Perasaan Yang Tak Seharusnya Ada (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

Aku mencintainya
Dan selalu berusaha mencintainya
Namun rasa apa ini?
Tiba tiba saja datang dari orang lain.

Pagi itu aku menjemput Aura. Aura adalah orang yang kucintai. Kita berteman sejak SD kelas 1. Namun saat naik ke kelas 2, Aura pindah sekolah. Kita telah lama terpisah dan pada akhirnya kita bertemu kembali saat duduk di kelas 8 SMP. Kita mulai dekat dan sering bermain bersama saat kelas 9 SMP. Kami satu sekolah kembali sekarang, kami baru menginjak kelas 10 SMA.

Aura adalah gadis yang baik, aku menyukai sifatnya itu. Kadang dia ‘lemot’ dan menyebalkan, namun karena sikapnya itulah yang membuatku betah berada di dekatnya.

Kami selalu pergi dan pulang bersama. Namun pada saat itu, aku tidak bisa pulang bersamanya. Adanya kerkom kelas membuatku tak bisa mengantar Aura. Dengan berat hati aku memberitahunya.

“Aura, maaf yah hari ini aku ga bisa ngantar kamu pulang. Ada kerkom kelas nih” kataku.
“Iya, Ki. Ga apa apa kok. Aku ngerti.”
“Jangan murung gitu dong, senyum ayo.” godaku.
“Eh Zaki, aku gak murung kok, liat nih aku senyum.” kata Aura sembari menunjukkan senyumnya padaku.
“Iya iya dehh, Aura. Aura kamu harus selalu bagus haha.” aku mencoba untuk membuatnya tertawa.
“Apa sih gak lucu tau, wekk” dia menjulurkan lidah sembari berlari meninggalkanku.
“Eh main kabur aja kamu, Ra. Hati hati!” teriakku.
“Iyaa!”

Se-selesainya dari kerkom kelas, aku berjalan menuju parkiran motor. Tak disengaja aku berpapasan dengan Anindya, teman sekelasku. Aku bertanya padanya.
“Nin, mau pulang?”
“Iya, Ki.”
“Dijemput?”
“Engga, aku naik angkot.”
Saat aku sedang mengobrol dengannya, hujan tiba tiba datang.
“Yah hujan.” katanya. Aku berinisiatif untuk mengantarnya pulang, karena tak tega melihatnya harus jalan ke tempat angkot sendirian dikala hujan.

“Kamu mau aku anter pulang, Nin?”
“Engga ah makasih.”
“Udah jangan nolak, liat hujannya nambah deras.”
“Tapi nanti Aura marah loh.”
“Aura pasti ngerti kok.”
“Hmm, ya udah deh. Makasih ya Ki.”
“Oke.”

Aku pun mengantarnya pulang. Hujan bertambah deras. Tak disangka, jalan menuju rumah Anin didera banjir. Aku kesulitan mengendarai motor. Kami terbebas dari banjir ketika mulai mendekati pertigaan jalan. Namun saat akan membelokkan motor ke arah kanan, mobil melaju sangat cepat dari arah belakang. Pengemudi tidak memperhatikan arah lampu dari motorku. Bumper mobil menyentuh motorku dan waktu terasa melambat. Aku melupakan segalanya detik itu juga.

Lampu menyala, menyilaukan mataku. Tirai hijau mengelilingiku. Dan jarum infus tertancap di lenganku. Tak salah lagi, aku berada di rumah sakit. Seketika aku teringat akan keberadaan Anindya. Di mana dia? Ibuku menghampiriku dan bertanya
“Kamu sudah sadar nak? Syukurlah. Apa kamu butuh sesuatu?”
“Anin di mana bu?”
“Anin? Temanmu yang bersamamu waktu kecelakaan itu? Dia berada di ruang ICU.”
“Ruang ICU?!” aku tak percaya.
“Dia mengalami pendarahan di otak, karena benturan keras waktu kecelakaan nak.”
Aku merasa amat sangat bersalah, aku menyayangkan hal itu terjadi. Mengapa tidak aku saja yang begitu?

Beberapa hari berlalu, aku diperbolehkan untuk pulang. Namun Anin telah berpulang ke sisi-Nya. Dia tak kuasa menahan sakitnya itu. Aku sangat terpukul oleh kepergiannya. Sepanjang jalan aku murung dan terus memikirkan Anin.

“Zaki, kamu udah sembuh kan?” tanya Aura.
“Iya” jawabku singkat.
“Kenapa kamu murung?”
“Entahlah”
“Aku tau kamu pasti sedih gara gara Anin kan?”
“Engga kok” aku berusaha mengelak agar Aura tak khawatir.

Aku merasakan perubahan sikapku pada Aura. Aku tidak sesenang dulu saat bertemu Aura. Aku selalu menghindarinya. Kadang aku terdiam sendirian menatapi foto Anin. Aku heran pada diriku ini, mengapa aku mengharapkan seseorang yang telah tiada.

Tanpa sepengetahuanku, ternyata Aura mencurahkan isi hatinya pada Dika.
“Dika, aku merasa Zaki berubah” katanya sedih.
“Mengapa kamu merasa begitu?”
“Dia bukan Zaki yang kukenal.”
“Dia berubah sejak kapan, Ra?”
“Entahlah, semenjak dia pulang dari rumah sakit.”
“Aku akan mencari tahu mengapa Zaki berubah.”
“Jangan! Biarkan saja seperti ini. Aku mengerti mengapa dia berubah.”
“Kamu terlalu baik, Ra. Kamu selalu mengerti orang lain, hingga kamu melupakan bahwa dirimu sendiri butuh untuk dimengerti.” Aura tersentak oleh kata kata Dika.
“Baiklah jika itu maumu, aku menghargai bantuan darimu” Dika hanya tersenyum.

Dika menghampiri Zaki di saat jam istirahat berlangsung. Zaki sedang duduk termenung di taman.
“Sikapmu ini telah membuat Aura sakit hati, Ki.” Dika tiba tiba memecahkan lamunanku.
“Apa?” jawabku singkat.
“Kamu tiba tiba menjadi dingin dan tidak peduli dengan Aura. Kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya Aura padamu.”
“Dia pasti mengerti”
“Sampai kapan dia akan terus mengerti dan menganggap wajar sikapmu yang seperti ini.”
“Entahlah”
“Kamu jadi tertutup, dan menyimpan rahasia dari Aura”
Aku terdiam.
“Lebih baik kamu cerita, jangan ada yang ditutupi”
“Aku tak mau cerita pada Aura.”
“Padaku saja.”
“Yaa aku merasa aneh saja, mengapa aku jadi tak memiliki rasa pada Aura.”
“Kamu suka perempuan lain?”
“Iya.”
“Wah bahaya, siapa?”
“Kamu pasti tak menyangka.”
“Iya siapa, beri tahu”
“Anin”
“Anin?! Dia kan sudah..”
“Iya aku tahu, dia sudah tiada. Tapi aku merasa bersalah padanya. Mungkin jika aku lebih hati hati dan menunggu hujan reda. Tak akan terjadi hal itu.”
“Kamu merasa bersalah itu wajar saja. Tapi jika menyangkut hal cinta, konteksnya sudah berbeda lagi, Ki.”
“Berbeda bagaimana?”
“Cinta sejati itu tidak muncul dari rasa bersalah.”
Kata kata Dika terngiang ngiang di kepalaku. Membuatku bertambah bingung bagaimana perasaanku ini.
“Jika muncul dari rasa bersalah, itu tandanya kamu hanya terpaksa dan tak tulus dari hati.”
Seketika aku teringat akan wajah Aura, tingkah lakunya, dan semua kenangan yang kita lewati bersama selama ini. Sikap yang kuambil ini memang salah.

Esoknya aku menghampiri Aura dan meminta maaf atas kelakuanku selama ini padanya.
“Aura, maafkan perlakuanku padamu selama ini.”
“Ternyata perasaan seperti itu dapat muncul dari dalam dirimu, Ki.”
“Maksudmu?”
“Mencintai orang lain karena rasa bersalah.”
“Aku pun tak mengerti mengapa begini.”
“Mungkin nanti muncul kemungkinan, kamu juga akan mencintai orang lain saat bersamaku.” Aura mulai kehilangan rasa kepercayaannya padaku. Aku merasa menyesal.
“Apa aku terlambat untuk meminta maaf?”
“Kamu tidak mengerti bagaimana perasaanku saat meladeni sikapmu itu”
“Maaf” hanya satu kata itu yang keluar dari bibirku.
“Aku mulai menyadari, bahwa aku terlalu mengerti kamu. Namun kau sendiri tidak mengerti aku.”
“Aku akan menunggumu hingga kamu akan memaafkan aku.”
“Coba saja jika kau bisa.” Aura pergi meninggalkanku seorang diri. Terdiam di antara lorong yang sunyi. Hanya suara derap langkah kaki Aura yang berjalan menjauh dari tempat kami semula. Kutatapi dirinya hingga ia tak bisa kutatapi lagi.
Aura memang benar benar kehilangan rasa kepercayaannya padaku. Aku tak tau harus bagaimana.

Sudut pandang Aura
Aku berjalan menjauhi Zaki. Tanpa terasa air mata ini menetes tak henti hentinya. Sejujurnya aku tak ingin berkata seperti ini, hal itu pasti melukai hati Zaki. Tapi Dika berkata padaku, “Jika kamu selalu bersabar dan mengerti kesalahan yang telah dia perbuat. Dia pasti akan mengulangi kesalahan yang sama berulang ulang. Itulah manusia, jika diberi kesempatan berulang kali mereka akan menyia nyiakannya. Hingga mereka mengerti bahwa sikap itu salah, saat menyadari bahwa mereka telah KEHILANGAN.”
Mungkin perkataan Dika ada benarnya juga. Aku mencoba untuk membuat Zaki mengerti. Namun aku tak kuasa melihat wajah Zaki tadi, saat berbicara padaku. Tatapan tulus Zaki yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Membuatku merasa bersalah telah berkata kasar seperti itu padanya.

Tak sengaja aku berpapasan dengan Dika.
“Hei Aura. Kamu kenapa?” pertanyaan itu membuatku tambah menangis. Aku menangis sejadi jadinya di hadapan Dika.
“Eh Aura, sudah dong jangan nangis begini. Malu loh dilihat orang lain.”
lah? Dilihat orang lain? Ini kan belakang sekolah, jarang sekali ada orang lain ke sini, pikirku dikala sedang menangis.
“Ayolah. Cup cup cup. Anak pintar tak boleh nangis. Nanti cantiknya ilang loh.” Dika berusaha menghiburku.
“Sudahlah jangan dipikirkan, Ra. Dia akan mengintropeksi dirinya sendiri. Kamu telah mendengarkan nasehatku dengan baik.” aku tak bisa berhenti menangis.
“Ah Auraa, sampai kapan kamu begini terus. Ayo dong berhenti.” Dika kebingungan memberhentikan aku menangis.
“Kamu mau apa anak manis? Mau permen? Susu? Cokelat? Atau balon? Eh tapi balonnya meletus. Jadi kamu jangan minta balon yah. Udah dong nangisnya anak manis.” kata Dika sembari mengelus ngelus kepalaku. Aku mulai berhenti setelah melihat usaha Dika memberhentikan aku untuk menangis.
“Nah gitu dong anak manis. Jangan nangis. Nanti tengis. Tunggu di sini yah.”
“Hem..” kataku sembari tersenyum tipis.

Beberapa saat kemudian Dika kembali membawa cokelat, susu, dan permen yang ia bicarakan tadi ketika aku menangis.
“Eh Dika, kamu bawa banyak sekali makanan.” kataku.
“Iya kan anak manis sudah berhenti menangis. Jadi ini hadiahnya, jangan nangis lagi yah.” katanya sembari mengacak kepalaku.
“Ih iya iya, tapi jangan pegang kepalaku seperti itu. Aku bukan anak kucing.”

Dika membukakan cokelat dan memberiku susu. Aku menerima susu itu dan meminumnya. Ketika aku sedang melamun, Dika tiba tiba saja menyuapiku cokelat, aku pun kaget dan memukul tangannya.
“Aura! Kamu memukul tanganku ya, kan cokelatnya jadi jatuh tuh.”
“Ah maaf Dik, aku refleks saja tadi. Kamu juga tidak bilang bilang mau beri aku cokelat. Aku kan bisa makan sendiri.”
“Habis kamu diam terus, aku jadi bosen.” aku pun terdiam. Benar juga kata Dika. Aku hanya asik dengan pikiranku tentang Zaki sendiri.
“Ayo ceritakan apa yang terjadi padamu.” kata Dika.
“Aku sudah bicara pada Zaki. Aku..” mataku mulai berkaca kaca lagi. Aku tak bisa menceritakannya kembali.
“Eitss, sudah sudah. Jangan cerita, aku tidak ingin kau menangis lagi. Aku lelah memberhentikan anak manis ini” kata Dika.
“Ayo kita pulang saja. Jangan terlalu lama di sini. Kamu akan tenang jika sudah berada di rumah.” kata Dika. Aku pun menuruti perkataan Dika. Dika mengantarku pulang dengan motor Ninjanya itu.

“Are you remember the first time saw me?~”
Nada dering handphoneku memecahkan lamunanku. Aku pun mengangkat teleponnya, tanpa melihat siapa yang meneleponku.
‘Aura? Halo?’
“Iya? Ini siapa ya?”
‘Ini aku, Zaki’
“Ada apa?” nada suaraku berubah menjadi malas. Mengingat sudah beberapa hari ini aku tak bertemu dan berbicara lagi dengan Zaki.
‘Aku minta maaf, soal…’
“Minta maaf apalagi Zaki?” aku memotong perkataannya. Entah apa yang terjadi padaku, hingga aku menjadi setega ini padanya.
‘Aku benar benar menyesal’
“Aku tak butuh penyesalan darimu. Kamu jangan menumpahkan penyesalan yang kau buat sendiri padaku.” ‘maafkan aku Zaki, aku ingin kau mengerti bagaimana sakitnya aku selama ini’ dalam hatiku.
‘Aku ingin bertemu denganmu. Aku mohon jangan menghindar lagi dariku. Aku tunggu di tempat kita biasa berbicara dulu.’ telepon pun terputus.
“Tapi Ki… Yah diputus teleponnya.”

Aku tak bisa menghindari Zaki lagi, mungkin ini saatnya memberi kesempatan untuk Zaki berubah. Aku pun bersiap dan pergi ke tempat yang di maksud Zaki, yaitu taman dimana kita sering duduk dan berbicara dulu sebelum hal hal ini menimpa hubungan kita.

Saat aku sedang berjalan, tiba tiba motor dari arah belakang berhenti tepat di hadapanku. Aku terkejut dan orang itu membuka helmnya. Ternyata dia adalah Dika.
“Aduh Dika kamu membuatku terkejut terus ya”
“Maafkan aku Ra. Ngomong ngomong kamu mau ke mana sekarang?”
“Ke taman, Dik.”
“Ada apa?”
“Zaki ingin bicara denganku, Dik.”
“Kamu sudah mengobrol lagi dengannya?”
“Tidak juga, dia pagi pagi meneleponku. Dia berkata ingin bicara denganku. Sesungguhnya aku bingung. Apa aku mengambil tindakan yang benar?”
“Menurutku kamu terlalu cepat memberinya kesempatan begitu. Apa kamu siap menerima resikonya nanti jika dia belum berubah?”
“Hem.. Entahlah. Aku bingung.”
“Ayo naik, pake helmnya kita pergi.”
“Ke mana? Kasian Zaki, dia pasti sudah menungguku.”
“Naik saja.”
“Ya sudah, kamu antar aku ke taman yah.”

Bersambung…

Cerpen Karangan: Antiek Widya
Facebook: Antiek Widya N
Hanya seorang pemimpi yang mengharapkan langit
IG : @antiekn

Cerpen Perasaan Yang Tak Seharusnya Ada (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dera

Oleh:
Pagi ini. Ribuan kicauan burung ikut menemani sang mentari menyinari sebagian belahan bumi. Ini adalah hari pertama aku berangkat ke SMA setelah kegiatan PLS berakhir kemarin. Ya, bisa dibilang

Best Friend

Oleh:
Aku Ashton, siswa SMP Indonesia yang saat ini duduk di bangku kelas 8G adalah Ashton Halmahendra, aku memiliki seorang sahabat, yaitu Dedy. Dedy adalah sahabatku sejak kecil, ia memakai

Jodoh Yang Tak Diduga

Oleh:
Pagi itu aku Nayla dan keluargaku bersiap-siap menuju ke tempat hiburan keluarga. Kita ke sana untuk merayakan ulang tahun adik sepupuku namanya Zahra. Kita sekeluarga bersiap-siap menuju sebuah taman

Arwah, I Love You

Oleh:
Disinilah aku saat ini, menangis sendirian di sebuah lorong belakang sekolah, mencoba menyendiri dan menenangkan diri. Apa salahku? Mereka selalu saja membullyku, tidak ada yang membelaku sama sekali. Oh

Hilang

Oleh:
Kasih, ke mana kamu pergi? kau tinggalkan aku di sini tanpa alasan. Tanpa sepatah kata perpisahan. Kasih apa salahku? hingga kau pergi begitu saja. Kasih apa kau di sana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *