Percayalah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 22 February 2016

Di ujung tempat melihat langit yang dulu kita lihat berdua, di mana tempat itu yang pertama kali mempersatukan kita. Canda, tawa sudah kita lalui di tempat yang begitu tak layak untuk bersantai karena di pinggirannya banyak dinding-dinding yang sudah tua. Tapi, tidak bagiku karena bagiku tempat itu membuat keindahan tersendiri. Melihat di kejauhan sana orang berlalu lalang melewati ku yang melihatnya. Teriknya langit yang di atas membuat serasa kulit-kulitku bersisik terkelupas. Suara-suara angin yang berbisik di sela-sela telinga ku serasa ikut merasakan keadaanku.

Melihat coretan-coretan aku dan dirinya kembali di dinding atas ini membuat aku tertunduk perih. Saat janji suci kita terikat satu di tempat tersebut. Banyak saksi yang melihat kau dan aku saat itu, saat kau mengucap janji itu, suara-suara kicauan dan angin yang merambas rambutku menandakan mereka pun ikut melihat kita di tempat itu. Aku ingin melihatmu walaupun dalam bayangan tutupan mataku saat ini. Tapi apakah semua itu bisa? Kenapa kamu anggap aku itu seperti musuh saat kamulah yang berbuat duluan seperti itu kepadaku. Tak perlu kau siksa diriku seperti ini dengan kebohongan yang biasa kau lakukan aku hanya minta kejelasan buatku. Kamu tahu? bukan cuman hati yang kau sakiti tapi juga hidupku.

Saat sebuah sepasang sepatu ke mana-mana pergi bersamaan, tapi seketika sepatu itu tidak ada gunanya lagi saat salah satu dari mereka telah hilang. Seperti kertas yang awalnya sangat rapi tetapi seketika kertas itu tidak ada gunanya lagi saat mereka telah dikusamkan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Entah saat itu yang aku rasakan sekarang. Aku tidak tahan lagi kalau berlama-lama berhadapan dengan tempat yang indah sekaligus tempat yang membuatku membasahi pipiku saat aku berkunjung. Ingin rasanya aku menghancurkan semua tembok-tembok yang bertuliskan antara aku dan kamu. Ujung kukuku mulai melekat dan mulai menghapus sebuah kata-kata tersebut, tapi apa daya semua sia-sia. Tembok tersebut rasanya tak membiarkan aku menghapus kata-kata yang membuatnya cemburu setiap hari..

Cerita cinta yang aku dan kamu harapkan selama ini hanya omong belaka. Sekarang, di tempat yang bersejarah ini, aku ingin kamu menemuiku dan menjelaskan semuanya kepadaku. Menyakitkan bagiku menunggumu tiap hari di tempat ini. Mengapa kamu malah membawa seseorang yang sama seperti aku dulu pernah di sampingmu?! Melihatmu dari tempat ini begitu naif semuanya. Rasanya enggak percaya dengan keadaan ini sekarang. Jika aku tahu bagaimana cara menghentikan waktu, aku ingin menghentikannya saat ini juga dan mengembalikkannya ke hari-hari sebelumnya. Di mana aku dan kamu tidak pernah mengenal.

Desas-desus tentang kamu sudah beredar dari telinga ke telinga, hanyut dalam kesepian dan keamarahan mendengar semuanya. Tapi aku tak yakin dengan semua itu karena aku masih percaya cintamu dan cintaku selamanya. Kala pun berita yang beredar itu benar, aku tak tahu harus bagaimana hidup dengan sandiwara ini. Kenapa bodohnya aku membuka mata saat mimpiku itu indah. Di saat aku mulai mencoba menutup mata ini kembali, sulit, tak mungkin lagi mimpi yang indah itu di flashback kembali. Aku harus menerima kenyataan kalau mimpi yang indah itu kini telah berubah menjadi mimpi yang membuatku malas buat tidur bila menjalaninnya.

Aku bisa memaafkanmu jika kamu menyelesaikannya baik-baik kepadaku. Jika itu terjadi, apa aku masih bisa mempercayaimu lagi? atau pengkhianatanmu malah lebih parah dari sebelum-sebelumnya?! Kalau saja aku tidak mencintaimu sepenuh hatiku, pasti rasanya tidak akan sakit seperti saat ini kala kamu membuat hatiku hancur. Sudah berhari-hari aku menunggumu di tempat ini, tapi kenapa belum juga kamu menemuiku? Aku percaya kamu belum berubah. Jauh dalam lubuk hatiku, aku tak ingin pisah darimu. Kamu tahu? Aku selalu kesepian jika harus sendiri di tempat ini.

Sebelumnya kamu menyuruh aku untuk melupakanmu. Iya aku mencoba itu. Tapi kenyataannya, indah raut wajahmu selalu tertera dalam benakku. Meskipun kamu telah pergi mungkin tak akan kembali tapi aku di sini tetap di sini untukmu sayangku. Aku masih rindu padamu, aku masih sayang padamu meski kini cintamu bukan aku. Please aku hanya ingin waktu darimu saja, sedetik pun sangat berharga bagiku. Sampai kapan aku harus menunggu? haruskah aku bersabar tanpa batas? Aku nggak maksa agar kamu mau kembali lagi ke kehidupanku, aku hanya ingin penjelasan darimu itu saja! Kamu pikir mudah ngelupain semuanya? Masih tertera jelas semua janjimu kepadaku. Namun, setelah kau mengenal dia, kau berubah, kau tak sama!

Akibat ulahmu, aku jadi muak dengan semua yang berhubungan dengan CINTA. Aku merasa bodoh bila dulu mempercayaimu, bodoh bila terlalu setia padamu tapi apa balasanmu? Kau malah menghempaskan aku begitu saja tanpa bertegur sapa kepadaku. Apa dia lebih baik dariku? lebih setia dariku? Mengapa semua ini terjadi kepadaku? Rasanya tidak adil. Bila dia mendapatkan kau semudah itu. Mengapa kau sangat mudah melupakan semua kenangan kita? Apa kau tak berpikir dengan keadaan aku sekarang?! Daun-daun itu telah berguguran, kini aku tinggal sebatang tangkai saja yang bisa patah seketika.

Semua sudah terjadi, aku nggak bisa begini terus, aku harus bangkit, aku harus kembali seperti semula di mana aku dulu belum mengenalmu. Tapi apa aku bisa melakukannya lagi tanpamu? Apa aku mampu tanpamu? Sudah berhari-hari aku lewati tanpa dirimu, hal hasil apa? Aku benar-benar nggak bisa mengahapus bayanganmu dari hidupku. Semua sudah aku hilangkan tentangmu dariku, semua album foto kita yang sudah aku buang dan ku bakar, semua kenangan yang menandakan tentangmu itu sudah aku hilangkan dari hidupku. Tapi sekali lagi aku berkata benar-benar tidak bisa melupakanmu begitu saja. Apakah ini akhir dari percintaanku? apakah aku lebih baik hidup tanpa cinta?

“Hei..” terdengar sapaan seseorang dari anak tangga.
“Hei apakah kamu tidak mendengarkanku? Aku berbicara sama kamu loh yang lagi di atas.” Sapanya kembali.
Aku hanya melirik dan mengabaikannya kembali.
“Apakah aku boleh mendekatimu? Apakah aku boleh berbicara denganmu?”
Aku lagi-lagi diam dan tak mempedulikan setiap kata-kata yang diucapkannya.

“Oke kalau kamu tidak berkata apa-apa, itu tandanya kamu mengizinkanku buat ke sana.”
“Berhenti di situ! Jangan coba-coba mendekatiku!” teriakku.
Kalau dilihat-lihat lucu juga lihat gayanya dengan satu kaki terangkat dan satu lagi menyentuh anak tangga di sambung dengan wajah yang nampak terkejut dengar teriakanku.
“Astagaaa akhirnya kamu sembuh.”
“Sembuh? maksudnya?!” tanyaku.

“Loh, bukannya kamu nggak bisa berbicara dan nggak bisa mendengar? Seperti tuna wicara dan tuna rungu hahaha.” Jawabnya dengan ketawa yang terbahak-bahak. “Eehh jaga mulut kamu itu ya jangan asal bicara. Udah sana aku nggak mau lihat kamu di sini. Jangan sampai aku emosi ya.”
“Selo..selo Vi, aku kan hanya bercanda. Kamu sih udah beberapa hari ngerayap aja di tempat ini. Setiap selesai les pelajaran kamu selalu ke sini, setiap pulang sekolah, kamu nggak langsung pulang, lagi-lagi ke tempat ini datangnya. Apa sih bagusnya tempat ini? Udah kusam, kotor, sepi lagi.” Celotehnya yang perlahan-lahan mulai naik ke anak tangga dan sok melihat-lihat keadaan sekitar.

“AKU BILANG SEKALI LAGI PERGI DARI SINIII!!!” emosiku mulai memuncak. Nggak menunggu waktu lama ia pun bergegas lari dengan tertatih-tatih. Sialan bangat si Dimas itu, seenaknya aja ngomong seperti itu. Emangnya dia siapa sok tahu akan hidupku.

“Hei Vi, pagi.. hari ini kamu kelihatan cantik deh. Tapi please kamu jangan cemberut terus entar kecantikan kamu hilang loh.” bisiknya menyentuh bahuku.
“Tolong singkirin wajah kamu dari bahuku. Jangan seenaknya.” Ucapku tegas.
“Yee pagi-pagi udah sensi.” Balasnya.
“Jangan mulai lagi deh Mas, aku lagi nggak mood buat bertengkar sama kamu.”
“Bukannya tiap hari kamu nggak mood ya?

Tanganku langsung menyentak meja, aku langsung bergegas ke luar dari ruanganku. Dimas Prasetyo itulah nama teman yang menggangguku setiap harinya. Bahkan saat aku masih bergandengan tangan dengan seseorang yang dulu aku sayangi dia pun masih saja menggangguku. Sampai suatu saat aku pernah mendengar dari sahabatku sendiri itu Dea, bahwa Dimas menyukaiku. Ia nggak suka melihatku dengan Jo berpacaran.

“Vi..Vii kamu nggak tahu ya kenapa Dimas terus aja mengganggumu?” tanyanya kala itu.
“Nggak. Nggak mau tahu juga.” Jawabku ketus,
“Dengar ya Via sadiqahh.. Dimas itu suka sama kamu dia itu sayang bangat sama kamu.”
“Terus? Emang aku peduli apa!”
“Makanya dia itu nggak pernah bosan buat cari-cari muka depan kamu dari kita kelas X kan? Kamu tahu kan itu. Dia nggak suka kamu jadian sama Jo. Katanya dia ada feeling kalau Jo itu entar bakal nyakitin kamu. Kamu ngerti dong Vi aku kan mau memberikan yang terbaik buatmu.”

“Sejak kapan kamu jadi pendengar yang baik buat si Dimas itu? Udah deh dea aku nggak mau dengar nama si Dimas itu lagi. Lagian apa pun yang dia katakan tentang aku, aku nggak peduli karena aku sekarang udah punya Jo Andreas yang menyayangi aku begitu juga dengan aku.” semyumku semberiwing. Kenapa dari awal aku nggak dengar kata-kata Dea, semua yang dikatakan Dimas itu memang benar. Jo memang pengkhianat dia tega selingkuh dengan teman sekelas aku eehh bukan teman deh tapi musuh bebuyutan perebut cowok. Nyesal aku yang udah percaya dia daripada Dimas dan Dea.

“Via kamu harus dengar aku ini serius.” Dimas menarik lenganku.
“Apa sih Dmas, lepaskan.” Goyahku.
“Ini soal Jo Vi, soal Jo. Aku melihat dia dengan Lia berduaan di tempat di mana kamu dan dia sering bersama.” Ucapnya penuh dengan keyakinan.
“Lia? Jo? Berduaan? Di tempat itu? Hahaha udah deh Mas, aku lagi nggak mau bercanda. Jo memang pergi dengan Lia, tapi itu pun karena disuruh oleh bapak kepala sekolah buat isi data ke kantor. Jadi nggak mungkinlah.” Jawabku santai.

“Percaya sama aku Vi, percayalah. Aku tadi nggak sengaja lewat dari ruang kantor dan aku melihat mereka tersenyum bareng-bareng. Setelah itu aku melihat mereka bukan masuk ke ruang kelas masing-masing malah pergi ke tempat itu Vi.” Aku menatapnya dengan serius dan hanya tertawa seakan-akan yang diucapkan Dimas itu nggak benar. Ternyata apa? Aku salah, aku bodoh telah mempercayai lelaki buaya itu ketimbang dengan Dimas sendiri. Loh kenapa aku malah memikirkan si Dimas yang rempong itu ya hehehe itu anak memang lucu juga sih kalau dilihat-lihat.

“Vi..Vi aku boleehhh…”
“Boleh Mas.” Sambungku.
“Kenapa sih kamu masih tetap di tempat ini? Jujur ia Vi, aku benci kalau kamu terus-terusan begini karena ulah si ber*ngsek Jo itu. Vi, kamu nggak bisa ngelupain dia? kamu nggak bisa membuka hati yang baru?”
“Dimas sayang, aku ke tempat ini bukan untuk mengenang masa-masa kami dulu, tapi aku ke sini untuk mengucapkan perpisahan.”
“Perpisahan? Maksudmu?”

“Aku udah sadar Mas, selama ini aku bodoh mau percaya semua akan kata-katanya, mau berbuat apa aja demi dia tapi hal hasil apa? Dia malah mengecewakan aku. Aku bodoh nggak mempercayai sahabat-sahabatku. Sekarang dan hari ini aku mau memulai hidupku yang baru Via Sadiqah yang baru, yang nggak pernah mengenal namanya cinta. Dan sekarang aku mau menikmati hidupku dengan semangat dan dengan teman-temanku yang terbaik yaitu kamu dan Dea.”

“Speechlesss,” Bertepuk tangan, “aku nggak nyangka dengan sikapmu sekarang ini Vi, rasanya aku baru aja menemukan Via yang dulu, Via yang tertawa terus, Via yang semangat terus. Gini dong Vi, kamu memang harus melanjutkan hidupmu. Ingat Vi jangan karena lelaki itu kamu jadi orang yang tak punya harapan lagi. Hidup Viaa..”
“Hehehe kamu bisa aja Mas, iya aku janji aku nggak bakal ngelakuin hal semacam ini lagi. Kan ada yang nasihati aku seseorang yang bersamamu saat ini belum tentu akan bersamamu buat selama-lamanya.” Tersenyum manis.

“Tunggu.. tunggu siapa sih orang yang bijaksana itu?! Ucapnya melirik.
“Adaaaa orangnya sangat rempong dan membuat kesalll..” jawabku menepuk dahinya.
“Tapi kamu nggak tahu kan Vi, orang tersebut sangat sayang sama kamu. Lebih sayang dari dirinya sendiri. Vi, aku bersedia kok menggantikan sosok Jo di hidupmu.” Menatapnya penuh cinta
“Maaf Mas, bukan aku bermaksud apa-apa. Tapi saat ini aku belum mau berhubungan.”
“Kenapa Vi? Kamu takut aku kan berbuat sama seperti si Jo yang ber*ngsek itu? Tenang Vi, aku nggak secemen itu. Aku nggak seber&ngsek itu, aku masih punya hati dengan wanita.”

“Bukan gitu Mas, tapi buat saat ini aku nggak mau berhubungan dulu, aku mau merasakan kebahagiaanku dulu. Bukan berarti untuk kemungkinan nanti iya. Sekarang aku cuman mau membayar kesenangan aku yang terlewat saat dulu. Kamu ngerti kan?” Tegasku sambil memegang pipinya.
“Baiklah Vi, aku akan menunggu dimana kamu akan bilang Iya.”
“Makasih ya Mas kamu udah mau ngertiin aku. Yuk kita turun dari tempat ini, sekarang dan untuk selamanya teman ini udah aku kubur dalam-dalam. Dan aku akan membuka lembaran baru bersama orang-orang yang benar-benar tulus denganku yaitu kamu dan Dea.”

Sekarang aku mengerti tentang apa yang dibicarakan orang-orang tentang rasa sakit hati dan sebagainya. Dari semua itu sekarang aku tahu mana cinta yang benar-benar tulus maupun palsu. Aku bersyukur dikasih rasa kekecewaan, agar aku tahu gimana rasa kebahagiaan setelah itu. Saat ini aku benar-benar sangat bahagia dengan sahabatku Dea yang benar-benar mendukung aku luar dalam. Mendukung aku bersama Dimas yang menjadi kekasihku. Aku dan Dimas sekarang hidup dengan status berpacaran, kami tak mau mengumbar-umbar status itu ke mana-mana, biarlah orang-orang sendiri saja yang tahu kami itu bagaimana. Keseharian kami ya seperti biasa saja, seperti sahabat juga walaupun kami mempunyai hubungan cinta. Kami nyaman dengan keadaan sekarang, ya tidak dipungkiri juga kadang Dimas memberiku kejutan-kejutan yang membuat aku tambah jatuh hati padanya.

Cerpen Karangan: Sastri OktaVia Situmorang
Facebook: Sastri OktaVia Dancer
Sastri OktaVia Situmorang nama lengkapku. Biasanya orang-orang panggil aku Sastri. Aku lahir di Medan 04 Oktober 1995 sekarang aku berkuliah di salah satu Universitas swasta di Medan. Aku mengambil jurusan Sastra, Bahasa Indonesia sekarang sudah mau memasuki semester 4. Hobiku menulis, mengarang cerita itu sudah sejak aku SMP sampe sekarang. Sekian profil dari saya. 🙂

Cerpen Percayalah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Radar Cinta Prosesus dan Brontosrious (Part 1)

Oleh:
Setiap malam aku selalu berpikir untuk menemukan radar cinta dari prosesus pangeran ganteng dari negri kayangan. agar suatu saat nanti aku bisa mendapakan cinta dari prosesus.. aku menyebutnya prosesus

Di Bawah Naungan Orion

Oleh:
Rhea menatap langit yang berpendar oleh taburan cahaya bintang. Alnitak, Alnilam, Mitaka dan si bintang tua Betelgeuse yang berwarna kemerahan berkumpul dengan bintang lainnya membentuk Rasi Orion yang terlihat

I Want You Say Love To Me

Oleh:
Langit mulai memerah. Tak hentinya gadis ini menatap langit itu dari balik jendela kelasnya ini. Pemandangan langit sore ini memang indah, mega mendung, burung yang terbang kesana kemari ikut

Cinta-Cintaan

Oleh:
Namaku Sinta. Cewek desa yang baru saja lulus SMP, di SMP desa pula. Orang-orang menyebutnya SMP Mewah. Sebenarnya namanya bukan SMP Mewah, bangunannya juga gak mewah-mewah amat, buat aku

Takdir Dibalik Pengkhianatan

Oleh:
Malam ini Elsa duduk terdiam, di bawah malam tak berbintang. Ia mengharapkan hujan datang menemani hatinya yang sedang berduka. Ditemani sebuah buku diary hadiah ulang tahunnya yang ke 17,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *