Perasaan Sahabatku, Hasan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 March 2016

Dua bulan kemudian. Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepatnya, dua bulan hanya terasa seperti dua minggu saja bagiku. Selama dua bulan kami terus-menerus berusaha untuk mencari tahu tentang siswi yang pernah ditolong Hasan itu, dan selama itu pula banyak cara yang sudah kami lakukan. Tapi dari semua cara yang kami coba tak satu pun mendapatkan hasil yang memuaskan, bahkan sampai sekarang pun aku masih bingung bagaimana caraku untuk bisa membantunya. Tapi sekarang aku bisa sedikit lega, karena sejak seminggu terakhir ini dia tak lagi membicarakan soal siswi tersebut. Aku berpikir mungkin dia sudah menyerah untuk mencari tahu tentang siswi tersebut, atau mungkin juga dia minder. Namun obrolan malam kami menjawab semua dugaanku mengenainya.

“San, aku lihat-lihat, sekarang kamu udah nggak lagi bingung mencari tahu soal cewek itu, kamu udah nyerah ya?” Tanyaku karena penasaran.
“Hehehe, nggak kok.” Jawabnya santai.
“Terus, sekarang kamu kok udah nggak pernah usaha lagi?”
“Hehehe, ngapain harus usaha, orang aku udah dapat informasi tentang dia, lengkap malah.”
“Dapat dari mana?”
“Jadi gini ceritanya, aku kan punya kakak sepupu cewek yang sekolah di sini juga, dia anak XII-b, nah, dia kan juga tinggal di asrama putri.”
“Terus.”
“Terus, kemarin kan orangtuanya titip uang padaku suruh ngasih ke dia. Saat aku ngasih uang itu ke dia, aku teringat kalau dia kan satu asrama dengan cewek itu, makanya aku minta tolong padanya untuk mencarikan informasi mengenai cewek itu.” Jelas Hasan panjang lebar.

“Kenapa nggak dari dulu aja?” Kataku dengan nada sedikit ku buat marah.
“Maaf Zal, aku lupa kalau aku bisa minta bantuan padanya.”
“Bukan itu, kenapa nggak dari dulu kamu cerita kalau kamu punya saudara cewek yang sekolah di sini juga.”
“Emang kenapa?”
“Yah, siapa tahu nyantol, hehehe.” Candaku padanya.
“Hmm.. ngarep!!”
“Hehehe, just kidding, ngomong-ngomong, siapa nama cewek itu?” Tanyaku penasaran. Kemudian Hasan mengambil selembar kertas yang ada di lemarinya.
“Nih, kamu baca sendiri! Itu biodatanya lengkap dari mulai nama, tempat tinggal, hobi, makanan kesukaan, sampai nomor teleponnya.”

Dalam kertas itu tertulis informasi lengkap mengenai siswi tersebut. Nama siswi tersebut adalah Desi Anita Usmaniyah, panggilannya Nita, dia lahir di lamongan. Hobi dia ngemil dan makanan kesukaannya mie ayam, dia anti dengan bakso dan makanan-makanan lain yang berbahan dasar daging sapi. Tinggi badannya 159 cm, dan berat badan 48 kg. Cita-cita menjadi seorang perawat dan nomor ponselnya. Menurutku itu semua sudah cukup untuk menjawab rasa penasaran Hasan pada siswi tersebut.

“Terus, sekarang kamu mau ngapain?” Tanyaku pada Hasan.
“Rencanaku sekarang hanyalah menanti datangnya liburan, karena cuma itu waktu yang tepat untukku mulai menghubunginya.” Jelas Hasan.
“Sip.” Obrolan malam kami pun berakhir seperti biasa, yaitu berjalan-jalan di alam mimpi yang indah dan tanpa batas.

Seperti seorang pegawai kantor di awal bulan yang bahagia karena mendapatkan gaji, kami para pelajar juga seperti itu terhadap libur panjang, bedanya, kalau pegawai kantor mendapatkan kebahagiaan itu tiap bulan, kami para pelajar hanya merasakan itu enam bulan sekali, atau lebih tepatnya hanya ketika libur kenaikan kelas saja. Libur panjang kini telah tiba, dan itu tandanya kami siswa dan siswi diperbolehkan untuk menghabiskan waktu liburan di rumah kami masing-masing. Aku pulang ke rumahku sendiri, begitu pun juga dengan Hasan. Kami sekarang hanya berhubungan via telepon saja.

Hari pertamaku ku gunakan untuk membantu meringankan pekerjaan orangtuaku, karena aku tak tega melihat mereka bekerja memeras keringat demi membiayaiku sekolah dan mencukupi kebutuhanku juga kebutuhan mereka sendiri. Hari kedua dan ketiga aku pun juga tetap sama seperti hari pertama, yaitu membantu meringankan pekerjaan orangtuaku. Di hari keempat ini aku tak membantu mereka, sebab hari ini aku punya rencana berwisata ke gunung Kelud bersama Hasan dan kawan-kawan satu kelasku yang lain. Kami membahas rencana ini dari beberapa hari yang lalu sebelum pulang dari asrama.

Pemandangan alam yang begitu indah ditambah dengan semilir angin di puncak gunung membuatku sadar akan kebesaran sang maha pencipta. Kami bersuka-ria ketika sampai di gunung Kelud, bersenang-senang melepas penatnya keseharian kami yang terasa melelahkan. Di saat kami naik ke puncak Kelud, aku teringat pada sebuah lagu anak-anak yang menceritakan tentang pengalaman menaiki sebuah gunung. Pada lagu itu, ada sebuah lirik yan menurutku terlalu mengada-ada, bunyi liriknya seperti ini, “Kiri-kanan ku lihat saja banyak pohon cemara.” sedangkan ketika aku berada di puncak, sejauh mataku memandang tak ku lihat satu pun pohon cemara.

Senang, puas, lelah, letih, semuanya bercampur menjadi satu. Kami semua telah merasa puas ketika telah menyusuri setiap spot wisata yang ada di gunung Kelud, mulai dari puncak Kelud, danau kawah, pemandian air panas, pokoknya kami puas hari ini. Pukul, 14:57, kami memutuskan untuk pulang. Semua teman-temanku pulang, kecuali aku dan Hasan. Hasan mengajakku ke sebuah tempat yang aku tak tahu, sebab jika ku tanya dia selalu menyuruhku untuk diam.

Hiruk pikuk penduduk kampung yang sedang beraktivitas membuat rasa penasaranku semakin besar, karena aku tak tahu Hasan akan mengajakku ke mana. Dia hanya menyuruhku untuk mengikutinya, dan aku diajaknya melewati beberapa perkampungan yang aku tak tahu di daerah mana letak perkampungan itu, apakah terletak di bumi ataukah di planet lain aku tak tahu. Rasa penasaranku terjawab saat dia menghetikan laju motornya di sebuah rumah yang berukuran 7X10m dengan cat tembok berwarna pink. Aku tahu kalau itu adalah rumah Nita, sebab saat kami sampai di halaman rumah tersebut, ada tiga orang wanita yang sedang berada di terasa rumah tersebut, dan salah satunya adalah Nita. Kami langsung dipersilahkan masuk oleh Nita. Di dalam rumah Nita, kami dijamu dengan disuguhi teh, makanan ringan, dan lain sebagainya.

“Kamu Rizal ya.” Ucap Nita padaku.
“Iya, kamu kok bisa tahu namaku? Pasti Hasan yang cerita ya!” Kataku pada Nita.
“Iya.”
“Dia cerita apa saja tentangku?” Tanyaku pada Nita.
“Santai aja Zal, aku cerita yang baik-baik kok tentang kamu.” Sahut Hasan.
“Hahaha.” Tawa mereka berdua.

“Kalian nertawain apa?” Tanyaku bingung.
“Nggak, bukan apa-apa kok.” Jawab mereka kompak. Aku merasa pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka.
Mereka berdua terlihat begitu akrab, padahal kalau menurutku mereka baru berhubungan saat liburan kemarin saja, tapi keakraban mereka terlihat begitu aneh menurutku. Ketika Nita dipanggil oleh salah satu anggota keluarganya, dan meninggalkan aku dan Hasan berdua di ruang tamu, aku menanyakan soal keakraban mereka pada Hasan.

“San, kamu kok kelihatan akrab banget dengan Nita?” Tanyaku pada Hasan.
“Ah masa, biasa saja menurutku.” Jawabnya santai dengan diikuti senyum kecil di wajahnya yang membuat dia terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
“Udahlah San, jujur saja padaku! Aku tahu kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku.” Desakku padanya.
“Iya-iya aku jujur… aku sudah jadian sama dia.” Jawab Hasan.

“Hah, cepet banget.”
“Cepet apanya?”
“Iya cepet banget kamu jadian sama dia, kamu kan mulai berhubungan dengannya baru kemaren pas mulai libur.”
“Hehehe… emang sih, tapi ketika aku mulai menghubunginya, di antara kita kelihatan udah ada kemistri.”
“Terus.”
“Terus kemaren aku mutusin untuk maen ke sini sendiri, dan kemarin pula, aku mencoba langsung nembak dia, e… dianya mau, ya udah akhirnya kami jadian deh.” Jelas Hasan. Jam dinding telah memberi isyarat pada kami kalau waktu sudah tidak memungkinkan untuk kami bertamu di rumah seorang gadis. Akhirnya kami pun pulang ke rumah kami masing-masing.

Saat masa liburan telah berakhir, rasanya berat untuk melepasnya dan kembali lagi ke asrama, sebab kami harus kembali pada keseharian kami yang melelahkan. Tapi kami semua harus kembali ke asrama, karena kini kami telah memasuki tingkat akhir dalam masa SMA. Kami sekarang kelas XII, dan itu artinya, kami haruslah lebih giat lagi dalam belajar, jika ingin lulus dengan nilai yang memuaskan. Namun ketika telah kembali ke asrama, Hasan sekarang menjadi berubah. Dia sekarang menjadi sangat rajin berkirim surat dengan Nita, tanpa takut dengan hukuman yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Mereka saling berbalas surat dengan cara menaruh surat di bangku kelas sebelum sekolah dimulai. Hasan menaruh suratnya di bangku Nita, begitu pun sebaliknya. Kebiasaan mereka ini terus mereka lakukan tanpa mempedulikan aturan atau hukuman yang sudah ditetapkan.

Berbulan-bulan mereka terus melakukan itu, tanpa pernah berpikir panjang mengenai hal-hal yang tidak diharapkan. Aku sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan Hasan, tapi aku sendiri tak tega jika harus melihat dia ketika malam menjadi murung, karena semenjak ia berkirim surat dengan Nita, setiap malam ia terlihat begitu bahagia ketika membaca surat balasan dari Nita. Pernah suatu hari dia tak mendapatkan surat balasan dari Nita, dia terlihat murung dan kurang bersemangat, itulah yang membuatku tak tega padanya. Tapi jika mereka terus-terusan begini, tidak menutup kemungkinan jika mereka akan dihukum oleh pihak sekolah, dan jika itu terjadi, aku akan sangat kasihan dengan mereka.

Apa yang aku khawatirkan sekarang menjadi kenyataan. Tepat tiga bulan sebelum kami melaksanakan UNAS (ujian nasional), pihak sekolah mengetahui kalau Hasan dan Nita telah melanggar aturan sekolah. Mereka pun dihukum dengan hukuman yang berat, tapi bukan berupa hukuman fisik, melainkan hukuman mental yang menurutku itu lumayan berat untuk mereka berdua. Mereka dihukum dengan cara diberdirikan di tengah halaman sekolah, dan di leher mereka digantungi kardus yang bertuliskan “Kami telah melanggar peraturan sekolah, yaitu dilarang berpacaran”. Aku tak tega melihat mereka yang seperti itu, karena banyak siswa dan siswi yang membulli mereka berdua. Aku lebih tak tega lagi ketika melihat Hasan yang harus kehilangan rambutnya karena digunduli oleh pihak sekolah. Sungguh pemandangan yang ironis, ketika perasaan cinta yang mereka miliki haruslah diganjar dengan hukuman yang seperti itu.

Selama dua hari Hasan hanya terbaring di ranjangnya, diam membisu dan tak melakukan apa pun. Pertanyaan-pertanyaanku pun tak satu pun ia jawab, dia hanya diam saja ketika aku bertanya hal apa yang membuatnya seperti ini. Sampai suatu malam dia mau bercerita padaku tentang masalahnya.
“Hoe San, kamu kenapa sih, cerita dong kalau ada masalah. udah dua hari lo kamu kayak gini!” Ucapku membuka obrolan.
“Nggak apa-apa kok Zal, aku cuma ingin sendiri aja.” Jawabnya dengan suara yang terdengar lesu.
“Udahlah nggak usah kayak gini, critain aja semua padaku, aku ini sahabatmu.”

“Huff…” Dia menghela napas, “Baiklah, aku akan cerita.”
“Nah gitu dong, siapa tahu aku bisa bantu masalah kamu.”
“Iya-iya.”
“Terus apa yang membuatmu seperti ini?” Tanyaku.
“Jadi gini Zal, kemaren waktu aku dihukum dengan Nita, aku merasa sangat kasihan padanya, soalnya gara-gara aku dia juga ikut dihukum. Aku sungguh tak tega ketika harus melihat dia sengsara, tapi yang membuatku bingung adalah, saat kami dihukum kemaren, dia bilang padaku kalau dia rela dihukum seperti apa pun asalkan tetap bersama denganku.”

“Terus, kenapa kamu bingung?”
“Aku bingung dengan seberapa besar cinta yang ia miliki untukku, karena kata-katanya sungguh terdengar amat sangat meyakinkan bagiku.”
“Kenapa kamu harus bingung? kalau dia mengucapkan itu dengan raut wajah yang sungguh-sungguh, itu artinya dia sangat-sangat mencintaimu.”
“Masalahnya bukan aku ragu dengannya, justru aku malah sangat yakin dengan dia. Tapi masalahnya kemaren pihak sekolah menyuruhku dan dia menandatangani surat pernyataan kalau kami tak akan lagi berhubungan. Aku bingung bagaimana caraku untuk bisa mendapatkan ia kembali.”

“Wah kalau itu sih susah San.”
“Maka dari itu, sejak kemarin aku mengurung diri, karena aku berpikir keras mengenai hal ini.”
“Hmm… baiklah aku akan bantu kamu memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini.”
Kami berdua berpikir keras mengenai masalah ini. Kami memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi Hasan. Tapi kebiasaan yang telah melekat pada diri kami membuat kami harus melupakan segalanya untuk sejenak, dan meninggalkan semua masalah-masalah untuk menuju alam indah yang tanpa batas, yaitu alam mimpi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Safrizal Annur Huda
Blog: randigeong.blogspot.com

Cerpen Perasaan Sahabatku, Hasan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpisahan di Ujung Jalan

Oleh:
Cuaca buruk beberapa hari ini tidak membuatku ragu untuk terbang pulang kampung ke Jakarta. Sudah dua tahun aku meninggalkan kampung halamanku pergi merantau menahan rindu kepada keluarga yang aku

Senja Yang Kedua

Oleh:
Mentari senja di pingir pantai menjadi kisah hidupku yang indah dengan lelaki yang kusayang, saat itu sunset menyinari tubuhku dan menjadi saksi kisah cintaku. Awalnya kita bertemu pada acara

Emil

Oleh:
“Los, Carlos!” Remaja mediterania itu menolehkan kepala, mendapati sobatnya berjalan terburu-buru menghampirinya, “Ada apa, Wil?” “Bantu aku nembak adik kelas, Los,” jawaban yang amat polos diberikan. Carlos menepuk dahi

Dua Malaikat Yang Kukenal

Oleh:
– Cinta tidak berarti menemukan seseorang yang sempurna. Tapi menemukan seseorang yang mampu melengkapi kekurangan yang ada pada diri kita – Namanya Keanu. Dia Sahabat sejak kecil dari Bryan,

Perasaan Sahabatku, Hasan (Part 3)

Oleh:
Sebersit cahaya berwarna kuning ke-merahan terlihat menyembul dari ufuk timur, perlahan menyebar dan mengeluarkan sebuah bola raksasa yang begitu terang dengan sinar kuningnya yang menyilaukan setiap mata ketika melihatnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perasaan Sahabatku, Hasan (Part 2)”

  1. Lusi says:

    next.. cerpennya seru 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *