membeli minuman dia menoleh ke belakang dan mengetahui keberadaanku.

“Ini minuman buat kamu, biar nggak cape mengikutiku,” Damar melempar aqua itu melambung ke atas. Untung aku bisa menangkapnya. “Ko kamu tahu?”
“Sudahlah jangan banyak tanya!” potongnya. “Rey, duduk di sini,” aku pun duduk di sampingnya.
“Kenapa kamu mengikutiku? Apa yang kamu cari dariku?” tanya Damar lagi.
“Nggak. Kamu jangan GR dulu, aku hanya ingin jalan-jalan saja,” tuturku dengan seribu alasan.
“Berhentilah mengintaiku dan jangan coba-coba mencari aku yang dulu,”
“Tapi…”
“Jika kamu ingin mengetahui tentangku, kamu bisa datang besok sore di pantai,” Damar pergi dari tatapanku.

Setelah itu aku pun pulang dengan langkah gontai, sekujur tubuhku terasa lemas. Aku langsung mandi dan beranjak masuk kamar. Tapi malam ini aku tidak bisa tidur, aku masih memikirkan ajakan Damar tadi. Apakah aku harus datang? Atau lebih baik aku di rumah saja. Malam ini aku sangat bimbang sekali. Tapi kayaknya aku tidak usah datang, aku sudah cukup sakit hati. Kali ini aku tidak akan berharap lebih, karena takut kecewa lagi, dan akan lebih baik jika aku mengabaikannya saja.

Keesokkan harinya setelah pulang sekolah, aku tidak datang ke pantai. Aku langsung pulang dan mengabaikan ajakan Damar yang belum pasti kebenarannya. Hari mulai sore, aku masih di rumah. Tapi kenapa rasanya aku ingin datang ke pantai? Sebenarnya aku tidak ingin ke pantai takutnya kecewa lagi, tapi naluriku berkata agar pergi, pergi, dan pergi. Aku pun ke luar dari rumah dan pergi menuju pantai, walaupun hari sudah mulai petang aku nekad untuk tetap pergi. Dan sesampainya di pantai, tak ku sangka laki-laki yang membuatku kesal sedang duduk menatap sunset yang mulai terbenam. Dia duduk dengan genggaman pasir putih. Aku pun menghampirinya dengan spontan aku duduk di sampingnya.

“Apakah kamu menungguku?” tanyaku membuka suasana yang mulai gelap.
“Kalau bukan kamu siapa lagi? Bukankah aku sudah berjanji?” Damar tanya balik.
“Lantas kenapa waktu pertama kali kamu mengajakku, tapi kamu tidak juga kunjung datang?” aku tanya balik lagi.
“Jika orang yang ditunggu itu pasti, orang yang menunggu pasti nggak akan bosan-bosan. Bukankah begitu? Lalu, menurutmu apakah aku pasti?” tanya Damar lagi.
“Kamu itu abu-abu,” jawabku singkat.

“Kamu ingat waktu pertama kali aku datang ke pantai ini dan ketemu kamu untuk yang kedua kalinya? Iya, saat itu aku sedang dihantam kesedihan. Kedua orangtuaku bertengkar terus, dan ketika aku mendengarnya, telingaku terasa panas. Jadi, aku memilih untuk ke luar dan mencari suasana yang nyaman. Lalu, aku menemukannya dan tempat inilah yang membuatku nyaman. Tapi ketika ketemu kamu di sini, kamu yang membuat suasananya menjadi sangat nyaman,” jelasnya sembari tersenyum menatapku.

“Oh iyah. Rey, sebelumnya aku ingin minta maaf, waktu itu aku tidak datang,” Damar bersandar di pundakku. “Maaf Rey. Waktu itu aku sudah siap-siap datang ke sini, tapi masalah besar datang dan membuat kerumitan di ruang keluargaku. Dan pada akhirnya mereka bercerai, aku sangat terpukul sekali. Setelah itu aku pindah ke Jakarta dan tinggal bersama ayah. Tapi beberapa bulan kemudian, ayahku sakit-sakitan dan nyawanya tidak bisa tertolong lagi. Jadi, aku memilih untuk kembali dan tinggal bersama Ibu,” seketika mimik Damar berubah seperti dulu.

“Kamu masih ingat apa yang ku katakan dulu? Bahwa hidup seperti cahaya matahari,” aku memegang rambut Damar yang lembut dan dengan pelan aku mengelus-elusnya. “Sangat ingat sekali. Ada kalanya kita merasa suka, dan ada kalanya kita berduka. Bukankah begitu Rey? Kamu tahu nggak? Waktu itu kata-katamu benar-benar menolong emosinalku. Terima kasih Rey. Sekali lagi aku minta maaf Rey,” jelas Damar dengan suara pelan. “Kamu tak perlu minta maaf, karena aku sudah memaafkannya,” Damar tergugah dan menggenggam tanganku dengan erat.

Sore itu aku berbincang-bincang dengan Damar, dia bercerita banyak tentangnya. Dan ternyata di balik kekosongan matanya, dia menyimpan banyak kesedihan yang berlarut sampai-sampai mata itu terlihat sayu. Sampai matahari tenggelam, Damar mengajakku pulang. Aku pun tergugah dan pikiranku terhenyak, baru kali ini ada seorang laki-laki yang menangis di sandaran pundakku. Tapi, aku tidak berpikir Damar lemah, karena bahwasannya dia itu sebenarnya kuat. Hanya saja kesedihan itu berlarut, jadi kantong matanya tidak bisa menampung lagi air matanya dan pada akhirnya dia menangis.

Aku pulang dengan genggaman tangan Damar yang begitu erat. Sesekali dia menoleh ke samping, dia tersenyum manis. Aku pun membalasnya dengan tersenyum simpul yang membuat pipiku jadi merah. Untungnya cuaca sudah mulai petang, jadi pipiku tidak kelihatan memerah. “Oiyah, waktu itu kamu mengajakku dan berkata ingin ngomong sesuatu. Emangnya kamu mau ngomong apa?” tanyaku penasaran menghentikan langkahnya.
“Soal ituuuu.. intinya aku ingin selalu bersamamu,” jawab Damar dengan lembut yang penuh kemesraan.

Jantungku berdetak kencang mendengar kata-kata yang barusan dilontarkan Damar. Pipiku memerah lagi. Aku pun tersipu malu ditatapnya. Di pinggir jalan dengan lampu yang mulai menyala kerlap-kerlip disertai taburan bintang yang begitu indah, bulan pun ikut bersinar. Angin kumbang mulai terasa dinginnya. Aku dan Damar saling bertatap, sembari tersenyum aku memeluknya. Entah kenapa aku ingin dia selalu ada di sampingku?

Tiba-tiba air mataku berlinangan, aku mulai tersedu memeluk Damar seraya berkata, “Jangan tinggalkan aku lagi, jangan tinggalkan aku sendirian,” Aku semakin erat memeluknya. Damar memejamkan matanya dan berkata, “Aku akan tetap di sampingmu. Tunggu aku di sinar jingga yang mulai meredup, di situ aku akan datang dan hidup dengan sunset yang indah menjingga,” Damar memelukku dengan erat. Tiba-tiba hatiku mulai bermekaran dari benih-benih asmara yang tumbuh bergejolak. Dia! Iya, dialah laki-laki yang akan selalu ku nanti. Entah kapan dia akan mengungkapkan perasaannya? Aku akan menanti dipenantian kala sinar itu menjingga.

Cerpen Karangan: Muhamad Saepudin
Blog: http://penahistory.blogspot.co.id
Nama Lengkap: Muhamad Saepudin
Sekolah: SMAN 1 Waled
Jabatan: Wartawan Sekolah
Motto: Hidup adalah perjuangan
Organisasi: Crew Diva Pelajar

Cerpen Penantian Kala Cahaya Menjingga (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Kartu Kuning

Oleh:
Sore itu menunjukkan pukul 3, akhir pekan yang hanya ada beberapa orang saja di kostan dikarenakan pada pulang kampung sedangkan aku yang sudah mendapat julukan “cewek kost sejati” tidak

Cinta Terbungkus Mimpi

Oleh:
Mentari menyapa di ufuk timur pertanda hari baru segera dimulai seperti biasa aku masih malas bangkit dari tempat tidur, masih asik dengan lembutnya bantal guling dan hangatnya selimut. Hari

Patengan

Oleh:
“Wow, keren banget!!!,” seru Bram saat ia melihat betapa indahnya tempat itu. “Kalian akan pemotretan di sini! Jadi, untuk persiapan materi dan juga pemantapan kita mengajak ke sini. Oh

Belahan

Oleh:
“Fel!,” panggil Billy. Felly tidak menggubrisnya. Ia tetap berada di pikirannya. Matanya tetap terfokus pada partitur muisk yang ada di depannya. Waktu yang begitu panjang untuknya. Sebuah hasil dimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *