Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 9 June 2017

Masih kuingat tentang itu..
Kau katakan takkan pernah kau kutinggalkan, Seperti janji kemarin “Aku masih mengingat takkan pernah kulupakan, Aku ingin bersamamu sehidup semati”

“Miraj” Panggil seseorang yang suaranya sangat kurindukan. “Hey, kau lupa sekarang tanggal berapa?” Tanyanya kepadaku dengan bibir yang sedikit dimajukan. Seperti kebanyakan perempuan, Hal tersebut dapat diartikan bahwa si perempuan sedang marah. “Tanggal 5, Memangnya kenapa?” Tanyaku padanya. “Argghhh seharusnya kita merayakan hari jadi kita, Kamu nggak romantis” Lalu dia pergi meninggalkanku dengan kecewa. Aku memang bukan laki-laki seperti mereka, Aku tak suka dengan itu semua. Aku menyukai hal yang menurutku memang berguna. “Harusnya kau tahu, Aku lebih suka mengatakan. Apakah kau mau menjadi istriku? Kuikat kau dengan sebuah cincin, Bukan dengan itu saja. Kita akan bersama selamananya membangun keluarga yang bahagia”.

“Aku minta maaf miraj, Seharusnya aku tak menuntut semua itu padamu” Sambil memeluk tubuhku erat. Kulepaskan pegangannya di pundakku, Bukan aku menampik semua itu. Aku memang naif, Aku menyukai itu. Tapi semua itu harus kulakukan hingga nanti saatnya tiba!. “Mengapa miraj, Aku hanya menyentuhmu sedikit saja. Apa itu salah? Itu hal yang wajar” Kupandang wajahnya, Amarah itu seakan merobek hati yang ramah. “Aku tidak tahu miraj, Apakah janji yang kuucapkan 5 desember lalu dapat kutepati jika saja sikapmu selalu begini. Aku bukan perempuan seperti itu. Layaknya mereka, Aku ingin..”, “Tolong, jangan katakan itu lagi. Aku sung..”, “Sudahlah miraj, Nikahi saja aku. Agar semua ini tak memberatkan kita”.

Begitu kata yang kutahu, Semua itu butuh pertimbangan. Aku memang sudah lama mengenalnya, Tapi hanya dengan waktu singkatkah semua itu terjadi. “Tidakkk” Suaraku menggema di setiap sudut ruangan. Aku mencari di mana jalan yang harus kulalui!

Almira.. Aku sungguh mencintai kamu.. Andai saja aku mengiyakan semuanya. Kita tentu saja sudah bahagia, Memiliki mereka yang melengkapi kebahagiaan itu.
Kau katakan, Kau takkan pergi! Tapi beberapa waktu kemudian. Kau enyah bagai rembulan takut kepada fajar, bagai mentari takut kepada senja. “Miraj, sampai kapan kau akan begini? Menghindariku, Aku bosan miraj. Apa yang kau pegang teguh? Yang diajarkan Rasullullah kah? Hubungan yang bagaimana yang baik untukmu miraj? Jawab aku”. Kata-kata itu seakan mengacaukan pikiranku. Menusuk hati yang kututupi. “Sudahlah mira, Jika kau bosan denganku. Pergi saja, Cari mereka yang dapat mengerti kamu. Sungguh aku tak bisa”. “Miraj, Kau lupa dengan janji kita. Sampai kapanpun kita akan bersama. Aku membutuhkan itu semua dari kamu. Jika semua itu diharamkan. Ayo kita selesaikan”. “Tak semudah itu mira, Kau pikir semua itu permainan. Kita harus sudah siap untuk semuanya. Jika kau bosan, Kau tidak bisa pergi begitu saja”. “Aku tahu miraj, Aku mengerti. Aku tidak bodoh miraj. Aku takkan pernah meninggalkanmu”.

Beberapa bulan berlalu. Aku selalu memikirkan itu. Hingga suatu keputusan yang kuambil membuat sebuah penyesalan yang tak berujung. Aku kecewa, Bukan.. Bukan karena dia telah pergi. Tapi karena mengapa aku tak bisa menahannya! Tuhan tahu hati mana yang pantas, Jodoh mana yang akan tinggal. Semua itu tuhan telah gariskan di sebuah dimensi waktu yang sedang berputar, Berhenti pada tempatnya!

“Ahahahahahaha, Miraj.. Lihat itu, Mereka seakan menertawakan kita dengan derunya”. Sambil menunjuk sebuah truk yang bergandengan. “Kapan kau akan menggenggam tanganku seperti itu? Truk aja gandengan!” Mira tersenyum manis padaku. Sebenarnya hatiku tersayat mendengarnya, Aku seakan tak bisa membuatnya bahagia. “Hahahaha, Kamu bisa aja, Lalu mereka sedang apa kalau truk aja gandengan?” Sambil menunjuk sebuah benda berbentuk kotak panjang dilengkapi benda bulat yang membuatnya mungkin lebih bahagia. “Aaaaaaaa itu sih gerobak bakso, Aku mauuuuuuu”. Sambil bernyanyi abang tukang bakso, Mira dan aku menghampiri si tukang bakso itu. Dengan senang mira memesan baksonya “Miraj, Kalau kita menikah. Setiap hari kita harus makan dengan bakso, Kalau perlu kau yang akan menjadi si tukang baksonya. Hihihi”. “Aaahh kau ada-ada saja. Ada tampangkah aku menjadi seorang tukang bakso?”. “Kau lebih mirip menjadi baksonya sayang. Hehehehehe”.

Aku dan mira tertawa di tengah keheningan jalan, Langit menangis meninggalkan sendunya di atas awan. Awan mulai hitam, Sedikit demi sedikit air menetes menjadi deras. Dusun kemiri memang sangat terkenal dengan banyaknya anak muda, Entah itu anak siapa saja. Aku tak pernah tahu, Yang aku tahu banyak pemuda yang seumuran dengan mira. Yang aku takutkan mira akan tergoda oleh mereka. Almira, Wajahnya cantik terbalut kesederhanaan yang membuatnya terlihat anggun. Walau mira tak pernah bercerita tentang siapa saja yang menarik perhatiannya! Tak hanya sekali mira memperhatikan pemuda itu setiap aku mengantarnya pulang. Kutunggu hujan mulai reda “Bagaimana putri cantik, Apakah kamu mau tetap tinggal di sini? Atau ikut denganku menyusuri kerikil-kerikil ini? Langit sudah mulai gelap” Mira menggenggam tanganku. “Hanya sekali ini saja miraj, Setelah itu takkan pernah” Mira menarik tanganku. Kulajukan sepeda motor tua itu dengan kecepatan sedang, Melewati jalan sempit menuju rumahnya. Disaat melewati jalan itu lagi, Seperti sebelumnya. Mira menatap wajahnya, Kulihat matanya menyimpan kesedihan. “Haruskah kau jujur padaku? Siapa sebenarnya pemuda itu. Kulihat seringkali kau bersedih karenanya”. Mira memeluk tubuhku erat “Miraaa”. “Tidak apa miraj, Aku hanya memelukmu sebentar saja” Mira meneteskan air matanya lagi. Air mata yang seringkali kulihat. “Kau terlalu naif miraj, Aku menyukainya. Tapi dia telah memiliki seorang istri, Pantaskah aku menyukai suami orang?”. Pengakuannya membuat hatiku sakit, Seperti mimpi tadi malam. Mira meninggalkanku tanpa berkata sedikitpun. Mira meninggalkan janji itu tanpa sempat aku membuktikannya.

Setahun berlalu, Sejak kepergian mira.
Aku merasa dunia yang kupunya hanya untuk diriku sendiri. Aku menyembah kepada tuhan yang kusembah. “Ya Allah Ya Rabb, Aku merindukannya”.

5 desember 2015,,
“Miraj, Aku janji. Aku takkan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Sejak hari ini, Kutempatkan hatiku di sana. Di lubuk hatimu yang paling dalam. Aku akan merindukanmu, Dihela nafas ini. Kuhirup raga yang menyala, Meresapi belaian angin. Hingga kulihat, kau disana. Menggenggam tanganku erat. Memeluk tubuhku rekat. Miraj.. Kita akan bersama sejak hari ini dan seterusnya”.

Seharusnya hingga hari ini kau berada di sini, Kulihat wajahmu disana! “Miraj, Lihatlah ini. Ada undangan pernikahan untukmu” Suara ibu yang membangunkan lamunanku seakan bumi berguncang menghempaskan amarahnya. Lalu gunung-gunung meletus bersamaan dengan hancurnya hatiku. Almira, Tak ingatkah kau dengan janjimu dulu. Janji yang kau tinggalkan. Apalah aku saat ini? Menunggu takdir yang mempertemukan kita di pelaminan, Bukan kita. Tapi kau dengannya. Aku hanya diam, Saat kulihat namamu tertera disana. Hanya doa yang dapat kuberikan, Tapi kau harus tahu! Semua itu kulakukan karena aku menghormatimu, Sebagai perempuanku.

Yang membuatku sakit, Almira menikah dengan pemuda itu. Mengapa cinta tak adil? Menerima yang tak pantas diterima. Memiliki yang tak seharusnya dimiliki. Mira menjadikan dirinya sebagai sipenggoda. Pemuda itu meninggalkan istrinya dan menikahinya. Terkadang si penggoda cintanya lebih tulus darinya yang telah lama singgah. Cintanya lebih besar darinya yang telah lama memberi bahagia. Si penggoda lebih baik dari apa yang terbaik! Mira, Sungguh aku tak merelakan itu. Andai kau tahu, Aku menginginkan kamu. Seperti nasi yang telah menjadi bubur. Semua itu tak mungkin bagiku.

“Miraj, Kamu akan terus melamun seperti itu?. Haduh nak, Kalau jodoh tak akan kemana” Suara ibu seakan menentramkan hati ini. Dan aku yang masih mengharapkan kamu.
Aku hanya untaian kata yang tak sempat diucapkan rindu kepada cinta yang menjadikan semua itu tiada.
Penyesalan tak pernah jua mengalahkan kerinduan ini. Penyesalan itu, Seakan menusuk dadaku keras! Mengeluarkan sedikit darah tanpa luka.

Kini almiraku telah pergi, Bersama cintanya yang telah dia pilih. Aku hanya perlu menunggu, Entah almiraku kembali. Atau akan ada cinta yang menggantikannya. Suatu hal yang perlu kau tahu, Jangan pernah kau sia-siakan sesuatu yang telah kau miliki, Jika semua itu telah pergi. Tak semudah itu kau mendapatkannya lagi.

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertama Kali

Oleh:
Sore itu, hujan datang membasahi bumi. Hujan yang datang cukup besar. Seisi sekolah telah kosong, tapi aku belum dijemput. Aku baru saja selesai dari ekstrakurikuler matematika, pelajaran favoritku sejak

Babysitter And Son

Oleh:
Ini adalah kisah seorang laki-laki yang yang tidak punya banyak waktu dan seorang wanita yang berprofesi sebagai babysitter, tapi kali ini dia tidak menjaga seorang bayi atau anak-anak melainkan

Bahagia itu Sederhana

Oleh:
Perasaan hangat saat merasakan rasa istimewa, melambungkan angan-anganku sejauh-jauhnya hingga tak terjamah lagi oleh mata manusia manapun. Keberanian menyeruak dari hati yang terdalam menepiskan rasa ragu atas perasaan yang

Hilang Dan Kembali (Part 1)

Oleh:
Aku merindukan masa kanak-kanakku. Masa dimana aku hanya mengenal permen, balon dan mainan. Masa dimana lutut yang sakit karena terjatuh bukan hati. Simple sekali masa kanak-kanak. Perkenalkan namaku ‘Imelda

Aku Dan Dia

Oleh:
Dia suka lihat film action, aku suka lihat film horror. Tapi saat fast and furious keluar, aku ikut nonton menemaninya. Dan banyak dari film horror yang sudah aku lihat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *