Pergi Atau Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 21 July 2018

Mungkin satu hal yang membuatku susah lupa denganmu adalah kenangan kecil yang masih tersimpan dalam hati. Lekat dalam dan tertancap tak bisa terlepas dari pandangan.

Bicara perihal rasa memang sulit vorion, aku sudah terlanjur kecewa. Namun apa… ada satu hal yang telah merubah arah. Yang setadinya lurus tanpa kelokan kini ada begitu banyak bahkan lebih dari satu. Kau merasa kesal dan juga marah dengan sikapku ini, terlepas dari semuanya aku kira sudahlah cukup untukku. Hal gila ini memang tak pantas untuk terucap bahkan tersebar dari mulut ke mulut. Jatuh dan rapuh sudah terbiasa, jangan kau heran dengan ini.

Kita bukanlah anak kecil lagi, kita berada pada masa SMA masa remaja yang secara bebas dapat kau coba. Kau mengambil langkahmu sendiri dan aku, aku masih terdiam di tempat awal. Ada hal yang harus kuikuti namun aku tak begitu menyukainya. Ada hal lain yang telah kutekuni namun jalannya sudah tertutup sebelum aku sampai.

Tadinya aku berharap padamu untuk membawa raga ini menjauh dari titik awal. Besar dan pasti kutaruh simpati dan sayang. Aku ikuti jejakmu, menari kecil di belakangmu, mengintip langkah di balik lubang kunci pintu. Sejauh ini aku belum menemukan cahaya d ibalik mata itu, sudah berapa mil kah jarak yang telah kutelusuri? Bukankah harusnya kutemukan cahaya itu. Aku sudah lelah dengan hitungan mil ini, aku akan berhenti tapi jika aku berhenti mengapa kau berikan seribu kepastian. Kepastian yang membangkitkan raga untuk ketertarikan rasa. Rumitkah ini? Serumit mencari jalan keluar dari ikatan benang. Kau begitu sulit umtuk kukejar, aku selalu dan pasti ada di belakangmu bukan di depan.

“Untuk apa kau lakukan ini, bodohnya. Kau seperti mereka sama saja.” Ucapan itu tak kuhiraukan namun kini menjadi semangat untukku. Kau mengucapkannya sangat jelas tanpa cacat satu huruf-pun. Kala itu aku tersentak dan tak percaya dengan ini. Sakitnya bukan main, memang seperti inikah rasanya menjadi embun dalam malam. Mustahil dan gila namun memiliki kemurnian yang tak dimiliki raja malam. Tak ada kata usai untuk mendapatkan cahaya itu, aku akan melihatnya. Tapi apakah semua ini akan berhasil jika kau terus menurus bersikap egois seperti itu. Bagaimana kau bisa melihat seseorang yang secara tulus sayang padamu? Kau tak peduli dengan semuanya, kau menganggap semuanya sama. Sampai kapan kau buta seperti ini, apakah tidak bosan untukmu hidup dalam kegelapan yang kau buat. Menciptakan senyuman palsu agar terlihat seperti manusia normal lainnya. Dari sisi mana lagi yang harus kuketahui tentang dirimu.

Aku melakukan ini bukan semata-mata karena diriku sendiri. Tapi ada seseorang yang menitipkan sesuatu untukmu. Kau tak perlu tahu siapa orang itu, percuma saja kau cari dia. Karena dia sudah tak ada di dunia yang kau anggap kelam ini. Ya dia sudah meninggal 2 tahun lalu tepat saat badai salju tiba. Kau tahu penyebab dia meninggal? Itu semua karena keegoisan dirimu vorion. Dia sama sepertiku perempuan yang tak henti mengejar dirimu. Namun naasnya sebelum dia mengucapkan hal gila itu Tuhan terlebih dahulu menjemputnya untuk pulang.

Dia menunggu tiga jam lamanya di taman yang telah kau janjikan di tengah badai salju. Tapi apa kau tak ada di sana untuk menemuinya, padahal dia sudah berusaha tampil cantik di depanmu nanti. Sejak saat itu kau semakin tertutup dengan hal baru. Entahlah hal mistik apakah yang kau tularkan untukku vorion sehingga aku amat sangat menyukaimu. Ini mungkin jalan takdirku yang tak satupun orang mengetahui, dan siapakah yang akan pergi dan diam nantinya.

Cerpen Karangan: Febri
Blog / Facebook: Naily Syifa Febrianti
Menyukai sesuatu hal yang berhubungan dengan awan dan coklat.

Cerpen Pergi Atau Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3600 detik

Oleh:
Aku melihat dia ke luar dari kelasnya. Hari ini masih sama, dia tetap cantik dengan kemeja merah, celana jeans yang dilipat, dan sneakers adidas model terbaru. Selalu tampil casual

Facebook Adalah Awal Perjalanan Cintaku

Oleh:
Hhhooaamhh… Mentari mulai menampakkan sinarnya di pagi yang cerah ini. Seakan ingin menyapa ku. “pagi dunia” ucapku dari ambang jendela. Perkenalkan namaku Nirmala Sari, aku bersekolah di SMPN 1

Senyum Terakhir di Usiaku

Oleh:
Dalam hidupku aku ingin sekali membahagiakan keluargaku, ibuku, dan dua orang laki laki yang selalu menjadi tombak dari semangatku. Hari itu untuk pertama kalinya aku melihat kedua orangtuaku bersedih,

Pewujud Imajinasi (Alvin)

Oleh:
Kenapa aku menjulukimu sebagai Pewujud Imajinasi? Hanya ada satu alasan. Ya! Kamu telah mewujudkan segala imajinasi-imajinasi indah yang selalu ku tuliskan dalam puisi. Sebelum mengenalmu, puisi itu bagai gumam

Karena Dia

Oleh:
Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Dia mendrible bola oranye itu menuju ring. Tak lama setelah itu, dia menghampiriku meminta sebotol air mineral yang kubawa memang untukknya. Dia memang tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pergi Atau Diam”

  1. Moh Romli says:

    Cerpennya cukup menatrik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *