Penyesalan Nara (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

“Mamahh… Aku jatuh cinta deh kayaknya hehee,”
Ungkapan dua bulan lalu itu masih terbayang jelas di mataku, senyum merekah tergambar jelas di bibir anakku, binar matanya ikut membuktikan kebenaran ucapannya, aku memeluknya sambil tertawa mendengar pengakuannya, hmm… Gadis kecilku telah beranjak dewasa terrnyata, ini pertama kalinya dia benar-benar jatuh cinta sepertinya, ya… di tingkat akhir masa sekolah menengahnya ini pertama kalinya dia bercerita tentang seorang laki-laki kepadaku, sebelumnya dia tidak pernah berpacaran, dia fokus dengan sekolahnya di sekolah kesehatan supaya bisa masuk kuliah ke fakultas kedokteran nantinya seperti harapanku.

Aku mendidiknya seorang diri sejak suamiku meninggal dunia karena kecelakaan, aku berjanji bahwa aku akan menjadi ibu sekaligus ayah dan sahabat buat putriku yang waktu itu masih balita. Aku pun tidak mencari pengganti suamiku karena merasa kebersamaanku dengan anakku sudah cukup membahagiakan. Aku terlalu sibuk bekerja untuk masa depan anakku. Kami berdua memang sangat dekat, kami membudayakan selalu terbuka dalam hal apapun, anakku tidak sungkan cerita-cerita tentang masa puber fisiknya, atau tentang teman-teman sekolahnya, hampir semua temannya aku tahu nama dan sifatnya karena hampir setiap hari kami bertukar cerita sebelum tidur. Dan karena keterbukaan kami inilah yang membuatku hari ini terpekur di pusara almarhum suamiku, mataku sembab karena sudah hampir 1 jam aku menangis, bayangan wajah putriku yang tertunduk tadi pagi sambil berucap, “Mah, maafkan aku, aku hamil” kembali melintas di kepalaku, membuat airmataku semakin deras menetes. Aku merasakan ada godam berat yang menghantam dadaku, yang membuat nafasku sesak setiap aku tarik.
“Maafkan aku mas…” Ucapku lirih sambil terisak, “Maafkan aku, aku gagal mendidik anak kita”.

Hari ini adalah hari ketiga aku mendiamkan anakku, jam pulang kantor yang biasanya aku tunggu-tunggu karena ingin segera pulang bertemu anakku, kali ini berbeda. Aku begitu enggan beranjak pulang, aku benar-benar belum bisa berpikir harus bagaimana terhadap anakku. Aku memilih menghabiskan waktuku di coffee shop hingga larut, dengan harapan saat pulang ke rumah anakku sudah tertidur di kamarnya dan aku tidak perlu bertemu dengannya, aku takut emosiku meluap saat di depannya, karena kali ini dia benar-benar telah membuatku kecewa. Hidup merantau di kota orang, jauh dari orangtua ataupun saudara-saudara telah membuatku terbiasa memutuskan segalanya sendiri, tapi untuk masalah ini aku benar-benar tidak kuat menanggungnya sendiri, kehamilan adalah sesuatu yang tidak bisa disembunyikan, semakin lama perut anakku akan semakin besar.

“Aarrgghh! Argh! Argh!” Aku menjedot-jedotkan keningku ke meja beberapa saking kesalnya.
“Mbak… Heiii!” Ada sebuah tangan yang menepuk pundakku, aku mengangkat kepalaku dengan rambut acak-acakan ke depan muka semua.
“Mbaknya sehat?” Tanya seorang pria yang berdiri di depan mejaku dengan keheranan. Aku buru-buru memperbaiki dudukku dan merapihkan rambutku sambil menengok ke sekeliling café, duh… ternyata pengunjung lain banyak yang memperhatikanku, raut mereka seperti baru saja terganggu dengan tingkahku.
“Maaf… maaf…” Ujarku sambil membereskan tasku untuk beranjak pergi.

“Kira…“ Pria tadi tiba-tiba memanggil namaku, aku menoleh, aku tertegun sejenak, dahiku berkernyit mencoba me-recall memoryku tentang sosok di depanku.
Ini bener Kira bukanya? Orang Purwokerto?” tanyanya lagi untuk meyakinkan, aku mengerutkan keningku mencoba mengingat sosok di depanku.
“Anda kenal saya?”
“Wah tidak salah lagi, ini kamu Kira. Tahi lalat di atas alis kamu itu pas banget cirinya seperti temanku,” Pria itu berbinar matanya yakin sekali bahwa aku adalah teman yang dia maksud. Aku mengamati wajahnya, entahlah mungkin karena pikiranku yang sedang kacau jadi aku tidak kunjung mengingatnya.
“Astagaaa… kamu lupa sama aku??” Aku mengamati kembali orang itu, dia tersenyum memasang muka manis dengan raut berharap aku bisa mengingatnya, beberapa detik aku mengamatinya tapi sama sekali tidak ada sesosok orang pun yang muncul dalam pikiranku.
“Maaf… Saya benar-benar lupa. Siapa ya?”
“Wah… Bener-bener ya kamu ini, sama mantan pacar sendiri bisa lupa” Dia masih begitu antusias mencoba membangunkan ingatanku, mata kami bertemu dan kemudian dia mengedip-ngedipkan matanya memasang muka lucu, wah… Mata itu, aku sepertinya mengenalnya.

“Rayan…” Tercetus satu nama olehku.
Dan pria tersebut tersenyum kemudian mengulurkan tangannya.
“Senang kamu masih mengingatku, ra…”
“Gila, ini beneran Rayan? Kamu berubah banget, gimana aku bisa kenal kamu coba?” Suaraku berubah meninggi karena terkejut. Tidak salah lagi hanya Rayan temanku yang punya gaya kedipan tengil seperti itu, sejenak kemudian aku memukul bahunya. Wah… Aku masih tidak percaya dengan sosok yang di depanku, ya… Rayan teman SMA ku dulu itu kurus tinggi, sedikit hitam kucel dengan rambut berponi acak culun menutupi dahinya, jauh berbeda dengan sosok di depanku sekarang, tubuh gemuk tinggi, kulit putih bersih dengan dagu ditumbuhi sedikit jenggot, rambut disisir rapi, baju kemeja berdasi dan sepatu pantofel hitam mengkilap.

“Wah… beli di mana itu perut? Kok bisa jadi gendut begitu?” Ledekku sambil tertawa, sejenak sedihku menguap entah kemana.
“Hahaa… tadi nyomot di depan tuh kebetulan ada badut yang lagi istirahat. Wah… Kamu apa kabar, Ra? Long time no see ya” Rayan menatap mataku dalam. Aku segera mengalihkan pandanganku dengan mengajaknya duduk kembali di mejaku dan kami pun berbincang sejenak.

“Aku sebenarnya sudah beberapa hari ini lihat sosok kamu di sini, pertama melihatmu aku merasa itu kamu tapi aku agak takut mau menyapa takut salah orang,” cerita Rayan berderai. “Makanya pas tadi lihat kamu jedotin kepala ke meja, aku pikir wah… ini orang mau bunuh diri nih, harus segera diselamatkan hahaa… “.
“Ishh… Kamu, siapa juga yang mau bunuh diri?” Sanggahku tersenyum malu.
“Wah… kamu tidak berubah ya, cantiknya nambah, cuma kok kamu kecilnya masih kayak dulu sih, jangan-jangan kamu makannya masih susah kayak dulu ya? Jarang makan jadi tidak ada perkembangan badannya hahaa… Ini kalau kita jalan jejeran, aku bisa dikira om kamu loh ini” Kelakar Rayan, raut wajahnya menunjukan rasa senangnya karena bertemu denganku.
“Wah… Ngomong-ngomong sudah berapa kali ini kita ngomong wah ya? Haha…” Sahutku. “Iya… Tidak menyangka juga loh bisa ketemu teman lama di sini”
“Hmm… Teman ya?” Rayan mengangguk-anggukan kepala sambil tersenyum menatap mataku aneh, sejenak aku menghela nafas.
“Rayan… Please… ” Ucapku sambil merengut membalas tatapannya, kalau saja Rayan bisa mengartikan mataku, ada kata maaf tak terucap di sana karena teringet aku pernah menyakiti Rayan dengan meninggalkannya yang sedang kuliah kala itu untuk menikah dengan pilihan orangtuaku, yakni Almarhum suamiku, ayahnya Nara.
“Ok… Ok… Maaf… Maaf, iya nih suka lupa umur saking senengnya ketemu kami jadi teringat masa lalu” Rayan segera membenarkan posisi duduknya, senyumnya masih mengembang di bibirnya.

“Jadi bagaimana, Ra? Sekarang sudah punya anak berapa kamu?”
“Anakku baru satu, sudah SMA kelas 3 sekarang. Kamu sudah menikah? Sama orang mana?” Tanyaku penasaran.
“Aku single kok,” Jawabnya segera, aku menjulurkan lidahku tanda tidak percaya. Hampir 20 Tahun lebih kami tidak bertemu, aku tidak yakin kalau Rayan benar-benar single, apalagi di umur kami yang sudah tidak lagi muda.
“Eh… Masih tidak percayaan banget koh ke aku, karena tidak bisa mendapatkan kamu makanya sekarang aku masih single hehee…”
“Sudah ah bercandanya, aku pengin denger cerita kamu” Ujarku.

Sejenak kemudian, aku sudah terhanyut dengan cerita Rayan, iya benar saja statusnya sekarang ternyata memang single tapi single parent, istrinya meninggal 3 tahun lalu saat melahirkan anak pertama mereka dan sampai sekarang dia belum menikah lagi, dia merawat anaknya dengan bantuan bibi nya. Rayan bekerja sebagai Dokter Psikolog sesuai dengan cita-citanya dulu dan dia mengambil side job sebagai dosen pengajar juga di sebuah Universitas. Aku ikut bangga mendengar ceritanya, dia konsisten dengan ucapannya waktu dulu, bahwa dia tidak akan menikah dulu sebelum menjadi Dokter, ya… itu juga salah satu alasanku dulu meninggalkannya karena desakan keluarga. Malam itu aku kembali pulang larut karena keasyikan mengobrol dengan Rayan, kami berjanji akan bertemu kembali dilain hari.

Pagi itu, aku memanggil Nara, anakku, untuk bicara dari hati ke hati. Mata Nara tampak sembab seperti habis menangis, sebelum ini setiap aku melihat Nara seperti itu pasti aku akan segera memeluknya untuk menenangkannya, tapi kali ini tanganku seperti kaku, hatiku masih sakit dan tidak percaya bahwa anak yang aku besarkan telah berani melakukan perbuatan terlarang.

“Siapa orangnya?” Tanyaku membuka keheningan kami. Lama Nara tidak menjawab pertanyaanku.
“Nara! Kalau kamu tidak mau berterus terang sama mamah, kamu boleh tinggalkan rumah ini” Gertakku.
“Maafkan aku mah, aku belum siap untuk berkata jujur sekarang, kasih aku waktu untuk menyelesaikannya sendiri dulu,”
“Wah… Hebat kamu ya? Mau menyelesaikan sendiri? Lalu apa maksud kamu memberitahu mamah tentang ini kalau kamu tidak mau bercerita ke mamah?”
“Aku hanya ingin mamah tidak kaget kalau tiba-tiba aku menikah, mah,”
“Nara… Kamu tahu, ini bukan masalah kecil, perut kamu makin lama akan semakin membesar dan mamah akan meminta pertanggungjawaban pacar kamu itu,” Aku mulai gemas sendiri.
”Kasih tahu siapa orangnya? Rumahnya di mana? Kenapa dia selama ini tidak pernah ke rumah? Bahkan mamah tidak tahu kalau kamu sudah punya pacar, bagaimana bisa tiba-tiba sekarang kamu bilang kamu hamil dan ingin menikah? Kamu benar-benar menyakiti hati Mamah. Perlu tahu kamu itu, nak”
Nara menangis lama di depanku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku meninggalkannya karena dadaku pun sesaknya melihatnya seperti itu.

Hari ini, entah untuk keberapa kalinya aku mendesak Nara untuk mempertemukanku dengan pacarnya tapi kesekian kalinya juga dia menolak karena dia masih yakin bisa membuat pacarnya mau bertanggung jawab dengan caranya, dia makin susah aku ajak bicara, aku merasa ada hal besar yang ditutupi Nara tapi setiap aku ajak duduk berdua, dia akan segera pergi dari rumah dengan alasan ada janji ini itu. Sebenarnya aku sudah sangat gemas, tapi aku tidak ingin menambah pikiran Nara jadi aku berencana menunggunya selama seminggu kedepan.

“Anakku hamil, Ray…” Aku membuka percakapan dengan Rayan sore itu, setelah pertemuan kami yang sudah beberapa kali akhirnya aku baru berani bercerita tentang masalahku. Ya… Bagaimanapun aku butuh masukan dari orang lain mengenai aibku ini, orang lain yang bisa menjaga rahasia keluargaku tentunya dan aku merasa Rayan adalah orang yang tepat, lebih-lebih dia seorang psikolog, aku berharap dia bisa membantuku menyelesaikan masalahku. Berkali-kali aku juga mengungkapkan penyesalanku karena tidak bisa mendidik anakku dengan baik, hal ini benar-benar menjadi beban yang paling berat buatku ke mendiang suamiku.
“Hidup itu intinya adalah penerimaan, Ra. Mau kamu sudah menjaga anakmu sebaik mungkin pun kalau memang ini harus terjadi ya sudah terjadilah. Yang kamu butuhkan saat ini adalah menguatkan hatimu dulu supaya bisa menguatkan hati anak kamu. Tidakkah kamu berpikir bahwa anakmu juga lebih menderita dari kamu? Dia pasti tidak ingin hal ini terjadi padanya. Di usianya yang masih begitu muda, dia sudah hamil, wanita hamil itu sebisa mungkin tidak boleh stres karena berpengaruh ke janinnya bukan? Aahh… pasti kamu lebih tahu daripadaku kalau mengenai ini”
Aku menangis tergugu mendengar nasehat Rayan, ya… bagaimana bisa aku yang wanita malah tidak berpikir tentang kesehatan janin anakku? Bagaimanapun dia adalah cucuku.

“Bukannya aku membela anak kamu juga, tapi kita sedang bicara hal yang sudah terjadi yang tidak bisa kita tarik kembali bukan? Terkadang memang memaafkan diri sendiri itu jauh lebih sulit dari pada memaafkan orang lain tapi cobalah, berhenti menyalahkan dirimu sendiri, bangunkan diri kamu dengan gagah untuk menghadapi semuanya. Bicaralah yang tenang dengan anakmu, Insha Allah akan ada jalan keluar terbaik nanti”.
“Aku sendiri juga ada masalah dengan anak didikku di pekerjaanku, ruwet dan tidak masuk akal kalau dipikir-pikir, tapi ya tetep harus dibawa enjoy. Life is too short to be unhappy, Kira. Sudah… itu ingusnya dilap dulu” Rayan mengulurkan tissu sambil memalingkan mukanya dengan ekspresi pura-pura jijik seolah-olah benar ada ingus di hidungku. Aku melempar tissu bekas yang aku pakai buat mengelap airmataku ke arah Rayan dengan sebal, Rayan tertawa dan aku pun ikut tersenyum akhirnya.

“Masalah kamu apa di pekerjaan?” Tanyaku mengalihkan topik tentangku.
“Yahh… Biasalah, Dokter tampan sepertiku terlalu banyak penggemar, artis saja kalah hehe… Kenapa aku bilang kalah? Karena penggemar jaman sekarang jauh lebih gila dari jaman kita dulu. Mereka tidak lagi meminta tanda tangan idolanya, melainkan minta orangnya langsung buat jadi miliknya. Cckk… Cckkk… Kadang aku juga tidak habis pikir, kenapa wanita jaman sekarang buas dan juga ganas, takut sendiri jadinya”
“Buas? Kamu pikir wanita itu macan apa pakai disamain dengan istilah ganas,”
“Kalau wanitanya kamu iya aku sebut macan, manusia cantik hehe…” Aku kembali melempar tissu kearah Rayan, kali ini bekas ingusku.
Hhhh… Aku merasakan bebanku sedikit berkurang setelah mendengar masukan Rayan.

Pagi ini aku sengaja bangun pagi, aku menyiapkan sarapan dan juga bekal makan siang untuk Nara, ya… Rayan benar, hidup itu adalah tentang penerimaan, mau aku emosi seperti apapun bentuknya ke Nara itu tidak akan membalikkan keadaan seperti semula, justru aku yang merusak diriku sendiri. Nara tampak keluar dari kamarnya, dia tidak menuju meja makan melainkan berjalan ke rak sepatu mengambil sepatunya. Dia tidak berkata sepatah katapun kepadaku, pasti dia mengira emosiku masih sama seperti kemarin. Egoku pun sebenarnya masih tinggi untuk mengawali pembicaraan dengannya tapi aku mencoba berdamai dengan egoku mengingat Janin yang ada di perut Nara harus sehat.

“Nara, sarapan dulu kamu, bawa bekelnya, mamah sudah siapin ini” Ujarku tanpa melihat ke arah Nara.
“Ohya… Nanti sore mau ada anak teman mamah yang akan menginap di sini selama seminggu jadi langsung pulang kamu nanti” Lanjutku sambil langsung bergegas berjalan menuju kamarku untuk mandi. Nara sedikit heran melihat sikapku, tapi ada raut kelegaan di wajahnya.

Nara beranjak ke meja makan, dia menarik piring yang berisi nasi goreng yang sudah aku siapkan tadi, di sampingnya tampak box tempat makan untuk bekelnya, keningnya berkerut saat ada 2 box yang disiapkanku, tangannya bergerak meraih box yang kecil tersebut dan membuka tutupnya untuk melihat isinya, saat itu tepat dengan aku juga berteriak dari dalam kamar.
“Jangan lupa di box yang satunya juga kamu bawa buat bekel, anak di kandungan kamu juga harus makan buah!” Seruku mengingatkan Nara dari dalam kamar. Nara terpaku mendengar teriakanku, tenggorokannya tiba-tiba kelu dan sulit menelan makanan di mulutnya, air matanya menetes mendengar seruanku.
“Maafkan Nara, Mah” Ucapnya dalam hati.

Cerpen Karangan: Bee Artie
Blog: www.ceritapunyaarti.blogspot.co.id
NB: Jalan cerita, Nama tokoh dan lainnya hanya karangan belaka, pembaca dilarang baper ^. ^
Ditulis oleh: Bee Artie
www.ceritapunyaarti.blogspot.co.id

Cerpen Penyesalan Nara (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji Leria

Oleh:
“Jadi, Anda adalah tuan Radiskh yang dulu pernah menjadi hakim di kerajaan?” tanya Leria agak terkejut setelah ayahku banyak bercerita pada gadis itu tentang masa lalunya. Ayah mengangguk. Seketika,

Pemuja Rahasia

Oleh:
Dari balik jendela dapur aku melihatnya. Sepasang mata yang bulat sempurna. Mata yang memantulkan harapan dan cita-cita. Sangat serasi dengan bibirnya yang mungil dan tipis. Bibir yang tak pernah

Cinta Dan Buaya

Oleh:
Ujian Nasional telah selesai. Perasaanku bercampur aduk antara senang dan gelisah, namun biarkanlah pengumuman dua bulan lagi, masih ada waktu untuk bersenang-senang. Teman-temanku, Aldi, Sarah, Fitri, dan Kamal mengajakku

PHP – di PHP in

Oleh:
“Rachel” teriak seseorang dari kejauhan. Rachel membalikan badannya dan menghentikan langkahnya. “Marko? Ada apa?” tanya Rachel pada lelaki nafasnya terdengar ngosngosan itu. “Gue, punya berita bagus buat Loe, sini

Dewi Malam Seorang Ibu

Oleh:
Di pinggiran desa, hidup seorang gadis kecil bersama Ibunya. Ayah gadis kecil itu telah lama meninggalkan mereka untuk bekerja di suatu tempat yang jauh, tapi semenjak pergi sampai sekarang,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *