Penantian Yang Sia Sia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 21 April 2018

Entah kenapa, sampai saat ini aku masih saja menunggunya di tepi sungai ini. Di tepi sungai yang penuh dengan cerita cintaku dengannya. Saat aku berdiri berdua juga bermain berdua dengannya di sini. Juga saat dia pergi dan berjanji akan kembali lagi ke sini. Namun, sampai saat ini pun dia tak kunjung kembali.

“Mba Ayu,” seseorang memanggilku yang ternyata dia adalah Tika.
“Tika, ada apa panggil mba?” tanyaku.
“Nggak kok aku cuma mau ketemu mba,” jawabnya.

“Mba, mba kenapa sih masih nunggu mas Rahman di sini? Kenapa mba buang buang waktu cuma buat nunggu yang gak pasti?” tanya Laras Padaku.
“Karena aku cinta sama Rahman,” jawabku singkat.
“Mba, mas Rahman itu udah lupa sama mba. Jadi sia sia mba nunggu mas Rahman di sini,” ucap Tika yang nada bicaranya mulai tinggi.
“Nggak, aku yakin Rahman masih ingat sama aku. Dan aku juga yakin pasti Rahman akan kembali,” ucapku.
“Kalau mas Rahman masih ingat sama mba, pasti mas Rahman udah kembali. Mas Rahman kan janjinya mau pergi cuma 3 tahun. Tapi ini udah 5 tahun mba,” jelas Tika.
“Bener kata Tika mba, kalau dia emang masih ingat mba pasti dia udah kembali untuk mba,” ujar Laras menyahut.
Tak terasa air mataku mulai mengalir mendengar ucapan Tika dan Laras. Aku tersadar bahwa kata mereka mungkin benar.

“Eh, udah udah. Kalian lihat, mba Ayu nangis gara gara kalian. Kalau kalian sayang sama mba Ayu, kalian gak boleh kaya begitu,” ucap Dini mencoba menghentikan pembicaraan.
“Dini, mungkin ucapan mereka bener. Mulai sekarang aku gak bakal nunggu Rahman lagi di sini. Tapi, aku akan tetap menunggu dia sampai dia kembali. Aku tetap menunggunya walau gak menunggu di sini,” ucapku.
“Maafin aku sama Tika mba. Aku gak bermaksud buat mba nangis. Kalau itu udah kemauan mba, kita gak bisa melarang. Itu hak mba,” ucap Laras
“Iya, Gak papa kok,” ucapku lalu tersenyum dan memeluk mereka bertiga.

Tika, Laras, dan Dini adalah orang yang selalu ada untukku. Meski aku dengan mereka terpaut usia 5 tahun, tetapi itu tak jadi penghalang persahabatan kami. Bahkan, aku sudah menganggap mereka seperti adikku sendiri.

Saat perjalanan pulang aku tak sengaja menabrak seseorang dengan sepedaku.
“Aww…,” rintih orang itu.
“Ya Allah. Mas gak papa kan? maaf ya aku gak sengaja,” jelasku.
“Iy, gak papa kok. Lagian cuma lecet sedikit tadi kena batu,” ucapnya.
“Ya udah, mas ikut saya aja. Biar saya obatin lukanya,” ajakku.
“Gak usah, cuma luka ringan kok. Nanti juga sembuh,” tolaknya.
“Udah lah mas, ikut aja. Takutnya infeksi,” bujuk Tika.
“Oke, aku ikut,” ucapnya setuju.
Akhirnya orang itu mau ikut pulang bersama aku juga Tika, Laras dan Dini.

Saat di jalan aku berkenalan dengannya.
“Oh iya, Aku Reza. Namamu siapa?” tanyanya.
“Namaku Ayu mas,” jawabku.
“Oh, namamu sama seperti wajahmu. Sama sama Ayu (cantik),” ucapnya.
Aku hanya tersenyum saat dipuji oleh mas Reza.
“Oh iya, mereka siapa?” tanyanya lagi.
“Mereka sahabatku mas. Ini Tika (sambil menunjuk Tika), Ini Laras (sambil menunjuk Laras), Dan itu Dini (sambil menunjuk Dini),” jawabku.
“Tapi kok, mereka bertiga panggil kamu mba?” tanya mas Reza.
“Usia mereka denganku terpaut 5 tahun. Aku 20 tahun dan mereka baru 15 tahun,” jawabku.
“Owh….” ucapnya mengerti.
“Usia mas berapa?” tanyaku.
“Usiaku udah 30 tahun. Aku udah tua,” jawabnya.
“Berarti aku gak salah manggil mas. Gak tua tua banget lah mas,” ucapku.

Setelah berjalan agak lama, akhirnya aku dan mas Reza sampai di rumahku. Saat di rumah keluargaku dan mas Reza mengobrol cukup lama. Sampai akhirnya bapakku mengantarkan mas Reza ke rumah pak RT.

Semakin lama aku semakin dekat dengan mas Reza. Dengan kedatangannya di sini aku tak merasa sedih lagi. Namun, nama Rahman tetap ada di dalam hatiku. Hingga suatu hari mas Reza mengajakku ke suatu tempat, yaitu sungai dimana aku dan Rahman sering bersama.

“Ayu, sejak aku bertemu denganmu aku udah cinta sama kamu. Apalagi setiap hari aku selalu bersama kamu, itu semakin membuatku jatuh cinta padamu. Ayu, maukah kamu jadi kekasihku?” mas Reza menyatakan perasaannya padaku.
“Mba ayo terima,” ucap Tika, Laras, dan Dini yang tiba tiba muncul.
“Mas, aku emang seneng deket sama mas. Karena mas, aku jadi bisa bahagia lagi. Tapi aku gak cinta sama mas. Aku masih nunggu seseorang yang aku cintai. Aku gak bisa jadi pacar mas,” jelasku.
“Oke, aku paham kok,” ucap mas Reza lalu pergi meninggalkanku.

“Mba, mba tuh gimana sih. Dia itu udah tulus sama mba, masa mba tolak sih. Mba tuh harus move on, mba gak usah nunggu mas Rahman lagi. Mba nungguin mas Rahman itu cuma sia sia,” ucap Tika lalu juga meninggalkan aku pergi, disusul Laras dan Dini.
“Apa aku salah nungguin Rahman. Apa aku salah kalau aku masih cinta sama Rahman. Rahman masih kekasihku, aku bakal nunggu dia sampai dia kembali,” ocehku sendiri sambil menangis
Semenjak kejadian itu, aku dan mas Reza tak lagi bersama atau bertutur kata. Hubunganku dan ketiga sahabatku juga menjadi renggang dan jarang bermain bersama lagi.

Setelah lama kejadian itu, aku kembali lagi seperti biasa. Dan pada suatu hari, ibuku menyuruhku untuk membelikan bahan pakaian. Saat melewati suatu rumah, aku melihat ada acara di samping rumah itu. Karena penasaran, aku melihat acara itu untuk mengetahui acara apa.
“Rahman,” aku kaget saat mengetahui bahwa acara itu adalah acara pertunangan Rahman.
“Ayu, bidadariku,” ucap Rahman menyadari kedatanganku.
Rahman berlari mengejarku namun aku juga berlari menghindarinya.
“Rahman, kamu jahat. Kamu jahat, kenapa kamu khianatin aku,” aku menangis menderu deru di tepi sungai yang penuh kenanganku dengan rahman.
“Aku tahu kamu pasti ke sini. Ayu, maafin aku,” ucap Rahman yanh tiba tiba ada di belakangku.
“Maaf? Segampang itu kamu minta maaf Rahman. Setelah aku nunggu kamu kembali selama 5 tahun, dan aku selalu setia. Tapi apa balasan kamu,” Aku memarahinya sambil terus menangis.
Rahman lalu memeluk aku yang sedang menangis.
“Aku tahu aku salah. Aku udah ngingkarin janji. Aku juga udah nyakitin kamu. Aku juga gak mau tunangan sama cewek itu, tapi keluarga dia udah bantuin keluarga aku. Dan sebagai balas budi aku harus nikah sama dia,” jelas Rahman.
Aku masih menangis di pelukan Rahman.
“Percaya aku Ayu. Aku sangat sangat mencintaimu, tapi Tuhan gak takdirkan kita untuk bersama,” lanjutnya.
“Rahman, sekarang aku paham. Makasih Rahman udah ngisi hatiku selama ini. Walaupun kita gak ditakdirkan bersama, aku akan tetap ingat kamu,” ucapku.
Rahman menghapus air mataku dan berkata
“Aku gak mau kamu nangis. Aku yakin pasti ada pengganti aku yang lebih baik.”
Aku hanya menangguk sambil terus menatap wajah rupawan Rahman.
“I Love You Ayu,” ucap rahman lalu mengecup keningku sebelum dia pergi.

Semua ucapan Tika dan Laras benar. Penantianku hanya sia sia. Dan karena menunggu hal yang tak pasti, aku telah menyia nyiakan orang yang juga tulus mencintaiku. Penantianku sungguh sia sia.

Cerpen Karangan: Selda Arifani
Facebook: Selda Arifani
Hai Readers….
Aku lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 30 Maret 2003.
ig: @selda_arifani30
Fb: Selda Arifani & Selda Ran
Maaf Ya, Kalau Cerpennya Jelek. Masih Penulis Baru:-)

Cerpen Penantian Yang Sia Sia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyemangat Hidupku

Oleh:
Fakri dan Nurul adalah 2 sejoli yang sudah bersama-sama sejak kecil. Bukan berarti mereka pacaran. Mereka telah mengenal satu sama lain. Dimulai dari kepindahan Fakri di sebuah rumah di

Ajari Aku Teori Cinta (Part 2)

Oleh:
Aku adalah sosok yang dikenal dengan imej baik tanpa skandal apapun walaupun satrio selalu menggangguku tapi biasanya aku hanya diam tak peduli. Tapi entah kenapa rasanya sudah tak tahan

Candrasengkala Cinta

Oleh:
Semburat cahaya lembayung memperindah langit sore itu. Dengan awan merah bercampur orange, serta kabut putih seperti lukisan pigmen di atas kanvas. Semua warga di sekolah itu sibuk mempersipakan untuk

You Are My Star (Part 2)

Oleh:
Selesai sarapan, aku naik kembali ke kamarku. Sampai di sana, aku segera membuka kiriman itu. Begitu terkejutnya aku ketika melihat benda di dalamnya. Sebuah benda berbentuk bintang berwarna kuning

Kodok Jelek

Oleh:
Suatu hari dipagi yang cerah, terlihat seorang gadis cantik. Dia bernama natasya yang biasa disapa dengan tasya. Gadis ini terlihat sedang mengamati beberapa pasang burung yang sedang berada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *