Penyesalan Nara (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

Sudah hampir seminggu anaknya Rayan, Danar dan bibinya menginap di rumahku karena Rayan harus tugas keluar pulau selama dua minggu. Aku sebenarnya yang menawarkan diri untuk menjaga mereka, kasihan aku melihat Danar hanya berdua dengan bibinya, dia pasti butuh teman, sama sepertiku yang butuh teman di rumah untuk mengalihkan masalahku. Danar sangat menggemaskan karena badannya yang gempal dengan pipi chuby luar biasa, membuat orang yang melihatnya pasti gemas ingin mencubit atau menciumnya, tapi diluar dugaan ternyata Danar adalah anak yang hyperactive, di rumah dia tidak bisa diam, lari sana sini, segala macam barang dipegang dan diberantakin, bahkan ada beberapa pajangan yang pecah olehnya, bibir mungilnya tidak berhenti bertanya tentang apa saja yang dilihat oleh bola matanya yang Indah, Itu apa? Ini apa? Itu kenapa? Untuk satu hari, orang mungkin akan maklum-maklum saja dengan tingkah dan tanyanya, tapi untuk tiap hari memang butuh kesabaran ekstra. Jujur, aku merindukan suasana gaduh seperti ini di rumahku, ya aku merindukan saat-saat Nara kecil dulu jadi aku tidak terganggu sama sekali dengan tingkah Danar, aku memakluminya apabila dia sangat aktif, dia pasti merindukan perhatian dari ibunya yang tidak pernah dia lihat sama sekali karena itu dia mencari perhatian dari orang sekelilingnya.

Yang lucu, setiap malam menjelang tidur, Danar selalu minta tidur denganku terus, tidak mau tidur bersama bibinya, ada yang lucu dari kebiasaan Danar saat dia akan tidur, begitu dia sudah mengantuk dia akan minta gendong dan kemudian tiduran di kasur minum susu sambil mengelus-elus lengan tanganku bagian dalam dekat ketiak, saat seperti itu aku bisa mencium anak itu melepas gemasku dan aku sangat senang dengan momen itu karena mendekati anak ini dalam keadaan dia terjaga alias tidak tidur adalah mustahil, dia pasti akan memukul atau mencakar muka orang yang menciumnya seperti yang terjadi pada Nara di hari pertama Danar datang, Nara bersikap manis dengan hendak menggendong dan mencium Danar tapi Danar refleks langsung mencakar pipi Nara hingga lecet kecil terkena kukunya, ya… memang kata bibinya Danar memang tidak suka dicubitin pipinya atau dicium oleh orang lain selain Ayahnya, Rayan.

Hari itu, begitu Nara pulang aku segera menanyakan kembali tentang masalahnya, aku sudah tidak sabar lagi untuk menunggu bertemu dengan pacarnya karena hati kecilku mulai khawatir jangan-jangan pacarnya melarikan diri tidak mau bertanggung jawab karena Nara selalu berbelit-belit dengan berbagai alasannya.
“Nanti sih mah, belum waktunya” Kembali Nara mengelak sambil melepas sepatu olah raganya. Mukanya tampak lelah karena memang sedang ujian tentang penjaskes. Nara membalikkan sepatunya dan membersihkannya, pasir-pasir keluar dari dalam sepatunya. Aku terkejut.
“Habis olahraga apa kamu, Nara?”
“Penilaian lompat jauh” Jawab Nara datar.
“Kamu kan lagi hamil, kenapa ikut olah raga itu?!” Tanyaku khawatir, “Sore ini kita harus ke Dokter, cek kandungan kamu”
“Ahh… Mah, Nara lagi banyak tugas nih, jangan sekarang-sekarang. Nara baik-baik saja kok, jangan berlebihan begitu sih khawatirnya”
“Tidak bisa, mamah tidak mau mendengar kamu menolaknya lagi. Harusnya kamu lebih berhati-hati dengan kegiatan kamu karena di perut kamu itu ada bayi, bayi loh ya? Bukan mainan yang bisa kamu abaikan kesehatannya, kalau ada apa-apa dengan bayi kamu siapa coba yang repot? Kamu harus mikir sampai situ, paham!” Aku mulai tinggi kembali melihat Nara yang tampak santai tidak mempedulikan kandungannya.

“Mamah curiga, jangan-jangan kamu sengaja tidak merawat kandungan kamu supaya keguguran ya? Jangan-jangan karena pacar kamu tidak mau tanggung jawab? Buktinya kamu selalu menolak mamah untuk menemuinya”
“Astaga mamah… Pikirannya jauh banget sih sampai keguguran segala? Sabar mah, sebentar lagi Nara bakal ajak ke rumah menemui mamah, tenang aja. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya di luar kota”
“Ohh… Pantes kamu bisa sampai hamil, ternyata pacar kamu sudah bekerja? Jadi bukan teman sekolah kamu? Gila ya… Bagaimana bisa kamu tidak pernah menceritakan pacar kamu selama ini ke mamah, nak? Mamah benar-benar merasa kecolongan”
“Sudah deh mah, jangan berpikiran macam-macam tentang dia, intinya dia orang baik kok, mamah akan tahu sendiri kalau sudah kenal”
“Kalau dia baik dan gentle, justru dia yang akan menemui mamah duluan! Ok, jadi sebentar laginya itu kapan? Mamah butuh kepastian, mamah sudah cukup sabar loh menunggu, hampir satu bulan ini dari pengakuan kamu” Tegasku, tapi Nara tidak menjawab, dia meninggalkanku menuju kamarnya dengan lesu dan muka bersungut tapi tidak berapa lama terdengar teriakan histeris Nara.

“Mamahhhh!!! Ini kamarku kenapa?!” Teriaknya. Aku bergegas ke kamarnya, dan aku terkejut melihat kamar Nara yang berantakan, buku-buku pelajaran Nara berserakan di lantai dan beberapa tampak sobek dan penuh coretan. Deg! Danar.
“Kamu lupa mengunci pintu kamar memang tadi?” Aku justru bertanya balik ke Nara. Nara tidak menjawabku, dia berjalan dengan penuh emosi ke kamarku, dia menemukan Danar sedang berdiri di dekat kaca jendela kamarku asyik bermain robot-robotan, dia masuk dan langsung mencubit Danar saking kesalnya, ternyata Danar melawan dengan mengigit tangan Nara dan spontan Nara mendorong kepala Danar dengan keras, saking kerasnya dorongan Nara, Danar terjatuh ke belakang dan kepalanya menimpa lampu tidur hias di meja kecil kamarku, lampu itu pecah dan pecahan kacanya ada yang melukai Danar. Aku segera mendorong tubuh Nara.
“Hentikan Nara! Kamu gila ya?! Danar kan masih anak-anak” Aku menggendong Danar yang menangis keras, ada darah menetes dari belakang kepala Danar. Aku panik dan segera memanggil bibinya Danar.
“Mah, Nara tidak mau tahu, pokoknya anak ini harus segera pergi sekarang juga dari rumah kita!” Teriak Nara, emosinya meledak juga setelah sebelumnya dia sudah menumpuk emosi saat berbicara denganku membahas kehamilannya, fisiknya pun sedang lelah habis pulang dari sekolah, ditambah melihat kamarnya berantakan dan tugas makalahnya dicoret-coret, jadi Danar lah yang menjadi sasaran luapan emosinya. Aku memaklumi emosinya tapi tetap tidak membenarkan dia mengasari Danar.
“Tugas kamu kan bisa diprint ulang. Latih kesabaran kamu dong, namanya juga anak-anak. Kalau Danar terluka begini gimana mamah menjelaskan ke ayahnya coba?” Belaku sambil menenangkan Danar. Bibinya Danar tergopoh-gopoh datang mendengar tangisan Danar.
“Aduh… Maaf Mbak Kira, saya tadi di halaman sedang menjemur baju”
“Tolong siap-siap bi, kita ke Dokter sekarang”
“Mamah membawa Danar ke sini juga salah satunya supaya kamu belajar dekat dengan anak-anak karena kamu sebentar lagi akan menjadi ibu. Harusnya kamu memikirkan ini saat kamu mau bikin anak, Nara. Mengurus anak itu tidak semudah saat kamu bikin, itu kenapa selama ini mamah selalu tegas mengenai aturan pacaran, sekali kamu terpeleset kamu sudah tidak bisa mundur lagi. Andai kamu tahu perasaan mamah,” Aku menatap tajam ke Nara, dia hanya bisa menunduk diam tidak berani menjawabku lagi.

Hari itu, aku dan Danar sudah bersiap-siap menjemput Rayan ke bandara, semalaman kemarin aku sudah mengarang dan merangkai cerita untuk menjelaskan kepada Rayan mengenai luka Danar, aku sebenarnya malu karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik hingga terluka begitu, aku sengaja tidak menceritakan ke Rayan melalui telepon karena takut membuatnya khawatir dan mengganggu pekerjaannya.

Saat aku sedang memanaskan mobil, tiba-tiba saja Rayan meneleponku memberitahu bahwa aku tidak perlu menjemputnya karena dia ada urusan mendadak di pekerjaannya jadi dia akan menyelesaikannya dulu. Dan baru saja aku menutup teleponku dari Rayan, tiba-tiba dari sekolah Nara meneleponku bahwa Nara sedang di Rumah Sakit karena telah terjadi masalah. Aku segera buru-buru meluncur menuju ke sana.

Begitu tiba di Rumah Sakit aku disambut oleh Wali kelas Nara yang sudah menungguku di parkiran mobil, ahh… pasti wali kelasnya sudah tahu bahwa Nara hamil. Aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi, kalau memang aib ini harus terbongkar ya sudah aku pasrah apabila Nara harus dikeluarkan dari Sekolahnya, hanya itu yang berkecamuk di pikiranku. Aku menggendong Danar yang ikut bersamaku karena tadi dia tidak mau aku tinggal di rumah bersama bibi yang sedang tanggung memasak. Perasaanku sudah campur aduk, nafasku terasa tersengal berjalan terburu-buru, dan keringat dingin mulai menetes di leherku, anggota badanku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasanku membayangkan rasa malu sebentar lagi menyaksikan pengakuan Nara tentang kehamilannya di depan semua orang, ya… kali ini semua orang akan membicarakan aib kami ini.

“Di kamar apa Nara dirawat, bu?” Tanyaku pada Ibu Wali Kelas Nara.
“Nara tidak di rawat Bu Kira, dia ada di ruangan staf” Aku heran mendengar jawabannya. Kami menuju ruangan yang dimaksud, dari luar sudah terdengar suara teriakan seorang perempuan yang terdengar sedang memohon-mohon, deg! Tidak salah lagi itu suara Nara.
“Dokter harus menikahi saya, kasihan mamah saya dok, tolong tanggung jawab karena telah membuat saya seperti ini,”
Aku membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk, di sana tampak ada beberapa dokter dan seorang gadis yang sedang berlutut di depan dokter pria yang berdiri, mendengar suara pintu terbuka dokter pria itu menoleh ke pintu, padangan kami bertemu, dan seketika mataku terbelalak melihat sosok itu. Danar beringsut turun dari gedonganku dan berlari ke arah pria itu yang juga tidak kalah terkejutnya melihatku.
“Ayah… Ayah…”
Nara terbelalak melihat anak kecil itu berlari memeluk sosok di depannya.
”Ayah???” Seketika Nara pucat pasi, dia kaget melihatku juga ada di situ.
“Ra… Rayan…” Suaraku tercekat. Aku mematung masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat, kakiku gemetar, dadaku sesak karena emosi yang tiba-tiba menyeruak dan tiba-tiba aku merasa seluruh sendi tulangku lepas, lemas seolah tidak kuat menopang berat badanku lagi dan BRUKKKK!!! Aku pun jatuh pingsan.

Aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku begitu membuka mataku. Nara segera menyongsongku melihatku sudah terbangun.
“Mah… Mamah… tidak apa-apa?”
Aku mengedarkan pandanganku, hanya ada Ibu Wali kelas dan Nara yang ada di ruangan itu.
“Rayan di mana?” Tanyaku dengan suara masih lemas, “Dia hutang penjelasan ke mamah”
“Tidak Mah, ini semua ulah Nara bukan Dokter Ray,” Nara menahanku untuk bangun, dia menatapku dengan penuh penyesalan.
“Maafkan Nara, Mah. Nara sudah berbohong ke semuanya, tentang kehamilan, tentang pacar, semua itu hanya rekaan Nara, Nara benar-benar minta maaf” Mata Nara mulai berkaca-kaca.
“Nara tidak tahu kalau Dokter Ray ternyata teman Mamah dan Danar adalah anaknya, Argh… Nara sangat malu kalau ingat perlakuan Nara ke Danar. Nara tadi sudah minta maaf ke Dokter Ray, Mah”
“Kenapa kamu melakukan semua ini, Nak?” Aku sedih mendengar pengakuan Nara, sedih karena dia sudah melakukan kebohongan besar yang mengerikan.
“Mamah pernah bilang, berbohong demi kebaikan itu dibolehkan, ya Nara melakukannya demi mendapatkan Dokter Ray”
“Kebaikan siapa yang kamu bicarakan?”
“Ya Nara mengaku ke Mamah, selama ini Nara tidak pernah mempunyai pacar ya karena Nara memang tidak pernah tertarik dengan cowok manapun, tapi pas PKL begitu melihat Dokter Ray Nara tiba-tiba saja tertarik, Nara mengagumi Dokter Ray sama seperti teman-teman Nara yang lain. Tapi Nara ingin Dokter Ray dekat terus dengan Nara karena Nara menemukan nyaman setiap berbicara dengannya, Dokter Ray sangat menyenangkan juga kebapakan dan itu mengingatkan Nara ke Papah. Mamah sendiri yang bilang tidak mau menikah lagi mencari pengganti Papah padahal Nara ingin sosok seorang Ayah di rumah kita. Nara menemukan sosok itu di Dokter Ray, mah. Ditambah teman Nara juga ada yang tergila-gila juga, ya sudah Nara melakukan kebohongan ini karena tidak ingin keduluan teman Nara yang lain,” Nara menyeringai malu. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar pengakuannya.

“Jadi, sampai detik ini kamu masih menyukai Dokter Ray itu?” Tanyaku meyakinkan lagi.
“Arghh… Rasa suka Nara tiba-tiba lenyap mah begitu tahu Dokter Ray adalah ayahnya Danar sekaligus teman Mamah. Rasa malu Nara lebih besar jadi mengalahkan rasa suka Nara”, Aku Nara polos dengan kekanak-kanakannya. Ah… Lihatlah betapa polosnya dia, perasaannya saja sudah bisa berubah dalam hitungan detik.
“Maafkan Nara ya Mah sekali lagi, Nara pikir Mamah tidak akan keberatan kalau Nara menikah muda, asal calon suaminya seperti Dokter Ray”
“Mamah tidak keberatan kamu mau menikah dengan siapapun, Nara. Asal dengan cara yang baik, jangan tiba-tiba mengaku sudah hamil, itu beban buat Mamah karena merasa gagal mendidikmu di mata orang. Dan satu lagi, ya kalau bisa cari yang masih muda, yang seumuran… Jangan yang sudah Om-Om gitu” Ujarku merengut ke arah Nara.

“Hmm… Memang kenapa kalau Om-Om?” Tiba-tiba sebuah suara datang masuk di pembicaraan kami. Tampak Rayan masuk ke dalam ruangan itu dengan menggendong Danar. Aku sedikit salah tingkah.
“Ya tidak kenapa-kenapa juga sih, cuma ya mbok Om-Om nya saja yang tahu diri,” Kilahku buru-buru. “Kalau semua Om-Om maunya dapet cewek yang muda, ya bakal apa kabar dengan cowok-cowok muda yang masih single di luaran sana coba? Kasihan mereka dong makin susah dapat perawan nanti”
“Haha… Ya sudah kalau gitu berarti Om nya buat Mamah kamu saja ya, Nara?” Ledek Rayan ke Nara.
“Wah… Tunggu dulu, kalau Dokter Ray sama Mamah, berarti anak ini bakal jadi adikku dong?” Tanya Nara dengan ekspresi shock sambil menunjuk ke arah Danar. Danar yang merasa ditunjuk segera meminta turun dari gendongan Rayan.
“Kakak ini nakal… Kakak nakal… Aku mau pukul,” Danar berlari mengejar Nara yang histeris duluan.
Aku dan Rayan tertawa bersama melihat tingkah mereka, mengingat kelakuan Nara hari ini, ingatanku melayang pada obrolanku dengan Nara kala itu.

Dulu dia pernah bertanya:
“Ibu… kenapa berbohong itu dosa?”
“Karena Allah tidak menyukainya, nak”
“Hmm… jadi kita gak boleh bohong ya bu?”
“Boleh nak, tapi asal buat kebaikan”

Dan hari ini dia melakukannya, ya… Kamu belajar sangat baik ternyata nak, tapi ibu lupa memberitahukanmu dulu, bahwa point terakhir waktu itu tidak boleh kamu lakukan ke ibumu. Karena hal yang paling penting dari sebuah kebohongan adalah jangan berbohong kepada orang yang kamu cintai.
The most important thing about lie is don’t lie to the person you love.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Bee Artie
Blog: www.ceritapunyaarti.blogspot.co.id
NB: Jalan cerita, Nama tokoh dan lainnya hanya karangan belaka, pembaca dilarang baper ^. ^
Ditulis oleh: Bee Artie
www.ceritapunyaarti.blogspot.co.id

Cerpen Penyesalan Nara (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rest Area

Oleh:
Entah apa yang menjadi alasan Ayumi seringkali menolak ajakan Nathan untuk bertemu. Namun Nathan enggan menyerah agar bisa bertemu Ayumi. Setelah 3 tahun lamanya mereka hanya bersua via media

Valentine

Oleh:
Apa cinta itu? Aku selama ini gak pernah percaya yang namanya cinta. Karena bagi ku cinta itu hanya ada di dalam sebuah dongeng anak-anak yang lebay ceritanya dan cinta

Empat Kata Yang Terlambat

Oleh:
Seperti biasa, suara tertawa ibuku terdengar nyaring di telinga. Aku pun mulai tak nyaman disertai konsentrasi yang semakin memudar. Sejenak aku berpikir, “Apa sih serunya sebuah sinetron di televisi?

Janji Yang Tak Dapat Ditepati

Oleh:
Di sebuah rumah sakit besar di Tokyo, seorang Ibu sedang menjalani proses persalinan. Hingga akhirnya sang buah hatinya pun lahir ke dunia ini. Suara tangisan pertama sang bayi membuat

Petualangan 24 Jam

Oleh:
Gue selalu dituntut sama orangtua gue agar bisa berdagang, alasannya sih simpel. Agar bisa meneruskan usaha keluarga yang sedang berjalan. Gue selalu diajari caranya berdagang dari A sampai Z.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *