Pernah Hampir Bersama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

From: Naufal
Selamat Ulang Tahun ya Rah,
Semoga semua wish list kamu terkabul. Amin.

Aku tersenyum senang saat mendapat pesan ucapan selamat ulang tahun dari Naufal tepat pukul 00:00. Naufal adalah teman sekelasku, juga merupakan orang yang aku sukai. Aku memang seperti ini disetiap hari ulang tahunku, tidak tidur sampai pukul 00:00 hanya untuk melihat siapa yang menjadi pengucap pertama. Tidak ada niatan untuk membalas pesan itu, aku segera menarik selimutku untuk tidur.

Keesokan paginya teman-temanku banyak yang memberi ucapan selamat. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tepat saat aku menoleh ke arah pintu, Naufal baru saja datang. Ia tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.

“Selamat Ulang Tahun ya” Katanya.
“Makasih ya”
Ia mengangguk, tidak banyak yang kami bicarakan karena Guru Bahasa Indonesia sudah masuk ke dalam kelas.

Sepanjang pelajaran aku tidak fokus karena memikirkan Naufal. Jujur, aku ingin tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Ia selalu bersikap manis akhir-akhir ini, bahkan tadi malam menjadi pengucap pertama.

Bel istirahat berdering, membuatku bernafas lega. Aku baru saja ingin melangkah ke kantin bersama Gina, sahabatku. Tapi Naufal menahanku. Karena Gina sudah sangat lapar, aku menyuruhnya pergi ke kantin duluan.

“Ada apa?” Tanyaku.
Naufal mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya “Ini. Coklat buat kamu”
Wajahku rasanya memanas. Apakah ini pertanda jika ia juga menyukaiku?
“Em … ma-makasih ya”
“Iya”
Setelah itu aku bergegas menyusul Gina ke kantin. Bukan apa-apa, aku hanya gugup berada di dekat Naufal.

Di jam pelajaran keempat tepatnya pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, kelompokku mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan tugas minggu lalu. Dari depan kelas aku sesekali memperhatikan Naufal yang duduk di pojok ruangan bersama kelompoknya. Ia tampak sibuk dengan bukunya.
Saat aku menoleh lagi ke arahnya, pandangan kami bertemu. Ia tesenyum, mengucapkan sebuah kata tanpa suara.
“Apa?” Ucapku tanpa suara.

Naufal merobek kertas buku tulis miliknya. Kemudian menuliskan sesuatu. Saat pandangan guru IPA ku sedang tidak mengarah ke arahnya. Naufal mengangkat kertas itu.

I Love You

Aku segera mengalihkan pandanganku. Wajahku pasti sudah seperti tomat sekarang. Untungnya teman-temanku tidak ada yang tahuu karena pandangan mereka terfokus pada Bela yang sedang menjelaskan.

Selama beberapa hari ini aku dan Naufal semakin dekat. Naufal selalu saja membuatku terbawa perasaan dengan semua perhatiannya.

Aku, Gina dan Naufal saat ini tengah duduk bersama di kursi depan kelas. Naufal sesekali menggangguku, entah itu mencubit pipiku atau menatapku lama. Membuatku menjadi salah tingkah. Sementara Gina yang berada di tengah sangat terganggu.

“Kamu kenapa sih Nau gangguin Sarah terus?!” Gina berucap dengan nada yang bisa terbilang agak sedikit sinis.
Naufal hanya mengedikan bahunya.
“Kalo suka itu bilang! Eh jangan deh, Sarah kan sudah punya pacar”
“Eh, aku keceplosan”

Aku menoleh ke arah Gina, aku tidak mengerti apa maksudnya berkata seperti itu. Raut wajah Naufal berubah. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam kelas, tanpa pamit.

Gina tersenyum. “Tuh kan, jurus aku ampuh. Dia berhenti gangguin kamu”
“Iya, makasih ya” Aku tersenyum, lebih tepatnya tersenyum terpaksa.
Walaupun Gina dan aku bersahabat, tapi aku tidak memberitahunya bahwa aku menyukai Naufal.

Beberapa hari ini, entahlah, tapi aku merasa Naufal menjauhiku. Setiap kali aku mencoba mengajaknya berbicara ia hanya tersenyum dan jika aku bertanya ia hanya menjawab dengan singkat.

Saat ini aku tengah berbaring di atas tempat tidurku, membuka aplikasi Blackberry Messenger yang sudah lama tidak kubuka. Aku membuka room chatku dengan Naufal. Berniat ingin mengirim chat untuknya.

30 menit
45 menit
1 jam
Tidak ada sama sekali balasan dari Naufal.

Karena bosan aku beralih membuka aplikasi Twitter ku. Aku terkejut saat melihat tweet Naufal, ia mengucapkan Selamat Malam untuk seseorang, menggunakan kata ‘sayang’. Aku segera membuka username perempuan yang tertera di tweet itu.
Foto perempuan itu tidak asing untukku. Aku mencoba mengingat-ingat.
Ah, sekarang aku ingat. Perempuan itu kakak kelasku. Saat aku melihat ada nama Naufal pada bio twitter perempuan itu, aku menangis, mungkin mereka sekarang sudah berpacaran.
Tapi, jika Naufal tidak menyukaiku, lantas apa maksud dari perhatiannya selama ini?.

Dengan perasaan kesal aku memblokir Line, Twitter, dan BBM milik Naufal. Aku mematikan lampu kamarku dan bergegas tidur. Berharap setelah bangun aku akan melupakan semuanya.
Jika beberapa hari ini Naufal yang menjauhiku, maka mulai hari ini aku yang akan menjauhinya.

Tapi saat jam istirahat sepertinya ia mulai menyadari perubahan sikapku. Aku menoleh ke arah lain saat pandangan kami bertemu.
Aku melangkahkan kakiku menuju perpustakaan, mengambil Novel bergenre romance kesukaanku. Kemudian duduk di kursi paling pojok. Aku terkejut saat Naufal tiba-tiba duduk di sebelahku.

“Kenapa?” Tanya Naufal.
“Kenapa apanya?” Aku balik bertanya. Karena memang tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Naufal menarik nafas, setelah itu menatapku. “Kenapa menjauh?”
“Bukannya kamu ya yang menjauh?” Pandanganku terfokus pada Novel di tanganku, padahal aku sudah tidak fokus lagi untuk membacanya.
“Terus kenapa Line, Twitter dan BBM ku, kamu blokir?”
“Gak apa-apa”

Naufal menarik Novel yang kubaca dari tanganku. “Kalo gak ada apa-apa. Gak mungkin kamu blokir aku”
Aku menatap ke arahnya. “Aku bilang gak apa-apa”
“Kamu cemburu kan?”
“Gak. Buat apa cemburu” Aku menundukkan kepalaku.
“Terus kenapa?. Kalau aku punya salah, aku minta maaf”
Aku tidak tahan lagi menahan air mataku yang sejak tadi berdesakan untu keluar, hingga akhirnya aku menangis. Ia segera meraihku ke dalam pelukannya.

“Iya aku emang cemburu. Aku gak akan sekecewa ini sama kamu, kalo dari awal kamu gak ngasih harapan sama aku” Ucap ku.
“Maaf. Jujur, aku selama ini suka sama kamu. Tapi, aku juga suka sama dia. Aku kacau, aku gak tau harus milih siapa.
Sampai akhirnya Gina bilang kamu sudah punya pacar. Dan akhirnya aku memutuskan untuk memilih dia”
Aku melepaskan pelukkannya. Tidak peduli wajahku yang mungkin sekarang terlihat berantakan.

“Rah, sekali lagi aku minta maaf. Lagi pula kita masih bisa menjadi teman ‘kan?”

Aku terdiam. Pada akhirnya aku dan Naufal hanya pernah hampir bersama. Mungkin merelakan Naufal bersama perempuan itu adalah keputusan yang tepat. Lagi pula, mencintai tidak harus memiliki bukan?. Aku yakin dengan menjadi teman Naufal, aku bisa terus memilikinya tanpa takut harus kehilangannya.

“Iya, kita teman”

The End

Cerpen Karangan: Devi Oktaviani

Cerpen Pernah Hampir Bersama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Observation

Oleh:
Malam itu, di pusat ibu kota Provinsi Jawa Timur, tepatnya di alun-alun Contong, Bubutan, Surabaya; sebuah kota metropolitan terbesar di provinsi tersebut, tiga orang pemuda sedang berjalan beriringan sambil

Ayu

Oleh:
Pagi ini aku bangun sekitar pukul 07.00 WIB. Oh iya, namaku Aji dan aku tinggal di kota Surakarta. Tetapi aku kuliah di kota Semarang. Setiap aku pulang ke rumah

Cinta Terakhir Ku

Oleh:
Nama aku yulia. Pada tanggal 01 januari 2013, aku pulang ke tempat orangtua ku yang tinggal di sebuah desa yang bernama desa padang luas, riau. aku yang tinggal berpisah

Dasar Payah Dasar Lemah

Oleh:
Aku adalah seorang remaja laki-laki yang baru lulus sma. Setelah lulus aku memilih bekerja daripada melanjut ke perguruan tinggi, bukannya aku tidak ingin, tapi kondisi keluargaku yang membuatku memutuskan

Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 2)

Oleh:
Malam harinya, usai belajar Yuris memasukkan buku, tiba-tiba Yuris teringat tas kecilnya. Saat akan menanyakan pada Hermin, Yuris teringat bahwa tas kecilnya pasti tertinggal di bawah pohon dekat jembatan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *