Persahabatan Dan Cinta Pemuda Berandalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 March 2016

Cerita ini tentang 3 remaja yang sedang mencari pohon jati, maksud saya jati diri. Mereka terdiri dari Pongky alias Cuplek, Baron alias Gandak, dan Lukman alias Aboy. Mereka bertiga adalah remaja yang urak-urakan akan tetapi masih mempunyai mimpi. Mereka juga bersekolah di sekolah yang sama, tetapi mempunyai hobi yang berbeda. Cuplek mempunyai hobi mengoleksi para gadis (playboy), Gandak mempunyai hobi bertarung (tinju bebas), Aboy mempunyai hobi j*di (taruhan bola). Di sekolah mereka termasuk siswa yang rajin, maksudnya rajin buat masalah. Telah bertubi-tubi hukuman diberikan kepada mereka, tapi mereka tetap saja membuat masalah. Di suatu tempat jelasnya di dalam kelas.

“Gandak, Aboy mana kok belum datang,” tanya Cuplek selengekan.
“Mungkin masih hitung-hitungan untung sama bandar j*di Plek, tadi malam kan dia menang taruhan bola,” jawab Gandak.
“Asyik makan besar kita ini hari Ndak,”
“Yoi Plek,” Sahut Gandak dengan senyum tipis, sedang asyik berbincang-bincang Aboy pun datang.
“Selamat pagi rekan-rekanku sejagat raya, adakah kalian sehat,” sapa Aboy pada mereka berdua.
Lalu, “Banyak omong kau Boy, yok langsung ke kantin,” sahut mereka geram.
“Dah mau belajar nih Plek, Ndak,”
“Terus aku harus bilang pucuk-pucuk sambil manjat daun teh gitu,” ujar Cuplek menggoda Gandak. Mereka pun tertawa dan langsung pergi menuju kantin.

Sesampainya di kantin Gandak tiba-tiba terdiam dan terkesima melihat anak pemilik kantin.
“Aduhai indahnya lah cewek ini,” goda Gandak, Aboy langsung menyambar kata-kata Gandak tersebut.
“Wih ada yang jatuh cinta nih,” ejek Aboy sambil tertawa.
“Hehehe, biasa aja Boy, udah lama aku suka sama dia, tapi aku malu bilangnya Boy,”
Lalu Cuplek pun ikut berkata, “Mukulin orang berani, bilang cinta gak berani, bermasalah kawan nih,” nada sindir Cuplek pada Gandak.

Sedang asyik berbincang-bincang dan lagi makan di kantin, tiba-tiba kepala sekolah lewat, mereka langsung bersembunyi di dapur kantin, di situlah Gandak mulai berbicara dengan anak pemilik kantin yang bernama Muji. “Kami numpang sembunyinya,” ucap Gandak dengan gugup. “Iya silahkan,” jawab Muji. Setelah merasa aman mereka ke luar dari persembunyian. Lalu Gandak tak membuang buang momen indah itu. Dia langsung berkenalan dengan Muji. Mereka pun saling bertukar nomor handphone. Keesokan harinya di tempat biasa mereka kumpul. Gandak terlihat sangat bahagia karena dia telah berhasil berbicara dengan Muji. Tiba-tiba datang seorang wanita.

“Mana Pongky, dia harus bertanggung jawab,” ujarnya dengan marah, mereka terkejut mendengarnya.
“Dia lagi pergi ke toilet, emang dia udah berbuat apa sama kamu?” sahut Gandak.
“Dia harus bertanggung jawab karena udah buat aku tergila-gila sama dia,” Aboy dan Gandak pun muntah sampai keluar becak. Tak lama kemudian Cuplek datang, dia langsung berbincang-bincang dengan wanita itu, tak lama kemudian wanita itu pergi dan tak lupa mencium Cuplek. Aboy mendatangi Cuplek.
“Itu pacar kau yang keberapa Plek?” tanya Aboy.
“Aku lupa Boy,” jawabnya santai.
“Lupa kenapa Plek?” sahut Aboy bingung.
“Aku lupa cewek tadi itu pacarku atau bukan,” serentak Aboy dan Gandak melemparkan sandal mereka kepada Cuplek.

Waktu pun terus berlalu tidak terasa sudah sore. Mereka pulang ke rumah masing masing.
“Nanti malam kita kumpul gak?” tanya Aboy.
“Aku gak bisa, malam ini aku bertarung,” jawab Gandak serius.
“Ya udah nanti malam kami berdua lihat kau bertarung,” seru Cuplek sambil melangkah pulang.

Malam hari di tempat pertarungan. Gandak sedang bersiap-siap untuk bertarung, suara lonceng berbunyi tanda pertandingan dimulai, Gandak memberikan pukulan-pukulan kepada lawannya, namun lawannya tak tinggal diam, aksi saling pukul terjadi, akhirnya Gandak berhasil memukul jatuh lawannya. Sebelum lawannya jatuh, dia sempat memukul keras ke arah belakang kepala Gandak. Gandak jatuh tak sadarkan diri, pertandingan dihentikan karena kedua petarung pingsan. Gandak langsung dibawa ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit dan tak lama kemudian Gandak sadar. “Luka di kepala kamu ini sangat serius, jika kamu terkena pukulan di bagian itu lagi, kamu akan mati,” ucap dokter pada Gandak. Gandak terdiam sambil menelan ludah karena gugup.

Di sekolah, mereka dipanggil oleh kepala sekolah. Karena sudah mau ujian nasional mereka harus mempersiapkan diri. Kepala sekolah berkata kepada mereka.
“Saya memanggil kalian ke mari, ingin memberitahukan kepada kalian,” ucap kepala sekolah serius.
“Bapak mau ngasih tahu apa?” seru Cuplek. “Sebentar lagi ujian nasional, kalian paham tidak, kalian itu siswa yang paling bermasalah, kalau kalian tidak bisa berubah juga kalian saya pastikan tidak lulus,” ujar kepala sekolah.
“Berubah jadi apa, power rangers ya?” canda Aboy dalam hati.
“Kalau kalian tidak lulus, kalian akan jadi seorang pecundang, paham kalian,” mereka menjawab serentak.
“Paham Paaaaakkkkk,” mendengar jawaban seperti itu kepala sekolah merasa dihina, langsung saja dia makin mengoceh lagi. “Dikasih nasihat malah ngejek, dasar anak-anak kurang gizi,” kepala sekolah memarahi mereka satu persatu, diawali dari Cuplek.

“Pongky, saya tahu reputasi kamu yang sok keren itu, kamu jangan selalu memikirkan cewek saja, kamu harus fokus pada pelajaran kamu, lagi pula lebih keren saya daripada kamu,” lalu giliran Aboy.
“Lukman, kamu ini calon masuk penjara,” dengan bingung Aboy menjawab. “Emang kenapa Pak?”
“Kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu itu sering main j*di bola, kamu harus berhenti dan pikirkan masa depan kamu,” nasihat kepala sekolah. Kemudian Gandak.
“Yang terakhir kamu Baron, lihat wajah kamu itu, biru sana sini, lebam sana sini, kamu pikir kamu itu Gatot Subroto, eh salah saya, kamu pikir kamu itu Gatot Kaca apa, sok kuat kamu. Saya gak mau tahu kalian harus menjadi lebih baik. Masa depan kalian masih panjang,” mendengar kata-kata kepala sekolah mereka tersadar dan berjanji untuk menjadi lebih baik.

Waktu berlalu hingga tidak terasa akhirnya pulang sekolah. Saat pulang sekolah wajah Cuplek berubah lesu, melihat wajah Cuplek yang menjijikkan tersebut Gandak menanyakinya. “Kau kenapa Plek?”
“Aku lapar tapi uang aku cuma ada 3 m,” jawab Cuplek.
“Sombong kau Plek, banyak uang kau,” sahut Aboy.
Lalu Cuplek menjawab lagi, “Banyak dari hongkong, 3 m itu artinya maibu maatus mapuluh, harga nasi 10 ribu jadi uang aku kurang Boy,” keluh Cuplek. Aboy dan Gandak pun berkata, “Derita kau itu, kalau lapar kita pulang aja, gak usah nongkrong lagi,” akhirnya pun mereka pulang ke rumah masing-masing. Lalu pada malam hari mereka kumpul dan membicarakan sesuatu.

“Bagaimana kalau kita gak usah jumpa-jumpa dulu sampai ujian nasional siap,” ujar Aboy. Gandak.
“Oke, aku setuju biar kita fokus belajar kan, kalau kau Plek gimana?” sahut Aboy.
“Kalau aku sih, it’s ok,” mereka pun tidak bertemu sampai ujian nasional selesai. Hingga tibalah saat ujian nasional yang tidak diharapkan mereka. Karena lama tidak berjumpa mereka merasa rindu, mereka pun melakukan pelukan teletubis yang berbunyi “Berpelukan,” lalu Cuplek berkata kepada Aboy. “Boy nanti kalau kau gak tahu jawabannya kau tanya aja sama peta, caranya tanyakan peta-tanyakan peta,” canda Cuplek sambil tertawa.
“Kau pikir aku anak umur 5 tahun apa, lagi pun aku lebih suka upin ipin daripada dora,” Sahut Aboy sambil tertawa. Asyik berbincang-bincang bel pun berbunyi tanda ujian akan dimulai, sebelum masuk ke ruangan Gandak berkata, “Genderang perang telah berbunyi, mari kita siap-siap pusing,” ujar Gandak dengan serius. Lalu mereka pun memasuki ruangan.

Hari pertama mereka berhasil mengerjakan soal, lalu hari kedua mereka pun berhasil, kemudian hari ketiga pun berhasil mengerjakan soal, namun mereka hanya berhasil mengerjakan soal bukan berhasil lulus dari sekolah. Setelah selesai ujian mereka pun berniat pulang. Namun Gandak berpikir berbeda, dia ingin menjumpai Muji terlebih dahulu. Tapi saat tiba di kantin dia tidak melihat Muji. Melainkan hanya paman Muji yang menjaga kantin, lalu Gandak bertanya, “Bang Muji mana?” Tanya Gandak serius.
“Tadi pagi dia kecelakaan, dia gak sadarkan diri, sekarang dia ada di rumah sakit,” sentak Gandak pun terkejut dan langsung berlari menuju rumah sakit, namun sampai di depan gerbang sekolah dia berhenti dan balik lagi ke kantin, karena dia lupa bertanya nama rumah sakitnya. Setelah tahu dia langsung menuju rumah sakit dan dilihatnya Muji sedang terbaring tak berdaya.

Lalu Gandak menjumpai ibu Mujii dan dia berkata. “Bagaimana keadaan Muji Bu?”
“Dia tak sadarkan diri Nak, ada gumpalan darah di paru-parunya, jadi dia harus dioperasi, tapi Ibu tidak ada biaya,” sahut ibu Muji, mendengar itu Gandak berniat bertarung lagi agar bisa membantu membayar operasi Muji. Gandak pun pergi menuju tempat pertarungan. Namun Cuplek dan Aboy melarangnya dan mereka berkata.
“Kau gak boleh bertarung lagi, kau gak ingat kata dokter waktu itu, kalau kau bertarung lagi kau bisa mati,” Gandak tak mempedulikannya dia langsung berlari.
“Muji lebih penting dari apa pun juga,”

Sampai di tempat pertarungan Gandak mendatangi orang yang memasang taruhan tertinggi, dalam sistem tinju bebas makin besar taruhannya makin berat lawannya, namun Gandak tidak peduli, dia tetap ikut bertarung demi Muji. “Teng, teng, teng,” lonceng telah berbunyi namun itu bukan lonceng tanda pertarungan melainkan lonceng gereja. “Teng, teng, teng,” pertarungan dimulai. Baru saja bertarung Gandak langsung mendapatkan pukulan telak dan langsung terjatuh. Cuplek dan Aboy berteriak, “Ndak kau gak perlu bertarung. Kami gak mau lihat kau mati,” Tapi Gandak bangun lagi dan dia tidak mau menyerah.

Akhirnya aksi pukul memukul pun terjadi, hingga kedua petarung babak belur. Tapi Gandak lengah, lawannya berhasil memukul dan tepat di bagian kepala belakang, Gandak pun langsung jatuh dan tak sadarkan diri, namun di dalam pingsannya itu dia melihat wajah indah Muji yang tersenyum melihat dia, langsung saja Gandak sadar dan kembali berdiri, lalu Gandak pun berbalik meninju lawannya sampai bertubi-tubi hingga lawannya jatuh dan tak sadarkan diri. Gandak pun keluar sebagai pemenang. Namun karena Gandak mendapatkan pukulan yang keras di bagian kepala belakangnya tiba-tiba hidung Gandak mengeluarkan darah dan Gandak pun jatuh lalu dia berkata, “Wahai sahabat-sahabatku tolong sampaikan uang dan rasa cintaku kepada Muji,” tak lama kemudian Gandak pun tak sadarkan diri dan denyut jantungnya semakin melemah, melihat Gandak seperti itu Cuplek dan Aboy langsung membawa Gandak ke rumah sakit dan ruang ICU lah yang menantinya.

Selang tiga bulan setelah kejadian itu, waktu pengumuman hasil ujian pun tiba. Cuplek dan Aboy menunggu dengan cemas, namun kecemasan mereka musnah setelah tahu hasil ujiannya. Mereka bertiga pun lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Namun mereka merasa ada yang kurang untuk merayakan kelulusan mereka, karena Gandak tidak ada di sisi mereka.

“Aku kurang puas sama hari ini,” Ujar Cuplek.
“Memang kenapa Plek?” sahut Aboy.
“Gak ada Gandak Boy, aku lebih baik gak lulus daripada kehilangan kalian berdua,”
“Gandak cepat sembuh kau, kami rindu,” teriak Aboy sambil menangis. Lalu tiba-tiba terdengar suara.
“Kalau rindu kenapa gak kalian peluk aja aku?” kata Gandak dari kejauhan, mereka pun menoleh dan melihat Gandak yang sedang dirangkul Muji. Mereka berlari langsung memeluk Gandak seperti teletubis, memang agak menjijikkan sih, tapi begitulah. Mereka pun merayakan kelulusan mereka dengan sempurna. Dan mereka pun berniat untuk melanjutkan ke universitas.

Tamat

Cerpen Karangan: Dea Lucky
Blog: dealucky7.blogspot.com
Facebook: Dea Lucky
Dea Lucky. 10 September 1991. Seorang Mahasiswa Teknik Di Medan

Cerpen Persahabatan Dan Cinta Pemuda Berandalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ujung Ujungnya LDRan (Part 2)

Oleh:
Saat itu, kita sudah berada di ujung masa SMA. Keadaan hujan gerimis, Aku Lilly Marika adalah pacar dari seorang Maulana Idham. Saat itu, Idham sudah pulang duluan karena aku

Feel Like I Have a Pair of Wings

Oleh:
Kini mendung telah menghiasi langit biruku. Kututup buku, kututup mata, kusudahi cerita untuk hari ini. Kumulai memasuki alam mimpiku. Kulihat temanku, Mars, telah menungguku di depan gerbang Surga; tempat

Telitilah Aku

Oleh:
Kring… kring… kring… bell sekolahpun berbunyi tepat pada pukul 07.00 WIB. Para siswa SMP Makroni bergegas menuju kelas mereka masing-masing termasuk pula guru yang mengajar di jam pelajaran pertama.

Ketika Cinta Harus Segitiga

Oleh:
Liburan akhir semester telah berakhir. Kembali bersekolah adalah hal yang kunanti-nantikan. Tak sabar rasanya ingin berkumpul dan menceritakan pengalaman liburan kepada teman-temanku. Aku berangkat sekolah menggunakan seragam putih biruku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *