Permintaan Terakhirku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

“Happy birthday Mega.. Happy birhday Mega.. Happy birthday, Happy birthday Happy birthday Mega.”
Terdengar suara dari balik pintu. Dengan sigap ku alihkan pandanganku menuju ke arah pintu. Seketika mataku berbinar, seolah tak percaya akan semua ini.. kulihat Arfan, Vella, Bunga dan Dista menghampiri ku sambil membawa sebuah kue kecil berhias lilin angka 17. mereka semua tersenyum menatapku, seakan menanamkan seungguk kekuatan pada diriku.
“Happy birthday my dear.” ucap Arfan seraya mengecup keningku, kurasakan kehangatan telah masuk ke dalam lubuk hatiku.
Kukumpulkan sisa-sisa tenagaku dan perlahan kubuka mulutku. Butiran air mata telah membendung di pelupuk mata ini. ‘Kenapa? Kenapa untuk berbicara saja aku tak bisa? Kenapa untuk membalas ucapan Arfan saja aku tak mampu?’ keluhku.

Aku memang hanya seorang gadis cacat yang sejak kecil telah di diagnosa mengidap penyakit yang mematikan. Aku memang hanya mampu tertidur di ruang suram ini, ditemani infus yang selalu tertancap dalam di tangan kiriku.
‘Ya Tuhan.. kapan aku bisa bangun dari tempat tidur ini? Kapan aku bisa melepas semua alat-alat asing yang sudah semakin menusuk tubuhku? Kapan aku bisa berhenti menelan butiran obat-obat pahit itu?’
Tak terasa air mata ini telah mengalir deras membasahi pipiku. Arfan pun menghapus air mataku. “Mega kamu jangan sedih. Aku gak mau kamu sedih di hari istimewa ini, sayang.” ucapnya dengan nada lembut. Tetapi aku belum mampu menghentikan tangisan ini.
‘Tuhan mengapa engkau kirim orang sebaik Arfan untukku? Arfan tak pantas untuk seseorang gadis cacat sepertiku? Cintanya terlalu berharga untukku. Aku tak mampu membalas cintanya, Tuhan.’
“Udah dong jangan pada nangis. Kaya nonton film drama aja. Hehe.. Oke sekarang waktunya tiup lilin” ujar Bunga menyadarkanku.
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga…”
Nyanyian itu terdengar sangat nyaring ditelingaku. Bahkan mampu membentangkan senyumku.
“Make a wish, Mega” teriak Vella.

Aku tersentak, perlahan ku pejamkan mata. ’Tuhan terima kasih engkau telah mengirimkan orang-orang yang sangat sayang padaku. Aku tidak meminta banyak. Aku hanya minta, kau panjangkan umurku, ya Tuhan. Izinkan aku untuk membahagiakan orang-orang yang selama ini telah membahagiakanku. Izinkan aku untuk sembuh. Aku ingin lebih lama menghirup udaraMu bersama teman-temanku. Bersama Arfan. Aku ingin lebih lama berada di samping Arfan. Aku ingin terus menatap senyumnya. Kabulkanlah sebuah permintaan sederhana ini Tuhan. Dan mungkin ini kan jadi permintaan terakhirku.’

Tak lama, pandanganku mulai buyar. Dadaku terasa sangat sesak, seperti tak ada ruang untuk bernapas. Dan akhirnya semuanya menjadi gelap dan sangat gelap.

Samar-samar ku lihat Arfan dan teman-temanku sedang duduk cemas di balik ruang UGD ini. Dan disampingnya, kulihat sebuah kue yang lilinnya tadi belum sempat ku tiup. Tubuhku terasa sangat lemas bahkan aku tak sanggup menghapus butiran air mata yang telah menghujani pipiku. Aku hanya bisa diam membisu, menatap wajah lelaki berseragam putih itu sedang menancapkan alat-alat asing ditubuhku.
Nafasku mulai terasa sesak kemabali. Mungkin inilah akhir dari cerita hidupku.
’Maafkan aku teman-teman. Maafkan aku Arfan. Mungkin memang Tuhan tidak mengizinkan ku untuk hidup lebih lama lagi. Terima kasih, karena kalian telah menggoreskan tinta indah di dalam hidupku. Membuat hidupku lebih bermakna.
Selamat tinggal semua.’

Cerpen Karangan: Tutut Setyorinie
Facebook: Tutut Setyorinie
Terima kasih ya.. udah meluangkan waktunya untuk membaca cerpen ini. *Happy Read*

Cerpen Permintaan Terakhirku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Dari Leon

Oleh:
Anggi, aku suka kamu.. – Leon – Anggi membaca sebaris kalimat itu pada kertas pink. Deg… ia kaget dan buru-buru meremas kertas itu sebelum ketahuan mamanya. Jantung Anggi berdebar.

Dalam Bus Malam

Oleh:
Kuangkat tas ranselku yang hanya berisi beberapa helai pakaian. Kunaiki bus malam yang akan membawaku ke kampung tempat dimana aku dilahirkan. Ya, kampung halamanku. Aku ingin pulang sejenak, melarikan

Gadis di Jendela

Oleh:
Tangan putihnya yang tanpa noda itu kembali menyapu kaca jendela kamarnya. Mencoba untuk menghapus sisa embun setelah hujan semalaman yang kini menghalangi pandangannya keluar kamar. Setelah dapat dilihatnya pemandangan

Stasiun Balapan (Part 2)

Oleh:
Helaan nafas seakan sesak, Rahma melangkah dengan penuh kesibukan yang akhir-akhir ini membuatnya tak bisa bernafas lega. “Ma, kamu mau mudik lebaran ini?”, “Pengennya sih gitu Dit, tapi nggak

Pelan Pelan Menembus Awan

Oleh:
Dua tahun terakhir Lili habiskan bersama Nathan. Ia tumbuh sebagai seorang gadis mungil yang mendapat segudang keberuntungan karena berhasil menamatkan sekolah menengah atas-nya melalui jalur beasiswa. Jujur, dalam hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *