Penantianku Ternyata…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 28 July 2021

Aku membenci banyak hal yang kau lakukan. Contohnya, pergi sendirian. Tapi bagaimanapun, aku tetap tidak dapat membencimu. Rasa sakit yang kau hadirkan, entah bagaimana malah kuresapi dalam-dalam. Kemudian aku terjatuh di kegelapan malam. Hitam pekat kelabu ditelan kesunyian. Sepi sendiri, menantimu di ujung jalan sini. Seketika aku menyadari; yang lewat bukan sosokmu. Yang menghampiriku cuma angin lalu, itupun tanpa membawa aroma tubuh sebagai pertanda kehadiranmu. Daun gugur tanpa pesan apapun. Kereta bergerak tanpa suara, seolah melayang di udara. Sangat menyebalkan. Semuanya terasa menyakitkan. Kau adalah sumber permasalahan. Kau sendiri juga adalah obatnya. Sial! Mengapa aku terjebak dalam kegelisahanku sendiri?

Kau mawar dalam penglihatan; menawan. Kau mawar dalam lukisan; indah. Tapi kau mawar dalam genggaman; melukai. Kau juga mawar di taman; dipetik lalu mati…

Seringkali bahagia dan luka datangnya dari satu orang yang sama. Lalu aku harus bagaimana? Jika dipertahankan, maka akan terus tersakiti. Jika dilepaskan, bahagianya juga ikut pergi. Maka yang kupelajari tapi masih saja tidak dapat kulakui; jangan menggantungkan diri selain pada ilahi. Sulit. Ya Tuhan, janji makhluk-Mu begitu menggoda, menarik untuk dicoba!

Aku meyakini satu hal. Bahwa sudah pasti kamu akan menyakitiku. Aku juga akan menyakitimu. Tentu saja kita akan saling menyakiti satu sama lain, mau tidak mau. Untuk menuju puncak tertinggi, itu berarti melewati segala rintangan selama proses pendakian. Ini keadaan yang wajar. Masalahnya, aku tidak tahu seberapa jauh batasan wajarnya. Sehingga aku ragu, apakah aku mampu melalui semuanya denganmu(?) Apakah aku berjuang atau menjatuhkan diri ke dalam jurang? Jurang kepahitan dan kenistaan. Dataran yang diruntuhkan dengan kebohongan, kemudian menjelma menjadi jebakan bagi yang tak paham medan. Terperosok dalam.

Kalau dipikirkan, selama masih kuat menanggung sakitnya, berarti cintaku masih lebih besar bukan? Rasa senangku pada hal-hal sederhana yang kau bawakan dari perjalananmu melanglang buana keluar sana, aku tidak sanggup melewatkannya. Aku pasti rugi! Rasa sakit adalah apa yang harus kubayar selama menunggu untuk sebuah pengalaman baru. Hanya mendengar tanpa tahu. Entah itu oleh-oleh yang masih murni atau sudah dibumbui. Aku hanya mensyukuri bahwa kau masih ingat kembali.

Tapi aku ingin kau meyakinkanku tentang sesuatu. Di luaran sana, di suatu tempat entah dimana, kau tidak menemukan kenyamanan yang lain, kan? Karena hanya aku tempat sejati untukmu pulang. Aku yang menunggumu dengan penuh harap dan kesabaran. Tidak menuntut selain cinta dan keselamatan. Yang penting kau senang menjalani kehidupan.

Hmm…
Aku baru tahu. Aku baru sadar. Karena ternyata, kita tidak dapat berjalan bersama… Di mimpi yang berbeda.

Itu sebabnya, itulah sebabnya! Kau tidak pernah mengajakku untuk ikut bersamamu~

Blora, 25 Juli 2021.

Cerpen Karangan: Wuri Wijaya Ningrum
Wuri W Ningrum – Kau datang dan pergi, oh begitu saja. Semua ku terima apa adanya. —Letto, dalam “Ruang Rindu”.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Penantianku Ternyata… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayaran Kang Inul (Part 1)

Oleh:
Dengan raut muka yang layu dan bibir pucatnya ia menolak halus tawaran uang yang disodorkan berkali-kali oleh Pak Lurah sebagai imbalan jasa yang telah dilakukannya. Ia berdalih bahwa sesuatu

Senyum Senja (Part 1)

Oleh:
“Sorot matanya begitu teduh. Siapa dia sebenarnya?” Archi menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Tas yang menggantung di punggungnya kini berada di atas meja. Sementara gemerisik tanya menghantui pikirannya. Menarik

Karen, Jangan Menangis

Oleh:
Karen, aku di sini sedang bergelut dengan waktu, demi dirimu. Saat kau menghitung-hitung usiamu. Andai saja sayapku tidak sakit, aku telah ada di dekatmu. Tapi aku lagi berjibaku, mencari

Pemuda Tampan, Katanya

Oleh:
Cerita ini tentang kehidupan seorang pemuda tampan yang takut pada ibunya. Hm, bukan itu. ini tentang pemuda tampan yang menemukan jati dirinya. Sebut saja dia James. Gila, keren banget

Kau Telah Tiada

Oleh:
Hari ini aku terlambat pulang kuliah lagi. Aku menyusuri sebuah jalan yang dulu adalah kuburan. Akibat perkembangan kota jalan ini di renovasi, kuburan di ratakan dan di aspal. di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *