Pengirim Misteri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 December 2016

Pagi itu mentari bersinar dengan cerah dan sekolahku sudah ramai. Tiba di pintu kelas ternyata di dalam kelas sudah banyak murid yang sudah datang. Namun aku merasa aneh karena di atas meja bangkuku ada setangkai bunga mawar dan coklat berbentuk hati dihiasi pita berwarna merah muda lengkap dengan secarik kertas yang bertuliskan “Dari Seseorang Yang Mencintaimu”. Aku tidak tahu siapa yang mengirim bunga dan coklat itu. Aku merasa penasaran dengan pengirim bunga misteri itu dan mulai bertanya kepada teman-teman, namun mereka juga tidak mengetahuinya karena bunga dan coklat itu sudah ada di kelas pada waktu mereka datang. Lalu datanglah Romi di kelas dia sahabatku.

“Pagi Raina” sapa Romi
“Pagi juga Romi” jawabku
“Ciee.. Bunga dari siapa tuuhh!” sambil duduk di bangku sebelahku
“Gue juga gak tau Rom, udah ada aja pas gue masuk kelas!” jawabku
“Cie.. Yang punya penggemar Rahasia!”
“Gue jadi penasaran deh siapa yang ngirim bunga sama coklat ini!”
“Yang pasti orang yang cinta banget sama loe!”
“Hah.. Darimana loe tau yang ngirim bunga ini cinta sama gue, kan gue belum bilang yang ngirim cinta sama gue!”
“Hmm.. Kan tiap cowok yang gak berani ngungkapin perasaannya pasti kaya gini, ngirim bunga dan coklat sama cewek yang disukainya tanpa sepengetahuan cewek itu!”
“Kaya pengalaman banget dah, haha!”
Tiba-tiba guru pun datang kami pun bersiap untuk memulai pelajaran.

Karena rasa penasaranku dengan pengirim misteri itu pagi-pagi aku berangkat sekolah dan tiba di sekolah keadaan masih sangat sepi hanya penjaga sekolah yang sudah ada. Pada saat masuk kelas dan belum ada seseorang di dalamnya bunga dan coklat itu sudah ada di meja bangkuku lengkap secarik kertas yang bertuliskan “Aku Sangat Menyayangimu, Raina. Padahal aku sangat dekat denganmu tapi kamu tidak menyadarinya” aku semakin penasaran dengan pengirim misteri itu. Dia dekat denganku tapi siapa dia apakah teman sekelasku. Teman-teman sekelasku mulai berdatangan. Tiba-tiba Mita menghampiriku.

“Raina, loe dapet lagi bunga dari penggemar rahasia loe?” Tanya Mita
“Iya, nih Mit gue dapet lagi bunga dan coklatnya. Gue jadi penasaran deh siapa pengirim misteri itu, dari surat ini katanya dia deket sama gue!” Sambil menunjukan secarik kertas
“Hmm.. Kayanya loe harus selidiki deh!”
“Iya tadi udah gue coba, bela belain dateng ke sekolah pagi banget tapi bunga sama coklat ini udah ada aja di meja gue!”
“Kira-kira siapa yaa yang ngirim bunga sama loe, Gue juga jadi penasaran nih!”
“Ayo” dengan nada keras “lagi ngomongin apa sih kayanya seru banget!” Tiba tiba Romi datang dan mengagetkan kami berdua.
“Romi loe ngagetin gue aja hampir aja jantung gue copot!” Kata Mita
“Iya maaf maaf. Emang kalian ngomongin apa sih?” Sambil menaruh tas di mejanya dan duduk di kursi bangkunya
“Ini biasa pengirim misteri. Gue penasaran banget dehh sama yang ngirim nih, loe kan sahabat gue Rom seharunya loe bantu gue dong buat ngungkap si pengirim misteri!” Jawabku
“Yaelahh, masih dibahas aja pengirim misteri. Males gue buat bantuin loe kaya gak ada kerjaan aja!”
“Iddih, dia kan sahabat loe Romi masa gak mau bantuin Raina!” kata Mita sambil menuju bangkunya.
“Ahh males gue bantuinnya juga!” Jawab romi
“Ya udah kalo loe gak mau bantuin gue jangan harap gue bantuin loe saat loe lagi susah ok!”
“Yaelah segitunya amat sih loe!”
“Hhehe cuma canda doang sih. Nanti pulang sekolah bareng ya. Kemarin loe kan gak bareng sama gue!”
“Kayanya gak bisa deh soalnya ada urusan gue jadi gak bisa bareng sama loe, tapi gue janji malem gue ke rumah loe buat ngerjain tugas bareng!” Kata Romi
“Ok, sipp!” Jawabku

Aku dan Romi memang sudah bersahabat sejak SMP kelas 1 dan sampai sekarang kami sudah kelas 2 SMK kami masih bersahabat. Rumah kami memang tidak terlalu jauh jadi Romi sering main ke rumahku sekedar mengerjakan tugas bersama. Dan sebaliknya aku juga suka main ke rumah Romi untuk bersilahturahmi kepada keluarganya.

Sudah sebulan pengirim misteri selalu mengirim bunga, coklat dan secarik kertas yang berisi curahan hatinya untukku, namun aku belum mengetahui siapa pengirim misteri itu. Sudah kuselidiki dan beberapa orang teman laki lakiku curigai namun hasilnya nol aku tidak mengetahui si pengirim rahasia itu. Hari sagatlah panas aku berjalan kaki pulang sekolah sendirian karena Romi selalu beralasan sibuk apabila aku ajak dia pulang bersama. Namun setengah perjalananku menuju rumah tiba-tiba aku teringat bahwa buku pelajaranku tertinggal di kolong meja bangku. Ahh biarlah besok saja aku bawa, pikirku. Tapi entah kenapa aku merasa ingin membawa buku itu dan aku berputar arah menuju ke sekolahku dengan tergesa-gesa. Tiba sekolah keadaan sekolah sepi dan kelas-kelas yang aku lewati sudah kosong. Dan tibalah aku di kelasku terlihat Romi dari jendela yang masih di dalam sambil menaruh bunga, coklat dan secarik kertas.
“Oh.. Tuhan ternyata Romi si pengirim misteri itu ternyata sahabatku mencintaiku.. Tapi apakah mungkin? Atau ada seseorang yang menyuruhnya” pikirku

Aku segera masuk ke dalam kelas.
“Romi apa maksudmu menaruh bunga dan coklat itu?” Tanyaku
“e… e.. e..!” Romi gugup
“Kenapa Romi jawab!” Bentakku
Dengan memegang tanganku dia pun berkata “Raina selama ini aku mencintaimu, entah dari kapan aku mulai jatuh cinta padamu. Di setiap aku melihatmu jujur jantungku selalu berdebar dengan keras tapi aku tutupi semua itu karena aku tau kalo kamu itu sahabatku. Aku selalu berpikir mengapa aku mempunyai perasaan seperti ini pada sahabatku sendiri. Aku tidak berani mengungkapakan perasaan ini dan aku pun berpikir untuk mengirim bunga, coklat dan secarik kertas yang berisi curahan hatiku untuk wanita yang aku cintai. Mungkin menurutmu ini adalah hal terbodoh dalam hidupmu ternyata sahabatmu mencintai dirimu. Dulu hal ini menjadi beban dalam hatiku namun sekarang aku merasa lega karena telah mengungkapkan perasaan ini padamu.”
Aku terdiam membisu, menatap wajah nya yang serius. “Ya Tuhan mengapa jadi begini apa yang harus kulakukan dengan hal ini sahabatku mencintaiku..” Pikirku
Aku melepaskan tangan Romi lalu aku berlari sambil menangis.
“Raina tunggu” teriak Romi
Tapi aku tidak mempedulikannya aku berlari secepat mungkin dan air mataku terus mengalir di pipiku. Dia mengejarku, otakku terus memikirkan apa yang dikatakan Romi. Serasa mimpi bagiku apa yang terjadi barusan apakah mungkin dia sahabatku mencintai diriku? Aku berlari dan tidak mempedulikan jalan yang aku lewati. Romi di belakang terus mengejarku dan pada saat menyeberang jalan aku tidak mempedulikan kendaraan yang berlalu lalang. Tiba-tiba dari belakang ada yang mendorongku aku terhempas dan kepalaku membentur trotoar. Sekejap itu di sekelilingku terlihat gelap dan aku pun tidak tahu apa yang terjadi.

Mataku terasa berat saat aku akan membuka mataku dan sedikit demi sedikit aku melihat ayah, ibu, kakak, dan adikku di sekelilingku.

“Ibu aku dimana?” Tanyaku lemas
“Nak, kamu di rumah sakit. Sukurlah kamu sudah sadar, dua hari yang lalu kamu mengalami kecelakaan nak!” Jawab ibuku sambil tersenyum dengan mata yang bengkak bekas menagis.
“Ibuu.. Kenapa mata ibu bengkak?” Tanyaku
“Ini tadi ibu kurang tidur!” Jawab ibu berbohong
“Cepet sembuh ya adikku sayang!” Kata kakakku
“Iya kakak sembuh yaa biar aku bisa berantem lagi sama kakak!” Goda adikku
“Iya kak.. Ahh nanti kalo berantem kamu nangis lagi!” Jawabku
“Sudah-sudah nanti lagi yaa ngobrolnya Raina masih lemah!” Sela ibu
“Ibu.. Mana Romi dia kan sahabatku masa dia gak kesini jengguk aku!” Tanyaku
Ibu, ayah dan kakakku bertatapan seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
“Dimana dia ibuu?”
“Sudahlah nak mungkin dia sedang sibuk. Cepet istirahat sayang biar kamu cepet sembuh!” Jawab ibuku sambil mengusap kepalaku yang memakai perban.

Hari demi hari keadaanku mulai membaik namun di hari hari itu Romi tidak menampakan dirinya. Mungkin dia akan melupakanku, dan setiap aku menanyakan Romi pada keluargaku mereka selalu terdiam. Pada hari yang ditunggu-tunggu aku diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena keadaanku mulai membaik.

Di rumah aku terus memikirkan Romi. Katanya dia mencintaiku tapi saat aku sakit dia tidak pernah menjenggukku, aku terus bergerutu dalam hati. Dan akhirnya aku memutuskan ke rumah Romi tanpa sepengetahuan keluargaku. Aku berjalan kaki melalui jalan gang agar cepat sampai ke rumahnya. Sampailah aku di rumah Romi namun di rumahnya hanya ada Bi Imah seorang pembantu di sana.

“Bi, Rominya ada?” Tanyaku
“Emangnya neng gak tau yahh, kalo den Romy itu kecelakaan nyelametin eneng. Sekarang Romi masih belum sadar!”
“Hah, nyelametin saya?”
“Iya neng. Masa orangtua eneng nggak ngasih tau sihh!”
“Sekarang dia di rawat di RS mana?” Tanyaku
“RS Bimasakti neng!” Jawab bi imah

Aku langsung berlari menuju rumah amarahku kepada keluargaku tak tertahan lagi. Di depan rumah aku berteriak.

“Ibu… Ayah.. Kakak…!” Sambil membanting pintu
“Kenapa nak!” Jawab ibu dan ayah
“Kenapa ibu gak ngasih tau kalo Romi nyelametin Raina dan sekarang dia belum sadar dia masih di rumah sakit!” Sambil berlinang air mata
“Tadinya ayah mau ngasih tau tapi ayah takut kondisi kamu malah melemah jadi ayah nunggu waktu yang tepat untuk ngasih tahu!” Jawab ayah

Aku langsung berlari menuju kamarku dan menangis sepuasnya. Aku berpikir, Romi mencintaiku sampai rela kehilangan nyawanya untukku. Kenapa aku sebodoh itu seharusnya saat itu aku menjawab “ya, aku juga mencintaimu” mungkin tidak akan terjadi kejadian seperti ini. Aku segera ke luar dari kamarku dan meminta kakakku untuk mengantarkanku ke RS Bimasakti untuk menjengguk Romi. Tiba di sana aku melihat Romi dengan selang-selang menempel di tubuhnya dan ayah ibunya menangis. Aku segera menghampiri Romi yang belum sadar dan terbaring lemah. Kugenggam tangannya dan berbisik ke telinganya lalu berkata “cepet sembuh yaa.. Aku mencintaimu”
Setelah aku berkata seperti itu terlihat dia sedikit tersenyum mungkin dia mendengarkan apa yang aku katakan. Lalu aku menghampiri ibunya Romi.
“Tante, maafin aku yaa mungkin kalo Romi tidak menyelamatkan aku mungkin dia tidak akan seperti ini!” kataku
“Sudahlah mungkin ini semua sudah takdir, tante sudah pasrah dengan keadaan ini karena kata dokter semangat hidup Romi sudah tidak ada lagi!” Jawab ibunya Romi sambil mengusap kepalaku.
“Percaya sama tuhan tante jangan percaya kata dokter, Romi pasti sembuh kok tante!”

Setelah itu aku menjalani hidupku dan mulai bersekolah lagi. Dan setiap pulang sekolah aku selalu menjenguk Romi dan selalu berbisik “cepet sembuh ya.. Aku mencintaimu” itulah kegiatanku selama beberapa bulan ini. Semakin hari keadaan Romi semakin membaik. Seperti biasanya aku sekolah dan pada saat aku berjalan menuju gerbang sekolah tiba-tiba ada yang memanggilku dan saat aku membalikan badan alangkah terkejutnya saat aku melihat ibunya Romi mendorong kursi roda Romi dan sekarang hari pertama dia sekolah setelah kecelakaan itu. Aku langsung menghampiri mereka.

“Hah.. Romi kapan loe sadar setiap gue ke RS pasti loe belum sadar?” tanyaku
“Sebenarnya 2 minggu yang lalu dia udah sadar tapi dianya aja pura-pura belum sadar!” Jawab ibunya sambil tersenyum manis
“Ihh.. Tante jahat banget sama Raina. Raina itu khawatir tau sama Romi!”
“Haha.. Itu gue yang minta sama ibu gue buat gak ngasih tau loe biar loe terus bisikin kata-kata itu terus loh buat gue. Kalo sekarang mahh gue udah sadar loe gak ngebisikin kata kata indah itu lagi!” Sela Romi
Aku hanya tersenyum manis pada Romi
“Tante aku aja yang dorong yaa. Biar sekalian ke kelas bareng sama Romi!”
“Iya Raina Iya Raina tante juga lagi buru-buru nihh, jaga baik baik Romi yaa!”
“Iya pasti dong tante!”

Kami pun ke kelas bersama dan aku di belakang Romi mendorong kursi Rodanya.

“Ehh.. Bisikin kata-kata itu lagi dong!” kata Romi sambil mendongkakan kepalanya da tersenyum manis
“Kata-kata yang mana?” Jawabku pura-pura tidak mengetahuinya
“Yang ini nih.. Cepet sembuh yaa.. Aku mencintaimuu!”
“Ihh itu bukan gue kali, orang lain itu mahh!”
“Alah, udah ketauan juga masih bisa ngeles, cepet bisikin lagi dong!”

Aku hanya terdiam dan tidak berkata apapun. Tidak beberapa lama sampailah kami di kelas, dan temen temen pun berteriak Romi datang, Romi udah sembuh. Teman-teman pun langsung mengerumuni Romi. Dan pada saat itu Romi berbicara kepada teman-temannya.

“Hey, temen-temen semua gue bahagia banget bisa ketemu kalian lagi. Dulu gue berpikir kalo gue bakal ninggalin kalian semua karena semangat hidup gue gak ada lagi. Tapi ternyata ada seorang cewek yang memberi semangat untuk gue bisa menjalani hidup. Raina kesini!”

Aku pun menuruti perkataannya dan saat aku berhadapan dengannya tangannya segera menggenggam kedua tanganku dan berkata.

“Raina aku adalah sahabatmu tapi aku juga adalah seorang pengirim rahasia itu. Saat aku bingung dengan perasaanku kepada sahabatku aku pun mengirim bunga, coklat dan secarik kertas yang berisi semua curahan hatiku. Mungkin kamu sudah tau hal itu. Tapi pada saat aku di rumah sakit kamu selalu berbisik kata-kata itu dan itu membuatku yakin bahwa cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Aku mau kamu jadi pacarku?”

“Terima… Terima… Terima..!” Sorak teman teman
“Iya aku mau!” Jawabku

Dan akhirnya kami yang dulu hanya sebatas sahabat sekarang menjadi sepasang kekasih.

Cerpen Karangan: Fitri Ayuni Nurahasanah
Facebook: Ayuni Fitri

Cerpen Pengirim Misteri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktu

Oleh:
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, waktu yang sudah begitu gelap. Tapi yang namanya kota Jakarta tidak pernah sepi dengan suara bising kendaraan terkecuali hari raya idul fitri. Kiran yang

Sepanjang Perjalanan

Oleh:
Gee Bobby sudah datang. Padahal dia mengatakan akan menjemput pukul 4 sore. Dia bukan lagi terlambat selama hitungan menit. Dia membuatku menunggu selama 2 jam! Sudah 2 tahun kami

Dio Maaf, Aku Mencintaimu

Oleh:
Aku berjalan dengan semangat sambil bibir terus mengukir senyum menuju tempat pemberhentian bus di sepulang sekolah hari ini untuk menemui seseorang. Seseorang yang akan kutemui itu sudah berhasil membuatku

Mau Tak Mau

Oleh:
Mendung terlihat dari aura wajahku setelah melihat nilai uts di raport yang tidak memuaskan dengan beberapa nilai merah di beberapa mata pelarannya. “kapan nilai kamu bisa bagus nay?” kata

Janji 24

Oleh:
Seorang perempuan menangis di atas tempat tidurnya. Matanya sembab hasil menitikkan berbulir-bulir air. Bagaimana mungkin, pemuda yang ia sayang selama ini memintanya untuk menjauh. “Lo jahat. Gue bahkan gak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *