Penawar Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

Mentari pun bersiap untuk menebarkan sinar emasnya ke seluruh dunia. Dingin pun masih terasa sampai ke sumsum tulang. Amira segera bergegas untuk bersiap berangkat ke sekolah. Amira duduk di kelas 11 SMA.

“Bun, mira berangkat sekolah dulu ya”.
“Ya nak, hati-hati di jalan”
“Oke bunda”.

Amira berangkat sekolah menggunakan sepeda. Karena jarak sekolah dengan rumahnya tak terlalu jauh. Sesampainya di sekolah, suasananya masih sangat sepi belum ada siswa yang datang. Amira memarkirkan sepedanya di parkiran siswa. Karena masih sepi, amira memutuskan untuk membaca sejenak untuk menunggu teman-temannya.

“Rasty, tumben kamu berangkat pagi biasanya dateng siang”.
“Ya mir, tadi aku diantar ayahku”.
“Oh, begitu. Oke-oke”.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 wib. Bu nita guru biologi sudah datang dan siap untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Seorang anak laki-laki berjalan di belakang bu nita.
“Anak anak, kita hari ini kedatangan murid baru. Aldi silahkan perkenalkan dirimu”.
“Terimakasih bu. Halo teman-teman perkenalkan namaku Renaldi Nugrahandi. Panggilannya aldi. Aku pindahan dari jakarta. Salam kenal”.
“Aldi kamu duduk di sebelah amira di pojok belakang”. ujar bu nita sambil menunjuk ke arah amira.
Amira sedari tadi hanya fokus fengan buku-bukunya tanpa menghiraukan aldi yang berjalan ke arahnya.

“Hay, namaku aldi, nama kamu siapa?” ucap aldi seraya mengulurkan tangan kepada amira.
“Namaku amira, kamu anak baru ya?”
“Ya aku pindahan dari jakarta”.

Bel pun berdering tanda untuk beristirahat. Amira masih saja berkutat dengan bukunya. Dia memang “kutu buku” di kelasnya.
“Mir, kamu emang gak ngantin?”
“Gak al, aku gak biasa ngantin. Aku cuma biasa ke perpus”.
“Gitu ya. ya udah gimana kalau kita ke perpus aja, aku juga pengen tau perpusnya”.
“Oke yuk”.

Mereka akhirnya pergi ke perpus. Mereka asyik berbincang-bincang, tak terasa mereka sudah sampai di perpus. Mereka mencari buku-buku yang hendak mereka baca. Waktu pun terus bergulir. Menit berganti menit. Mereka masih asyik dengan bukunya tanpa menyadari kalau bel masuk telah berdering.

“Kalian kok masih di sini sih, udah masuk tu”. ujar penjaga perpus mengaegetkanku
“Al, udah masuk nih. Ayok buruan tar kita dapat hukuman lagi”.
“Ya, yuk”.

Sesampainya di kelas, mereka tak mendapati guru yang mengajar.
“Ras, pak roni ke mana?” tanyaku pada rasty.
“Gak ada mir, pak rony ada urusan jadi kita dikasih tugas aja.
“Syukurlah, gak jadi dihukum he he”.
Amira segera mengerjakan tugas dari pak roni. Aldi yang sedari tadi diam hanya memperhatikan amira dan rasty.

Bel pulang pun berdering. Penuh semangat, amira pergi ke parkiran mengambil sepedanya.
“Mir, aku boleh bareng gak?”.
“Ya boleh dong masa gak boleh sih”.

Ternyata rumah mereka dekat. Rumah meteka hanya berjarak empat rumah saja.
Amira sudah sampai di rumahnya. Dia duduk di kasur empuknya dan terbayang wajah aldi. Dia bingung dengan perasaannya. Mungkinkah dia jatuh cinta kepada aldi?.

Amira datang ke taman dekat rumahnya. Dia sedang menantikan seseorang siapa lagi kalau bukan aldi. Seorang laki-laki dengan menggunakan kaos biru dengan celana jins hitam duduk di sebelahnya.
“Mir, ada yang aku omongin sama kamu. Aku suka sama kamu sejak pertama kali bertemu. kamu adalah penawar hatiku. Apakah kamu mau menjadi pacarku?”.
Amira kaget sekali mendengar ucapannya. Amira hanya diam mencerna perkataan aldi.
“Iya, aku mau jadi pacar kamu al”.

Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Mereka hidup bahagia karena cinta yang menghiasi kehidupan mereka.

Selesai

Cerpen Karangan: Erika Lorenia

Cerpen Penawar Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Monyet itu Tulus (Part 2)

Oleh:
Hari demi hari pun kami lalui bersama, tak hanya suka, duka pun juga kami alami bersama. Setiap hubungan pasti ada kendalanya sendiri, sebagaimana dengan hubungan kami ini, kami terkendala

Harusnya Aku Menikah

Oleh:
Harusnya aku menikah tahun ini. Tahun Naga, 2012. Tahun yang akan membawa keberuntungan banyak buatku. Tahun yang akan menguatkan aku dalam berbagai situasi. Tahun yang akan menebarkan benih-benih kebahagiaan

Tak Seperti Dulu

Oleh:
Namaku Erik. Dulu waktu masih kecil aku dan teman-temanku selalu bermain bersama. Kami bermain dengan alam tak sama dengan anak-anak sekarang yang sibuk dengan ‘gadget’ dan mudah terjerumus ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *