Perempuan Anggun (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 October 2018

Aku sedang berada di perpustakaan. Sendiri, karena sahabatku sedang berpacaran. Oh ya namaku Vena. Aku adalah seorang gadis yang sederhana tapi agak tomboy sih. Aku terkenal dengam sikapku yang cuek, jutek dan kasar. Ya wajarlah aku suka ilmu bela diri. Aku bahkan tidak punya teman cewek, selain yang aku ceritakan tadi. Namanya Sivia. Saat ini aku sedang mencari buku referensi. Ah aku menemukannya. Aku mengambilnya, tiba-tiba sebuah tangan merebutnya.
“Hei, aku yang ngambil lebih dulu” aku membentak orang itu dengan keras. Dia hanya menoreh dan menatapku remeh. Dasar cowok kurang ajar. Oh ya cowok itu namanya Romedi, ketua tim basket. Wajar kalau dia menjadi orang yang populer dikalangan cewek-cewek. Aku hanya geleng kepala sih kalau lagi lihat cewek-cewek genit yang menempel ke manapun Rome pergi. Dia dari kelas XII IPA A.

Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Amarahku sudah mencapai ubun-ubun. Aku langsung mengejarnya, membalikkan tubuhnya lalu kutonjok perutnya dengan keras. Aku menarik kerah lalu mendekat ke telinganya.
“Jangan sok keren” bisikku merebut buku yang ada di tangannya itu langsung pergi. Semua orang menatapku, ada yang berbisik-bisik atau ada juga yang menghindariku. Aku kembali ke kelasku dengan muka yang kusam. Ah aku marah. Brukk, aku membanting di meja.

“Vena, kenapa wajah kamu? Kusut gitu?” Tanya Sivia sahabatku.
“Aku tadi ketemu sama si Rome, tadinya ngrebut buku itu. Kesel banget” jawabku marah.
“Terus kamu apain?” Tanyanya lagi.
“Aku tonjok aja perutnya” jawabku santai.
Sivia langsung heboh sendiri. Dia bilang aku sudah melakukan kesalahan. Aku hanya mengangkat alis menandakan aku bingung.

Pagi hari telah tiba, aku berangkat ke sekolah. Saat ini aku sudah kelas XII di SMA NUSA HARAPAN. Aku mengendarai motor metic kesayanganku. Sesampainya di sana aku langsung bergabung dengan teman-temanku. Yaitu Eki, Rovi, Jiko, Land (pacarnya Sivia) dan tentunya Sivia.

“Eh, Vena denger dari Sivia, kamu nonjok perutnya Rome, anak basket yang keren itu” tanya Land.
Semua menatapku serius. Aku tersenyum.

Tiba-tiba bel berbunyi, menandakan pelajaran akan di mulai. Aku beranjak menuju kelas. Ya kami berbeda kelas, aku, Jiko, dan Sivia berada di kelas XII IPA B. Sedangkan Eki, Rovi dan Land di kelas XII IPA C. Letak kelas kami pun berdekatan.
Guru pun masuk ke kelas dan pelajaran di mulai. Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Semua berhamburan keluar kelas. Termasuk aku, Jiko dan Sivia.

Tiba-tiba seorang cewek datang menghampiruku.
“Kak, kamu kak Vena?”
“Ya benar, ada apa?”
“Kakak mendapat panggilan dari pak Lukman di ruang BK”
Cewek itu kemudian pergi dari hadapanku. What? Pak Lukman? BK lagi? Apa lagi ini, aku sudah bosan dengan wajah pak Lukman. Aku memang sering mendapat masalah. Aku suka mukul orang, tapi bukan sembarang orang. Aku selalu lolos dari masalah itu. Karena aku selalu berada di pihak yang benar.

Aku menatap Sivia dan dia mengangguk. Aku pun berjalan menuju ruangan menyebalkan itu. Tepat di depan pintu sebuah papan bertuliskan ‘Ruang BK’. Aku masuk, ternyata sudah ada Rome.
“Halo pak, apa kabar?” Tanyaku sambil tersenyum.
Pak Lukman menyuruhku duduk di samping orang itu. Ah, pasti orang ini yang melaporkanku.
“Kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?” Tanya pak Lukman.
“Ya, seperti biasa. Aku suka mukul orang” jawabku santai.
“Saya tidak terima pak. Saya kehilangan muka saya pak. Masa’ saya dipukul di depan umum. Popularitas saya hancur. Dasar nggak tahu sopan santun!” orang itu mulai bicara.
“Siapa yang nyuruh kamu ngrebut buku tadi. Aku yang mengambilnya duluan. Soal sopan santun apakah kamu juga punya sopan santun?” Aku mulai kesal.
Memangnya dia siapa sampai bicara tentang sopan santun. Aku akan menghajar orang ini habis-habisan karena sudah membuatku membuang-buang waktu.
“Saya tetap tidak terima. Saya akan laporkan kamu ke polisi” dia mengatakan sambil mengacungkan jari telunjuknya padaku.
“Oh. Laporkan saja pada ayah saya. Ayahku adalah seorang polisi” jawabku yang lagi-lagi santai.
“Vena, pikirkan baik-baik. Kamu mau nama baik rusak keluargamu kalau sampai kamu di penjara” pak Lukman mulai ikut bicara.
“Tapi jika tidak mau, kamu harus jadi asistenku selama sebulan” tambahnya lagi.
Ah, cowok ini benar-benar membuatku gila. Menjadi budaknya sebulan? Yang benar saja. Vena Adrinawan tidak akan terima.
“Baiklah” jawabku singkat karena terpaksa.
“Ok. Sepakat! silahkan keluar”
Aku keluar dengan wajah kusam.

Keesokan harinya. Aku menceritakan semua pada Sivia. Dia sempat terkejut, tapi akhirnya dia mulai tenang. Aku hanya menceritakan semuanya pada Sivia tapi tidak dengan yang lain. Takutnya akan terjadi perang besar. Tiba-tiba orang yang kami bicarakan muncul di depan pintu. Dia memanggilku, dengan langkah yang berat aku menghampirinya. Dia menarik tanganku menuju taman belakang yang sepi.

“Mulai pulang sekolah kau akan tinggal di rumahku. Soal orangtuamu. Aku akan izin mereka dengan jaminan aku tidak akan berbuat macam-macam padamu”
“Apa tujuanmu? Kenapa kamu ingin aku jadi asistenmu? Kalau ingin balas pukulan balas saja” tanyaku.
Dia hanya tersenyum. Uh, senyum yang menyebalkan. Kami kembali ke kelas masing-masing. Pelajaran pun dimulai.

Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Semua berhamburan keluar. Aku berjalan santai, tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku terkejut tapi tetap ikut dengan muka malas.
“Apaan sih, kok narik-narik” aku menggerutu.
“Kamu pulang bareng aku, nanti kamu antar aku dulu ke rumah kamu. Lalu kemasi barang-barang yang kamu perlukan”
Aku hanya mengagguk. Lalu kami menuju parkiran. Aku tidak peduli dengan orang yang memandang kami. Padahal menurutku Rome itu hanya bisa main basket. Dia hanya ingin terkenal saja.

Sampailah kami di rumahku. Aku turun dari motornya lalu masuk ke dalam rumah begitupula dengan dia.
“silahkan nona” pelayan membukakan pintu rumahku.
Aku menyuruh Rome untuk duduk di ruang tamu.
“pelayan, kau sajikan minuman untuknya. Aku akan memanggil mama”

Aku masuk ke kamar mamaku memberitahukan bahwa ada tamu yang mencarinya. Lalu masuk ke kamarku mengemasi barang-barangku. Entahlah, aku tidak tahu apa ini adalah keputusan yang benar. Setelah selesai aku keluar menuju ruang tamu.
“maaf tante, saya akan mengajak anak tante tinggal selama sebulan dengan saya. Saya akan menjamin dia tidak akan kenapa-napa” jelasnya.
“kamu mau melamar anak saya? Dia masih terlalu muda”
Aku menahan tawa. Mamaku tidak akan mengizinkanku.
“Ma, maksudnya bukan begitu. Vena akan tinggal dengan dia. Tapi kami bukan mau menikah. Kami hanya akan tinggal satu atap” aku mencoba menjelaskan.
“baiklah, tapi putriku harus aman”
Aku bernafas lega. Karena ibuku tidak menanyakan lebih lanjut. Aku dan Rome berpamitan pada mamaku. Kami pun meluncur.

Tak lama kemudian sampailah kami di apartemennya. Oh jadi Rome tinggal di apartemen. Aku membereskan barang-barangku.

Cerpen Karangan: Tia Nur Agustin
Blog / Facebook: Tia Agustin
Tia nur agustin lahir di tuban pada tanggal 22 agustus 2000. Saat ini bersekolah di SMA N 1 TAMBAKBOYO. kelas XII. Bercita-cita ingin menjadi dokter forensik dan ingin membangun lingkungan sekitar untuk lebih maju.

Cerpen Perempuan Anggun (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacar Dunia Maya

Oleh:
Jam menunjukan pukul 23.30 wib. Aku masih sibuk memainkan game di smartphoneku… Ughh terasa berat mata ini, setelah melakukan aktifitas rutin seperti biasa dipagi hari yaitu kerja. Perkenalkan namaku

Kehendak Tuhan

Oleh:
Saya hanyalah seorang manusia biasa yang tidak sempurna dan penuh dengan kekurangan. April Tanggal 17 itu tanggal ulang tahunku, aku tak suka jika ulang tahun ku ini dirayakan atau

Berakhir Pada Rumput, Ilalang

Oleh:
Pohon-pohon rindang yang berdaun ikal dan pohon sakura yang indah tumbuh subur di kepala citra. Tanaman pemberontak seperti rumput juga ilalang bahkan tumbuh di tempat yang sama memenuhi lahan

Tetanggaku

Oleh:
Seperti biasa, sore itu Afira dan temannya Tanti jualan Jus di depan rumah Tanti untuk berbuka puasa, setelah lama menunggu gak ada juga yang beli, tiba-tiba datang seorang cowok

Setelah Penantian Yang Panjang

Oleh:
Entah sudah berapa lama Fana duduk di salah satu kursi taman yang sering ia datangi hampir setiap hari bahkan penjaga taman itu pun sudah mengenalinnya, ia mengunjungi taman itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *