Persahabatan Ku Hingga Akhir Penantian Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 February 2016

Ayam telah berkokok, sendok telah menari di atas secangkir teh hangat di rumah Tania. Ya, sebut saja namanya Tania seorang gadis yang cantik nan anggun. Dia masih duduk di bangku SMA di salah satu sekolah yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Setiap pagi, dia menelusuri jalan dengan langkah kecilnya, dengan penuh semangat dan percaya diri. Walaupun sering sakit-sakitan dan terlahir dari keluarga yang sederhana, tetapi ini bukan menjadi penghalang bagi dirinya.

Tania mempunyai sahabat yang bernama Rara, hanya Raralah yang selalu menyemangati Tania karena itu mereka sangat menyayangi satu sama lain. Rara adalah sahabat semasa hidup yang Tania miliki. Oleh karena itu Tania sangat takut kehilangan Rara begitupun dengan Rara yang takut kehilangan Tania. Rara sering bercerita mengenai Riza kepada Tania. Hingga mereka tak pernah bertengkar sekali pun, tapi akhirnya mereka bertengkar untuk yang pertama kalinya karena masalah cowok.

Cowok itu bernama Riza. Cerita bermula ketika Riza membuatkan puisi dan memberikan seikat bunga untuk Tania dengan kata-kata yang indah, lantas saja hal ini membuat Rara marah besar kepada Tania karena Riza adalah orang yang disukai Rara. Tania tak mengerti apa arti dari semua yang diberikan Riza padanya, Tania selalu bertanya kepada Rara tapi Rara selalu menjauhi dirinya padahal Tania selalu meminta maaf kepada Rara.

“Rara, ku mohon kembalilah bersamaku. Melanjutkan persahabatan kita yang sempat tertunda ini.”
“Tidak Ta, semuanya sudah berakhir. Persahabatan kita cukup sampai di sini.”

Langit pun tiba-tiba mendung, awan hitam tampak menyapa kesedihan Tania angin yang menerpanya membuat Hati Tania benar-benar menjerit, di dalam pikirannya tampak jelas kalimat yang terucap ulang, bahkan hatinya tercabik-cabik. Hujan pun turun, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya yang kini mengalir bersamaan dengan derasnya air hujan dan mengisahkan luka yang amat pedih. Di kala Tania yang sedang sedih Riza datang menghampirinya.

Tania bercerita kepada Riza mengenai permasalahannya bersama Rara, Rara selama ini selalu menghilang semasa akhir hidupnya Tania. Karena Tania bercerita bahwa umurnya tak akan lama lagi dikarenakan dia mengidap penyakit kanker. Mendengar kabar itu Riza sangat tidak menyangka Tania mengidap penyakit seberat itu. Dan Riza pun bercerita kepada Tania bahwa sebenarnya dia sangat mencintai Rara dia ingin mengetahui bagaimana reaksi Rara ketika Riza mengirimkan seikat bunga dan puisi itu untuk Tania. Di sisi lain, sebenarnya Rara tidak marah kepada Tania melainkan Rara ingin berlatih piano dan memberikan kejutannya kepada Tania. Pagi hari itu, Tania pergi ke rumah Rara walaupun suhu badan Tania naik ia tetap pergi ke rumah Rara dengan berharap kembali bersahabat dengannya lagi.

“Rara.” panggil Tania.
“Untuk apa kamu datang ke sini lagi Ta? Bukannya semua telah berakhir?”
“Ra, aku berharap kita bersahabat lagi. Aku akan memperbaiki persahabatan kita Ra, aku berjanji. Aku sungguh bertanya. Mengapa kamu sering menghilang dari kehidupanku?”
“Maaf Ta, aku tidak bisa ceritakan semuanya,”
“Aku mohon Ra, maafkan aku ini untuk yang terakhir kalinya.”

Karena suhu badan yang tidak stabil Tania jatuh tergeletak di depan rumah Rara, dan Rara pun segera bergegas mendekati Tania tanpa pikir panjang Rara menelepon Riza untuk membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit Tania tak sadarkan diri. Hingga beberapa jam kemudian dia pun sadar dengan wajah yang amat pucat. Tania tersenyum manis ketika melihat Rara ada di sampingnya.

Keesokan harinya Rara akan mengikuti lomba piano, Rara berharap Tania ingat akan lomba ini. Rara bercerita pada Riza bahwa dia tidak benar-benar marah pada Tania, melainkan ingin memberikan hadiah baginya. Berjam-jam Rara menunggu Tania tetapi hanya Rizalah yang menemani Rara hingga perlombaan selesai hingga akhirnya Riza mendapat telepon bahwa Tania sudah tidak menghembuskan napas lagi untuk yang terakhir kalinya. Rara dan Riza pergi ke rumah sakit dengan air mata yang berlinang. Rara mengambil sepucuk surat di atas meja.

“Rara, maafkan aku. Aku menyesal telah menerima seikat bunga dan puisi itu. Maafkan aku Ra. Aku harap kamu mau bersahabat denganku meski aku sudah tiada. Rara, sebenarnya Riza itu mencintaimu dan untuk Riza sebenarnya Rara jauh lebih menyayangimu. Bukankah kalian sama dan saling mencintai? Kamu beruntung Ra, sedangkan aku? Hati aku buta akan cinta. Tak ada kebahagiaan. Semua hanya duka dan luka yang menghiasi kehidupanku Ra. Makasih banyak Ra. Atas segalanya. Salam. Sahabatmu, Tania.” Rara benar-benar menyesal telah memarahi Tania, dia memeluk Tania erat dan tak merelakan kepergian Tania.

Cerpen Karangan: Fadhiila Ilmaddini
Facebook: Dila Dila

Cerpen Persahabatan Ku Hingga Akhir Penantian Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pandangan Sedingin Es

Oleh:
Bruuk…! Aku terjatuh dari tempat tidur karena mimpi buruk dan akhirnya membangunkanku deh. “Haah… untung hanya mimpi!”. Sambil menghela nafas. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 06.00, “Astaga, aku kesiangan!”.

Jawaban Takdir

Oleh:
Tch! Aku kembali berdecak melihat lokerku Sebuah surat dan mawar putih! Isi surat yang selalu sama hanya ucapan selamat pagi dan kata-kata penyemangat! Ah! Aku mengacak rambutku frustasi! Bergumam

Dalam Dekapan Hujan

Oleh:
Waktu itu, hujan turun tipis-tipis. Air mengalir membuat genangan di dasar jalan. Sore itu, Hyuna sedang menunggu kendaraan bersama Rika dan Ana. Tak ada yang menemani mereka di sana,

The Real Monster (Part 3)

Oleh:
Fakta baru kembali menghampiri Flor beberapa hari kemudian, saat diam-diam Ia mengikuti teman-temannya pergi ke sebuah tempat. Sebuah tempat kumuh di balik bangunan tua tak berpenghuni. Tempat yang ternyata

Berujung di Senja Kelabu

Oleh:
Sabtu malam di ambang pintu. Rinai hujan tak menggentarkan hati nuraniku walau sekadar untuk menutup pintu. Biarlah. Di sini hanya ada aku dan pilu yang telah menewaskan seluruh kebagaiaanku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *