Perempuan Kutukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 13 January 2014

Suasana alam di pedesaan memang selalu memanjakan mata manusia yang mulai lelah. Berbeda dengan kota-kota besar. Setiap hari selalu disuguhi suara amukan klakson yang terdengar mengerikan saat jalanan mulai macet. Danang, seorang wartawan memutuskan untuk memanjakan tubuhnya di sebuah desa, desa Lokosari. Tapi masalah datang saat Danang sampai di desa Lokosari, dompetnya ketinggalan. Tak ada satu perak pun yang tersisa di saku kantongnya.

“fiuuuh” keluh Danang, Danang hanya memakai kaos oblong serta celana jins pendek sepatunya yang besar terlihat begitu berat karena Danang juga memakai tas besar.

“Baiklah Danang jangan pikirkan masalah uang yang terpenting sekarang kamu harus menikmati pemandangan alam yang luar biasa ini” obrol Danang kepada dirinya sendiri.

Sawah-sawah yang ada di kiri kanan jalan mengingatkan Danang kepada benda itu. Yah, kamera. Danang mengeluarkan kameranya dari tas besar itu. Jepret, gambar gunung terlihat indah di pagi hari ini. Jepret lagi, pohon yang berdiri tegap begitu menawan dengan warnanya yang hijau merona. Saat Danang akan memoto lagi, Danang melihat kembali hasil jepretan kedua. Danang melihat sesuatu di balik pohon. Danang memperbesar fotonya dan ternyata, ada seorang perempuan cantik. Wajahnya yang natural terlihat mempesona dengan balutan jilbab di kepalanya.

Danang pun langsung menghampiri pohon itu tapi perempuan itu tidak ada. “rasanya ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama” gumamnya bahagia.

Danang memutuskan untuk mencari perempuan itu, dia menanyakan kepada warga sekitar tentang keberadaan perempuan itu. “Permisi pak, bapak tahu rumah perempuan ini?” tanya Danang sambil menunjukan foto perempuan di kameranya itu. Bapak itu hanya menggelengkan kepala tapi kemudian berkata “oh Marni, Rumahnya di paling ujung desa ini. Ada 2 rumah disana yang satu warna merah itu rumah Marni, yang sebelahnya warna hijau itu rumah bekas orangtuanya yang meninggal sejak Marni SMP karena kecelakaan”.
“Lantas sekarang Marni tinggal dengan siapa pak?” tanya Danang yang sedikit khawatir.
“Si Marni itu sebatang kara. Ah sudahlah sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengannya! Dia itu perempuan kutukan”. Bapak itu pun pergi meninggalkan Danang.

Danang masih berdiam diri karena kaget dengan ucapan bapak tadi. “Perempuan kutukan? Apa maksudnya?” gumam Danang kebingungan. Jalan demi jalan terus dilalui Danang untuk menemukan rumah Marni. Danang masih merasa kasihan karena di usia muda Marni sudah hidup sebatang kara.

“Itu pasti rumah Marni” tangannya menunjuk ke arah rumah warna merah itu. “tok, tok, tok” Danang mulai mengetuk pintu rumah itu. Keluarlah seorang wanita di balik pintu. Cahaya dari wajahnya sungguh menandakan kalau dia itu wanita sholehah. Belum lagi pakaian yang menutupi aurat begitu indah dilihatnya. “As… sal… lamualai… kum” Danang mengucapkan salam ke Marni gemetaran, salamnya yang terpotong-potong membuat marni tersenyum mendengarnya. Senyuman Marni semakin membuat tubuh Danang diam terpaku rasanya Danang seperti melihat putri-putri dalam dongeng. “Waalaikumsalam” suara Marni lembut, tapi tiba-tiba senyumnya hilang, Marni lalu menundukan kepalanya pintu yang dipegang Marni kembali ditutup. Marni masuk ke dalam rumahnya lagi.

Di luar pintu rumah Marni, Danang sedang melihat-lihat dirinya sendiri. “apanya yang salah? apa aku terlihat seperti penjahat? kenapa dia langsung menutup pintunya? aah perempuan itu semakin membuat aku penasaran saja” ungkapnya.

Lantunan indah mulai terdengar, sejenak kebingungan Danang hilang mendengarnya. Hatinya merasakan damai yang luar biasa saat adzan berkumandang. “Alhamdulillah, sudah masuk waktu maghrib” sambil mengelus dada. Tidak jauh dari rumah Marni terletak sebuah masjid kecil, Danang pun shalat disana. Setelah menyelesaikan shalat magrib dan Isya Danang memutuskan untuk kembali mencoba ke Rumah Marni. Tapi kini Danang sudah terlihat beda Danang sempat menumpang mandi di masjid lalu mengganti pakaian dengan yang lebih rapi.

“Assalamualaikum” ucap Danang tenang, tangannya sibuk mengetuk pintu. “Waalaikumsalam” suara Marni dari dalam rumah. Marni membuka pintunya, tapi setelah mengetahui Danang yang mengetuk pintunya Marni kembali menutupnya. Kali ini Danang tidak diam, tangannya menahan pintu itu. Marni tidak melihatnya sampai Danang berteriak kesakitan karena terjepit Pintu. Marni membukanya kembali, terlihat kepanikan dan kehawatiran Marni karena tangan Danang sedikit berdarah. Berbeda dengan Danang, Danang justru tersenyum bahagia melihat Marni yang begitu peduli akan dirinya.

“Mas tidak apa-apa?” tanya Marni sambil melihat luka di tangan Danang. Danang tidak langsung menjawabnya, Danang justru melihat tangan Marni yang sedang memegang Tangan Danang. Danang benar-benar tersentuh dengan kepedulian Marni. “Mas, Mas tidak apa-apa?” tanya Marni sekali lagi. “eu… eu… Aku… Aku tidak apa-apa” jawab Danang yang terlihat canggung. Lagi-lagi Marni tersenyum mendengar Danang yang berbicara terpotong-potong. Senyum Marni kali ini tidak disembunyikan. Danang pun ikut tersenyum. Mereka berdua terlihat malu-malu. Danang begitu takjub melihat Marni ketika tersenyum. Tangan Danang pun gemetaran melihatnya. Danang langsung melepaskan tangannya dari Marni karena takut ketahuan kalau Danang sedang gugup saat ini.

“Ya sudah kalau mas tidak apa-apa aku masuk lagi yah mas” ucap Marni ramah. “tunggu sebentar, kalau boleh saya numpang menginap di rumah itu” tangannya menunjuk ke rumah cat hijau yang kata bapak tadi bekas peninggalan rumah orangtuanya. Marni hanya diam, kepalanya kembali menunduk. “oh tenang aku bayar kok, tapi nanti setelah mengambil dompet yang ketinggalan di rumah” ucap Danang. Marni mengangkat kepalanya lalu masuk ke dalam rumah. Danang tau, Marni tersinggung dengan perkataanya Danang pun menyesal. Tapi Marni keluar lagi memberikan kunci rumah. “ini kuncinya mas, selagi bermanfaat untuk orang. Saya ikhlas mas, mas tidak harus membayarnya” belum sempat Danang mengucapkan terima kasih Marni langsung kembali masuk dan menutup pintunya.

Ayam yang berkokok, serta embun yang menetes seakan memberi tanda bahwa hari sudah pagi. Danang ingin merasakan sejuknya udara pagi di desa ini. Danang membuka pintu rumahnya ada wangi makanan yang menggoda perut Danang. Di meja luar rumah ternyata ada semangkuk nasi dan segelas teh. “makan saja mas, katanya kan mas lupa bawa dompet” ucap Marni penuh perhatian. Perasaan Danang melayang-layang perempuan yang menjadi pujaannya saat ini, kini begitu perhatian. Danang mengangguk dan Marni pun tersenyum. Kebersaamaan mereka terhenti saat seorang anak kecil berteriak ke arah Danang. “Jangan dekat-dekat dengannya om, dia itu wanita kutukan” anak kecil itu bicara sambil menaiki sepedanya lalu pergi. Marni langsung masuk ke rumah, pintunya ditutup rapat-rapat. Danang bisa merasakan sakit hati yang dialami Marni saat ini. “Perempuan kutukan? Akan kucari tau kenapa Marni disebut perempuan kutukan” suaranya terlihat sedikit emosi, mungkin karena Danang juga merasa sakit hati atas ucapan anak kecil tadi.

Sudah hampir tiga jam Marni tidak membuka pintunya, padahal selama tiga jam pula Danang menunggu di luar sambil sesekali mengetuk pintu rumah Marni. Danang benar-benar lelah sampai Danang ketiduran di luar rumah Marni. Marni membuka pintunya karena menyangka Danang sudah pulang tapi ternyata Danang tidur pulas Marni tersenyum melihat Danang. Lama sekali Marni memperhatikan Danang tubuhya mulai diturunkan, Marni berjongkok. perlahan tangannya mulai mengusap-ngusap kepala Danang lembut. Selama itu pula Danang tau kalau Marni sedang memperhatikannya karena Danang sudah bangun dari tidurnya. Danang merasakan lembutnya belaian tangan Marni. Tangan Marni mulai berhenti mengusap kepala Danang. Marni kembali berdiri. Baru selangkah Marni maju tiba-tiba terhenti, tanggannya dipegang erat oleh seseorang, Danang.

Danang tau Marni pasti akan marah. Marni menoleh, bahagianya Danang ternyata Marni tersenyum bukan marah. Marni duduk di samping tempat Danang duduk. “iya mas, ada apa lagi?” tanya Marni. Marni sudah nampak akrab dengan Danang. Mereka berdua berbicang begitu asik sampai lupa bahwa posisi mereka sekarang berhadapan bukan lagi bersampingan keduanya pun salah tingkah saat menyadarinya. Danang akhirnya angkat bicara setelah terjadi kecanggungan antara mereka. “Boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu” tanya Danang. Marni mengangguk, Marni tau apa yang ingin ditanyakan Danang pasti tentang kenapa Marni disebut perempuan kutukan. Marni pun beranjak masuk ke dalam rumah karena takut. Danang kecewa, padahal dia ingin menanyakan apa Marni mau jadi perempuan yang duduk di pelaminan bersama Danang kelak.

Setelah sore Danang merasakan guncangan pada perutnya, Danang merasa lapar. Danang pergi ke rumah Marni lagi ternyata Marni sedang membuka pintu rumahnya Membawa nasi sepaket dengan tehnya lagi. “Marni tau mas lapar, ini mas mudah-mudahan bisa meredakan guncangan di perut mas” ucap Marni sedikit bercanda. Mereka berdua pun tertawa. “Alhamdulillah kamu memang pengertian Marni. Tidak salah kalau aku menaruh hati padamu” gumam Danang. Marni begitu kaget mendengarnya sampai gelas yang dipegangnya jatuh. Danang baru sadar apa yang sudah dikatakannya tadi. “Marni, mmm maksud aku” ucap Danang gelagapan. “Apa itu ucapan dari hati?” potong Marni. Danang terbelalak, “sepertinya ada sinyal baik dari pertanyaan Marni” gumam Danang dalam hatinya. Danang tersenyum, Danang mengambil nasi dari tangan Marni lau nasinya disimpan di teras depan rumah Marni. Kedua tangan Danang meraih tangan Marni. “Marni, kamu lihat gunung yang ada disana? Gunung itu belum sebesar cintaku padamu. Bahkan kamu bisa lihat air yang mengalir di sungai itu? itu tidak sederas rasa cintaku padamu Marni. Aku ingin kamu duduk bersamaku di pelaminan yang aku dambakan lalu menjadi seorang ibu dari anak-anakku kelak?” ucap Danang tulus. Marni menunduk tiba-tiba air mata Marni turun, Marni begitu tersentuh dengan perkataan Danang, tangan Danang pun sigap mengusap air mata Marni. Marni mengangkat kepalanya lalu berkata “apa mas mau menerima aku apa adanya? Menerima seluruh kekurangan bahkan jika ada sesuatu yang membuat mas malu sekalipun?”. Danang terdiam, pikirannya teringat tentang Marni yang disebut perempuan kutukan. Danang mengira pertanyaan Marni ada hubungannya dengan perempuan kutukan. Tapi Danang tidak peduli. Sebutan wanita kutukan pada Marni tidak menyurutkan rasa cintanya terhadap Marni. Danang mengangguk. “Kalau begitu aku mau mas” ucap Marni malu-malu. Danang tersenyum lebar hatinya bersorak gembira. Mereka berdua saling merasa malu hingga akhirnya mereka sama-sama berpamitan. Danang malah jalan ke arah rumah Marni saking bahagianya sampai lupa arah jalan pulang. Marni tertawa melihat sikap Danang. Sambil menutup muka dengan tangan, Danang berlari ke rumah cat hijau itu.

Saat di masjid Danang bertemu bapak-bapak yang waktu itu. Danang teringat tentang perempuan kutukan itu. Danang menghampirinya dan bertanya kenapa Marni disebut perempuan kutukan. Bapak itu lalu menjawab “Coba kamu cek tangannya saja, kamu pasti tau alasannya” bapak itu pun pergi. Karena sedikit penasaran, danang berniat mengikuti saran bapak itu.

“tok, tok, tok” Danang mengetuk pintu rumah Marni. Marni tau itu pasti Danang, Marni berdandan secantiknya. Marni terlihat berbeda dari biasanya. Dress panjang dengan jilbab yang ditata rapih semakin menonjolkan kecantikan Marni. “brak” pintu dibuka. Danang terpesona melihat Marni, hampir beberapa lama Danang berdiam diri. Marni berhasil membuat Danang berdecak kagum. Marni menawarkan untuk makan malam bersama di teras depan rumah Marni. Danang yang masih kagum langsung mengiyakan. Selesai makan, Marni mengucapkan terima kasih kepada Danang. Karena hanya Danang yang mau menemani Marni. Danang mengelus kepala marni “seperti ini kan yang kamu lakukan saat aku tertidur disini?” tanya Danang. Marni tersenyum malu mengingatnya.

Malam ini mereka berdua benar-benar menjadi sepasang kekasih yang berbahagia. Karena waktu sudah malam Danang pun pamit pulang. Di jalan Danang teringat bahwa tujuannya tadi ke rumah Marni untuk menemukan jawaban melalui tangan Marni. “ah ini gara-gara Marni tampil cantik malam ini” ucapnya sambil tersenyum mengingat kecantikan Marni tadi.

Pagi sekali Danang sudah mengetuk pintu rumah Marni, masih mengenakan mukena sehabis shalat subuh Marni membuka pintunya. “assalamualaikun Marni” tanya Danang yang sedikit berbeda. Ternyata hampir semalam tadi Danang tidak bisa tidur karena memikirkan Marni tentang perempuan kutukan itu. Marni menjawab salamnya. “Marni sudah lama sekali ada yang ingin kutanyakan padamu. Maaf sebelumnya, Marni ada apa dengan perempuan kutukan itu? aku ingin kamu jujur. agar hubungan kita tidak ada yang ditutup-tutupi. Marni hanya terdiam, beberapa menit Marni keluar rumah lalu duduk di terlas diikiuti Danang. Perlahan Marni membuka mukena bagian tangan, dan… Betapa kagetnya Danang melihat tangan putih Marni terdapat semacam cacar bahkan lebih menjijikan. Warnanya merah, cacarnya tidak kering justru nanah keluar dari cacar itu. hampir seluruh bagian tubuhnya seperti itu. Cacar itu diyakini sebagai kutukan oleh warga karena tidak bisa disembuhkan.

Danang diam tanpa sepatah katapun, tubuh Danang ambruk. Wajahnya terlihat lemas. Sedangkan Marni khawatir kalau Danang sudah tidak ingin melihatnya lagi karena sudah tahu seberapa menjijikannya Marni. Beberapa menit keadaan begitu menegangkan. “bagaimana mas? mas sudah tahu. Mas sudah pernah bilang sama Marni kalau mas mau menerima Marni apa adanyakan?”. Danang hanya diam, wajahnya tak menoleh ke arah Marni. “mas? mas mau pergi. meninggalkan Marni karena cacar yang hina ini?”. Danang tetap diam. “mas jawab mas!” tangis Marni pecah, Marni menangis sejadinya. Marni tau Danang tidak mungkin mau bersamanya lagi setelah tau kenyataanya. Akhirnya Danang menoleh ke arah Marni. Tapi tak ada kata yang terlontar, sekali lagi Danang melihat tangan Marni. Lalu kemudian? Danang pergi, ya lebih tepatnya Danang pergi dari desa itu.

Sudah hampir 5 hari Marni tidak keluar rumah. Marni masih merasakan sakit hati yang luar biasa ini. “Lebih baik aku dipanggil perempuan kutukan selamanya mas, daripada ditinggalkan kamu mas” gumamnya sedih. Marni membelai rambutnya sendiri, lalu tersenyum. “seperti ini mas saat mas mengusap kepalaku malam itu”.

“tok, tok, tok” ada suara ketukan pintu. Marni langsung membukanya berharap itu adalah Danang. Tapi diluar tidak ada siapa-siapa. “itu pasti anak kecil yang iseng lagi” gumamnya sambil masuk ke dalam rumah. “tok, tok, tok”. Marni terlihat emosi, kali ini ia akan memarahi anak kecil itu. “Brak” ternyata itu… itu Danang dan keluarga besarnya. Danang berniat melamar Marni. Ternyata saat itu Danang langsung pergi karena hatinya sudah mantap meminang Marni. Perempuan kutukan yang dibicarakan orang bukan kesalahan Marni. Marni justru menerima cobaan itu dengan sabar. Danang saat itu langsung pulang dengan handphone yang dijadikan sebagai pengganti ongkosnya. Danang langsung meminta restu dari keluarganya.

“Marni, biar saja di mata orang kamu adalah perempuan kutukan yang menjijikan. Tapi untukku kamu adalah perempuan menakjubkan dengan sejuta kesabaran. Aku sangat mencintaimu Marni” bisik Danang ke telinga Marni di tengah-tengah resepsi pernikahan mereka. Setelah para tamu sudah tidak ada Marni membalas kata-kata Danang tadi. “Mas, Kamu adalah keajaiban bagiku. Cinta mas terhadapku masih kalah besar dari cintaku kepadamu Mas. Aku juga sangat mencintaimu mas. Dan satu lagi mas. Sebenarnya penyakitku ini bisa disembuhkan hanya saja aku menunggu seseorang yang menemani proses penyembuhanku, kamu mas orangnya”. bisik Marni ke telinga Danang. Danang kaget sekaligus bahagia, Danang mengecup kening Marni lembut…

Cerpen Karangan: Rida Rizki
Blog: daehusaini.blogspot.com

Cerpen Perempuan Kutukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Raya

Oleh:
Angin bertiup perlahan menyambut air mata Indah yang mengintip pipinya. Mulai terasa olehnya bahwa sudah tiba saat menempuh hidup baru bersama pria yang selama ini dia sukai. Tapi entah

Aku Bertanya dan Sedikti Menjawab

Oleh:
Ketika satu detik waktu terpakai, lalu satu pikiran teruarai. Titik dimana satu harapan itu dipertanyaan, apakah itu akan bertahan yang artinya tetap menjadi sebuat harapan. Ataukah itu akan tercapai

Email Misterius (Part 3)

Oleh:
Tiba-tiba aku menemukan sebuah buku kecil yang terjatuh namun dengan foto 2 anak yang bersebelahan sambil memegang tembakan air. Aku mengenali wajah keduanya, itu adalah Ray dan Dini ketika

A Second Chance

Oleh:
Memberikan kesempatan kedua, mungkin mudah bagiku karena aku berpikir setiap orang pasti bisa melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak dan aku sebagai manusia akan memberikan kesempatan itu untuk memperbaikinya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *